Cherreads

Chapter 208 - Lorong Gelap dan Singgasana Tanpa Tuan

Setelah Kael, Rhovan, dan para pasukan elit beastkin melewati pintu tersembunyi itu, tak lama kemudian pintu di belakang mereka menutup dengan sendirinya.

Braaakk…

Suara pintu yang menutup keras itu memantul di sepanjang lorong gelap.

Beberapa pasukan elit langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Salah satu dari mereka bahkan refleks memegang gagang senjatanya lebih erat.

Pasukan Beastkin 1 :

"Pintunya… tertutup sendiri…"

Pasukan Beastkin 2 :

"Apakah kita terjebak?"

Di sisi lain, Rhovan memang tampak sedikit terkejut, tetapi ia masih berusaha menjaga wibawanya sebagai raja. Namun yang paling membuatnya heran adalah Kael.

Pria campuran elf dan demon itu sama sekali tidak menoleh ke belakang.

Ia hanya diam.

Tenang.

Dan melanjutkan langkahnya seolah bunyi pintu yang menutup sendiri itu sama sekali bukan sesuatu yang patut dipikirkan.

Melihat itu, Rhovan akhirnya ikut melangkah lagi, diikuti para pasukan elitnya.

Lorong itu panjang. Sangat panjang.

Dindingnya dipenuhi batu hitam yang kasar dengan sedikit cahaya samar dari kristal-kristal redup yang tertanam tidak beraturan. Penerangannya begitu minim, membuat bayangan mereka tampak seperti sesuatu yang hidup dan mengikuti dari belakang.

Di sana, yang terdengar hanya suara langkah kaki mereka sendiri.

Setelah cukup lama berjalan dalam keheningan, Rhovan akhirnya angkat bicara.

Rhovan :

"Aku tidak menyangka ada lorong sepanjang ini setelah kita melewati pintu tadi."

"Dan semua ini… tepat berada di kotaku sendiri."

"Aku benar-benar tidak menyangka."

Kael yang mendengar nada rendah dalam suara Rhovan tahu apa yang sebenarnya dipikirkan raja beastkin itu.

Bahwa ia merasa gagal.

Bahwa ia tidak mengetahui bahaya yang tumbuh diam-diam di kotanya sendiri.

Kael tersenyum kecil, lalu menjawab tanpa menoleh.

Kael :

"Kau tidak perlu merasa tidak berdaya seperti itu."

"Sihir tadi kemungkinan besar memang tidak pernah dipakai di dunia ini."

"Melihat kau yang seorang raja saja tidak menyadari keanehan sihir gabungan itu…"

"…hingga akhirnya anak buahmu yang hanya bisa merasakan sedikit keanehan…"

"…itu justru menunjukkan bahwa sihir itu memang bukan sesuatu yang pernah digunakan di dunia ini."

Mendengar itu, Rhovan sedikit mengernyit.

Rhovan :

"Kalau begitu… bagaimana Anda bisa tahu dan merasakan keanehan itu?"

"Apakah Anda bisa menggunakan sihir yang serupa?"

Kael akhirnya menoleh sedikit ke arah Rhovan.

Kael :

"Aku pun tidak bisa menggunakannya."

"Aku tidak memiliki afinitas tinggi terhadap sihir."

"Tapi beberapa temanku di masa lalu bisa menggunakannya."

"Di tempat asalku, itu bahkan belum dianggap rumit."

"Teman-temanku dulu memakainya untuk hal-hal sepele… termasuk menyembunyikan makanan dan minuman."

Seketika langkah beberapa pasukan elit di belakang mereka sedikit kacau.

Mereka saling menoleh dengan ekspresi campuran antara terkejut dan tidak percaya.

Sihir gabungan yang bagi mereka terasa luar biasa rumit dan nyaris mustahil dipahami itu… ternyata, menurut pria di depan mereka, hanyalah "sihir dasar" yang dipakai untuk menyembunyikan makanan dan minuman.

Rhovan sendiri sampai terdiam beberapa saat.

Namun rasa ingin tahunya jauh lebih besar.

Rhovan :

"Lalu… di mana teman-teman Anda itu sekarang?"

"Apakah mereka sedang menjalankan tugas lain dari para guardian?"

Pertanyaan itu membuat langkah Kael berhenti.

Lorong yang tadinya hanya dipenuhi suara langkah kembali tenggelam dalam diam.

Kael menghela napas pelan, lalu berbalik.

Rhovan dan para pasukannya ikut berhenti dan memandang Kael yang kini menatap mereka semua.

Wajah Kael tetap tenang, tetapi sorot matanya menjadi jauh lebih serius.

Kael :

"Sebaiknya kalian hati-hati."

"Karena tidak lama lagi…"

"…bahaya yang sebenarnya baru saja akan dimulai."

Semua yang ada di lorong itu langsung menegang.

Kael melanjutkan dengan nada datar, tapi tegas.

Kael :

"Seperti yang sudah kubilang."

"Kalau kalian bisa menjaga diri, ikutlah."

"Tapi kalau aku harus menjaga kalian juga…"

"…lebih baik kalian berhenti di sini."

Ancaman itu begitu langsung.

Namun di saat yang sama, mereka semua tahu bahwa itu juga nasihat.

Apa yang mereka hadapi di depan bukan lagi lawan biasa. Dari sihir di awal saja, mereka sudah paham bahwa pihak yang membuat tempat ini bukanlah pihak yang bisa diremehkan.

Ditambah lagi rumor tentang energi anomali—

sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka lawan selama hidup mereka.

Rhovan menunduk sesaat.

