"Dunia Aetheris… dunia yang dulunya tanpa dewa.
Dunia yang damai, dan pada mulanya, ia memiliki sihir.
Namun… semua itu berakhir ketika manusia mulai mengembangkan sains…"
Suara seorang wanita terdengar, membacakan sebuah buku yang berisi rekaman masa lalu.
"Dan pada saat itu, kehancuran tiba.
Manusia mulai mengobarkan perang satu sama lain… semuanya demi memburu satu orang saja…"
…
"Hah…"
Wanita itu perlahan menutup buku yang dipegangnya, lalu bertanya pada seseorang yang berdiri di dekatnya.
"Jadi? Itu perjalanan yang sulit, bukan?"
Orang itu menatapnya.
"Ya… kurasa itu benar-benar perjalanan yang berat, ya…?"
Wanita itu tersenyum, lalu bangkit dari singgasananya.
"Ya… itu juga tidak salah… karena itu juga merupakan—"
Kata-katanya memudar, tidak mungkin untuk didengar… seolah tenggelam semakin dalam ke dalam mimpi…
…
Kembali ke masa kini, di negara Cyranthia.
Felix membuka matanya. Dia menatap langit-langit kamarnya, merasa sedikit bingung… lalu mengangkat satu tangan untuk menenangkan dirinya. Dia perlahan duduk dan melirik jam yang menunjukkan pukul 04:47.
Pagi telah tiba, namun suasananya sangat sunyi, dan udara masih terasa dingin.
Dia membuka pintu kamarnya dan melihat sekeliling rumah yang masih terasa sunyi senyap. Saat Felix melangkah maju, dia tiba-tiba merasa pusing dan hampir jatuh. Dia berpikir mungkin dia baru saja mengalami mimpi yang luar biasa berat… atau mungkin dia terlalu memaksakan tubuhnya saat pertandingan sepak bola kemarin.
Felix merasa mimpi itu terus kembali, seolah mencoba mengiriminya semacam pertanda. Tapi dia tidak tahu apa artinya. Dia menggelengkan kepala dan berjalan menuju dapur.
Di sana, dia melihat kakaknya sedang mencuci piring.
"Kak Elen… tumben banget. Kakak nyuci piring sepagi ini?"
Elena Erratic adalah anak tertua dari bersaudara Erratic.
Tanpa rasa terkejut, Elena menyelesaikan pekerjaannya dan berbalik ke arah adik bungsunya dengan senyum yang cantik dan lembut.
"Hehe… wah, wah. Sepertinya adik kecilku sudah bangun, ya?"
Felix merasa sedikit malu.
"Berhenti Kak… jangan bilang begitu. Aku sudah dewasa!"
Elena tertawa. Tapi… sepertinya Elena memperhatikan Felix dengan saksama, seolah dia menyadari kalau Felix memaksakan diri lagi.
"Kamu memaksakan diri lagi, Lix?"
Felix merasa bingung, tapi dia tidak terlalu terkejut. Kakaknya selalu bisa tahu hanya dengan melihat perilaku seseorang, tidak peduli berapa pun usia mereka.
"Ya… sepertinya begitu, Kak…?"
Elena hanya bisa menghela napas.
"Baiklah… lain kali, jangan terlalu memaksakan diri. Kamu juga butuh istirahat yang cukup."
Felix mengangguk.
"Iya, Kak…"
Setelah itu, Elena menyuruh Felix mandi sementara dia menyiapkan sarapan untuk mereka. Dua puluh menit berlalu… Felix selesai mandi, kembali ke kamarnya untuk mengenakan seragam sekolah, lalu kembali ke ruang makan.
Melihat sekeliling, sepertinya satu orang masih belum bangun.
"Kak Elen… Kak Rhett masih belum bangun?"
"Belum. Biarkan saja si tikus besar itu bangun sendiri—"
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, memotong ucapannya.
"Siapa yang kamu panggil tikus besar, hah?"
Jelas tidak senang dengan nama panggilan itu. Elena dan Felix meledak dalam tawa, sementara Rhett berdiri di sana, bingung tentang apa yang lucu.
Setelah itu, Felix menyuruh Rhett buru-buru mandi karena waktu sudah menunjukkan pukul 05:57. Elena menambahkan kalau Rhett selalu mandi lama sekali, seperti sedang melakukan semacam ritual.
