Cherreads

Chapter 165 - Bab 165: Pintu yang Terbuka, Masa Lalu yang Kembali

Ketukan itu masih terasa "wajar" sampai Seris benar-benar menarik gagang pintu kamar Hina.

Begitu pintu terbuka—

Seris membeku.

Di depan sana… bukanlah kakaknya Ravien.

Melainkan seorang gadis beastkin yang pernah ia kenal—wajah yang terlalu familiar untuk dilupakan. Gadis itu berdiri dengan senyum tipis, seolah kedatangannya adalah hal paling normal di hadapannya.

Jantung Seris berdegup keras.

Seris : "...kamu?"

??? (gadis beastkin):

"Sudah lama sekali, Seris.

Bagaimana kabarmu?"

Seris : "L-Lunaria…?"

Seketika aura di sekitar Seris naik—ingatan yang ia kunci rapat menghantam dari dalam.

Lunaria Velnare. Mantan kekasih Kak Ravien.

Seris mengepalkan tangannya, mata tajamnya mengunci wajah gadis itu.

Seris (dingin):

"Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Bagaimana kamu bisa tahu kami ada di hotel ini?"

Lunaria memiringkan kepala, tersenyum seolah pertanyaan itu menghiburnya.

Lunaria :

"Aku datang karena…"

"aku sangat rindu dengan kalian dan... Ravien."

Seris mengeraskan suara, untuk memberi peringatan.

Seris:

"Pergi. Sekarang!"

Namun gadis itu justru maju setengah langkah, senyumnya makin lebar—lebih tajam, lebih beracun.

Lunaria :

"Dan aku juga datang…"

"untuk membalas dendam masa lalu."

Seris menahan amarahnya.

Seris:

"Dendam?"

Lunaria (pelan, jelas):

"Dendam… atas perbuatan keluargamu pada keluargaku.

Keluargamu menghancurkan nama keluargaku—dan kalian tetap hidup seolah tak ada apa-apa.

Kalian bahkan tidak menoleh… saat kami jatuh."

Seris tidak memberi kesempatan lebih lama.

Ia menarik pintu untuk menutup—lalu berbalik hendak berlari ke dalam kamar.

Dari sudut matanya, Seris menangkap Hina berdiri pucat di dekat ranjang. Sora menegang di pelukannya, bulu-bulunya berdiri.

Seris menelan napas.

Seris :

"Kak Hina—hubungi Rei dan Kak Ravien. Sekarang—!"

Lunaria (tersenyum):

"Sungguh kasar sikapmu, Seris."

Telapak tangannya terangkat. Mana gelap memadat seperti bara.

BOOM!

Pintu kamar meledak. Serpihannya menyambar masuk, tajam dan liar..

Seris terpental ke belakang, jatuh keras di lantai.

Seris : "Ghh—!"

Debu menelan ruangan.

Hina menjerit pelan, memeluk Sora lebih erat—sementara dari balik kepulan debu, Lunaria melangkah masuk, tenang seperti ratu yang baru saja membuka jalan dengan paksa. Ia menatap Seris yang terjatuh seolah sedang menilai barang.

Lunaria :

"Apa kau tidak merindukanku?"

"Sampai harus menyambutku seperti ini?"

Seris menggertakkan gigi, berusaha bangkit.

Seris:

"Jangan macam-macam."

"Kakakku akan membalas kalian."

Lunaria tertawa kecil—tawa yang membuat ruangan terasa lebih dingin.

Lunaria :

"Ravien? Aku tidak takut padanya."

"Atau keluargamu."

Lalu ia menoleh ke sampingnya.

Di sana berdiri sosok bertudung—tinggi, tubuhnya lebih lebar, auranya… salah. Bukan aura demon yang biasa, tapi ada sesuatu yang "tercemar", seperti jejak monster anomali.

Gadis itu merendahkan suara, nada manjanya dibuat-buat.

Lunaria :

"Benar begitu, sayang?"

Pria itu mengangguk, lalu membuka tudung kepalanya.

Wajahnya membuat Seris terpaku.

Seris: "...Kaien?"

Kaien Dravorn.

