(Kisah Natsumi Kagehara)
Natsumi Kagehara adalah seorang gadis beastkin ras kucing yang pindah dari luar negeri dan mulai bersekolah di SMA Shirokaze sejak kelas satu.
Ia pemalu, cenderung penyendiri, dan selalu menjaga jarak—bukan karena ia tak ingin berteman, melainkan karena ia mampu membaca niat seseorang dari sorot mata. Bukan membaca pikiran, bukan pula meramal masa depan. Hanya satu hal sederhana namun menyakitkan: ia tahu kapan seseorang berbohong.
Kelebihan itu menjadi rahasia kecil yang ia simpan rapat-rapat.
Berkat itu pula, Natsumi jarang memiliki teman dekat. Banyak yang mendekat dengan senyum, namun mata mereka penuh maksud tersembunyi. Natsumi memilih menjauh, memilih diam, memilih sendiri.
Sampai suatu hari—di pertengahan tahun ajaran kelas satu—ia bertemu seseorang yang berbeda.
—Pertemuan di Perpustakaan
Saat itu Natsumi kebingungan di perpustakaan. Tumpukan buku pelajaran mengelilinginya, sementara ujian tengah semester semakin dekat. Ia mondar-mandir di rak, ragu menentukan buku mana yang harus dipelajari.
Sebuah suara menyapanya dengan lembut.
Rei : "Kalau untuk ujian… fokus yang ini dulu. Yang lain bisa menyusul."
Natsumi menoleh—dan seketika dadanya menghangat.
Sorot mata itu… tidak berkilat licik, tidak berputar mencari reaksi.
Tenang dan lurus.
Natsumi : "A-ah… t-terima kasih."
Rei hanya mengangguk, seperti bantuan barusan bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
Lalu—tanpa basa-basi—berjalan menuju meja kosong di sudut perpustakaan. Ia membuka buku lain, yang isinya justru membuat Natsumi heran.
Buku tentang aliran mana dan metode penguatan fisik.
Natsumi (dalam hati):
Untuk apa dia membaca itu…?
Pikir Natsumi heran melihat siswa itu.
Rasa penasaran mengalahkan rasa malunya. Ia duduk di seberang meja pemuda itu, diam-diam memperhatikannya. Pemuda itu membaca dengan serius, nyaris tak memedulikan sekitar—termasuk dirinya.
Dan di situlah Natsumi sadar:
Ia benar-benar berbeda dari siswa lain.
—Nama yang Baru Dikenal
Beberapa hari kemudian, Natsumi bertanya pada teman-temannya.
Natsumi :
"Siapa siswa berambut putih bermata beda warna itu?"
Ia baru tahu saat itu.
Namanya Hirashi Rei.
Pemuda yang terbangkit dengan ciri unik—rambut putih dan mata berbeda warna—namun tanpa kekuatan apa pun.
Tak ada sihir.
Tak ada peningkatan fisik.
Tak ada keistimewaan selain tanda kebangkitan itu sendiri.
Barulah Natsumi mengerti kenapa Rei membaca buku-buku aneh itu.
Ia berusaha mengejar dunia yang tak memberinya kekuatan.
Dan entah kenapa…
hal itu membuat Natsumi semakin tertarik.
Namun ketertarikan itu datang terlambat.
—Cinta yang Sudah Dimiliki Orang Lain
Natsumi mendengar kabar bahwa Rei telah berpacaran dengan Sakurai Mina—gadis berbakat dengan sihir tinggi. Seluruh sekolah membicarakan mereka dengan nada kagum.
Natsumi hanya bisa tersenyum pahit.
Natsumi (dalam hati):
Sudah ada orang yang dia cintai…
Ia menyimpan perasaannya, memilih diam.
Tak lama setelah itu, kabar lain datang.
Rei berhenti sekolah.
Awalnya simpang siur.
Lalu rumor mengerikan menyebar.
Mina mengkhianatinya.
Mengatakan Rei tidak pantas.
Tidak cukup kuat.
Tidak bisa melindungi.
Ada pula cerita bahwa Rei terlihat berdiri di tepi jembatan—hendak melompat.