Lalu ia menarik napas panjang dan menegakkan tubuhnya kembali.

Rhovan :

"Aku bisa menjaga diriku sendiri."

Setelah itu, ia menoleh kepada pasukan elitnya.

Rhovan :

"Siapa pun yang merasa tidak sanggup…"

"…tunggulah di sini."

Namun ucapan itu langsung ditolak serempak.

Pasukan Beastkin 1 :

"Kami akan terus maju, Yang Mulia."

Pasukan Beastkin 2 :

"Kami tidak akan mundur sekarang."

Pasukan Beastkin 3 :

"Jika bahaya di depan merenggut nyawa kami…"

"…maka kami tidak akan menyalahkan siapa pun."

Mendengar itu, Kael menatap mereka beberapa detik.

Lalu ia berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya.

Kael :

"Baiklah."

"Urus diri kalian sendiri."

Namun di dalam pikirannya, Kael justru mendengus.

Kael (dalam hati) :

Sungguh merepotkan.

Pada akhirnya aku tetap harus membawa sepuluh bayi ke tempat seperti ini.

Setelah semua ini selesai… Rei harus memberikan sesuatu yang setimpal untukku.

Mereka pun melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di ujung lorong.

Di sana berdiri sebuah pintu besar.

Pintu itu jauh lebih tinggi dibanding pintu sebelumnya dan permukaannya dipenuhi ukiran yang samar terlihat seperti akar atau pembuluh yang saling menjalar.

Saat mereka mendekat—

Grrrkkk…

Pintu itu terbuka sendiri.

Suara bukaannya keras dan berat, memecah keheningan lorong seperti sesuatu yang memang sengaja menyambut kedatangan mereka.

Begitu mereka masuk ke dalam ruangan itu, semua orang spontan berhenti.

Ruangan itu sangat luas.

Di tengahnya terdapat singgasana besar yang kosong, berdiri di atas undakan pendek. Tidak ada siapa pun di sana.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada suara.

Hanya singgasana kosong… dan empat pintu lain di sisi-sisi ruangan.

Di saat semua masih menatap sekeliling dengan waspada, Kael memusatkan pandangannya pada singgasana itu.

Ia maju beberapa langkah.

Lalu alisnya sedikit turun.

Ada sesuatu di sana.

Sangat tipis.

Sangat halus.

Namun cukup untuk membuatnya yakin.

Kael :

"Ternyata benar…"

"Ini perbuatanmu, Eryndra."

Mendengar Kael menyebut nama seseorang, Rhovan langsung menoleh cepat.

Rhovan :

"Apa Anda tahu siapa yang berbuat ini?"

"Dan siapa orang yang Anda sebutkan itu?"

Kael masih memandang singgasana kosong itu beberapa detik sebelum menjawab.

Kael :

"Teman masa laluku yang kuceritakan tadi."

"Yang bisa menggunakan sihir gabungan seperti di pintu masuk sebelumnya."

"Namanya Eryndra."

"Dia salah satu temanku yang bisa menggunakan sihir seperti itu."

"Dan setelah aku melihat singgasana di depan sana…"

"…aku merasakan sisa energi yang familiar."

Rhovan mendengar itu, namun justru rasa waspadanya naik.

Ia ragu sejenak, lalu tetap memutuskan bertanya.

Rhovan :

"Kalau memang teman Anda yang berbuat begini…"

"…bukankah itu berarti Anda juga—"

Namun sebelum ia sempat menyelesaikan tuduhannya, Kael langsung memotong dengan tatapan tajam.

Kael :

"Apa kau bodoh?"

"Jika aku bagian dari organisasi ini…"

"…sudah sejak awal aku menghabisi kalian."

Suasana langsung menegang.

Rhovan terdiam, lalu menyadari bahwa ucapan Kael memang masuk akal. Dengan kemampuan Kael, tak perlu repot-repot menuntun mereka masuk ke tempat ini jika memang ia musuh.

Akhirnya Rhovan menundukkan kepala sedikit.

Rhovan :

"Maaf."

"Aku terlalu curiga."

Kael mendecakkan lidah pelan.

Kael :

"Sudahlah, lupakan."

"Jika bukan karena temanku yang meminta…"

"…mungkin aku tidak akan mau menyelidiki dan menyelesaikan masalah ini."

Setelah itu, Kael menoleh ke empat pintu di sisi ruangan.

Lalu ia memberi perintah dengan nada cepat.

Kael :

"Sekarang kalian pergi ke tiap pintu."

"Periksa apakah ada para tawanan yang diculik."

Rhovan langsung mengangguk.

Ia menoleh kepada sembilan pasukan elitnya dan segera membagi mereka menjadi tiga tim.

Rhovan :

"Bagi menjadi tiga kelompok."

"Masing-masing periksa satu pintu."

"Laporkan segera jika menemukan tawanan atau sesuatu yang aneh."

Kesembilan pasukan elit itu langsung menyebar.

Langkah mereka cepat, namun tetap hati-hati.

Sementara itu, Kael menatap pintu keempat yang tersisa.

Pintu itu berada sedikit lebih jauh dari yang lain, lebih gelap, dan entah kenapa memberi perasaan paling tidak menyenangkan di antara semuanya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kael mulai berjalan ke arah pintu itu.

Rhovan melihatnya, lalu mengikuti dari samping.

Kini, di ruangan singgasana kosong itu, para pasukan elit mulai menuju tiga pintu lain—

sementara Kael dan Rhovan bergerak bersama menuju pintu keempat yang tersisa, menuju sesuatu yang bahkan belum sempat mereka bayangkan.

More Chapters