Cherreads

Chapter 146 - Bab 146: Air Mancur, Janji, dan Pintu yang Menunggu

Siang itu, Nyra membereskan rumahnya hingga rapi. Lantai bersih, dapur tertata, halaman disapu.

Namun ketika matahari tepat di atas kepala, rasa bosan menyelinap—dan bersamanya, kerinduan yang tak mau pergi.

Nyra akhirnya memutuskan pergi ke pusat kota.

Langkahnya berhenti di tempat yang sangat ia kenal: bangku dekat air mancur.

Tempat di mana seseorang pernah berdiri dengan wajah panik, berteriak tanpa peduli tatapan orang-orang.

Nyra tersenyum kecil.

Nyra (dalam hati):

Dasar bodoh… berteriak seperti itu di tengah kota.

Air mancur memercikkan cahaya. Angin siang berhembus pelan.

Kenangan itu terasa hangat—dan justru karena itu, hatinya sedikit perih.

Setelah beberapa saat, Nyra bangkit dan menuju tempat makan sederhana langganannya.

Tempat yang sama—meja yang sama—di mana ia pernah makan bersama orang yang kini tak memberi kabar.

Makanan datang.

Namun sendoknya terhenti.

Rasa gelisah itu kembali hadir. Dadanya terasa sempit. Nafasnya tidak tenang.

Nyra (pelan):

"…Kenapa lagi…?"

Ia mencoba makan—gagal.

Akhirnya Nyra memilih membungkus makanan dan pulang.

Sesampainya di rumah, ia langsung menuju kamar.

Berbaring di kasur. Menatap langit-langit.

Nyra:

"Garm… di mana kamu sebenarnya?"

"Kenapa tidak memberi kabar…?"

"Apa kamu akan mengingkari janji untuk membuatku berpaling…?"

Ia menutup mata sebentar, lalu membuka lagi.

Nyra (lirih):

"Tapi caramu sekarang justru membuatku tidak bisa berpaling pada siapa pun selainmu."

"Jadi… cepatlah kembali."

Kalimat itu berakhir dengan hembusan napas panjang.

Kelelahan pikiran dan hati akhirnya membuat Nyra terlelap.

Sore tiba.

Nyra terbangun tersentak, melihat cahaya jingga di jendela.

Nyra: "…Kanna!"

Ia bergegas bangkit dan berlari ke luar—namun langkahnya terhenti.

Di depan pintu… Kanna sudah berdiri, wajahnya cemberut, tangan terlipat di dada.

Kanna: "Kakak lupa lagi."

Nyra terdiam sesaat, lalu langsung berlutut sedikit.

Nyra: "Maaf… maaf, Kanna."

"Kakak benar-benar lupa."

Kanna memalingkan wajah, jelas kesal.

Nyra menggenggam tangan adiknya.

Nyra: "Sebagai permintaan maaf… kakak akan buatkan apa pun yang kamu mau."

Kanna melirik, lalu pura-pura berpikir.

Kanna: "…Puding."

Nyra tersenyum lega.

Nyra: "Baik. Kakak akan buatkan banyak untukmu."

Mereka masuk. Nyra menuju dapur dan mulai membuat puding, sementara Kanna duduk di ruang makan, kakinya bergoyang pelan.

Tiba-tiba—

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu.

Kanna langsung berdiri.

Kanna: "Biar aku saja, Kak."

"Itu pasti Kak Garm!"

Nyra terdiam.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Nyra: "…Iya. Tolong lihat."

Kanna berlari kecil ke pintu dengan wajah ceria.

Gagang itu dingin. Kanna menarik napas.

Lalu—klik.

Pintu terbuka.

Seketika mata Kanna terpaku pada satu sosok di depan pintu.

Senyum yang tadi merekah… runtuh perlahan.

Dan sebelum Nyra sempat melangkah mendekat untuk melihat siapa di balik ambang itu—

takdir di tempat lain, pada waktu yang berbeda, sudah lebih dulu menancapkan pisau.

---

—Beberapa minggu sebelumnya | Dunia Manusia | SMA Shirokaze—

FITNAH DI PAPAN PENGUMUMAN

Pagi itu di SMA Shirokaze dunia manusia datang seperti biasa—dingin dan tanpa sambutan.

Sebelum bel pelajaran pertama berbunyi, Mina sudah duduk di bangkunya, membuka buku, mencoba memahami materi yang ia pelajari semalam.

Tak lama kemudian, sebuah suara menyapanya.

Natsumi: "Pagi, Mina. Gimana kabarmu hari ini?"

Mina tidak menoleh. Tidak menjawab.

Pena tetap bergerak di atas kertas.

Natsumi menghela napas.

Natsumi:

"Jangan diam saja."

