Sore mulai turun di rumah kecil milik Nyra.
Cahaya matahari yang menguning jatuh lembut ke halaman, menembus sela dedaunan dan menerpa teras kayu sederhana tempat Garm duduk menikmati dunia kecil yang perlahan ia anggap rumah.
Di sisi lain, di dalam rumah, Nyra baru saja selesai membereskan ruang tengah dan dapur. Nafasnya sedikit berat, tapi wajahnya tenang. Setelah memastikan semuanya rapi, ia mengambil piring kecil berisi buah potong dan dua gelas minuman dingin, lalu berjalan menuju teras.
Namun baru beberapa langkah, Garm yang melihat Nyra membawa semuanya sendiri langsung bangkit dari duduknya.
Garm :
"Hati-hati, jangan bawa semuanya sendiri."
Dengan sigap ia mengambil gelas dan piring dari tangan Nyra, lalu menaruhnya di meja kecil teras.
Nyra duduk di sampingnya. Tubuhnya perlahan bersandar pada bahu Garm, seperti itu sudah menjadi tempat paling alami baginya sekarang.
Suara angin sore berhembus pelan.
Beberapa saat mereka hanya diam menikmati suasana.
Lalu Nyra bersuara pelan.
Nyra :
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Garm menoleh sebentar, lalu dengan lembut mengelus rambut Nyra.
Garm :
"Tidak ada yang rumit."
"Aku cuma berharap… hal kecil seperti ini tidak direnggut dari kita."
Nyra tersenyum tipis.
Matanya menatap halaman yang tenang, lalu langit yang mulai berubah warna.
Nyra :
"Aku juga berharap begitu."
Mereka kembali diam.
Namun tak lama, Garm seperti teringat sesuatu.
Ia menoleh ke arah pintu rumah, lalu ke jalan kecil di depan halaman.
Garm :
"Oh iya…"
"Sudah sore. Kenapa Senior dan Kanna belum juga pulang?"
Nyra yang mendengar itu ikut tersadar.
Nyra :
"Benar juga…"
"Tidak biasanya mereka selama ini."
"Apa terjadi sesuatu?"
Baru saja pertanyaan itu keluar—
terdengar suara pintu depan dibuka.
Garm menoleh cepat dan tersenyum kecil.
Garm :
"Nah, itu pasti mereka."
Ia dan Nyra pun bangkit dari teras menuju ruang depan.
Namun saat mereka sampai—
yang mereka lihat bukan dua orang.
Hanya Kanna.
Gadis rubah itu masuk dengan langkah agak berat, wajahnya cemberut, lalu tanpa menyapa seperti biasa, ia langsung berjalan ke arah kamarnya.
Nyra hendak memanggil.
Namun Garm menyentuh ringan pergelangan tangannya, memberi isyarat untuk menahan dulu.
Garm :
"Siapkan makanan untuk Kanna."
"Aku akan bicara dengannya."
Nyra menatap Garm sesaat, lalu mengangguk.
Sementara itu Garm berjalan menuju kamar Kanna.
Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pelan.
Garm :
"Kanna, ini Kak Garm."
"Boleh aku masuk?"
Dari dalam terdengar suara yang masih kesal, tapi tidak menolak.
Kanna :
"…Masuk saja."
Garm membuka pintu perlahan.
Ia melihat Kanna duduk di atas kasur, memeluk lutut, bibirnya mengerucut kesal. Jelas sekali ada sesuatu yang mengganggu hatinya.
Garm masuk, lalu duduk di lantai dekat kasur agar tidak membuat Kanna merasa ditekan.
Garm :
"Boleh Kak Garm tahu apa yang terjadi?"
Kanna mendengus kecil.
Kanna :
"Tidak ada yang menjemputku hari ini."
Nada suaranya penuh cemberut.
Garm menghela napas pelan.
Garm :
"Senior Kael tidak datang?"
Kanna langsung menoleh dengan wajah makin kesal.
Kanna :
"Itu dia masalahnya."
"Kakek tidak datang sama sekali."
"Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada apa-apa."
Nada cemberut itu pecah di ujung kalimat—seolah marahnya hanya cara lain untuk menutupi rasa kecewanya.
Garm memahami sekarang.
Bukan sekadar soal terlambat.
Tapi soal kecewa karena ditinggalkan tanpa penjelasan.
Garm mencoba menenangkan nada suaranya.
Garm :
"Mungkin Senior Kael benar-benar ada urusan penting."
"Dan mungkin dia tidak sempat memberi kabar."
"Jadi… Kak Garm harap kamu bisa memaafkan Senior."
Kanna masih cemberut, tapi bahunya sedikit turun.
Ia mulai berpikir.
