Daun-daun tua bergetar pelan ketika cerita Rei selesai.
Lirya menatap Rei lama—seolah baru sadar: dinginnya Rei bukan karena tak punya hati, tapi karena hatinya sudah terlalu sering dipaksa patah, sampai rasa pun menipis.
Di atas dahan pohon besar tak jauh dari sana, Sylvhia menutup mulutnya dengan jemari. Untuk pertama kalinya, ratu dryad itu tidak menggoda. Matanya basah.
Sylvhia melompat turun dan berjalan cepat, ingin memeluk Rei.
Namun—
Lirya langsung menyambar dan menahan tubuh Sylvhia dengan satu tarikan tegas.
Lirya: "Cukup. Aku tahu niatmu."
Sylvhia mendecak kesal, tapi tidak memaksa. Ia memang… punya kebiasaan "menekan" Rei dengan hal-hal yang terlalu dekat.
Rei hanya menghela napas pelan.
Rei: "Tidak usah bersedih."
"Itu masa lalu."
"Sudah ratusan tahun."
Lirya dan Sylvhia sama-sama terdiam—dalam hati mereka memikirkan hal yang sama: kalau itu masa lalu… kenapa suaranya terdengar seperti masih memikulnya?
Belum sempat suasana mengendap, terdengar suara langkah yang terburu-buru—dan suara yang amat Rei kenal.
Garm: "REI!"
Lirya menoleh.
Di balik pepohonan, terlihat Garm—tubuhnya penuh perban, langkahnya pincang… dan ia ditopang oleh seorang Kael: aura seperti demon, tapi ada "garis halus" elf yang melekat pada keberadaannya.
Begitu Lirya melihat pria asing di samping Garm, bulu kuduknya berdiri. Aura pria itu bukan sekadar kuat—ada "dingin" yang mengingatkannya pada sesuatu yang salah.
Insting Lirya meledak.
Lirya melesat—niatnya jelas: menyerang pria di sisi Garm.
Lirya: "Menjauh darinya—!"
Garm panik, berusaha bicara—
tapi belum sempat satu kata keluar…
Pria itu hanya tersenyum tipis.
Kael: "Menarik…"
Dengan gerakan kilat—lebih cepat dari bayangan—ia membawa Garm "meluncur" ke samping, menjauh beberapa meter dari lintasan serangan Lirya. Seolah jarak itu tidak ada artinya.
Lirya membelalak.
Lirya (dalam hati):
Apa… bagaimana dia melakukannya?
Sylvhia pun ikut terkejut—dan Sylvhia jarang benar-benar "kaget".
Lirya hendak menyerang lagi.
Namun—
suara Rei memotong tajam, dingin, dan absolut.
Rei: "Cukup, Lirya."
"Dia… salah satu temanku."
Langkah Lirya berhenti di udara.
Lirya (dalam hati):
Teman? Rei?
Pria itu menoleh ke arah gerbang… lalu tatapannya berubah, seperti melihat hantu yang seharusnya sudah lama hilang.
Dalam sekejap, pria itu melesat—kali ini ke sisi Rei—dan berdiri sangat dekat, terlalu dekat untuk ukuran "orang asing".
Kael:
"Ah…"
"Benar saja."
Ia tersenyum miring, seperti kebiasaan lama yang hidup kembali.
Kael:
"Aku kira… aku tidak akan pernah melihatmu lagi."
"Bocah manusia dari keluarga bangsawan demon…"
"Lama tidak bertemu, Rei."
Rei menjawab datar—tapi di balik datarnya itu, ada pengakuan tanpa kata.
Rei:
"Ya."
"Aku juga sempat berpikir begitu."
"Lama tidak bertemu… Senior Kael."
Garm yang masih ditopang mendengus kesakitan.
Garm: "Ahem… bisa tolong… lepaskan aku dulu…? Aku ini luka-luka…"
Kael tersadar, seolah baru ingat ada orang setengah mati di lengannya.
Kael: "Oh. Benar."
"Maaf."
Kael membantu Garm duduk. Rei menoleh pada Sylvhia.
Rei: "Sylvhia."
"Sembuhkan dia."
Tanpa penolakan Sylvhia mendekat kepada Garm, menempelkan telapak tangan pada perban-perban Garm. Cahaya hijau lembut merembes seperti embun hutan—mengurangi nyeri, menstabilkan napas, menguatkan tubuh.
Lirya yang masih tegang menghampiri Rei, suaranya tajam tapi terkendali.
Lirya: "Jadi… dia salah satu dari lima orang yang membawamu kabur dari lab itu?"
Rei mengangguk.
Lirya menatap Rei, bingung.
Lirya: "Kalau begitu… kenapa kau terlihat… biasa saja bertemu dengannya?"
Rei tidak langsung menjawab. Matanya kembali ke gerbang dimensi.
Lalu ia bicara—pelan, dingin, seperti fakta.
Rei: "Karena rasanya sudah menipis."
"Sedih, senang, dendam—semuanya seperti warna yang dicuci berulang kali."
