Cherreads

Chapter 191 - Bab 191: Yang Disembunyikan Rei

Di kedalaman Hutan Terlarang, di dekat gerbang dimensi Elyndor…

Udara terasa lebih berat dari biasanya.

Seolah hutan itu sendiri menahan napas.

Sylvhia berdiri di kejauhan, bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Matanya menatap dua sosok di depan sana.

Salah satunya adalah Rei.

Dan yang satu lagi…

Membuat mata Sylvhia melebar.

Sylvhia (dalam hati):

Itu…

Bibi…?

Mustahil…

Sosok yang berdiri di hadapan Rei adalah seorang wanita—tenang, berwibawa, dengan aura yang terasa dalam dan kokoh seperti bumi itu sendiri.

Seorang Guardian Bumi.

Penjaga seluruh daratan Elyndor. Sosok yang selama ini… menghilang tanpa jejak.

Sylvhia menahan napas.

Sudah bertahun-tahun ia tidak melihatnya.

Bahkan saat ia bertanya pada Vhaldrake maupun Aerisyl… tidak ada satu pun yang tahu keberadaannya.

Namun sekarang—

Ia muncul.

Dan… berbicara dengan Rei.

Sylvhia mengernyit, mencoba membaca situasi.

Ia melihat Rei.

Dan untuk pertama kalinya…

Rei terlihat kecewa.

Sylvhia (dalam hati):

Apa yang mereka bicarakan…?

Kenapa Rei terlihat seperti itu…?

Apakah ini… ada hubungannya dengan masalah dunia saat ini?

Kalau benar… kenapa Bibi tidak pernah muncul selama ini…?

Pertanyaan demi pertanyaan muncul.

Namun tak ada jawaban.

Akhirnya, Sylvhia menggenggam tangannya.

Sylvhia (dalam hati):

Kalau aku hanya diam… aku tidak akan tahu apa-apa.

Ia melangkah keluar dari persembunyian.

Menuju mereka.

---

Beberapa Waktu Sebelumnya…

Rei duduk sendirian di atas batu, menatap gerbang dimensi seperti biasa.

Sunyi.

Tenang.

Namun tiba-tiba—

ia merasakan sesuatu.

Getaran energi yang… sangat familiar.

Rei membuka mata.

Lalu berdiri.

Matanya menatap ke samping, tepat di dekat gerbang.

Dan dari sana—

muncul sosok yang sudah lama tidak ia lihat.

Seorang wanita berambut gelap dengan aura yang berat, seperti tanah yang menopang dunia.

Rei:

"…Akhirnya kau muncul."

"Bagaimana hasilnya, Gaelthra?"

Sosok itu—Gaelthra, Guardian Bumi—menyilangkan tangan.

Wajahnya serius.

Gaelthra:

"Aku sudah mencari ke berbagai penjuru… selama bertahun-tahun."

"Tapi… tidak mendapatkan apa pun."

Rei terdiam.

Tatapannya sedikit turun.

Rei:

"Andai aku bisa mencarinya sendiri… mungkin kita bisa memilikinya…"

Ia menghela napas pelan.

Lalu kembali bertanya.

Rei:

"Kalau begitu jalankan tugas kedua yang aku berikan dulu kepadamu."

Gaelthra tidak langsung menjawab.

Ia menatap Rei dalam.

Gaelthra:

"Apakah kau benar akan melakukan ini, Rei?"

"Aku tahu kau sangat peduli padanya… tapi cara ini…"

"Apa menurutmu ini benar?"

"Melindungi seseorang… dengan cara menyakitinya?"

Rei memalingkan wajahnya.

Ada keraguan.

Ada penyesalan.

Namun… lebih dari itu—ada tekad.

Rei:

"Aku tidak ingin… kejadian di masa lalu terulang lagi."

"Aku tidak ingin dia terlibat dalam semua ini."

Suara Rei melemah—untuk pertama kalinya terdengar seperti seseorang yang… lelah.

Rei:

"Aku tidak cukup kuat untuk melindungi semua orang seorang diri."

"Jadi… aku mohon."

"Kalau aku gagal lagi… setidaknya dia harus tetap hidup."

