Garm terbangun dengan napas berat.
Matanya berkedip pelan… dan rasa sakit langsung menyambar di seluruh tubuhnya.
Saat ia menunduk, ia mendapati tubuhnya penuh perban di beberapa bagian—lengan, dada, juga sisi pinggang. Aroma ramuan obat menempel di udara, bercampur bau batu lembap.
Garm memaksa duduk.
Di sekelilingnya… goa.
Gelap, dingin, sunyi—hanya terdengar tetesan air dari stalaktit. Tidak ada api unggun. Tidak ada suara langkah.
Garm (dalam hati):
…Aku hidup?
Lalu para monster itu…
Begitu ia mencoba mengingat, kepalanya nyeri seperti dipalu. Ia meringis, menahan pelipis.
Lalu—
Suara dari kegelapan.
???: "Jadi kau sudah sadar."
"Aku kira kau akan terbaring selama seminggu."
"Ras beastkin di dunia ini… cukup tangguh juga."
Garm menegang. Tangan refleks meraih sisi tempat tidur batu itu, seakan mencari senjata yang tak ada.
Garm: "Siapa di sana?!"
Dari kegelapan terdengar helaan napas, seperti orang yang pura-pura tersinggung.
???: "Oh? Jadi itu kata pertama yang kudengar setelah aku menyelamatkanmu?"
"Hm… malang sekali nasibku."
"Menyelamatkan beastkin dari ambang kematian tanpa ucapan terima kasih."
Garm tercekat. Sekejap rasa malu mengalahkan insting waspadanya.
Garm: "A-ah… maaf."
"Terima kasih… telah menyelamatkanku."
Hening sesaat.
Lalu langkah kaki pelan mendekat.
Dari kegelapan, sosok itu maju—cukup dekat hingga cahaya lembut dari celah goa menyingkapkan garis wajahnya.
Ia seorang pria… tapi auranya membuat Garm sulit menebak.
Wajahnya tegas dan tampan, telinga sedikit meruncing seperti elf—namun ada tekanan yang "berat" seperti demon. Matanya tajam, tenang, seolah sudah melihat terlalu banyak tragedi.
Ia tersenyum tipis.
Pria itu: "Sekarang terdengar lebih sopan."
Ia berdiri di depan Garm, lalu memperkenalkan diri dengan nada santai, hampir mengejek.
Pria itu: "Namaku Kael Vharos."
"Campuran… elf dan demon."
"Dan kau? Aku tidak suka menyelamatkan orang tanpa tahu namanya."
Garm mengangguk pelan, menahan sakit saat menegakkan punggung.
Garm: "Aku… Garm."
"Beastskin serigala."
Kael mengamati perban di tubuh Garm, lalu menatapnya lagi.
Kael: "Nah."
"Sekarang jelaskan."
"Kenapa monster anomali mengejarmu seperti kau membawa bau masalah?"
Garm menelan ludah. Ia ingat—tujuannya. Nyra. Rei. Monster anomali.
Garm: "Sebelum itu… sudah berapa lama aku tidak sadar?"
Kael menjawab tanpa ragu.
Kael: "Satu hari penuh."
Mata Garm membesar.
Garm: "Satu hari…?!"
Ia langsung memaksa bangkit.
Tapi begitu kakinya menyentuh tanah, tubuhnya goyah. Luka di sisi pinggang seperti ditarik paksa. Ia hampir jatuh.
Kael bergerak cepat, menopang bahu Garm dengan satu tangan.
Kael: "Pelan."
"Tubuhmu belum pulih."
"Kalau kau pingsan lagi, aku tak berniat merawatmu dua kali."
Garm menggertakkan gigi, frustrasi.
Garm:
"Aku harus kembali."
"Ada seseorang yang menungguku."
"Dan aku tidak mau membuatnya menunggu lebih lama karena kebodohanku sendiri."
Kael menatap Garm lama. Tatapannya seperti menimbang apakah Garm layak dipercaya… atau hanya orang bodoh yang mencari mati.
Kael: "Siapa?"
"Dan siapa yang menunggumu?"
Garm ragu. Ia belum tahu tujuan Kael. Dan Kael orang asing.
Kael menyadari keraguan itu dan mendengus kecil.
Kael: "Tenang saja."
"Kalau aku berniat jahat, kau sudah mati sebelum sempat bangun."
"Aku merawatmu sampai sadar. Itu cukup jadi bukti."
Garm menggenggam perban di lengannya, lalu menghela napas.
Garm: "Baik… Aku akan jelaskan."
"Tapi… berjanjilah kau tidak menyebarkan ini kepada siapa pun."
Kael mengangkat alis.
Kael: "Itu tergantung."
"Rahasiamu berbahaya atau tidak."
Garm tahu ia tidak punya pilihan. Dalam kondisi begini, ia tak mungkin kabur.
Ia menunduk sebentar—lalu bicara.
Garm: "Aku masuk ke Hutan Terlarang untuk menemui seseorang…"
"Dan tujuannya… menyangkut monster anomali."
