Cherreads

Chapter 154 - Bab 154: Pelajaran Renang di Bawah Langit Pagi

Di tepi kolam renang hotel, Hina berdiri dengan hati-hati. Kedua tangannya berpegangan pada pinggir kolam, sementara kakinya perlahan mengayuh air—canggung, ragu, namun penuh usaha.

Di sampingnya, Ravien berdiri setengah berjongkok, memperhatikan setiap gerakan Hina dengan saksama.

Ravien (lembut):

"Pelan saja. Gerakkan kakimu seperti yang tadi… iya, begitu."

Ravien mendampingi Hina dengan kesabaran yang tak biasa, seperti seseorang yang sedang mengasuh anak bebek belajar berenang. Beberapa kali Hina salah gerak, membuat air terciprat kecil dan gerakannya menjadi kaku. Tanpa sadar, Ravien terkekeh pelan.

Hina menundukkan wajahnya, pipinya memerah.

Hina :

"Jangan ketawa… aku memang tidak pandai berenang."

Ravien menghentikan tawanya. Ia mengulurkan tangan, mengelus lembut kepala Hina.

Ravien :

"Tidak apa-apa. Kalau kamu tidak bisa berenang, setidaknya kamu pandai menyembuhkan lukaku."

Hina menatapnya sejenak. Di dalam hatinya, ia berjanji—bukan pada siapa pun selain dirinya sendiri.

Hina (dalam hati): Aku akan berusaha menyembuhkan luka masa lalumu…

Setelah beberapa gerakan ringan, Ravien mengajak Hina menuju bagian kolam yang sedikit lebih dalam.

Hina ragu. Langkahnya terhenti sesaat.

Namun melihat Ravien yang sejak tadi hanya fokus padanya—tanpa berpaling, tanpa terganggu—Hina menguatkan tekad.

Ravien mengulurkan tangannya.

Ravien :

"Pegang tanganku. Ingat yang sudah kita pelajari."

Hina menggenggam tangan Ravien. Perlahan, mereka melangkah ke bagian yang lebih dalam secara perlahan. Saat kaki Hina tak lagi menapak lantai kolam, Ravien langsung memegang kedua tangannya dengan mantap.

Ravien :

"Sekarang, gerakkan kakimu. Jangan takut. Aku di sini."

Hina mengangguk. Ia mulai menggerakkan kaki, mencoba berenang dengan bantuan Ravien. Namun karena gugup, gerakan kakinya terlalu cepat. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, napasnya tersengal, tenaganya terkuras.

Hina (terengah):

"R-Ravien… aku…"

Seketika, Ravien menopang tubuhnya dengan sigap.

Ravien :

"Bagus. Itu pengalaman yang kamu butuhkan. Aku akan tetap membantumu sampai kamu bisa."

Ia membawa Hina kembali ke tepi kolam. Begitu sampai di bagian dangkal, Ravien menggeser posisi tubuhnya, satu lengannya menyusup ke bawah lutut Hina, sementara yang lain menopang punggungnya.

Dalam satu gerakan mantap, ia mengangkat Hina ke dalam pelukan princess carry.

Hina tersentak pelan, refleks menggenggam dadanya.

Hina: "R-Ravien…"

Ravien tidak menjawab. Ia hanya menguatkan genggamannya.

Kakinya menapak lantai kolam yang dangkal. Ravien menjejakkan telapak kakinya dengan mantap, lalu menekuk lututnya sedikit—

BRAASH—!

Air terciprat keras saat ia meloncat keluar dari kolam. Tubuhnya mendarat stabil di tepi kolam, Hina tetap terlindung di dalam pelukannya tanpa terguncang sedikit pun.

Suara air dari kolam terdengar setelah Ravien melompat, membuat beberapa pengunjung terkejut melihat caranya keluar dari kolam. Di kejauhan, Rei, Riku, Rika, dan Airi yang masih di air ikut terdiam sesaat.

Ravien membaringkan Hina di kursi lounger. Ia mengambil handuk dan menyelimutkan tubuh Hina dengan rapi, lalu duduk di sampingnya, menunggu dengan sabar.

Tak lama kemudian, Aelria dan yang lain datang membawa beberapa makanan.

Aelria :

"Hina kenapa?"

Ravien :

"Kelelahan. Tadi belajar berenang."

Aelria menghela napas lega. Ia tersenyum kecil—keberadaan Ravien di sisi Hina membuatnya yakin tak ada hal buruk terjadi.

Tak lama, Rei muncul dari kolam.

Rei :

"Kalian habis dari mana?"

Aelria menoleh. Seketika ia membeku melihat Rei yang hanya mengenakan celana renang, tanpa atasan. Tubuh idealnya terpampang jelas.

Seris menepuk pundak Aelria.

Seris (berbisik):

"Sadar. Nanti lalat masuk mulutmu."

Aelria tersentak.

Aelria (gugup):

"A-aku cuma kaget… baru pertama lihat Rei tanpa atasan."

Rei mengalihkan perhatian ke Ravien.

Rei :

"Apa yang terjadi?"

Ravien menjelaskan singkat. Rei mengangguk, lalu menatapnya dengan tulus.

Rei :

"Terima kasih sudah menjaga Hina."

Ravien mendengus kecil.

Ravien :

"Jangan bilang merepotkan. Dia wanita-ku. Apa pun yang dia mau akan kulakukan, selama dia bahagia."

Seris : "Kakak… kau bilangnya di depan umum"

Hina yang sudah terbangun pun langsung menutup wajah dengan handuk, telinganya merah.

Hina (pelan):

"Ravien…"

Ravien segera menoleh kepada Hina yang ternyata sudah bangun.

Ravien :

"Ada yang sakit?"

Hina :

"Tidak… aku sudah lebih baik."

Rinna menghampiri.

Rinna :

"Ayo makan. Sudah hampir siang."

Dari kejauhan, Noelle dan Nerine berteriak.

Noelle :

"Kalau lama—"

Nerine :

"Kami habiskan semua makanannya!"

Rika langsung bergerak mengambil makanan.

Ravien menunduk pada Hina.

Ravien :

"Kamu mau makan apa?"

Hina :

"Roti…"

Ravien menoleh—roti sudah habis, diserbu si kembar dan Rika.

Ia menggenggam lembut tangan Hina.

Ravien :

"Tunggu sebentar. Aku belikan kue yang kemarin kamu suka."

Hina :

"Hati-hati."

Ravien tersenyum, lalu pergi setelah mengambil bajunya.

Rei menyerahkan minuman buah pada Hina.

Rei :

"Minum dulu."

Siang itu, mereka makan bersama di tepi kolam—tertawa ringan, berbagi cerita, menikmati hari libur terakhir tanpa tahu bahwa di balik ketenangan itu, bayangan bahaya perlahan mendekat.

More Chapters