Angin hutan menggesek daun-daun tua.
Di depan gerbang dimensi, Lirya masih duduk di samping Rei—kali ini tatapannya tidak lagi penuh rasa ingin tahu biasa, melainkan berat, seperti menahan emosi yang baru ia pahami.
Dari balik pepohonan, Sylvhia memantau tanpa menampakkan diri—auranya sesekali berdenyut halus, tanda ia benar-benar mendengarkan.
Lirya menelan ludah.
Lirya: "Rei…"
"Setelah kau dibawa pergi dari panti itu… apa yang terjadi?"
Rei melirik Lirya sekilas, lalu kembali menatap gerbang. Suaranya datar, tapi setiap kata terasa seperti ia mengulang sesuatu yang tidak ingin ia ingat.
Rei: "Aku dibawa ke sebuah kota."
"Ada… lima orang dari berbagai ras."
"Mereka yang menyelinap masuk dan membawaku keluar."
Lirya mengangguk pelan. Ia tidak memaksa bertanya nama.
Rei: "Mereka membawaku ke sebuah mansion."
"Milik bangsawan demon."
Lirya terkejut tipis, tapi tetap diam.
Rei: "Di sana mereka berdiskusi."
"Membahas kenapa mereka mundur…"
"Dan membahas bocah yang mereka bawa."
Rei berhenti sejenak, lalu suaranya melunak—sedikit saja.
Rei: "Akhirnya… salah satu bangsawan demon memilih merawatku."
"Istrinya… yang juga demon."
"Ingin sekali memiliki keturunan."
Lirya bisa membayangkan: sebuah rumah besar, tegas, tapi sunyi—lalu tiba-tiba ada bocah kecil manusia yang masuk sebagai "anak".
Rei: "Wanita itu… yang pertama kali memberiku nama."
"Dia bilang… aku tidak boleh lagi dipanggil kode."
"Dan sejak saat itu… aku dipanggil Rei."
Lirya menahan napas.
Lirya: "Apa mereka… menyayangimu?"
Rei mengangguk pelan.
Rei: "Mereka merawatku dengan kasih sayang yang tidak pernah aku rasakan."
"Walau banyak yang tidak setuju… karena aku manusia."
"Tapi… mereka tetap memilihku."
Rei menatap ujung gerbang, seperti melihat masa itu lewat celah tipis di udara.
Rei: "Aku hidup damai di sana."
"Selama dua belas tahun."
Lirya hampir tersenyum—tapi senyum itu tidak jadi. Karena ia tahu, cerita Rei tidak akan berhenti di kata "damai".
Rei melanjutkan.
Rei: "Tapi organisasi itu… tidak berhenti."
"Selama dua belas tahun itu… mereka menghancurkan kota demi kota secara perlahan."
"Mencari keberadaanku."
Lirya mengepal.
Lirya: "Mereka… benar-benar…."
Rei: "Mereka datang ke kotaku."
"Dipimpin para profesor."
"Dan mereka membawa… senjata mereka."
Rei menarik napas panjang—kali ini terasa ada luka yang naik ke permukaan.
Rei: "Subjek 11."
Lirya merinding.
Dari jauh, Sylvhia yang memantau ikut menegang—dan untuk sesaat, aura hutannya seperti ikut diam.
Rei melanjutkan, suaranya sedikit lebih rendah.
Rei: "Subjek 11 menghancurkan berbagai tempat."
"Petualang, bangsawan, orang-orang kuat… mencoba melawan."
"Tapi perlawanan mereka… sia-sia."
Lirya menggertakkan gigi.
Rei menatap kosong.
Rei: "Orang tua angkatku… mencoba menyembunyikanku."
"Mereka tahu… yang dicari adalah aku."
"Tapi… pelacak energi milik Subjek 11… menemukan kami."
Lirya menahan napas saat Rei menyebut bagian itu.
Rei: "Profesor menuntut aku untuk diserahkan dan akan membiarkan yang lainnya hidup."
"Tapi orang tua angkatku menolak."
"Karena mereka tahu, organisasi itu tidak akan membiarkan siapa pun tetap hidup."
"Dan orang tua angkatku mengatakan bahwa… aku anak mereka."
Lirya menatap Rei, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar paham kenapa Rei tampak "hampa"—karena ia sudah kehilangan lebih dari sekali.
Rei: "Teman-temanku—lima orang yang dulu membawaku keluar—juga mencoba melindungiku."
"Tapi profesor memerintahkan Subjek 11 menghabisi mereka."
"Karena mereka menolak tunduk."
Rei menutup mata.
Rei: "Mereka semua… kalah."
"Terbunuh."