"Kita kan sudah berteman."

"Kamu bisa cerita ke aku."

Mina berhenti menulis.

Mina:

"Untuk apa aku bercerita?"

"Semua orang sudah membenciku."

"Siapa yang akan percaya pada pengkhianat?"

Natsumi mengepalkan tangan—lalu berdiri tiba-tiba.

Natsumi (meninggikan suara):

"APA KALIAN MASIH MEMBENCI MINA?!"

Seluruh kelas terdiam.

Natsumi:

"Aku sudah bilang beberapa hari lalu!"

"Mina punya alasan kuat!"

"Iya, dia salah!"

"Tapi cintanya pada Rei itu TULUS—aku melihatnya dari matanya!"

"Jadi apa kalian masih tidak percaya?!"

Keheningan menekan ruangan.

Mina berdiri pelan.

Mina:

"Cukup, Natsumi."

"Apa kamu tidak puas membuat semua orang semakin membenciku?"

Ia menatap Natsumi dingin.

Mina:

"Percuma."

"Yang mereka tahu hanya aku menyakiti Rei sampai dia tidak bersekolah lagi."

"Tidak akan ada yang percaya."

Ia melanjutkan menulis dan dengan suara datar—menusuk.

Mina:

"Aku akan mengurus masalahku dengan Rei sendiri."

"Dan soal ucapanmu dulu…"

"Aku akan mati tanpa penyesalan—setelah aku meminta maaf padanya."

Seluruh kelas membeku.

Natsumi: "…Mina…"

Bel pelajaran berbunyi memecah suasana.

Guru masuk. Semua kembali ke tempat duduk—masih terkejut.

Natsumi duduk dengan rahang mengeras—bukan marah pada Mina, tapi pada dirinya sendiri.

Pelajaran berlangsung.

Mina fokus. Seolah tak terjadi apa-apa.

Saat istirahat, Mina membuka bekal dari ibunya.

Beberapa murid mendekat. Bayangan mereka menutupi meja.

Mina:

"Kenapa kalian berkumpul?"

"Pergilah."

"Anggap aku tidak ada—seperti yang selalu kalian lakukan."

Seorang siswi menunduk.

Siswi: "Maaf, Mina… kami salah menilaimu."

Siswa lain menambahkan.

Siswa: "Kalau kamu mau menjelaskan… kami mau mencoba percaya."

Natsumi:

"Mina, tolong."

"Kalau alasanmu jelas, kami akan mengubah cara pandang kami."

Mina meletakkan sendok.

Menatap satu per satu—dingin, kosong.

Mina:

"Pergi."

Tiba-tiba, seorang siswa masuk dengan napas terengah.

Siswa: "Natsumi! Papan pengumuman!"

Natsumi: "Ada apa?"

Siswa:

"Ada berita…"

"Katanya keluarga Mina berutang pada keluarga Hayato…"

"Dengan syarat… menjual tubuh Mina."

Kelas gempar.

Natsumi menoleh ke Mina—yang wajahnya tetap datar.

Natsumi: "Mina… itu benar?"

Mina berdiri.

Mina: "Minggir."

Ia berjalan menuju papan pengumuman. Murid-murid mengikutinya.

Kerumunan ramai. Bisik-bisik jijik. Ada yang tertawa kecil. Ada yang merekam.

Mina berdiri di depan papan itu—membaca isinya—lalu mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi bergetar dengan nomor yang tidak ia kenal namun ia tahu siapa yang menghubunginya.

Mina:

"Terima kasih atas fitnahmu, Hayato."

"Apa masih ada yang ingin kau sebarkan?"

Hayato (telepon):

"Ah jadi kau sudah tau bahwa aku akan menghubungimu dengan nomer lain setelah kau memblokir nomor lamaku."

"Dan apakah kau suka akan hadiah yang kuberikan?"

"Itu akibatnya karena kau mengabaikanku."

"Jangan harap hidupmu tenang."

Mina tersenyum dingin.

Mina:

"Kalau begitu, jangan setengah-setengah."

"Sebarkan yang lebih kotor."

"Aku sudah tidur denganmu."

"Atau dengan banyak pria."

"Bukankah itu lebih menyenangkan bagimu?"

Seluruh murid terperangah.

Hayato terdiam—lalu marah.

Mina memutus panggilan.

Memblokir nomor itu.

Ada yang menurunkan ponselnya, malu karena tadi merekam.

Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan kembali ke kelas—meninggalkan kerumunan yang diam.

Untuk pertama kalinya, bisik-bisik itu tidak terdengar yakin.

Mereka baru sadar… mungkin yang selama ini kotor bukan Mina—

tapi cerita yang sengaja dibuat untuk membunuhnya pelan-pelan.

More Chapters