Pintu kamar itu masih terbuka setengah.
Udara di dalam ruangan terasa berat sesaat setelah kemunculan Lirya Vhal'Raine bersama dua bawahannya. Bukan hanya karena auranya yang kuat, tapi juga karena kehadirannya sendiri seperti membawa sesuatu yang berbeda—ketegasan, wibawa, dan rasa aman yang keras.
Tanpa membuang waktu, Lirya langsung berjalan menuju tempat tidur tempat Seris duduk bersandar.
Langkahnya cepat, namun saat sampai di depan adiknya, gerakannya melambat. Tangannya terangkat, menyentuh dahi Seris sebentar, lalu bahu, lalu pipi—memastikan sendiri bahwa adiknya benar-benar baik-baik saja.
Lirya :
"Bagaimana keadaanmu, Seris?"
Seris yang sejak tadi menahan diri agar terlihat kuat akhirnya menunduk sedikit.
Seris :
"Aku tidak apa-apa, Ka..."
"Sudah lebih baik."
Mendengar itu, Lirya menghembuskan napas pelan.
Bukan lega sepenuhnya, tapi cukup untuk menurunkan sedikit kekakuan di wajahnya.
Semua orang di ruangan itu memperhatikan pemandangan tersebut.
Mereka yang baru pertama kali melihat Lirya—Aelria, Airi, Rika, Rinna, si kembar, bahkan Rei—bisa langsung menyadari satu hal.
Di balik aura dominan dan tatapan tajamnya, Lirya adalah tipe kakak yang benar-benar memperhatikan keluarganya.
Dan itu sangat berbeda dengan Ravien yang selama ini lebih banyak menunjukkan sisi dingin dan galaknya.
Namun, rasa lega itu hanya bertahan sesaat.
Perlahan, Lirya menoleh ke arah Ravien.
Tatapannya langsung berubah tajam.
Begitu tajam hingga ruangan kembali menegang.
Lirya :
"Kenapa kau tidak bisa melindungi adikmu?"
"Kakak macam apa kau ini... kalau bahkan adikmu sendiri tidak bisa kau jaga?"
Seris sontak panik.
Ia buru-buru hendak menyela.
Seris :
"Ka, ini bukan salah Kak Ravien, ak—"
Tetapi kalimat Seris tidak selesai.
Ravien, yang sejak tadi berdiri dengan wajah lelah dan rahang yang menegang, justru lebih dulu membuka suara.
Dan suaranya kali ini... jauh lebih rendah dari biasanya.
Tidak meledak.
Tidak menyeringai.
Tidak membantah.
Hanya jujur.
Ravien :
"Maaf."
"Ini memang salahku."
"Karena perbuatanku di masa lalu..."
"Sampai semua ini terjadi."
"Dan aku bahkan tidak bisa menjaga adikku..."
"Atau orang yang harus kulindungi."
Kalimat itu membuat semua orang di ruangan terdiam.
Bahkan Noelle dan Nerine, yang biasanya lebih mudah berkomentar, hanya bisa saling pandang.
Seorang Ravien yang mau meminta maaf.
Seorang Ravien yang mengakui kesalahan dengan terbuka.
Itu sesuatu yang terasa nyaris mustahil bila mereka tidak melihatnya sendiri.
Lirya juga diam beberapa detik.
Amarah di wajahnya perlahan mereda.
Lalu ia menghela napas panjang dan menutup mata sejenak.
Lirya :
"Baiklah."
"Akan kakak maafkan."
"Karena ini memang bukan sepenuhnya salahmu."
Seris menatap kakaknya, lalu menoleh pada Ravien.
Ada rasa lega kecil di wajahnya.
Namun, tepat setelah itu, perhatian Lirya teralih.
Matanya berhenti pada satu sosok di samping Ravien.
Rei.
Untuk sesaat, waktu seperti melambat.
Lirya membeku.
Matanya menatap Rei terlalu lama—hingga membuat semua yang menyadarinya ikut heran.
