Lorong lantai tiga masih bergetar oleh sisa aura demon yang tadi meledak—namun Ravien sudah tak peduli tatapan orang-orang yang ketakutan.
Ia berjalan cepat menuju kamarnya.
Begitu pintu kamar tertutup—
klik.
Sunyi langsung menelan segalanya.
Ravien berjalan menuju kasur, napasnya berat. Urat di pelipisnya menegang. Tangannya mengepal sampai kuku-kukunya hampir menancap ke kulit sendiri.
Ravien (dalam hati):
Terlambat…
Aku… telat menyelamatkannya.
Terlintas bayangan kamar Hina yang hancur berputar di kepalanya, bersamaan dengan tubuh Seris yang jatuh tak berdaya.
Dan yang paling menusuk—
Hina… hilang.
Ravien memejamkan mata, menahan amarah yang rasanya ingin melumat seluruh gedung.
Ravien (dalam hati, gelap):
Kalau aku harus menghancurkan apa pun demi menemukannya… aku akan lakukan.
Meski harus menghancurkan seluruh bumi.
Ia menarik napas panjang—memaksa otaknya bekerja.
Siapa berbuat seperti ini?
Siapa yang memiliki dendam terhadap dirinya?
Di saat itu, suara wanita misterius yang tadi ia dengar saat menuju toko kue kembali terngiang, jelas seperti bisikan tepat di telinganya—
"Pasangan yang menarik… akan kurebut gadis itu."
Ravien membuka mata.
Sorotnya berubah tajam.
Ia memutar ulang suara itu dalam ingatan, berulang-ulang… sampai potongan masa lalu muncul seperti luka yang dipaksa terbuka.
Beberapa tahun lalu—sebelum ia mengenal Hina, sebelum ia "menjadi dingin"—ada satu nama yang selalu membuat darahnya mendidih.
Lunaria.
Mantan pacarnya dahulu yang merupakan seorang gadis beastkin ras kelinci yang dulu ia percayai… namun menginjak harga dirinya, merendahkan keluarganya, dan berpaling pada "teman dekat"-nya sendiri.
Ravien menelan amarah yang naik ke tenggorokan.
Ravien (dalam hati):
Apakah itu dirinya?
Tapi keluarganya sudah kuhancurkan karena ia mengkhianatiku dan hanya menginginkan hartaku.
Jika ini benar-benar dirinya…
Ravien menunduk, senyumnya tipis—bukan senyum bahagia, melainkan senyum yang dingin dan mematikan.
Ravien (dalam hati):
Kalau benar kau yang melakukan ini…
Tidak akan ada iba untuk yang kedua kalinya.
Ia merogoh kantung dimensinya, mengeluarkan bola kristal komunikasi. Permukaannya memantulkan warna biru pucat dari cahaya kamar.
Ravien menyalurkan sedikit aura—sinyal terkirim menembus jarak dunia.
Beberapa detik.
Lalu suara berat seorang pria tua demon terdengar dari seberang, serak namun penuh kewibawaan.
Pria Tua Demon:
"Ya… Tuan Muda."
"Ada apa? Apa yang bisa saya bantu?"
Ravien tidak berbasa-basi.
Ravien:
"Cari informasi."
"Terkait mantanku—Lunaria. Dan pria yang bersamanya di masa lalu."
Ia berhenti sejenak, menahan emosi agar tetap dingin.
Ravien:
"Apa yang mereka lakukan setelah insiden penghancuran kedua keluarga mereka."
"Dan… di mana mereka sekarang."
Di seberang, suara pria tua itu sempat hening sekejap—seolah menyadari betapa seriusnya permintaan itu.
Pria Tua Demon:
"…Baik, Tuan Muda."
"Saya akan cari secepatnya."
Ravien menutup mata sebentar, lalu berbicara rendah—lebih seperti perintah perang.
Ravien:
"Dan jangan sampai ada yang tahu aku yang meminta termasuk kak Lirya."
"Dan kirimkan semua yang kau temukan. Sekecil apa pun."
Pria Tua Demon:
"Saya mengerti."
Bip—
Seketika sambungan terputus.
Ravien merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar yang terasa terlalu tenang untuk keadaan seperti ini.
Tangannya menutup mata, namun bibirnya bergerak pelan—seperti doa yang bukan doa.
Ravien (dalam hati):
Hina…
Tolong bertahan.
Sampai aku datang.
Dan untuk pertama kali sejak ia "membuka hati" lagi…
Ravien tertidur bukan karena tenang.
Tapi karena tubuhnya dipaksa istirahat—sementara jiwanya masih berlari mengejar seseorang yang direnggut paksa.
Dan kristal komunikasi masih dingin di telapak tangannya ketika kelopak matanya akhirnya kalah.
—Lorong Gelap, Ancaman yang Berbisik
Di tempat lain—
Udara yang mereka lewati bukan udara biasa. Rasanya berat, dingin, dan seolah "tidak hidup".
Kaien berjalan di belakang Lunaria, menggendong kuat Hina seperti membawa karung di pinggang. Di sisi lain, sebuah tangan lain menahan Sora, membuat familiar angin itu tak bisa lepas walau mencoba meronta.
