Cherreads

Chapter 157 - Bab 157: Langkah Sunyi Menuju Hari yang Lebih Jujur

Keesokan harinya, Mina kembali melangkahkan kaki ke sekolah seperti biasa. Seragamnya rapi, tasnya tergantung di bahu, dan wajahnya tetap tenang—meski di meski luka itu belum benar-benar kering.

Setelah insiden percakapan ponselnya dengan Hayato di depan papan pengumuman, suasana sekolah perlahan berubah. Banyak murid mulai ragu pada rumor yang dulu mereka telan mentah-mentah.

Ada satu faktor lain: Natsumi, beastkin ras kucing, yang dulu justru ikut menyebarkan kabar bahwa semua kesalahan ada pada Mina. Dengan berani, Natsumi berdiri di hadapan para murid, menjelaskan bahwa rumor itu tidak sepenuhnya benar, dan ia meminta maaf karena telah menyebarkan kabar yang belum tentu kebenarannya.

Saat Mina berjalan melewati koridor sekolah, beberapa murid mulai menyapanya.

Murid A: "Pagi, Mina…"

Murid B: "Maaf ya, soal dulu…"

Mina hanya mengangguk singkat. Sikapnya masih sama—dingin, tenang, dan menjaga jarak. Bukan karena ia membenci mereka, melainkan karena ia tidak ingin terlihat lemah. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu menanggung kesendirian ini dengan kepalanya sendiri.

Sesampainya di kelas, Mina duduk di bangkunya dan langsung membuka buku catatan. Ujian sudah dekat, dan ia tak ingin lengah. Tangannya mulai menulis dengan fokus, seolah dunia di sekitarnya menghilang.

Tak lama kemudian, Natsumi masuk ke kelas. Ekornya yang khas bergerak pelan saat ia mendekati Mina, lalu duduk di kursi depan Mina dan menoleh sambil tersenyum.

Natsumi: "Mina, nanti waktu istirahat… mau makan bareng?"

Mina tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada catatan, pensilnya terus bergerak.

Melihat reaksi itu, Natsumi sedikit ragu, lalu berbicara lagi dengan nada lebih pelan.

Natsumi: "Mina… waktu di halaman belakang, kamu bilang kita sudah berteman. Kalau begitu… aku boleh percaya kan? Kamu beneran anggap aku teman?"

Mendengar itu, Mina menghentikan pensilnya. Ia mengangkat kepala dan menatap Natsumi lurus.

Mina: "Kamu bisa lihat sendiri dari sorot mataku."

Mina menatap Natsumi lurus, tanpa menghindar—seolah menantang kebenaran untuk berdiri di pihaknya.

Natsumi terdiam sejenak. Matanya membesar sedikit—ia tahu, tak ada kebohongan di sana.

Natsumi: "Tapi… kenapa kamu mengabaikanku?"

Mina: "Aku sedang fokus belajar. Ujian semakin dekat. Kalau aku tidak serius, kelulusanku bisa terpengaruh"

Mina menunduk lagi, suaranya menjadi lebih rendah.

Mina: "Aku ingin mendapatkan beasiswa. Aku takut saat keluarga bergerak menghancurkan keluargaku… dan membuat keluargaku nanti tidak sanggup membiayai sekolahku lagi. Jadi aku tidak ingin masa depanku kosong"

Natsumi terdiam. Telinga kucingnya sedikit bergerak, tanda ia sedang berpikir keras. Lalu matanya berbinar seolah mendapatkan ide.

Natsumi: "Kalau begitu… bagaimana kalau kita buat janji?"

Mina menoleh.

Natsumi: "Kalau kamu bisa dapat peringkat satu di semua mata pelajaran, aku akan memberi kamu hadiah"

Mina terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan.

Mina: "Tidak perlu. Peringkat satu memang sudah jadi tujuanku sejak awal"

Bel pelajaran berbunyi. Natsumi tersenyum kecil sebelum kembali ke bangkunya, sementara kelas kembali tenggelam dalam suasana belajar.

Beberapa jam berlalu. Matahari sudah tinggi ketika bel istirahat berbunyi. Mina merapikan buku-bukunya dan mengeluarkan kotak makan sederhana dari tasnya.

Saat itu, Natsumi kembali menghampirinya, meletakkan kotak makan lain di meja Mina.

Natsumi: "Ayo, makan bareng"

Mina menatap kotak makan itu beberapa detik.

Mina: "Aku… terbiasa makan sendiri."

Natsumi: "Aku nggak minta kamu bergantung."

"Aku cuma minta… izinkan aku duduk di sampingmu."

Mina terdiam, lalu melirik kotak makan itu lagi.

Mina: "Kamu… bawa bekal? Apa kamu tidak punya uang untuk beli makanan di kantin?"

Natsumi menggeleng cepat.

Natsumi: "Aku bawa bekal karena ingin menemani kamu makan di kelas."