Hening. Hutan seolah ikut menahan napas.
Lirya ingin bicara, tapi tidak bisa dan hanya bisa mengepalkan jari-jarinya.
Rei membuka mata. Tatapannya berubah sedikit—bukan marah, tapi seperti seseorang yang mengingat kembali titik patah di hidupnya.
Rei: "Saat itu… jiwaku goyah."
"Aku melihat kebahagiaanku hilang… dalam satu hari."
"Dan… sesuatu di dalamku pecah."
Rei menatap tangannya sendiri, seolah masih bisa merasakan panas energi itu.
Rei: "Energi dalam tubuhku… meledak."
"Dan aku… akhirnya melawan Subjek 11."
Lirya menelan ludah.
Lirya: "Kau… bertarung dengannya?"
Rei: "Ya."
"Dan pertarungan itu… menghancurkan segalanya."
"Bukan hanya kota."
"Tapi dunia… perlahan jadi puing."
Rei menarik napas, suaranya makin sunyi.
Rei: "Aku tidak tahu berapa lama kami bertarung."
"Tahun… terasa seperti hari."
"Hari… terasa seperti detik."
"Aku marah."
"Dia tidak terkendali."
"Kami… seperti dua bencana yang saling menabrak."
Lirya bergidik. Bahkan Raja demon yang ia anggap kuat—tapi ini… level yang berbeda.
Rei menutup mata sebentar, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rapuh.
Rei: "Aku tidak bisa menang."
"Aku… tidak bisa menghentikannya."
Lirya berbisik:
Lirya: "…Lalu bagaimana?"
Rei membuka mata perlahan, seolah sedang melihat kembali pemandangan yang bahkan setelah ratusan tahun pun belum benar-benar pudar dari ingatannya.
Rei:
"Aku akhirnya sadar… siapa yang sedang kulawan selama itu."
Lirya menahan napas.
Lirya:
"…Siapa?"
Rei menatap gerbang di hadapannya, tapi matanya jelas sedang melihat tempat lain. Tempat yang jauh. Tempat yang sudah menjadi abu.
Rei:
"Aku memanggilnya."
"Bukan dengan kode."
"Bukan dengan nama yang diberikan para profesor itu."
Ia berhenti sejenak.
Rei:
"Aku memanggil nama yang dulu kubuat sendiri…"
"Nama yang hanya kupakai saat kami masih anak-anak."
Suara Rei turun. Sangat pelan.
Rei:
"Elyss."
"Teman masa kecilku.
"Dan… cinta pertamaku."
Hening.
Nama itu jatuh di antara pepohonan seperti sesuatu yang rapuh.
Lirya tidak langsung bertanya. Ia bisa merasakan… nama itu bukan sekadar nama. Nama itu adalah rumah yang pernah dimiliki Rei, lalu hilang.
Rei melanjutkan, suaranya tetap datar—tapi justru karena terlalu datar, rasa sakitnya terdengar lebih jelas.
Rei:
"Setelah aku memanggil namanya… gerakannya berhenti."
"Tidak langsung."
"Tapi cukup… untuk membuatku tahu bahwa itu benar dia, dan di dalam tubuh yang sudah dijadikan senjata itu… masih ada dirinya."
Lirya menelan ludah.
Lirya:
"Jadi… dia benar-benar mendengarmu?"
Rei mengangguk pelan.
Rei:
"Ya."
"Matanya berubah."
"Tatapannya… tidak lagi kosong."
Rei memejamkan mata sebentar, seolah adegan itu terlalu jelas.
Rei:
"Elyss menatapku."
"Lalu menatap sekeliling."
Angin hutan bergerak pelan.
Rei:
"Dia melihat langit yang pecah."
"Melihat kota yang sudah tidak berbentuk."
"Melihat tanah yang hangus."
"Melihat… sisa dunia yang pernah kami kenal."
Lirya mengepalkan tangannya tanpa sadar.
Rei:
"Dan untuk pertama kalinya… dia sadar apa yang telah terjadi."
Suara Rei makin lirih.
Rei:
"Dia bertanya padaku…"
"'Rei… apa yang terjadi?'"
Hening panjang.
Lirya bisa membayangkannya dengan terlalu jelas: seorang gadis yang baru sadar dari neraka, lalu mendapati dunia di sekelilingnya sudah nyaris tak tersisa.
Rei:
"Aku tidak ingin menjawab."
"Tapi aku tahu… dia berhak tahu."
"Jadi aku ceritakan."
"Sedikit demi sedikit."
Rei menunduk.
Rei:
"Aku bilang padanya bahwa organisasi itu menghancurkan segalanya."
"Aku bilang orang tua angkatku telah tiada."