Seorang siswa mengaku melihatnya… namun lari ketakutan sebelum tahu akhir kisahnya.
—Dunia Natsumi runtuh.
Di koridor, rumor berputar seperti asap.
Natsumi menatap mata orang-orang yang membicarakannya—beberapa menikmati, beberapa mengarang, beberapa hanya ikut-ikutan agar tidak tersingkir.
Dan Natsumi… memilih percaya pada cerita yang paling menyakitkan, karena itu terasa paling masuk akal.
Kesedihan berubah menjadi amarah.
Amarah berubah menjadi dendam—pada Mina, dan juga Hayato.
Natsumi menyebarkan kabar itu.
Dengan keyakinan bahwa Mina adalah penyebab Rei menghilang.
—Kebenaran yang Muncul Kembali
Namun rumor itu hancur saat lomba antar sekolah saat mereka di kelas tiga.
Di ruang ujian akademik, Mina menyebut nama Rei.
Sontak membuat seisi ruangan terdiam.
Dan saat pandangan mereka mengikuti arah tatapan Mina—
mereka melihatnya.
Rei.
Hidup.
Berbeda penampilan, namun mata dan rambutnya tak mungkin salah.
Natsumi melihat sekilas mata itu.
Dan ia yakin.
Bahwa itu memang benar Rei.
Yang membuat darah Natsumi mendidih adalah satu hal:
Mina tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Seolah tak terjadi apa-apa.
Kemarahan Natsumi kembali memuncak.
—Pertengkaran dan Kalimat yang Terlalu Kejam
Sepulang dari lomba dengan kemenangan SMA Shirokaze, keesokan harinya Natsumi menghampiri Mina yang duduk sendiri di kelas.
Ia menegur.
Mina menjawab.
Dan jawaban itu—
bahwa Mina masih mencintai Rei,
bahwa ia tak rela Rei dimiliki siapa pun selain dirinya—
Mendengar itu Natsumi memarahi Mina akan keegoisan nya.
Hingga Natsumi menerima tamparan dari Mina akan ucapan Natsumi.
Membuat Natsumi kehilangan kendali.
Sehingga terjadi pertengkaran di antara Mina dan Natsumi.
Natsumi :
"Lebih baik kamu mati saja, Mina!"
"Kamu tidak pantas hidup!"
"Kalau bukan karena Hayato, kamu bukan siapa-siapa!"
Kalimat itu terucap begitu saja.
Keji.
Tanpa pikir panjang.
Namun Mina tidak marah.
Mina justru berkata dengan tenang tentang Hayato dan dirinya.
Mina :
"Aku tidak butuh Hayato untuk hidup."
"Aku sudah tidak bertunangan dengannya."
Lalu—
di depan mata Natsumi—
Mina menarik cincin itu pelan… lalu menjatuhkannya ke lantai kelas.
Tek.
Bunyi itu kecil, tapi di kelas yang hening rasanya seperti palu.
Mina :
"Dan kalau kamu mau aku mati… itu bukan sekarang."
"Karena Rei belum memaafkanku."
"Dan aku belum meminta maaf padanya."
Dan saat Natsumi menatap mata Mina—
ia melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari Mina.
Tidak ada kebohongan.
Tidak ada kepalsuan.
Hanya penyesalan yang telanjang.
Saat itulah Natsumi sadar.
Ini bukan cerita hitam-putih.
Dan Mina… tidak sepenuhnya bersalah.
Keyakinan itu semakin kuat saat Natsumi mendengar percakapan Mina dan Hayato di depan papan pengumuman—disaksikan hampir seluruh sekolah.
Tak ada kebohongan di sana.
—Keputusan Natsumi
Sejak hari itu, Natsumi memilih berdiri di sisi Mina.
Bukan untuk membenarkan kesalahannya—melainkan untuk menghentikan kebohongan yang terlanjur hidup lewat mulut banyak orang.
Karena Natsumi tahu… dari sorot mata Mina, penyesalan itu nyata.
Dan cinta yang jujur—yang terlihat bahkan tanpa kata—
tak pantas dihukum oleh rumor yang lahir dari kebohongan orang lain.