Mina tersenyum tipis mendengar Natsumi rela membawa bekal hanya untuk menemani dirinya.

Mina: "Kamu tidak perlu sampai repot-repot seperti ini."

Natsumi: "Tidak repot. Bekal ini aku ambil dari salah satu restoran keluargaku"

Mina terdiam sejenak, lalu melirik Natsumi dengan ekspresi jahil.

Mina: "Jadi kamu tidak bisa memasak sampai harus ambil dari restoran?"

Wajah Natsumi langsung memerah. Ia menggembungkan pipinya dengan kesal.

Natsumi: "Hei! Aku sibuk dengan urusan keluarga! Lagipula restoran itu milikku sendiri!"

Mina: "…Milikmu?"

Natsumi: "Iya! Bukan warisan! Aku rintis… dari tabungan. Udah, jangan lihat aku kayak gitu!"

Mata Mina membesar. Ia benar-benar terkejut.

Di dalam hatinya, ia membandingkan dirinya dengan Natsumi—gadis yang mampu membangun sesuatu dari usahanya sendiri, sementara ia merasa hanya membawa penyesalan dan rasa bersalah.

Natsumi yang melihat Mina seperti membandingkan dirinya dengannya pun menepuk pundak Mina.

Natsumi: "Jadi jangan khawatir. Aku akan jadi temanmu, apa pun yang terjadi."

Mina menunduk pelan.

Mina: "Terima kasih…"

Mereka mulai makan. Di tengah keheningan yang nyaman, Mina teringat sesuatu.

Mina: "Natsumi… soal Rei. Kamu pernah bilang menerima kebaikannya. Bolehkah aku tahu ceritanya?"

Natsumi menghentikan sumpitnya. Wajahnya sedikit memerah, lalu ia menunduk malu.

Natsumi: "Itu waktu kelas satu… di perpustakaan. Aku kesulitan cari materi untuk ujian tengah semester. Rei datang, menyarankan satu buku yang aku cari dari tadi. Setelah itu… dia pergi begitu saja ke meja kosong untuk membaca"

Mendengar itu, Mina teringat sebuah gambaran lama—masa ketika Aelria, seorang elf, baru akan memperkenalkan dirinya pada Rei, manusia yang begitu berarti baginya. Kenangan itu membuat Mina tersenyum kecil.

Natsumi: "Eh? Kenapa kamu tersenyum?"

Mina: "Tidak apa-apa. Kamu beruntung… menemui Rei di momen yang manis"

Senyumnya memudar.

Mina: "Tidak seperti aku… yang tidak rela Rei dimiliki orang lain. Sampai aku menerima cintanya… padahal saat itu aku masih bertunangan dengan Hayato"

Natsumi terkejut, lalu memeluk Mina dari samping.

Mina terkejut, lalu perlahan melunak.

Natsumi: "Itu sudah masa lalu. Semua akan baik-baik saja"

Ia menatap Mina dengan serius.

Natsumi: "Aku bakal bantu kamu. Apa pun caranya. Supaya Rei bisa memaafkanmu… atau bahkan memarahimu, asal kamu tidak terus menyimpan rasa bersalah"

Natsumi: "Suatu hari, jelaskan semuanya pada Rei. Jangan tutupi apa pun. Kejujuran memang menyakitkan, tapi bisa mengubah hati seseorang"

Mata Mina sedikit berkaca-kaca.

Mina: "Terima kasih, Natsumi… karena mau mengerti aku"

Setelah beberapa saat, Mina bertanya lagi.

Mina: "Satu hal lagi… apa kamu tau siapa yang pertama kali menyebarkan rumor tentangku?"

Natsumi tersenyum canggung, menggaruk pipinya.

Natsumi: "Aku…"

Mina menatapnya kesal.

Natsumi: "Aku kesal waktu dengar Rei tidak masuk sekolah… bahkan ada rumor dia melompat dari jembatan. Aku tidak cari kebenaran, dan langsung menyalahkan kamu dan Hayato"

Ia menunduk.

Natsumi: "Tapi aku sudah minta maaf ke semua murid dan menjelaskan semuanya"

Mina menghela napas panjang.

Mina: "Bodoh…"

Namun setelah beberapa detik, ia tersenyum tipis.

Mina: "Tapi… aku memaafkanmu. Karena kamu bertanggung jawab"

Mereka melanjutkan makan hingga bel berbunyi kembali. Pelajaran berlangsung sampai sore hari. Saat kelas usai dan Mina membereskan bukunya, Natsumi berdiri di sampingnya.

Natsumi: "Pulang bareng?"

Mina mengangguk pelan.

Mina: "Iya. Ayo"

Di bawah cahaya sore, dua gadis itu melangkah pulang bersama—meninggalkan masa lalu perlahan, menuju hari yang lebih jujur.

More Chapters