Wajah itu.
Rambut putih itu.
Aura tenang yang aneh itu.
Hanya satu hal yang berbeda.
Matanya.
Lirya (dalam hati):
Rei...?
Kenapa dia ada di sini...?
Apakah ini jiwa yang lain yang sering dia ceritakan...?
Sangat mirip... tapi mata mereka berbeda...
Rei yang merasa dirinya diperhatikan seperti itu mulai gugup. Ia menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.
Rei :
"Maaf..."
"Apa ada yang salah denganku?"
Di sisi lain, Aelria yang melihat tatapan Lirya pada Rei ikut terdiam.
Aelria (dalam hati):
Kak Lirya... pasti kaget karena Rei yang di sini sangat mirip dengan Rei yang di sana...?
Tapi kenapa... perasaanku malah bilang jangan kalah...?
Apa jangan-jangan Kak Lirya juga menyukai Rei di Hutan Terlarang...?
Kalau benar... apa dia juga bisa menyukai Rei yang di sini...?
Kalau begitu aku harus lebih berusaha...
Tak jauh dari sana, Airi juga memperhatikan dengan napas tertahan.
Airi (dalam hati):
Kenapa Kakaknya Seris melihat Rei seperti itu...?
Apa Kak Lirya suka dengan Rei...?
Tapi mereka kan baru pertama kali bertemu...
Tapi memang... Rei punya daya tarik seperti itu...
Kalau tidak, aku juga tidak akan jatuh hati sejak awal...
Di dekat tempat tidur, Seris yang juga mengetahui kebenaran lebih banyak dari yang lain hanya bisa menunduk.
Seris (dalam hati):
Pasti Kak Lirya kaget...
Rei di sini sangat mirip dengan Rei di Elyndor...
Hanya saja Rei yang di sana terlihat lebih berat... lebih dewasa... dan seperti memikul seluruh dunia.
Semoga tidak terjadi apa-apa...
Dan semoga kami tidak melanggar pesan Rei di sana...
Lirya yang akhirnya sadar tatapannya terlalu lama, menarik napas dan memalingkan wajah sedikit.
Lirya :
"Tidak apa-apa."
"Aku hanya... melihat sesuatu dari dirimu yang mirip dengan seseorang yang aku suka."
Jawaban itu membuat ruangan menjadi canggung sesaat.
Rei tertawa kecil, berusaha mengurangi suasana aneh itu.
Rei :
"Mungkin Anda salah lihat."
"Mana mungkin saya punya kembaran."
"Saya anak tunggal... dan juga sudah tidak punya orang tua."
"Lagipula orang yang Anda maksud pasti sangat kuat... sehingga bisa membuat anda menyukainya."
"Berbeda dengan saya yang tidak punya kekuatan apa pun."
"Paling cuma refleks di atas rata-rata."
Ia mengatakannya sambil tertawa tipis.
Namun Lirya justru makin diam.
Lirya (dalam hati):
Benar... sama seperti yang dia ceritakan.
Dia ingin jiwanya yang di sini hidup normal...
Selama yang ia bisa.
Tapi... jika dunia sudah sampai seperti ini... apakah kata "normal" itu masih mungkin...?
Lirya akhirnya mengalihkan topik.
Lirya :
"Mungkin memang aku yang salah lihat."
Ravien yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju selangkah. Wajahnya kembali serius.
Ravien :
"Lalu, Kak..."
"Bagaimana cara kita menemukan pacarku?"
"Dia pasti sedang menungguku."
"Aku sudah meminta bantuan pasukanku..."
"Tapi mereka tidak menemukan petunjuk apa pun."
Lirya menoleh padanya. Kali ini suaranya menjadi resmi.
Lirya :
"Sebenarnya kakak datang ke sini karena beberapa alasan."
"Pertama—karena kakak diperintahkan oleh seorang teman untuk melindungi kalian."