Kanna :
"…Lalu kenapa Kak Garm juga tidak menjemput Kanna?"
Pertanyaan itu membuat Garm seketika panik.
Ia tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.
Garm :
"Itu… maaf."
"Kak Garm benar-benar tidak tahu kalau Senior Kael tidak datang."
"Kalau tahu, Kak Garm pasti menjemputmu."
Kanna diam.
Melihat Kanna belum sepenuhnya luluh, Garm cepat-cepat menambahkan tawaran damai.
Garm :
"Begini saja."
"Nanti kalau Senior Kael sudah kembali, Kak Garm akan membujuknya…"
"…untuk mengabulkan satu permintaan Kanna."
"Bagaimana?"
Mata Kanna langsung sedikit berbinar.
Kanna :
"Benar?"
"Kak Garm janji?"
Garm :
"Aku janji."
Kanna akhirnya mengangguk kecil.
Kesal di wajahnya belum hilang sepenuhnya, tapi setidaknya tidak sekeras tadi.
Garm tersenyum tipis, lalu bangkit.
Garm (dalam hati):
Di mana sebenarnya Senior…?
Kenapa pergi tanpa kabar sama sekali…?
Ia menatap Kanna sekali lagi.
Garm :
"Baiklah."
"Ayo ganti baju."
"Kakakmu sudah membuat makanan kesukaanmu."
"Kami akan menunggumu di meja makan."
Kanna mengangguk pelan.
Setelah itu Garm keluar dari kamar dan menuju meja makan.
Di sana, Nyra sudah di dapur, sedang menata makanan sambil sesekali menoleh ke arah pintu kamar Kanna.
Saat mendengar langkah Garm, ia langsung bertanya.
Nyra :
"Apa yang terjadi dengan Kanna, sayang?"
Garm duduk di salah satu kursi meja makan sambil menarik napas pelan.
Garm :
"Bukan sesuatu yang serius."
"Hanya saja Senior tidak menjemput Kanna."
"Itu yang membuatnya marah."
Nyra berhenti sebentar, lalu menoleh dengan wajah sedikit cemas.
Nyra :
"Lalu… di mana Senior Kael?"
Garm hanya bisa menggeleng kecil.
Garm :
"Entahlah."
"Aku juga tidak tahu."
"Yang pasti… Senior pasti punya alasan sendiri sampai tidak sempat memberi kabar."
Nyra mendengar itu sambil membawa makanan ke meja.
Wajahnya menunjukkan pasrah yang samar.
Ia tidak membantah.
Tak lama kemudian Kanna keluar dari kamar, sudah berganti pakaian, dan mereka bertiga pun makan bersama sore itu—
dengan hati yang sama-sama bertanya-tanya ke mana Kael sebenarnya pergi.
---
—Kota yang Kehilangan Kehidupan
Sementara itu, di sebuah kota beastkin…
Kael berjalan sendirian di tengah jalan utama.
Tatapannya bergerak mengamati sekeliling.
Berbeda dengan Kota Veyra yang ramai, hangat, dan penuh suasana hidup, kota beastkin ini terasa seperti bayangan dari dirinya sendiri.
Toko-toko memang masih buka.
Orang-orang masih berjalan.
Lampu-lampu jalan masih menyala.
Namun semua terasa… kosong.
Wajah-wajah warga tidak menunjukkan kehidupan.
Mereka berjalan cepat. Menunduk. Menghindari tatapan.
Tak ada tawa. Tak ada obrolan santai. Tak ada rasa aman.
Kael memperlambat langkahnya.
Kael (dalam hati):
Kenapa kota ini seperti kota mati…?
Semua orang tampak ketakutan.
Apa organisasi yang dimaksud Aerisyl sudah sampai aktif mengambil rakyat biasa juga…?
Kalau benar begitu, aku harus bergerak cepat.
Matanya lalu tertuju pada sebuah bangunan yang masih cukup terang di ujung jalan.
Sebuah bar.
Tempat seperti itu biasanya menyimpan lebih banyak informasi daripada kantor resmi.
Setelah berkeliling beberapa menit, Kael pun masuk.
Bar itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung yang duduk terpencar, berbicara pelan, atau sekadar menunduk menatap gelas masing-masing.
Kael langsung menuju meja bartender.
Di sana berdiri seorang pria beastkin paruh baya dengan tatapan lelah, tapi masih menyimpan kebaikan di wajahnya.
Kael duduk.
Kael :
"Berikan minuman terbaikmu."
Bartender itu menatap Kael sebentar, lalu tanpa banyak bicara menyiapkan satu gelas minuman dan meletakkannya di depan Kael.
Baru setelah itu ia bertanya.