"Aku… cuma tubuh yang masih bergerak, tapi perasaanku tertinggal jauh."
Kael langsung menyela, nada suaranya lebih manusiawi daripada kelihatannya.
Kael: "Jangan bicara begitu."
"Kau tetap manusia seutuhnya, Rei."
"Walau wujudmu… berbeda."
Kael duduk di samping Rei, menatapnya dari samping—seolah memastikan Rei benar-benar ada di sana.
Kael: "Aku… tidak menyangka kau masih hidup."
"Aku kira… hanya aku yang lolos."
Rei melirik.
Rei: "Maksudmu… ada kemungkinan yang lain selamat?"
Kael menghela napas panjang—lalu mulai bercerita.
Kael: "Saat gadis itu menyerang mansion… kami memang mencoba melawan."
"Tapi aku selamat karena artefak penyelamat."
"Aku berteleportasi ke tempat aman."
Ia menatap ke tanah, mengingat sesuatu yang memuakkan.
Kael: "Aku memutuskan untuk kembali."
"Tapi yang kutemukan… bukan pertempuran biasa."
"Aku melihat kau dan gadis itu bertarung… sampai dataran jadi kosong."
"Aku… hanya bisa bertahan hidup."
Kael berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan.
Kael: "Aku melihat kau memeluknya."
"Aku juga melihat kau… membunuhnya."
Lirya mengepalkan tangan, sementara Sylvhia yang sedang menyembuhkan Garm menahan napas.
Kael melanjutkan.
Kael: "Setelah itu… energi anomali menyebar."
"Monster muncul."
"Aku dikepung."
Kael tersenyum pahit.
Kael: "Aku lari."
"Aku bersembunyi."
"Bertahun-tahun… yang bisa kulakukan hanya berlari."
Ia menatap Rei.
Kael: "Sampai akhirnya aku menemukan sebuah buku catatan… di reruntuhan."
"Isinya tentang cara pergi ke dimensi lain—dengan batu dimensi."
"Katanya… ada tiga batu dimensi di dunia itu."
Rei tidak bertanya dunia apa—karena Rei tahu Kael sedang bicara tentang dunia yang sama dengan dunia asalnya.
Kael: "Aku mencari sambil bersembunyi dari monster."
"Ratusan tahun aku mencari batu itu."
"Sampai akhirnya aku dapat salah satu batu dimensi…"
"Dan aku terlempar ke dunia ini."
Lirya menyipit.
Lirya: "Jadi kau… muncul di hutan terlarang?"
Kael mengangguk.
Kael: "Ya."
"Beberapa hari setelah tiba, aku… bertahan hidup sebisaku."
"Sampai akhirnya aku bertemu beastskin ini."
Kael melirik Garm yang kini napasnya lebih stabil.
Rei: "Lalu… yang lain?"
"Apa ada yang selamat?"
Kael menatap jauh, ragu.
Kael: "Aku tidak yakin… bisa disebut 'hidup'."
"Sekitar dua ratus tahun lalu, aku masuk reruntuhan kota untuk mencari batu dimensi…"
"Di sana aku melihat tiga orang yang aku kenal."
"Mereka… salah satu dari lima orang yang dulu menolongmu."
Lirya menegang.
Kael melanjutkan dengan hati-hati.
Kael: "Tapi tubuh mereka… dipenuhi energi anomali."
"Aku ingin menyapa…"
"Tapi aku mengurungkan niat."
"Instingku bilang… mereka bukan lagi orang yang kukenal."
Rei menatap gerbang dimensi, diam beberapa detik.
Rei:
"Kalau yang kau lihat itu benar…"
"kemungkinan besar mereka juga sedang mencari batu dimensi."
"Dan kalau mereka benar-benar terlempar…"
"mereka bisa saja sampai ke Elyndor."
"Atau… ke dunia manusia."
"Jika itu yang terjadi, maka sangat mungkin target mereka adalah separuh jiwaku yang ada di sana."
Kael memiringkan kepala.
Kael: "Kau memecah setengah jiwamu ke dunia manusia… untuk apa?"
Rei menjawab pendek.
Rei: "Aku ingin hidup normal."
"Walau… sepertinya itu tidak pernah benar-benar bisa."
Kael menatap mata Rei—baru sekarang ia benar-benar memperhatikan.
Kael: "Pantas."
"Mata kirimu… bukan hitam."
"Ada biru."
Lirya menyela, nadanya curiga tapi penasaran.
Lirya: "Kael."
"Kau lebih tua dari Rei?"
"Apa kau juga… memiliki kekuatan reinkarnasi?"
Kael tertawa lebar, seperti kembali ke persona lamanya.
Kael: "Aku tidak seperti Rei."
"Aku berdarah campuran elf dan demon."
"Umur panjang itu… bawaan."
"Dan penampilan ini… ya sihir."
Ia menyeringai.
Kael:
"Tapi benar. Aku lebih tua dari Rei."
"Dan lebih tampan."
"Hahaha."
Rei menatapnya datar.