"Kedua—karena kakak memang berniat membantumu mendapatkan kembali wanitamu."
Ravien menatap kakaknya tanpa berkedip.
Lirya melanjutkan.
Lirya :
"Tapi jika pasukanmu saja tidak menemukan petunjuk..."
"Mungkin bantuanku juga tidak akan langsung berguna."
"Jadi langkah selanjutnya..."
"Untuk saat ini adalah bersabar."
Begitu kata bersabar keluar—
wajah Ravien langsung berubah.
Rahanya menegang lagi.
Matanya menyala oleh amarah yang hampir kembali lepas.
Ravien :
"Bersabar...?"
"Kau bilang bersabar?"
"Apa menurutmu Hina bisa bersabar di sana?"
"Saat ini dia pasti kesakitan."
"Pasti menungguku datang."
"Dan kau menyuruhku bersabar?"
Suaranya meninggi.
Udara di ruangan ikut menegang.
Ravien :
"Atau karena yang harus diselamatkan itu bukan darah keluarga kita..."
"Maka dia tidak berarti apa-apa bagi kalian?"
"Itu sebabnya keluarga tidak mau benar-benar membantu?!"
Seris menutup mulutnya sendiri.
Aelria dan Airi menegang.
Rika memegang lengan Riku tanpa sadar.
Rinna mengerutkan dahi.
Noelle dan Nerine ikut diam.
Lirya sendiri langsung berubah dingin.
Ia melangkah maju, jelas tersulut oleh ucapan adiknya.
Namun sebelum ia sampai—
sebuah tangan lebih dulu meraih pundak Ravien.
Itu tangan Rei.
Genggamannya tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuat Ravien menoleh.
Rei :
"Ravien. Sadarlah."
"Kemarahan tidak akan membuka jalan."
"Kalau kau benar ingin menyelamatkan Hina, pikirkan langkahmu—jangan biarkan amarahmu yang memutuskan."
Suara Rei tidak keras.
Tapi justru karena itu—semua orang langsung diam.
Rei :
"Ingat yang kukatakan sebelumnya."
"Kemarahaan tidak akan mengubah apa pun."
"Yang harus kita lakukan sekarang adalah memikirkan langkah selanjutnya."
Ravien menatap Rei tajam, tapi kali ini ia tidak membantah.
Rei melanjutkan, suaranya tetap tenang.
Rei :
"Dan tentang apa yang kau katakan..."
"Mungkin saja kakakmu tahu sesuatu."
"Tentang kenapa keluargamu tidak bisa langsung bergerak."
"Ingatlah satu hal, Ravien."
"Keluargamu pasti sedang berusaha yang terbaik untukmu."
"Jadi percayalah kepada mereka."
Ravien terdiam.
Beberapa detik.
Lalu, seperti sebelumnya, ia kembali mengingat hal yang sama—
bahwa entah mengapa... sangat sulit baginya melawan kata-kata Rei.
Ia menghembuskan napas keras, menurunkan bahunya, dan akhirnya menenangkan diri.
Ravien :
"…Baik."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang, Kak?"
Setelah Ravien tenang, Lirya menatap Rei beberapa saat.
Lirya (dalam hati):
Hebat...
Adikku yang keras kepala itu bisa tenang hanya dengan beberapa kalimat...
Jadi benar... kelebihan Rei di sini bukan kekuatan... tapi kata-katanya...
Lirya lalu menghela napas dan menjawab dengan serius.
Lirya :
"Keluarga bukan tidak ingin membantu masalahmu, Ravien."
"Tapi sekarang..."
"Di dunia Elyndor sendiri sedang terjadi masalah yang jauh lebih rumit."
Semua yang ada di ruangan itu langsung menatap Lirya.
Wajah mereka berubah.
Dan kalimat berikutnya membuat suasana benar-benar membeku.
Lirya :
"Ada sebuah organisasi..."
"Yang memiliki energi anomali."
Seketika, semua orang di ruangan itu terkejut.