Pagi itu sudah dipenuhi dengan kekacauan yang bising. Tiga puluh tujuh menit berlalu.
"Wah, rekor baru, Kak Elen. Kak Rhett baru saja mandi selama 37 menit? Apa yang sebenarnya dia lakukan di dalam sana?"
Rhett menjawab, "Jangan berpikir yang aneh-aneh."
Elena menyahut kalau dia mungkin ketiduran di kamar mandi. Rhett terdiam. Elena dan Felix menatapnya dengan ekspresi yang jelas mengatakan: Kamu beneran ketiduran, kan?
Pagi itu tumbuh semakin riuh dengan candaan dan tawa di antara tiga bersaudara tersebut. Hingga pukul 06:53. Semua orang sudah siap dan mulai mengunci rumah.
Elena menyerahkan kunci cadangan kepada Felix.
"Seperti biasa, Felix. Kakak mungkin pulang agak telat, dan Rhett langsung pergi kerja setelah dari kampus. Jadi pastikan kamu pulang lebih awal, ya?"
Felix mengangguk. "Iya, Kak."
Tiga bersaudara Erratic masuk ke mobil dan mengantar Felix ke sekolahnya terlebih dahulu. Tujuh belas menit berlalu.
Felix tiba di sekolah dan keluar dari mobil.
"Belajar yang rajin, Lix. Jangan sampai berakhir seperti Rhett, yang hampir mengirim seseorang ke akhirat."
Rhett, yang duduk di kursi belakang, tampak sedikit kesal.
"Yah… padahal pagi ini sudah sepanas ini," kata Felix. "Baiklah kalau begitu, Kak Elen, Kak Rhett, aku masuk dulu ya. Bye-bye!"
Dia melambaikan tangannya. Bel sekolah hampir berbunyi. Felix berjalan ke dalam gedung sekolah dan, seperti biasa, menyapa satpam dan teman-teman dari kelompok biasanya.
Saat berjalan menuju kelasnya, dia kebetulan bertemu sahabat dekatnya, Alexa. Alexa menyapa Felix seperti biasa, dan Felix menggodanya seperti yang selalu dia lakukan.
Mereka praktis tak terpisahkan. Sambil berjalan ke kelas, Alexa menanyakan sesuatu padanya.
"Hei… Fel… kamu luang nggak nanti? Aku mau nanya—"
Tiba-tiba, salah satu teman Felix menyapanya, menyebabkan Felix melewatkan apa yang dikatakan Alexa. Felix ingin memintanya mengulanginya, tapi Alexa menolak dan tampak sedikit merajuk. Felix hanya merasa bingung.
Apa aku salah ngomong…?
Bel berbunyi, dan semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Saat Felix duduk di mejanya, Alexa—yang duduk di sampingnya—bertanya,
"Hei Fel, kamu udah ngerjain tugas yang dikasih Bu Luni?"
Dengan percaya diri, Felix menjawab kalau dia sudah mengerjakannya sendiri. Alexa memujinya.
"Wah, tumben banget. Padahal aku nggak liat kamu latihan pake catatan yang aku buat."
Kata-katanya membuat Felix merasa sedikit malu sambil menggaruk kepalanya.
"Ah… itu… aku kadang suka lupa… hehe. Tapi kamu juga banyak bantu aku kok! Makasih ya!!"
Alexa langsung tersipu. Kata-kata Felix membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
Pada saat itu, Bu Luni memasuki kelas, dan pelajaran dimulai. Beberapa jam berlalu. Bel istirahat berbunyi.
Siswa mulai meninggalkan kelas dan menuju kantin. Alexa mendekati meja Felix dan memberitahunya kalau dia ada tugas OSIS, jadi dia tidak bisa menemaninya saat istirahat. Meski begitu, Felix mengerti.
Setelah itu, Felix memanggil teman-temannya dan pergi ke kantin bersama. Saat berjalan menuju kantin, Felix tidak sengaja menabrak siswa lain dari angkatan yang sama.
Teman-teman Felix mulai memarahi siswa tersebut, tapi Felix menghentikan mereka. Felix mengulurkan tangannya dan membantu siswa itu berdiri.
"Terima kasih, Felix."
Siswa itu berjalan pergi. Saat dia pergi, Felix tidak sengaja mendengar seseorang menyebutkan kalau nama siswa itu adalah Alder, seseorang yang dikenal sebagai siswa terpintar setelah Felix sendiri.