Rei:
"Kau hidup lebih dari seribu tahun…"
"dan masih sendiri, Senior."
"Ingat itu."
Kael menghentikan tawa kebanggaannya karena mendengar itu.
Semua terpaku.
Lirya, Sylvhia, bahkan Garm yang setengah lemah—ikut menatap Kael dengan ekspresi 'serius?'.
Kael langsung kesal.
Kael:
"Hei! Jangan bongkar aibku!"
"Dan aku yakin kau pun tidak memiliki pasangan kan?"
Rei tidak menanggapi.
Sylvhia tiba-tiba ikut bicara, nada menggoda muncul lagi sedikit.
Sylvhia: "Kalau soal pasangan… Rei sudah membuat aku memilihnya."
"Aku bahkan rela bila harus memiliki keturunan sekarang ini."
Lirya refleks mengeratkan tangan, aura cemburu muncul.
Kael menatap Sylvhia, lalu menatap Lirya, lalu menghela napas dramatis.
Kael: "Sungguh dunia tidak adil…"
"Ada yang mengejar Rei sampai ingin punya anak…"
"Sedangkan aku—"
Rei memotong tanpa emosi.
Rei:
"Berhenti membahas hal sepele."
"Kembali ke masalah utama."
Rei menoleh ke Garm, yang kini kondisinya jauh lebih stabil karena penyembuhan Sylvhia.
Rei:
"Jelaskan."
"Kenapa kau bisa begini."
"Dan apa sebenarnya yang ingin kau tanyakan?"
Garm menarik napas, lalu mulai bicara, jelas dan hati-hati.
Garm: "Nyra… saat bertugas di dunia manusia… memakai sihir kilas balik."
"Dia melihat beberapa orang bertudung di sebuah gang."
"Salah satu dari mereka mengangkat tangan… seperti memanggil sesuatu."
"Lalu monster anomali muncul."
"Nyra mencoba mengintip lebih jauh, tapi energinya ditolak—"
"Dan salah satu dari mereka… seperti sadar sedang diawasi."
Kael dan Rei saling melirik—seolah paham siapa yang 'menatap balik' Nyra saat itu.
Kael tidak menyebut nama apa pun, tapi ekspresi wajahnya berkata: ini mengarah ke orang yang sama.
Lirya menyipit, mencoba menangkap makna di antara jeda mereka.
Lirya: "Kalian tahu… siapa 'dia'?"
Rei menjawab pelan.
Rei: "Kemungkinan."
"Tapi belum yakin apakah benar itu orang yang kami kenal atau bukan."
Garm menunduk, lalu bertanya hati-hati.
Garm: "Rei… apa Nyra boleh tahu tentangmu?"
"Dan tentang apa yang terjadi di hutan ini?"
Rei terdiam sejenak, menimbang akibat yang mungkin muncul setelahnya.
Lirya menahan napas—menunggu jawaban.
Akhirnya Rei berkata:
Rei:
"Terlalu berisiko."
"Kalau Nyra tahu… bukan cuma pihak atas dunianya yang mengawasinya."
"Tapi juga… pihak dari duniaku."
"Dan itu bisa membahayakan mereka yang tidak bersalah."
Garm mengangguk, wajahnya serius.
Garm: "Aku mengerti."
"Aku tidak akan mengatakan apapun."
Lalu ia menambahkan, lebih pelan:
Garm: "Tapi… aku butuh izinmu."
"Agar aku bisa menjelaskan alasannya… tanpa membocorkan semuanya."
"Supaya Nyra mengerti… aku tidak sedang menutup-nutupi."
Rei mengangguk kecil.
Rei:
"Baik."
"Jelaskanlah secukupnya tanpa memberikan detail lainnya."
Baru setelah itu, Lirya menatap Garm dengan mata yang lebih "ringan" dari tadi.
Lirya:
"Kalau begitu… bagaimana hubunganmu dengan petugas itu?"
Garm tersipu. Tangannya menggaruk belakang kepala—kebiasaan yang sama seperti kemarin.
Garm: "…Kami sudah berpacaran."
Sylvhia tersenyum lembut.
Lirya terlihat lega.
Tapi Kael—langsung lemas dramatis, menempelkan punggung ke batu.
Kael:
"Hah…"
"Beastskin baru beberapa hari sudah pacaran…"
"Sedangkan aku seribu tahun—"
"Tanpa masa depan yang pasti."
Rei menatapnya.
Kael langsung diam.
Rei:
"Apa kau hanya melihat tiga orang itu saja senior."
"Tanpa melihat yang lain?"
Kael terdiam mendengar maksud Rei dari 'yang lain'.
Kael:
"Tidak."
"Dan aku harap ia juga selamat dan tidak seperti tiga yang lain."
Dan di bawah hening itu, tetap ada bayangan yang menggantung—
tiga sosok bertudung itu belum bernama, belum terbuka.
Sementara "orang keempat" dari lima penolong lama Rei… mungkin bukan lenyap.
Mungkin ia hanya sudah berubah—dan sedang berjalan menuju dunia manusia atau dunia Elyndor.
