Di sisi lain Hutan Terlarang, di tempat yang selalu menjadi pelarian Sylvhia—tepi danau kecil yang tenang…
Angin berhembus pelan.
Permukaan danau bergoyang halus, memantulkan cahaya langit yang redup.
Sylvhia duduk sendirian di pinggir danau, lututnya ia peluk. Matanya kosong… tapi air matanya tidak.
Sylvhia:
"Kenapa kau jadi sangat kejam, Rei…?"
"Apa kau benar-benar membenciku…?"
"Apa yang membuatmu berubah seketika…?"
Ia menggigit bibirnya.
Lalu, dari semak-semak dan akar-akar di sekeliling danau… muncullah beberapa bola energi hijau lembut—seperti cahaya kecil yang hidup.
Mereka melayang mendekat
Mengelilingi Sylvhia.
Rapat.
Cemas.
Seolah mereka merasakan kesedihannya.
Sylvhia menoleh pelan, mengusap air matanya.
Sylvhia:
"Kalian mengkhawatirkan ibu…?"
"Tidak apa-apa…"
"Ibu tidak apa-apa…"
Namun bola-bola itu tetap mendekat, mengitari tubuhnya lebih rapat. Ada yang menyentuh ujung rambut Sylvhia, ada yang menempel di bahunya, seperti pelukan kecil.
Sylvhia tersenyum tipis.
Ia mencoba tegar.
Dan tepat saat ia menarik napas panjang—
terdengar langkah kaki dari belakangnya.
Suara itu—hangat, namun terdengar seperti menggoda.
Gaelthra:
"Oh… sungguh manisnya putri kecil ini."
Sylvhia membeku sesaat. Lalu menoleh cepat.
Matanya melebar.
Sylvhia:
"Bibi…?"
Benar.
Yang berdiri di sana adalah Gaelthra, Guardian Bumi.
Gaelthra berjalan mendekat tanpa terburu-buru. Tatapannya lembut—seperti bumi yang selalu diam, tapi selalu ada.
Gaelthra:
"Ada apa, putri manisku?"
"Kenapa kau tampak sedih?"
"Karena ucapan Rei tadi?"
Sylvhia menunduk cepat. Ia menggeleng, memaksakan senyum.
Sylvhia:
"Tidak, kok, Bibi…"
"Itu bukan karena Rei."
Ia menatap danau. Suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
Sylvhia:
"Aku cuma… sedih."
"Dari semua Guardian Elyndor…"
"Rasanya… hanya aku yang tidak punya peran untuk membantu masalah dunia ini."
Gaelthra duduk di sampingnya, dekat sekali—hingga bola-bola energi itu ikut mengitari Gaelthra juga, seolah mengizinkan.
Gaelthra menatap danau, lalu melirik Sylvhia.
Gaelthra:
"Jangan bicara seperti itu, nak."
"Kau ada di dunia ini karena kau punya peran."
"Bukan peran kecil."
Gaelthra menghela napas, dan suaranya menjadi lebih dalam—lebih serius.
Gaelthra:
"Ingat pesan ibumu."
"Apa pun yang terjadi… kau akan selalu punya peran penting."
"Walau kau belum mengetahui peranmu saat ini."
"Bukan berarti kau tidak punya peran."
"Tapi suatu hari nanti—peranmu akan sangat dibutuhkan."
Sylvhia memejamkan mata sesaat, mencerna.
Lalu ia menoleh, ragu-ragu.
Sylvhia:
"Benarkah itu, Bibi…?"
"Kalau benar… kenapa semuanya terasa seperti aku hanya… beban?"
Ia menunduk lagi.
Sylvhia:
"Dan… Rei…"
"Aku melihat perubahan sikapnya."
"Dia seperti… membenciku."
"Apa aku memiliki suatu kesalahan?"
"Atau… ada sesuatu yang Rei sembunyikan dariku?"
Gaelthra diam sebentar.
Ia hanya mendengarkan.
Gaelthra (dalam hati):
Kamu tidak salah apapun nak, hanya saja Rei tidak ingin kamu terlibat.
Lalu tersenyum tipis—senyum yang membuat hati sedikit tenang, tapi juga menyimpan sesuatu yang tidak terucap.
Gaelthra:
"Jangan ambil hati."
"Rei memang seperti itu."
"Dan… tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
Gaelthra menoleh pelan, menatap bola-bola energi yang kini jumlahnya semakin banyak. Mereka memenuhi pinggir danau seperti bintang-bintang kecil.
Gaelthra:
"Coba kamu lihat sekelilingmu."
"Apa kau mau membuat anak-anak di sekelilingmu ini makin khawatir?"
Sylvhia ikut melihat.
Begitu banyak hingga tidak terhitung.
Matanya melembut.
Ia mengusap pipinya, lalu menarik napas—lebih stabil.
Dan mendadak… senyum jahil Sylvhia kembali.
Sylvhia:
"Benar… aku tidak boleh bersedih!"
"Meski aku belum tahu peranku saat ini… dan belum tahu apa yang terjadi dengan perubahan sikap Rei terhadapku."
Sylvhia menarik napas dalam.
Dadanya masih terasa sakit… tapi tidak lagi sesak.
Ia berdiri cepat, mengepalkan tangan dengan semangat berlebihan.
Sylvhia:
"Baiklah!"
"Aku akan berusaha membuat Rei kembali seperti dulu!"
"Sampai dia mengakui keberadaanku!"
"Dan… hatinya luluh kepadaku!"
Sylvhia tertawa bangga—keras dan cerah—hingga bola-bola energi ikut berputar-putar seperti ikut bersorak.
Gaelthra tersenyum lebar.
Gaelthra:
"Syukurlah."
"Kau sudah kembali ceria."
Namun di balik senyumnya…
Gaelthra menatap danau, dan untuk sesaat, pandangannya berubah tajam—seperti seseorang yang memikul rahasia besar.
Gaelthra (dalam hati):
Kau tidak perlu memaksakan itu, nak…
Karena sebenarnya Rei sudah peduli padamu jauh sebelum ini.
Kalau tidak… Rei tidak akan memintaku mencari sisa-sisa peninggalan ibumu di seluruh Elyndor selama bertahun-tahun.
…Tapi apakah Rei memilih cara yang tepat dengan bersikap seperti itu?
Dan… apa yang harus kukatakan padamu nanti… jika bahaya yang Rei takutkan benar-benar datang?
Danau tetap tenang.
Namun di bawah ketenangan itu—
sebuah bayangan tak terlihat seperti sedang bergerak… mendekat… perlahan, tanpa suara.
