Cherreads

Chapter 153 - Bab 153: Bayangan di Atas Laut, Tawa di Tepi Kolam

Langit malam membentang luas di atas lautan yang tenang. Angin asin berembus pelan, menyentuh tiga sosok yang melayang tinggi, nyaris tak terlihat oleh mata biasa. Dari ketinggian itu, pandangan mereka tertuju pada sebuah bangunan bercahaya di tepi pantai—sebuah tempat makan yang ramai oleh berbagai ras.

Di sanalah Rei dan teman-temannya tengah menikmati makan malam, tertawa tanpa curiga bahwa nasib sedang diawasi dari atas.

Sosok pertama—seorang perempuan—menyipitkan mata, senyum tipis terukir di wajahnya.

Sosok Perempuan :

"Target sudah ditemukan."

Salah satu dari dua sosok laki-laki di sisinya menoleh, nadanya dingin dan terukur.

Sosok Laki-laki Pertama :

"Langkah selanjutnya?"

Sosok laki-laki kedua mengangkat tangan sedikit, seolah menahan.

Sosok Laki-laki Kedua :

"Kita hubungi pimpinan dulu."

Perempuan itu mengangguk pelan, tatapannya tetap mengunci bangunan di bawah.

"Tenang saja. Sebentar lagi pemimpin akan datang."

Belum sempat kata-kata itu memudar, retakan dimensi terbuka di belakang mereka. Cahaya gelap berputar, lalu seorang pria melangkah keluar dengan wibawa yang menekan udara di sekitarnya.

Ketiga sosok itu serempak berbalik, mendarat, lalu berlutut rendah.

Tiga Sosok (bersamaan):

"Tuan."

Pria itu menatap sosok perempuan pertama.

Sang Tuan :

"Bagaimana target yang kita cari? Sudah ditemukan?"

Sosok Perempuan :

"Sudah, Tuan."

Ia ragu sejenak, lalu bertanya,

"Langkah selanjutnya?"

Sang Tuan :

"Jalankan besok, seperti yang telah ditentukan."

Tanpa menunggu tanggapan, sang tuan berbalik. Retakan dimensi kembali terbuka, menelan sosoknya hingga menghilang tanpa jejak.

Dua laki-laki itu menatap perempuan di antara mereka.

Sosok Laki-laki Pertama :

"Kita mulai sesuai instruksi."

Sosok Laki-laki Kedua :

"Jangan ada kesalahan."

Perempuan itu tersenyum tipis, penuh keyakinan.

"Kali ini tidak akan gagal seperti sebelumnya."

Malam pun menutup segalanya dengan sunyi.

Di sisi lain kota, Rei dan teman-temannya telah menyelesaikan makan malam. Mereka kembali ke hotel untuk beristirahat, satu per satu masuk ke kamar masing-masing.

Di kamarnya, Rei berbaring menatap langit-langit, pikirannya melayang pada rencana esok hari. Tak lama, Riku menutup panggilan di ponselnya dan menoleh ke arah Rei yang melamun.

Riku :

"Izin untuk acara besok malam sudah disetujui."

Mata Rei berbinar.

Rei :

"Syukurlah! Kalau begitu kita bisa fokus menyiapkan semuanya."

Ia bangkit sedikit.

"Besok kita cari bahan masakan."

Pandangan Rei dan Riku serempak tertuju pada Ravien yang duduk menyandar, lengan terlipat.

Ravien—mendecakkan lidah.

Ravien :

"Menyebalkan… tapi aku akan membantu soal masakan. Ini hanya karena Hina, bukan alasan lain."

Rei dan Riku tertawa kecil.

Riku :

"Kalau begitu nanti aku bilang ke Hina supaya membujukmu masak setiap hari."

Rei :

"Jangan begitu. Kita bisa dianggap mengeksploitasinya."

Ravien menoleh tajam.

Ravien :

"Kalau kau berani berkata begitu pada Hina, akan kubawa dia menjauh dari kalian."

Riku :

"Hahaha… kau benar-benar cuma peduli pada Hina."

Rei menatap Ravien dengan lebih serius.

Rei :

"Ravien… aku minta satu hal."