"Aku bilang teman-temanku… juga sudah mati."
"Aku bilang… dunia kami sudah hampir habis."
Lirya menutup mulutnya pelan.
Rei:
"Elyss hanya diam."
"Lalu… dia mulai menangis."
Untuk pertama kalinya, suara Rei pecah sedikit.
Rei:
"Itu bukan tangis marah."
"Bukan juga tangis takut."
"Itu… tangis seseorang yang sadar dirinya dipakai untuk menghancurkan semua yang pernah ia miliki."
Lirya menatap Rei, dan di wajah pria itu ia melihat sesuatu yang jarang muncul: bukan kekuatan, bukan ketenangan… melainkan kelelahan yang sangat tua.
Rei:
"Aku mencoba menenangkannya."
"Aku memeluknya."
"Aku bilang… itu bukan sepenuhnya salahnya."
"Aku bilang… dia juga korban."
Rei menggenggam tangannya sendiri.
Rei:
"Tapi tubuhnya mulai bergetar."
"Energi anomali di dalam dirinya tidak stabil."
"Aku bisa merasakannya."
"Semakin lama kesadarannya kembali… semakin kacau inti di dalam tubuhnya."
Lirya menegang.
Lirya:
"Lalu…?"
Rei:
"Lalu Elyss memohon padaku."
Lirya:
"…Apa?"
Rei mengangkat pandangannya sedikit. Untuk pertama kalinya, matanya terlihat kosong dengan cara yang benar-benar menyakitkan.
Rei:
"Dia memintaku membunuhnya."
Lirya langsung mematung.
Lirya:
"Tidak…"
Rei:
"Aku menolak."
"Berkali-kali."
Suaranya turun lagi.
Rei:
"Aku bilang kita masih bisa cari cara."
"Aku bilang kita bisa pergi jauh."
"Aku bilang selama kami masih hidup… pasti ada jalan."
Rei tertawa kecil. Tawa yang tidak hangat.
Rei:
"Tapi waktu itu… aku masih terlalu bodoh untuk percaya bahwa semua luka bisa disembuhkan hanya dengan bertahan hidup."
Hutan kembali sunyi.
Rei:
"Elyss bilang… kalau aku tidak menghentikannya saat itu juga, energi anomali di dalam dirinya akan lepas lagi."
"Dan kali itu… bukan hanya Astraelys yang hancur."
"Tapi dunia lain juga bisa ikut terseret."
Lirya merasakan tengkuknya dingin.
Rei:
"Dia bilang… kalau aku benar-benar masih mengingatnya sebagai Elyss…"
"Kalau aku benar-benar masih peduli…"
"maka aku harus mengakhirinya sebelum dirinya hilang lagi."
Lirya menggigit bibir.
Lirya:
"Dan kau…?"
Rei menutup mata.
Rei:
"Aku tetap tidak bisa."
Suaranya sangat pelan sekarang.
Rei:
"Aku hanya menangis."
"Aku tidak bisa mengangkat pedang."
"Aku tidak bisa berpikir."
"Aku tidak bisa menerima bahwa orang pertama yang membuatku merasa hidup… justru harus mati oleh tanganku."
Lirya menunduk. Dadanya terasa sesak, tapi ia tahu itu tidak sebanding dengan apa yang pernah dirasakan Rei.
Rei:
"Lalu Elyss tersenyum."
Lirya perlahan mengangkat kepala.
Rei:
"Bahkan setelah semua yang terjadi… dia masih tersenyum padaku."
"Dan itu… lebih menyakitkan daripada semua luka yang pernah kuterima."
Rei menelan ludah.
Rei:
"Dia bilang…"
"'Maaf, Rei.'"
"'Aku merusak dunia kita.'"
"'Aku merusak kebahagiaanmu.'"
Suara Rei nyaris tak terdengar.
Rei:
"Lalu dia bilang…"
"'Aku harap kau bisa tetap hidup.'"
"'Aku harap suatu hari nanti… ada seseorang yang bisa menemanimu menghapus luka ini.'"
Hening.
Tidak ada yang bergerak.
Bahkan angin seolah berhenti.
Rei:
"Setelah itu… matanya mulai goyah lagi."
"Kesadarannya pecah."
"Aku tahu… kalau aku terlambat satu detik saja… Elyss akan hilang."
"Yang tersisa hanya senjata itu."
Lirya mengepal kedua tangannya erat-erat.
Rei:
"Aku memanggil pedang dimensiku."
Ia menatap telapak tangannya sendiri.
Rei:
"Tanganku gemetar."
"Aku bahkan hampir tidak bisa menggenggam gagangnya."