Bartender :
"Anda bukan penduduk kota ini, bukan?"
"Untuk apa datang ke sini?"
Kael mengambil gelas itu, mencicipinya.
Rasanya tidak buruk.
Ia lalu menjawab dengan santai.
Kael :
"Aku hanya pengelana."
"Kebetulan singgah ke kota ini."
Pria beastkin itu menatap Kael beberapa detik, lalu suaranya menurun.
Bartender :
"Kalau begitu…"
"Demi kebaikan Anda, lebih baik cepat pergi dari kota ini."
"Kota ini sudah seperti kota mati."
Kael tersenyum tipis.
Ia menaruh gelasnya dan menoleh sedikit.
Kael :
"Lalu kenapa Anda justru mengkhawatirkan orang asing seperti saya…"
"…daripada diri Anda sendiri?"
Pria itu tertawa kecil. Bukan tawa senang—lebih seperti seseorang yang menertawakan nasib.
Bartender :
"Aku suka sikapmu, anak muda."
"Kau sangat mirip dengan anakku."
Setelah itu ia menatap botol-botol di rak belakang, lalu berkata lebih pelan.
Bartender :
"Itulah kenapa aku memperingatkanmu."
"Aku sudah tua."
"Dan ini adalah kampung halamanku."
"Sekaligus tempat anakku menghilang."
Kael yang tadi santai langsung berubah serius.
Kael :
"Anak Anda… menghilang?"
Pria itu mengangguk lemah.
Lalu ia merapikan lap kecil di tangannya, seolah butuh sesuatu untuk menenangkan hati sebelum bicara lebih jauh.
Bartender :
"Namaku Brom."
Kael mengangguk kecil, memberi isyarat bahwa ia mendengar.
Brom pun mulai bercerita.
Brom :
"Anakku belum lama ini hilang."
"Setelah menerima misi dari guild."
"Selama satu minggu tidak ada kabar."
"Akhirnya aku meminta bantuan guild mencarinya…"
"Namun semuanya sia-sia."
Suara Brom menurun di akhir kalimat.
Matanya mulai merah, tapi ia tetap memaksa dirinya bicara.
Brom :
"Dan ternyata… bukan cuma anakku."
"Banyak anak lain yang hilang."
"Bahkan anak-anak bangsawan pun tidak luput."
Kael menggenggam gelasnya lebih erat.
Kael (dalam hati):
Gila…
Masalah ini memang sudah jauh lebih besar dari yang kuduga.
Kalau dibiarkan, kota ini benar-benar akan mati.
Kael menatap Brom lebih serius.
Kael :
"Di mana lokasi terakhir mereka menghilang?"
"Dan anak Anda… sedang bertugas di mana saat itu?"
Brom terdiam.
Ia menimbang-nimbang. Jelas ia masih ragu mempercayai orang asing di depannya.
Namun pada akhirnya, mungkin karena Kael mendengarkan dengan sungguh-sungguh, Brom pun menyerah pada harapan kecilnya.
Ia lalu menyebutkan satu per satu titik hilangnya beberapa anak—dan Kael segera menyadari sesuatu.
Lokasi-lokasi itu tersebar.
Bukan satu tempat.
Hampir di seluruh penjuru kota.
Itu membuat ekspresi Kael berubah.
Kemudian Brom menyebut satu lokasi terakhir tempat putranya bertugas—wilayah tenggara kota.
Kael langsung mencatat itu di kepalanya.
Kael :
"Misi apa yang diambil anak Anda?"
Brom menjelaskan singkat apa yang ia ketahui.
Setelah cukup, Kael menaruh beberapa ribu koin emas di meja.
Brom tersentak melihat jumlahnya.
Brom :
"Ini terlalu banyak—"
Namun Kael bangkit berdiri sebelum Brom sempat mendorong uang itu kembali.
Kael :
"Anggap itu harga minuman… dan informasi."
"Dan aku akan mencarinya."
"Kalau dia masih hidup, aku akan membawanya pulang."
"Kalau tidak… setidaknya ayahnya berhak tahu di mana ia berakhir."
Kalimat terakhir itu membuat wajah Brom bergetar.
Harapan dan ketakutan bercampur di matanya.
Ia menunduk cepat, suaranya hampir pecah.
Brom :
"Tolong…"
"Tolong selamatkan anakku, wahai orang asing…"
Kael tidak menjawab dengan janji besar.
Ia hanya menatap Brom sebentar, lalu berbalik.
Dan malam itu, langkahnya mengarah ke tenggara kota—
ke tempat di mana jejak putra Brom menghilang,
dan mungkin… ke inti kegelapan yang sedang melumpuhkan kota beastkin itu.