Seorang demon.

Teman dekat Ravien di masa lalu.

Pria yang merebut Lunaria darinya.

Namun aura mereka… berbeda. Gelap. Asing. Menyimpang.

Seris:

"Energi kalian… ini bukan kekuatan normal. Ini seperti makhluk anomali…"

Lunaria menyeringai lebar.

Lunaria :

"Kami mendapatkan kekuatan ini dari seseorang…"

"Karena kami punya tekad. Keinginan. Dan dendam."

Tak lama tatapan Lunaria bergeser ke arah ranjang.

Ia menatap seorang gadis manusia sedang ketakutan bersama hewan peliharaannya.

Lalu seolah menyadari ada "hal menarik" di kamar ini selain Seris.

Lunaria :

"Siapa gadis itu?"

Seris mencoba bangkit dan berdiri di depan Hina, seperti perisai.

Seris (membentak):

"Jangan sentuh dia!"

"Kalau kamu menyentuhnya… Kakakku tidak akan memaafkan kalian!"

Gadis itu malah tersenyum, seperti menemukan mainan baru.

Lunaria :

"Ah… aku mengerti."

Ia menatap Hina dari ujung kepala hingga kaki.

Lunaria :

"Jadi ini kekasih Ravien sekarang? Menarik… dan cukup cantik."

Hina menggigil, memeluk Sora refleks. Sora menggeram kecil, bulu-bulunya berdiri—gelisahnya sejak awal bukan tanpa alasan.

Seris (dalam hati):

Aku harus melakukan sesuatu untuk melindungi Kak Hina.

Seris tak menunggu lagi.

Seris mengangkat tangan, merapal cepat—energi menajam dalam satu garis serangan.

Namun Kaien melangkah maju… dan menepisnya dengan satu tangan, seolah menampar udara.

DUUUM!

Serangan Seris pecah seperti kaca, lalu gelombang balasan Kaien menghantam balik.

Seris tidak bisa menghindar. Di belakangnya—Hina.

Ia menahan tubuhnya, menerima serangan itu dengan bahu dan punggungnya.

Ledakan mengguncang kamar sempit itu.

Tubuh Seris menghantam dinding. Darah hangat mengalir dari sudut bibirnya.

Seris: "Agh…!"

Saat ia mencoba bangkit, Kaien sudah berdiri di dekat ranjang.

Dalam sekejap, Hina ditarik dan dikunci lengannya.

Hina menjerit.

Hina: "Lepaskan aku!!"

Sora: "Kii—!!"

Makhluk kecil itu juga ditangkap.

Seris berusaha bangkit—namun lututnya gagal menyangga.

Gadis beastkin membungkuk sedikit ke arah Seris, suaranya lembut—terlalu lembut untuk ancaman setajam itu.

Lunaria :

"Selamat tinggal, Seris."

"Sampaikan salam rinduku pada Ravien."

Teriakan Hina menggema di koridor saat cahaya rune gelap menyelimuti mereka—dan ruang seperti terlipat.

Dalam sekejap… mereka menghilang.

Seris hanya bisa tergeletak, pandangannya kabur.

Seris (dalam hati, nyaris menangis):

Maafkan aku, Kak Ravien…

Aku tidak bisa menjaga Kak Hina…

Kesadarannya lenyap. Tubuh Seris terkulai di lantai—napasnya masih ada, tapi tipis.

—Amarah Ravien di Lantai Tiga

Beberapa saat sebelumnya.

Ravien berlari seperti bayangan yang memotong koridor hotel.

Ia tidak lagi memikirkan toko kue. Tidak memikirkan orang lain.

Kalimat dari wanita misterius itu menekan kepalanya seperti paku.

"Pasangan yang menarik… akan kurebut gadis itu."

Saat sampai di depan lift, lift penuh—berbagai ras berdesakan, tertawa, berbicara, tidak sadar bahwa sesuatu sedang terjadi.

Ravien maju setengah langkah.

Tanpa berlama-lama, aura demon Ravien meledak.

Tekanan luar biasa membuat semua orang terdiam.