"Itu terkait penyelidikan pacarku… yang pernah bertugas di Dunia Manusia."
Kael terdiam sepersekian detik. Wajahnya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang melintas di matanya—sesuatu yang ia simpan rapat.
Namun ia tidak berkata apa-apa tentang itu.
Kael: "Pacarmu? Menarik."
"Lalu siapa orang yang ingin kau temui?"
Garm menelan ludah.
Garm: "…Namanya Rei."
"Ras… manusia."
Kael terdiam sesaat.
Bukan karena terkejut—melainkan seperti seseorang yang baru mendengar nama yang seharusnya tidak muncul di tempat ini.
Tapi ia tidak mengungkapkan apa yang ia pikirkan.
Ia hanya menghela napas pelan, lalu mengangguk.
Kael:
"Manusia, hm..."
"Baik."
"Sekarang aku jadi lebih tertarik."
Garm menatap Kael, lega bercampur waspada.
Garm: "Terima kasih."
Kael melangkah ke pintu goa, lalu menoleh.
Kael: "Naik."
"Ke punggungku."
Garm membeku.
Garm: "Hah?"
Kael: "Kalau kau jalan sendiri, kita akan sampai saat kau sudah jadi tulang."
"Aku tak punya waktu."
Dengan susah payah, Garm naik ke punggung Kael dan berpegangan erat. Saat tangannya menempel pada bahu Kael, Garm merasakan sesuatu yang aneh—
Kulit Kael… tidak terasa seperti demon pada umumnya. Tidak panas dan kasar. Lebih… "dingin" dan padat, seperti lapisan energi yang menahan sesuatu di bawahnya.
Kael berdiri di bibir goa, memandang hutan.
Kael: "Arah."
Garm memfokuskan penglihatannya, mengenali jalur.
Garm: "Ke sana… Jalur yang menuju gerbang dimensi."
Kael mengangguk sekali.
Kael: "Pegang erat."
Lalu—
Dalam sekejap, Kael melesat.
Bukan cepat seperti lari.
Ini seperti… angin yang berubah menjadi manusia.
Pohon-pohon menjadi garis buram. Tanah terasa lenyap di bawah mereka. Garm terkejut sampai napasnya tercekat.
Garm: "Gila…!"
Kael tidak menoleh.
Kael: "Jangan banyak bicara."
"Kau akan menggigit lidahmu sendiri."
Mereka menembus Hutan Terlarang, dan setelah sekitar sepuluh menit, Kael mengurangi kecepatan.
Di depan… bayangan gerbang dimensi terlihat, masih jauh—sekitar seratus meter.
Kael berhenti di balik pepohonan.
Kael: "Kita sudah dekat."
"Kau bilang Rei ada di sekitar sini?"
Garm menatap ke depan, napasnya berat.
Garm: "Ya… Seharusnya… di dekat gerbang."
Kael menyipitkan mata ke arah gerbang dimensi yang tampak samar di kejauhan.
Dan tanpa Garm sadari, beberapa hari sebelumnya—di tempat yang sama—sebuah percakapan yang tak seharusnya ringan sedang membuka luka lama yang selama ini disimpan Rei.
—Beberapa Hari Sebelumnya (Hutan Terlarang, Elyndor)— Sisi Rei & Lirya
Setelah Rei mengungkapkan umurnya, hari-hari berikutnya di depan gerbang dimensi terasa… aneh.
Bukan karena cuaca.
Melainkan karena jarak antara Rei dan dunia ini makin terasa.
Pagi itu, Rei duduk seperti biasa di hadapan gerbang—diam, punggung tegak, mata menatap resonansi yang tak terlihat.
Di sebelahnya, Lirya duduk bersandar ringan pada akar pohon besar, menatap Rei dengan rasa ingin tahu yang tak bisa ia sembunyikan lebih lama.
Angin hutan bergeser.
Lirya menunduk sebentar, lalu memutuskan mendekat.
Lirya: "Rei."
"Aku ingin bertanya… tentang kehidupanmu dulu."
"Dunia aslimu."
Rei melirik Lirya sekilas—tatapannya datar, seperti menilai apakah pertanyaan itu pantas.
Lalu ia kembali menatap gerbang.
Dan akhirnya bicara.
Rei: "Duniaku… bernama Astraelys."
"Dunia itu… mirip Elyndor dan Dunia Manusia."
"Tapi lebih… menyatu."
Lirya menahan napas. Ia tidak menyela.
Rei: "Di sana, manusia, demon, elf, naga, peri, beastkin, half-elf, dryad, lizardman, roh… hidup berdampingan."
"Tidak sempurna. Tapi konflik besar jarang terjadi."
"Orang-orang percaya dunia itu 'damai'."
Lirya mengerutkan kening.
Lirya: "Kedengarannya… seperti mimpi."
Rei tertawa pelan—tanpa senyum.
Rei: "Ya."
"Itu yang mereka pikirkan."
