Cherreads

Chapter 147 - Bab 147: Sakura yang Menjadi Saksi

Mina meninggalkan kerumunan di papan pengumuman tanpa menoleh lagi.

Langkahnya membawa tubuhnya menuju belakang sekolah, tempat yang jarang didatangi siapa pun.

Di sana, berdiri sebatang pohon sakura—kelopaknya gugur perlahan tertiup angin.

Begitu sampai, Mina berhenti.

Tangannya gemetar.

Dadanya terasa sesak.

Dan akhirnya, air mata yang sedari tadi tertahan pun jatuh.

Mina:

"…Aku benar-benar sendirian ya…"

Ia meraih batang pohon sakura, menempelkan dahi.

Mina:

"Apa aku memang tidak pantas bahagia…"

"Bahkan jika hanya sebentar…"

"Atau ini memang karma yang harus kutanggung…?"

Isakannya pecah.

Mina:

"Apa aku sanggup menerima semua ini sendiri…?"

Ia terdiam, menarik napas dengan susah payah.

Bayangan itu kembali muncul—

seorang gadis berambut terang dengan senyum hangat.

Mina (lirih):

"Andai Aelria ada di sini…"

"Pasti dia akan memelukku dan berkata aku tidak sendirian…"

Tangannya mengepal.

Mina:

"Tapi jika Aelria tahu apa yang terjadi pada Rei…"

"Aku yakin… dia tidak akan pernah memaafkanku."

Kelopak sakura jatuh menutupi rambutnya.

Mina menangis tanpa suara, sendirian.

—Suara yang Akhirnya Didengar

Di depan papan pengumuman, suasana masih membeku.

Para murid berdiri dalam diam—terpukul oleh kata-kata Mina sebelumnya.

Di tengah mereka, Natsumi Kagehara melangkah maju.

Natsumi:

"Sekarang kalian paham, kan?"

"Kenapa aku bilang beberapa hari lalu bahwa Mina punya alasan kuat."

Beberapa murid menunduk.

Natsumi:

"Aku melihat sorot mata Mina saat kami bertengkar."

"Tidak ada kebohongan di sana."

Ia menghela napas.

Natsumi:

"Rei memang tidak pantas diperlakukan seperti itu."

"Aku juga pernah ditolong oleh Rei."

"Dan karena itu… aku juga marah."

Nada suaranya melembut.

Natsumi:

"Tapi menghakimi Mina hanya dari satu sisi—itu salah."

"Sekarang terserah kalian."

"Mau percaya pada apa yang kalian dengar langsung…"

"Atau tetap memeluk rumor."

Tanpa menunggu jawaban, Natsumi berbalik dan berlari.

—Pelukan di Balik Sekolah

Natsumi menyusuri kelas, toilet, kantin—kosong.

Ia berhenti di depan kelas Mina.

Natsumi (dalam hati):

Tasnya masih di sini…

Jantungnya berdebar.

Natsumi: "…Belakang sekolah."

Ia berlari.

Napasnya terengah saat akhirnya sampai—

dan di sanalah Mina berada.

Menangis.

Sendirian.

Natsumi mendekat tanpa suara, lalu memeluk Mina dari belakang.

Natsumi:

"Kamu tidak sendirian, Mina."

"Ada aku di sini."

Mina tersentak.

Natsumi:

"Aku akan membantumu."

"Meyakinkan murid-murid."

"Meyakinkan Rei."

"Dan… Aelria juga."

Suaranya bergetar.

Natsumi:

"Maafkan aku atas kata-kataku dulu."

"Aku bilang kamu lebih baik mati…"

"Aku salah."

Ia menunduk.

Natsumi:

"Aku marah karena Rei terlalu baik."

"Dan aku pernah menerima kebaikannya."

"Tapi itu tidak memberiku hak untuk melukaimu."

Mina perlahan menoleh.

Mina:

"…Kau benar-benar mau mendengarkanku?"

"Dan percaya padaku?"

Natsumi melepaskan pelukan, menatap Mina dengan sungguh-sungguh.

Natsumi:

"Iya."

"Itu alasan aku ingin menjadi temanmu."

Mina memejamkan mata sejenak—menenangkan napasnya—lalu mulai bercerita.

Tentang ayah Hayato.

Tentang utang keluarga.

Tentang pertunangan yang dipaksakan.

Tentang Rei—yang ia cintai.

Tentang kata-kata kejam yang harus ia ucapkan untuk melindungi keluarga.

Tentang keluarga Hayato yang tak pernah menerimanya.

Dan tentang keputusan membatalkan pertunangan—meski masa depan keluarganya terancam hancur.

Natsumi menutup mulutnya.

Air matanya jatuh.

Ia memeluk Mina kembali.

Natsumi:

"Maafkan kami, Mina…"

"Kalau kami tahu yang sebenarnya…"

"Maaf…"

Mina:

"Tidak perlu."

"Semua sudah terjadi."