Rei menarik napas panjang.
Rei:
"Aku mendekat."
"Elyss masih menatapku."
"Dan aku… menangis saat mengayunkannya."
Kalimat berikutnya keluar seperti pisau.
Rei:
"Aku menebasnya dengan tanganku sendiri."
Lirya menutup mulutnya.
Matanya membesar, tapi tak ada kata yang keluar.
Rei:
"Tubuh Elyss jatuh di pelukanku."
"Hangatnya memudar pelan-pelan."
"Dan sebelum cahaya di matanya benar-benar hilang… dia masih sempat menatapku seperti dulu."
Rei menunduk.
Rei:
"Seperti bukan monster."
"Bukan senjata."
"Hanya… Elyss."
Hening panjang menelan segalanya.
Lalu suara Rei berubah—lebih berat.
Rei:
"Aku kira semuanya selesai setelah itu."
"Aku kira energi anomali akan ikut lenyap bersama dirinya."
Ia menggeleng pelan.
Rei:
"Aku salah."
Lirya menegang lagi.
Rei:
"Begitu Elyss benar-benar tiada… energi anomali itu justru meledak keluar."
"Membelah langit."
"Meretakkan tanah."
"Menyebar seperti wabah yang punya kehendak sendiri."
Rei menatap jauh ke depan.
Rei:
"Dan dari ledakan itu… lahirlah monster-monster anomali."
Lirya berbisik sangat pelan:
Lirya:
"…Jadi semuanya… bermula dari sana."
Rei mengangguk.
Rei:
"Ya."
"Dari duniaku yang runtuh."
"Dari cintaku yang mati di tanganku sendiri."
"Dan dari satu ledakan… yang tidak pernah benar-benar selesai sampai sekarang."
Rei menghela napas.
Rei: "Pertarungan itu berlangsung beberapa hari."
"Setelah itu… aku mencari tempat aman."
"Untuk memulihkan tubuhku yang rusak."
"Jiwaku juga sudah lelah akibat pertarungan panjang dengannya."
Lirya menatap Rei, suaranya gemetar.
Lirya: "Lalu… apa yang kau lakukan untuk memulihkan tubuh dan jiwamu?"
Rei menghembuskan napas pelan.
Rei: "Aku punya teknik—kekuatan Phoenix dari hasil salah satu eksperimen."
"Reinkarnasi pertama… terjadi di Astraelys."
"Aku kembali ke usia lima tahun."
"Tapi dengan kekuatan utuh."
Lirya tercengang.
Rei: "Tahun demi tahun… aku hidup untuk satu hal."
"Membasmi monster anomali seorang diri."
Rei menatap tangan, seolah masih merasakan darah yang tak pernah kering.
Rei: "Ratusan tahun."
"Tak habis-habis."
Lirya menelan ludah.
Rei: "Aku lelah."
"Aku… tidak mau hanya bertarung sampai gila."
"Aku mencari cara lain… jika tidak bisa aku musnahkan..."
Lirya mencondongkan tubuh seperti tau apa yang Rei akan ucapkan.
Lirya: "Kau mencoba untuk menyegel mereka di dunia Astraelys…?"
Rei mengangguk.
Rei: "Hanya itu cara satu-satunya yang terpikirkan olehku."
"Dan saat itu aku melakukan reinkarnasi keduaku."
"Setelah itu aku mencoba membuka portal dimensi lain dengan salah satu kekuatanku…"
"Tapi tindakan itu memancing monster anomali datang."
Rei menatap gerbang dimensi di depan mereka—seolah itu pantulan portal yang ia tutup.
Rei: "Hingga akhirnya aku berhasil membuka portal…"
"Aku bergegas lari melewati gerbang."
"Tapi sebagian energi anomali… ikut terbawa bersamaku."
Lirya menegang.
Rei: "Aku sampai di Elyndor."
"Aku buru-buru menyegel portal dunia asalku."
"Lalu aku melawan monster yang lolos."
Rei menoleh sedikit pada Lirya.
Rei: "Di situlah… aku bertemu para Guardian."
"Mereka membantuku."
"Pertarungan itu… berlangsung sekitar satu tahun."
Hening.
Lirya menatap Rei dengan wajah yang jauh berbeda dari sebelumnya—bukan lagi dominan, bukan lagi sok kuat.
Ada rasa hormat… dan rasa sakit yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
Dari balik pepohonan, Sylvhia menatap Rei lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak menggoda.
Hanya diam.
Dan di sisi lain hutan…
di suatu tempat yang tak mereka sadari…
takdir sedang bergerak: Garm—dan Kael Vharos—telah mendekat ke gerbang dimensi.