Ravien (dingin, memerintah):

"Keluar."

Mereka yang mendengar itu tidak ada yang berani membantah.

Satu per satu mereka keluar, wajah pucat, menelan takut.

Ravien menekan tombol lantai 3.

Angka di panel lift naik pelan: 1… 2…

Ravien berdiri diam, tangan mengepal keras.

Ravien (dalam hati):

Hina… bertahanlah. Aku datang.

Ding. Lantai 3.

Pintu lift terbuka—Ravien melesat.

Kakinya menghantam lantai koridor, langkahnya cepat, matanya tajam.

Dan saat ia sampai di kamar Hina…

Pintu itu sudah hancur.

Kamar sudah berantakan.

Ravien melihat ke dalam dan sekeliling ruangan.

Namun Hina tidak ada.

Yang ada hanya Seris, terbaring tak sadarkan diri di tengah ruangan, tubuhnya penuh debu dan bekas hantaman.

Ravien berlutut, mengguncang Seris.

Ravien:

"Seris—!! Bangun!"

Kelopak mata Seris bergerak. Pandangannya kosong, lemah.

Seris (parau):

"...Maaf… Kak…"

Kepalanya jatuh lagi.

Tangan Ravien mengepal—uratnya menonjol.

Ravien (menggeram):

"Siapa yang melakukan ini…?"

Aura demon keluar lagi, kali ini lebih kasar—menekan seluruh lantai hotel seperti badai tanpa angin.

Dinding seolah bergetar.

Dan di tengah tekanan itu—

Sebuah tangan menepuk bahu Ravien.

Ravien (dalam hati, kaget):

Siapa yang...

Ravien menoleh cepat.

Rei: "Tenang, Ravien."

Ravien terkejut. Rei berdiri tegak, tidak terpengaruh aura itu.

Rei:

"Amarahmu tidak akan menyelesaikan apa pun."

Napas Ravien berat. Dadanya naik turun. Tapi ia memaksa menahan auranya.

Ravien berdiri.

Ravien (dingin, menahan diri):

"Jaga Seris, aku ingin menenangkan diri di kamar."

"Dan kabari aku kalau dia sadar."

Rei ingin mengatakan sesuatu—ingin mencegah Ravien pergi sendiri.

Tapi Ravien sudah berbalik.

Tanpa menunggu jawaban, ia melesat pergi—membawa amarah yang kini berubah menjadi tekad membunuh.

—Kamar Aelria, Wajah-Wajah yang Menunggu

Aelria datang menyusul bersama yang lain. Begitu melihat Seris terbaring, wajahnya memucat.

Rinna langsung mengangkat Seris dengan hati-hati, membawanya ke kamar Aelria agar bisa dibaringkan lebih layak.

Di sana, Seris diletakkan di atas ranjang. Nafasnya masih ada, tapi lemah.

Airi, Rika, Noelle, Nerine, Riku—semuanya berkumpul, cemas.

Airi:

"Apa yang terjadi…? Siapa yang menyerang?"

"Kemana Ravien akan pergi, kami melihat ia pergi dengan amarah"

Rei diam sebentar.

Rei:

"Kita terlambat."

"Kita belum tahu apa-apa."

"Dan… Raiven sedang menenangkan diri dikamar kami."

Aelria menggenggam tangan Seris, suaranya tegang.

Aelria:

"Kita hanya bisa menunggu Seris tersadar."

Airi mendekat pada Rei, memegang lengan Rei pelan—seolah mencari pegangan.

Airi:

"Ravien…"

"Dia baik-baik saja?"

Rei menatap Airi, lalu tersenyum tipis—usaha menenangkan.

Rei:

"Tidak usah khawatir."

"Dia sedang menenangkan diri."

Airi tetap gelisah. Rei mengusap kepala Airi pelan.

Rei:

"Ravien tidak akan bertindak nekat…"

"…selama dia belum tahu apa yang terjadi."

Namun di dalam hati Rei, ada sesuatu yang mengeras.

Rei tahu—begitu Ravien tahu siapa pelakunya, hari ini tidak akan selesai hanya dengan teriakan.

More Chapters