"Karena penderitaan… terjadi di tempat yang tidak mereka lihat."
Rei menghela napas.
Rei: "Aku… bukan anak keluarga bangsawan."
"Aku anak panti asuhan."
Ia berhenti sebentar.
Lirya bisa merasakan, setiap kata selanjutnya bukan cerita—melainkan luka.
Rei: "Aku dibawa… ke tempat lain."
"Panti asuhan itu hanya 'pintu depan'."
Lirya menegang, ekor tipisnya bergerak gelisah.
Rei: "Di bawahnya… ada organisasi kotor."
"Lab rahasia."
"Mereka melakukan eksperimen pada anak-anak yatim dari berbagai ras."
Lirya menggertakkan gigi.
Lirya: "Siapa yang melakukan itu…?"
Rei tidak menjawab nama.
Hanya meneruskan.
Rei:
"Di sana… aku tidak punya nama."
"Mereka tidak memanggilku sebagai anak."
"Tidak juga sebagai manusia."
"Aku hanya nomor."
"Subjek 07."
Lirya tidak langsung menjawab.
Angin yang tadi bergerak pelan terasa mendadak lebih dingin.
Ia menatap Rei seperti baru sadar bahwa pria di sampingnya bukan sekadar pendiam—melainkan seseorang yang pernah diperlakukan lebih rendah dari benda.
Lirya: "…07."
Rei mengangguk.
Rei: "Setiap hari… suntikan, pemotongan, pemaksaan energi, penggabungan inti, pengujian daya tahan."
"Mereka ingin membuat 'wadah' yang bisa menampung ribuan eksperimen tanpa hancur."
Lirya mengepal.
Lirya: "Dan kau…?"
Rei: "Aku bertahan."
"Bukan karena kuat."
"Tapi karena… kalau aku mati, aku tidak bisa memastikan apa yang terjadi pada orang lain."
Rei berhenti sejenak.
Rei: "Mereka puas."
"Karena Subjek 07… tidak runtuh."
Lirya menelan ludah.
Lirya: "Lalu bagaimana kau keluar?"
Rei menatap gerbang, lalu menjawab pelan:
Rei: "Saat itu terjadi serangan."
"Kelompok petualang… dan pihak atas dari berbagai ras… curiga pada panti itu."
"Mereka menyelidiki."
"Dan menemukan… kebenaran."
Lirya terdiam, lalu bergumam:
Lirya: "Mereka datang menyelamatkanmu…"
Rei menggeleng tipis.
Rei: "Mereka datang untuk menghentikan organisasi itu."
"Menyelamatkan… adalah bonus."
"Karena perlawanan yang mereka hadapi… bukan musuh biasa."
Rei melanjutkan, suaranya sedikit lebih berat.
Rei: "Salah satu profesor demon… mengaktifkan eksperimen mereka."
"Mereka melepaskan 'senjata' yang mereka ciptakan."
Lirya menatap Rei.
Lirya:
"Siapa?"
"Apa itu dirimu?"
Rei menggeleng dan menjawab tanpa menatapnya.
Rei: "Subjek lain."
"Seorang gadis demon… ia tidak lebih beruntung dariku..."
"Tubuhnya dijadikan senjata."
"Pikirannya dipatahkan."
"Saat dilepas, ia hanya mematuhi perintah satu orang."
"Dia juga hanya diberi kode."
Rei menutup mata sejenak.
Rei: "Subjek 11."
Lirya merinding.
Lirya: "Dan gadis itu… menyerang para petualang?"
Rei mengangguk.
Rei: "Ia… menghancurkan ratusan petualang sendirian."
"Bukan karena jahat."
"Tapi karena kesadarannya sudah dihancurkan, ia hanya bisa mematuhi perintah."
Lirya mengepal, amarahnya bergetar.
Lirya: "Lalu kau…?"
Rei menarik napas panjang.
Rei: "Dalam kekacauan itu… ada beberapa petualang yang menyelinap masuk."
"Mereka melihatku."
"Aku… sedang tidak sadar—mungkin efek eksperimen terakhir."
"Mereka tidak bisa mengalahkan Subjek 11."
"Jadi mereka… memilih membawa keluar satu orang yang bisa mereka bawa."
Lirya berbisik pelan:
Lirya: "Kau."
Rei membuka mata.
Rei: "Ya."
"Aku dibawa pergi."
"Dan itulah… awal kehidupanku yang 'baru'."
"Tapi luka itu… tidak pernah benar-benar pergi."
Hening panjang menyelimuti pohon besar itu.
Lirya menatap Rei, dan untuk pertama kalinya… kesombongan di matanya runtuh.
Lirya: "…Rei."
Rei tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap gerbang—seolah resonansi dari jiwa lain adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap "di sini", bukan "di sana".
Dan jauh di luar sana… takdir sedang bergerak pelan, membawa Garm dan Kael menuju gerbang yang tak hanya memisahkan dunia—tetapi juga menyimpan masa lalu yang belum benar-benar mati.
