Cherreads

Chapter 749 - Tekad Sang Penjaga Aquila

Di langit konstelasi Aquila. Dentuman demi dentuman terus mengguncang ruang angkasa. Pedang raksasa milik Thraxor kembali berayun.

*DUAARRR! *

Gelombang tebasannya membelah kehampaan kosmik, memaksa Asgard mengangkat kedua lengannya untuk bertahan. Tubuh berarmor itu terpental jauh. Sebelum menghantam sebuah asteroid besar, Asgard berhasil menstabilkan posisinya. Ia kembali melayang. Tatapannya tetap tertuju pada lawannya.

Di sisi lain. Thraxor berdiri tegak. Armor gelapnya hampir tidak memiliki goresan sedikit pun. Ia memutar perlahan pedang raksasanya, lalu meletakkannya di bahu. "Sampai kapan kau akan bertahan seperti itu?" tanyanya dengan tenang.

Asgard tidak menjawab. Ia kembali menerjang. Kecepatannya meningkat. Puluhan serangan bertubi-tubi menghujani Thraxor.

*CLANG! CLANG! CLANG! *

Percikan cahaya memenuhi angkasa. Namun... Tak satu pun serangan Asgard mampu menggores armor Thraxor. Thraxor hanya menggerakkan pedangnya sedikit demi sedikit untuk menangkis setiap serangan. Seolah semua itu sudah ia perkirakan sebelumnya.

Asgard segera mundur. Di balik helm armornya, napasnya mulai terasa berat. "Kau jauh berbeda..." gumamnya. Ia teringat pertarungannya melawan Kaidles. Saat itu, Kaidles menyerang tanpa henti, mengandalkan kekuatan dan tekanan yang besar. Masih ada celah yang bisa dimanfaatkan. Tetapi Thraxor... Berbeda. Jenderal itu tidak gegabah. Setiap gerakan Asgard diamati. Setiap pola serangan dianalisis. Setiap kelemahan dicari.

Thraxor tidak hanya bertarung dengan kekuatan. Tetapi juga dengan perhitungan. Itulah yang membuatnya jauh lebih sulit dihadapi.

Thraxor menatap Asgard tanpa sedikit pun menunjukkan kelelahan. "Armor. Pola gerakan. Jarak serangan. Semuanya sudah kubaca," ucapnya datar.

Asgard mengepalkan tangannya. Ia tahu. Semakin lama pertarungan berlangsung. Semakin besar keuntungan berada di pihak Thraxor. Jenderal kekaisaran itu terus mempelajari lawannya.

---

Thraxor mengangkat pedangnya. Kali ini ia tidak langsung menyerang. "Asgard. Aku akan memberimu satu kesempatan lagi," katanya. Suaranya menggema di ruang angkasa. "Menyerahlah. Serahkan Aquila kepada kekaisaran. Asal kau mau tunduk. Aku tidak akan membunuhmu."

Asgard terdiam.

Thraxor melanjutkan. "Aquila tetap akan berdiri. Penduduknya tetap hidup. Konstelasi ini akan berada di bawah perlindungan kekaisaran. Tak akan ada lagi perang yang perlu kau hadapi sendirian."

Sejenak. Keheningan menyelimuti keduanya. Dari kejauhan. Seleneva yang masih merawat Crimgard menatap langit dengan cemas. Banyak prajurit Aquila ikut menyaksikan. Mereka berharap. Mereka takut. Namun keputusan tetap berada di tangan Asgard.

Asgard perlahan menggeleng. "Tidak akan hal itu terjadi," jawabnya tegas.

Thraxor mengembuskan napas pelan. "Aku sudah menduganya."

Asgard menatap seluruh wilayah Aquila. Planet-planet. Bintang-bintang. Dan armada yang selama ini ia lindungi. "Aku menjaga Aquila... Sudah sangat lama," katanya. "Jika hari ini aku menyerah. Maka semua pengorbanan itu tidak akan berarti. Aku tidak akan menyerahkan konstelasi ini. Meski harus mempertaruhkan nyawaku."

Tatapan Asgard tidak goyah sedikit pun.

---

Mendengar jawaban itu. Thraxor hanya menyeringai tipis. "Kalau begitu... Tidak ada pilihan lain."

Aura hijau keemasan mulai keluar dari tubuhnya. Semakin lama. Semakin besar. Pedang raksasa di tangannya mulai memancarkan cahaya yang jauh lebih terang daripada sebelumnya. Ruang di sekitarnya bergetar hebat. Asteroid-asteroid kecil hancur hanya karena tekanan energinya. Para prajurit Aquila langsung mundur. Bahkan armada yang berada jauh di belakang ikut menjauh. Mereka tahu. Jenderal kekaisaran itu akhirnya akan bertarung dengan kekuatan yang sesungguhnya.

Thraxor mengangkat pedangnya perlahan. "Kalau tidak bisa diselesaikan dengan damai... Satu-satunya jalan adalah kemenangan mutlak." Tatapannya berubah dingin. "Aku akan mengalahkanmu. Lalu Aquila tidak lagi memiliki penjaga. Dan saat itu... Kekaisaran akan mengambil alih konstelasi ini."

Asgard menarik napas panjang. Ia kembali bersiap melawan. Meski mengetahui peluang kemenangannya sangat kecil. Ia tidak mundur.

Selama dirinya masih berdiri. Aquila masih memiliki seorang penjaga.

More Chapters