Hina berusaha memukul, meronta, menangis tanpa suara yang jelas—napasnya tersengal.
Hina:
"Lepaskan aku…! Tolong—!"
Kaien menoleh sedikit, sorot matanya dingin.
Kaien (menggeram):
"Jangan meronta."
"Atau aku akan memusnahkan dirimu."
Hina tersentak, tubuhnya kaku seketika.
Tapi langkah mereka berhenti mendadak.
Karena Lunaria yang berjalan di depan tiba-tiba menahan langkahnya.
Ia menoleh pelan, matanya menyipit—auranya naik seperti kabut tipis yang tajam.
Lunaria (dingin):
"Sayang… jangan bilang begitu."
Kaien bergidik—bukan karena kata-katanya manis.
Tapi karena tekanan di baliknya.
Lunaria mendekat selangkah, suaranya rendah namun jelas seperti pisau.
Lunaria:
"Ingat. Gadis ini adalah kunci rencana Master.
Ingat siapa yang memberimu kekuatan ini.
Jangan merusak rencana Master hanya karena emosimu."
Ia melirik Hina, seolah Hina bukan manusia—melainkan benda penting.
Lunaria:
"Kalau dia mati…"
"kita tidak bisa menjalankan rencana."
"Dan yang mati lebih dulu… adalah kita."
Kaien menelan ludah.
Ia tahu itu bukan ancaman kosong.
Walau ia seorang demon, tubuhnya sendiri merasakan bahwa "energi" yang kini mereka miliki… menempel pada Lunaria jauh lebih kuat. Seakan energi anomali itu memilih Lunaria sebagai wadah yang lebih cocok.
Kaien (menahan):
"…Aku mengerti."
Lunaria baru menatap Hina, senyumnya tipis—lebih menyeramkan dari marah.
Lunaria:
"Dan kamu, pacar Ravien…"
"lebih baik tenang."
Ia mengangkat satu jari, dan menyentuh bibir Hina dengan ujung jarinya dan berkata pelan.
Lunaria:
"Atau aku buat kau tidak bisa bersuara…"
"untuk selamanya."
Hina menggigil.
Ia menelan semua tangisnya, menahan napas yang tersendat.
Hina (dalam hati):
Ravien… tolong…
kumohon…
Mereka berjalan lagi.
Lorong itu panjang, gelap, dan seolah tidak ada ujung—dindingnya seperti batu hitam yang menyerap cahaya.
Setelah lima belas menit berjalan menyusuri lorong.
Mereka pun sampai…
Mereka tiba di depan sebuah pintu besar—tinggi, berornamen seperti ukiran retakan, seakan pintu itu pernah dipaksa menahan sesuatu yang tidak semestinya ada.
Lunaria menekan telapak tangan ke permukaan pintu.
klik…
Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan hembusan udara dingin seperti napas ruangan yang sudah menunggu lama.
Singgasana dan Senyum Sang Master
Ruangan di balik pintu itu luas—terlalu luas.
Langit-langit tinggi, pilar-pilar gelap menjulang, dan lantainya memantulkan bayangan seperti cermin kusam.
Di ujung ruangan… terdapat sebuah singgasana.
Dan di atasnya, duduk sesosok yang tidak mudah ditebak—siluetnya rapi, anggun… tapi tekanannya membuat kulit seperti merinding tanpa alasan.
Lunaria melangkah maju, menunduk sopan—hormat yang terlihat terlatih.
Lunaria:
"Hormat, Master."
"Kami sudah membawa apa yang Master perintahkan."
"Kami siap menerima perintah berikutnya."
Kaien ikut menunduk meski masih menggendong Hina di pinggangnya, meski sedikit terlambat—dan jelas lebih tegang.
Hina hanya bisa terdiam dan gemetar, Sora ditahan erat.
Dari singgasana, suara Master terdengar—tenang, pelan, namun membuat ruangan seperti ikut menunduk.
Master:
"Bagus."
"Bawa gadis itu."
Hina menahan napas, matanya membesar.
Master:
"Lanjutkan rencana berikutnya."
Lunaria mengangkat kepala, matanya berbinar oleh sesuatu yang bukan kebahagiaan—melainkan rasa puas yang gelap.
Lunaria:
"Perintah diterima."
Ia menoleh ke Kaien, suaranya kembali lembut, tapi ancamannya tetap ada di bawahnya.
Lunaria:
"Ayo, sayang."
"Kita lanjutkan… seperti rencana."
Kaien menunduk lagi.
Kaien:
"…Baik."
Mereka membawa Hina pergi, bersama Sora, menuju lorong lain di sisi ruangan.
Dan saat pintu di belakang mereka tertutup—
Master menyandarkan kepala sedikit, bibirnya melengkung tipis.
Master (pelan, seperti menikmati):
"Permainan… baru saja akan dimulai."
Senyumnya mengeras, seperti seseorang yang sudah tahu akhir cerita.
Master:
"Dan aku harap…"
"kalian menikmatinya."
Pintu tertutup.
Dan ruangan singgasana kembali sunyi—sunyi yang terasa seperti sebelum badai.