Ravien :

"Apa."

Rei :

"Jangan biarkan Hina sendirian. Jangan cuma jaga tubuhnya—jaga hatinya."

Ravien :

"…Aku tahu."

"Aku sudah berjanji. Aku tak akan membiarkan Hina merasa sendirian. Dia yang membuatku bisa percaya lagi… menyembuhkan luka masa laluku."

Riku menghela napas.

Riku :

"Aku minta maaf. Aku tahu… aku pernah jadi orang yang membuatnya terluka. Tapi hatiku memilih Rika. Dan aku bersyukur kau hadir—Hina benar-benar bahagia bersamamu."

Ravien tersenyum tipis.

Ravien :

"Bersyukurlah aku belum ada saat itu. Kalau tidak, mungkin kau sudah tak di sini, Riku."

Riku terdiam sesaat, lalu tertawa canggung.

Riku :

"Aku akan lapor ke pacarku! Kalau aku menghilang, itu tanggung jawabmu!"

Rei tertawa. Dan saat Riku melihat dirinya.

Rei :

"Aku tak bisa membantu. Aku tak punya kekuatan apa pun."

Riku makin pucat.

Ravien terkekeh melihat Riku yang nampak pucat.

Ravien :

"Tenang saja. Hina sudah melarangku melakukan hal bodoh sore tadi."

Riku menghela napas lega setelah Hina sudah melarangnya.

Riku :

"Besok aku akan berterima kasih padanya."

Malam menelan suara mereka satu per satu.

Dan ketika pagi datang, sesuatu sudah bergerak lebih dulu.

Pagi harinya, Rei terbangun dan mendapati ranjang kedua temannya sudah kosong. Ia melihat ponselnya—pukul sembilan pagi. Pintu kamar mandi terbuka, Riku keluar sambil mengeringkan rambut.

Riku :

"Sudah bangun? Kupikir sampai siang."

Rei :

"Maaf, kemarin benar-benar melelahkan. Ravien di mana?"

Riku :

"Sejak pagi pergi... mungkin bersama Hina."

Tak lama notifikasi masuk di ponsel Rei.

Aelria :

"Kalau sudah bangun, ke kolam renang hotel ya. Kami sedang berenang."

Rei membalas singkat, lalu bersiap sambil meminta Riku menunggunya.

Dua puluh menit kemudian, mereka berjalan keluar kamar menuju lobi hotel untuk ke kolam renang yang ada di belakang hotel.

Area kolam luas, dipenuhi berbagai ras yang menikmati pagi. Suara tawa dan air beradu memenuhi udara.

Airi :

"Rei! Riku! Di sini!"

Airi dan Rika melambaikan tangan. Rika—memeluk lengan Riku.

Rika :

"Bagaimana penampilanku?"

Wajah Riku seketika memerah seperti tomat.

Riku :

"Kau… makin cantik."

Rika tersenyum lega mendengar pacarnya memujinya. Lalu Airi menoleh ke Rei.

Airi :

"Bagaimana menurutmu?"

Rei :

"Kau terlihat cantik."

Airi tertawa kecil dan mengajak Rei untuk melakukan pemanasan.

Rei :

"Yang lain di mana?"

Airi:

"Di sana. Ravien mengajari Hina berenang. Onee-chan dan yang lain sedang memesan makanan."

Setelah pemanasan, Rei melepas kemeja santainya. Beberapa pasang mata sempat melirik—rambut putih, mata berbeda warna, dan tubuh idealnya mencuri perhatian.

Riku menggeleng kecil.

Riku :

"Aku bersyukur kau tak punya kekuatan. Kalau punya, entah bagaimana aku bisa menyaingimu."

Rika sempat terpesona, membuat Riku cemberut dan menarik pipi Rika.

Riku :

"Hei—jangan berpaling."

Rika :

"Aku tidak berpaling! Hanya terkejut."

Rei :

"Maaf."

Ia menyelam ringan dan berenang bersama Airi. Riku dan Rika menyusul tak lama kemudian, tawa mereka menyatu dengan riak air—tanpa tahu bahwa mungkin ini adalah pagi terakhir mereka sebelum rencana dijalankan.

More Chapters