Ia menghela napas.

Mina:

"Aku akan meminta maaf pada Rei."

"Apa pun yang terjadi."

Nada suaranya goyah.

Mina:

"Tapi Aelria…"

"Dia yang mengenalkanku pada Rei."

"Dia sahabat masa kecil Rei."

"Aku tahu… dia tidak akan memaafkanku."

Natsumi:

"Aku akan membantumu."

"Agar Aelria mengerti."

Mina tersenyum tipis.

Bel masuk berbunyi.

Mina:

"Ayo kembali ke kelas."

"Aku harus belajar untuk ujian minggu depan."

Natsumi:

"Berarti kita benar-benar berteman, kan?"

Mina: "…Iya."

—Maaf yang Terlambat

Saat Mina dan Natsumi memasuki kelas, semua mata tertuju pada mereka.

Mina berjalan tenang—

hingga tiba-tiba seluruh kelas berdiri dan menunduk.

Murid-murid:

"Maafkan kami, Mina."

Keheningan menelan ruangan.

Murid:

"Kami salah menilaimu."

"Dan setelah mendengar percakapanmu dengan Hayato…"

"Mungkin… rumor itu tidak benar."

Meski tidak semua menunduk dengan tulus.

Ada yang berbisik pelan, seolah takut Mina mendengar, "Jangan gampang percaya… orang kayak dia pasti punya cara."

Mina tersenyum.

Mina:

"Tidak apa-apa."

"Aku memaafkan… tapi aku butuh waktu untuk percaya lagi."

Wajah-wajah itu terlihat lega.

Namun ada beberapa tetap menatap tajam, seolah menunggu Mina jatuh lagi.

Guru masuk. Pelajaran dimulai.

Sore tiba.

Bel pulang berbunyi.

Beberapa teman menghampiri Mina.

Teman: "Belajar bareng, Mina?"

Mina hampir menjawab—

namun Natsumi datang dan menarik tangannya.

Natsumi:

"Hari ini Mina milikku."

"Giliran kalian lain waktu."

Mereka tertawa kecil.

Mina ikut tersenyum, berjalan pergi bersama Natsumi.

Mina (dalam hati):

Terima kasih… karena mau mengerti dan menerimaku lagi.

Di sudut kelas, sebuah ponsel masih merekam kepergian mereka—dan pemiliknya tersenyum kecil.

Jempolnya menekan 'kirim', entah ke siapa.

—Beberapa Minggu Setelahnya — Hina & Ravien

(Timeline berbeda — beberapa minggu setelah kisah Mina)

Sementara itu, di tempat lain… beberapa minggu setelah badai fitnah Mina mereda…

Siang itu, taman terasa tenang.

Hina bersandar di bahu Ravien.

Di pangkuannya, Sora tertidur pulas.

Ravien:

"Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"

Hina tetap memejamkan mata.

Hina:

"Aku tidak ingin ke mana-mana."

"Cukup dekatmu saja… aku sudah bahagia."

Ravien tersenyum kecil, mengelus rambut Hina.

Ravien:

"Jangan begitu."

"Aku ingin kamu menikmati liburanmu."

"Bukan hanya menerima keegoisanku."

Nada suaranya lembut namun tegas.

Ravien:

"Mulai sekarang, kamu harus belajar egois."

"Pada keinginanmu… kepadaku."

Hina membuka mata.

Hina: "…Kalau begitu aku mau yang manis."

Ravien:

"Baiklah, Tuan Putri."

"Kita ke toko roti dekat hotel."

"Aku belikan semua yang kamu mau."

Hina sedikit menjauh, cemberut.

Hina:

"Jangan kebanyakan."

"Nanti aku gemuk."

"Kalau aku gemuk… kamu berpaling."

Ravien tertawa, lalu mencubit hidungnya.

Ravien:

"Apa pun kondisimu, aku tetap mencintaimu."

"Karena bersamamu… aku paling nyaman."

"Kamu satu-satunya."

Hina tersipu.

Hina: "Terima kasih…"

Ravien: "Akulah yang harusnya berterima kasih."

Ravien tersenyum dan ia bangkit.

Ravien: "Ayo. Bangunkan Sora."

Sora terbangun, lalu hinggap di pundak Ravien.

Mereka berjalan bersama—

tangan Ravien membawa belanjaan,

lengannya merangkul pinggang Hina.

Mereka berburu makanan manis dan aksesoris yang Hina suka.

Dan melihat senyum Hina—

Ravien (dalam hati):

Apa pun yang terjadi… aku tidak akan membuatmu bersedih lagi.

Sore tiba.

Hina tampak lelah.

Ravien: "Kita kembali ke hotel."

Hina: "…Iya."

Mereka melangkah pulang bersama—

di bawah langit senja yang hangat.

Berbeda dengan Mina yang baru saja belajar dipercaya, Hina belajar… bahwa ada orang yang memilihnya tanpa syarat.

More Chapters