"Lindungi dia. Apa pun yang terjadi… jangan biarkan dia terseret."

Gaelthra terdiam.

Lalu menghela napas panjang.

Gaelthra:

"…Baiklah."

"Aku menghargai keputusanmu."

"Akan kuusahakan dia tidak terlibat."

"Lagipula… dia juga muridku."

Rei sedikit menunduk.

Namun sebelum ia sempat berkata apa pun—

"Rei!"

Suara itu terdengar dari balik semak.

Rei dan Gaelthra menoleh bersamaan.

Sylvhia muncul dari balik pepohonan.

Langkahnya cepat—namun wajahnya penuh campuran rasa lega dan kebingungan.

Gaelthra tersenyum tipis.

Gaelthra:

"Sudah lama tidak bertemu, Sylvhia."

"Bagaimana kabarmu?"

Sylvhia sedikit terkejut, lalu membalas.

Sylvhia:

"Kabar saya baik, Bibi."

"Bibi sendiri bagaimana?"

Gaelthra:

"Kau bisa lihat sendiri. Aku baik-baik saja."

Namun—

berbeda dengan mereka berdua,

Rei… tidak mengatakan apa pun.

Ia berbalik.

Dan berjalan kembali menuju batu tempat ia biasa duduk.

Seolah percakapan ini… bukan urusannya lagi.

Sylvhia menatap punggung Rei sesaat.

Lalu kembali pada Gaelthra.

Sylvhia:

"Bibi…"

"Kemana saja selama ini?"

"Kenapa baru muncul sekarang?"

"Kenapa tidak pernah memberi kabar… bahkan pada kami?"

Nada suaranya mulai berubah.

Ada rasa kecewa yang tertahan.

Sylvhia:

"Dan kenapa… bertemu Rei secara diam-diam?"

"Apakah ada sesuatu yang Bibi sembunyikan dari kami?"

Gaelthra terdiam.

Ia terlihat ragu.

Seolah sedang memilih kata.

Namun sebelum ia sempat menjawab—

Rei bersuara.

Dingin.

Tegas.

Menusuk.

Rei:

"Untuk apa kau menanyakan hal yang bukan urusanmu?"

"Lebih baik kau diam… dan jalankan tugasmu sebagaimana mestinya, Sylvhia."

Sylvhia membeku.

Matanya melebar.

Tubuhnya menegang.

Perlahan… kepalanya tertunduk.

Sylvhia:

"…Baik."

"Maaf."

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik.

Dan berjalan pergi.

Langkahnya pelan.

Berat.

Dan semakin menjauh… sampai akhirnya menghilang di balik pepohonan.

Gaelthra hanya bisa menatap kepergian itu.

Lalu ia menghela napas.

Gaelthra:

"…Apa kau harus sekeras itu, Rei?"

"Aku tahu ini demi kebaikannya… tapi tetap saja…"

Rei tidak menoleh.

Matanya tetap pada gerbang dimensi.

Rei:

"Itu satu-satunya cara."

"Dengan sifat keras kepalanya… kalau aku tidak seperti itu…"

"Dia akan ikut lebih jauh."

Gaelthra menutup mata sejenak.

Lalu mengangguk pelan.

Gaelthra:

"…Baiklah."

"Aku akan menemuinya."

"Menenangkannya sedikit."

Ia melangkah pergi.

Namun sebelum benar-benar menghilang—

Rei bersuara lagi.

Rei:

"Jangan katakan apa pun padanya."

"Kalau dia tahu… dia pasti akan memaksa ikut."

Gaelthra berhenti sejenak.

Tanpa menoleh.

Gaelthra:

"Tenang saja."

Lalu—

ia menghilang ke dalam hutan.

Meninggalkan Rei… sendirian.

Kembali duduk di atas batu.

Menatap gerbang dimensi.

Dalam diam.

Dalam sunyi.

Dan akhirnya—

ia berbisik pelan.

Rei:

"Maafkan aku, Sylvhia…"

"Ini semua… demi keselamatanmu."

"Aku tidak tahu… apakah aku bisa melindungimu… jika masa lalu itu terulang kembali di Elyndor."

More Chapters