Setelah mendengar itu, Felix ingin berbalik dan berbicara dengannya, tapi dia tidak bisa karena dia sedang bersama teman-temannya. Lima jam berlalu.
Tepat pukul 15:00 ketika bel pulang berbunyi, dan semua orang mulai pulang. Saat Felix berjalan menuju pintu keluar kelas, dia melihat Alexa masih belum kembali dari kegiatan OSIS-nya.
"Hm… kayaknya dia sibuk… aku balik duluan aja deh hari ini."
Felix berjalan pulang sendirian. Setelah tiba di rumah, Felix berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit, masih memikirkan mimpi yang dia alami pagi itu.
Semakin dia memikirkannya, dia seolah tenggelam semakin dalam kembali ke dalam mimpi itu… Felix menggelengkan kepala dan berkata pada dirinya sendiri untuk tidak memikirkannya lagi.
Karena merasa bosan di rumah, Felix memutuskan untuk pergi ke mall. Dia bersiap-siap dan pergi ke sana naik bus. Dua puluh tiga menit berlalu.
Felix tiba di mall, dan tepat saat dia hendak masuk, seseorang memanggilnya. Dia berbalik untuk melihat siapa itu. Ketika dia melihat lebih dekat, ternyata itu adalah Alexa, yang kebetulan berada di sana juga.
"Loh? Alexa, kamj di sini juga?"
Merasa sedikit malu, Alexa memberi tahu Felix kalau dia sebenarnya ingin mengajaknya ke mall tadi, tapi karena percakapan mereka terputus, dia tidak mengatakan apa-apa. Setelah mendengar itu, Felix meminta maaf kepadanya, dan akhirnya, mereka masuk ke mall bersama.
"Hei Fel, mau cek Game Zone dulu nggak? Aku agak gabut nih."
Pada akhirnya, mereka berdua pergi ke Game Zone dan bersenang-senang bersama.
"Fel, aku mau coba mesin capit itu! Ayok!!"
Felix mengangguk karena dia juga ingin mencobanya.
"Aku duluan ya, baru setelah itu kamu." Felix mengangguk.
Percobaan pertama — gagal.
Percobaan kedua — gagal.
Percobaan ketiga — gagal.
Percobaan keempat — gagal.
Alexa tumbuh sedikit frustrasi setelah gagal berulang kali. Ketika giliran Felix, dia mencoba mesin itu. Menggunakan teknik sederhana, Felix berhasil mengambil boneka tersebut.
Alexa, yang terkejut, merasa sedikit sedih karena dia tidak mendapatkannya. Menyadari hal ini, Felix akhirnya memberikan boneka itu kepadanya. Alexa sangat senang dan memeluk Felix. Setelah itu, mereka terus berkeliling mall.
Disaat mereka lagi berjalan jalan, Alexa melihat tempat foto untuk Couple. Dia mengajak Felix.
"Fel, mau foto dulu ga?" tanyanya, "Eh? Boleh dong!"
Karena Felix setuju, akhirnya mereka mencoba mengambil banyak foto, kira kira menghabiskan sekitar 20 menit lebih..
Setelah berfoto foto yang sangat menyenangkan, Mereka pergi ke tempat selanjutnya. Alexa mengajak felix untuk mencari baju
"Kali ini, ayok kita cari baju!!"
Felix hanya bisa tersenyum dan melihat tingkah lakunya Alexa yang begitu lucu.
Setelah mereka sampai di Toko Baju, Alexa mencoba mencari baju yang cocok untuknya.
Sepuluh menit berlalu..
Masih belun menemukan baju yang cocok, dan pasa akhirnya, Felix memberi rekomendasi untuk Alexa
"Alexa, gimana menurut mu? Baju ini tampaknya cocok dengan. "
Saat melihat pakaian yang di sebut oleh Felix, Alexa tampaknya senang dengan pakaian yang baru saja Felix sebut. "Wah Fel! Mata mu bagus juga ya untuk nawarin pakaian ini."
Felix sedikit rasa bangga, "ah, bukan apa apa kok.."
Dan dua puluh menit berlalu.. "Eh Fel, kalau kamu kelamaan nunggu, aku beliin kamu 2 pakaian nih! Bebas aja kalau mau ambil pakaian apa aja.", Felix hanya bisa mengangguk dan mencari dua pakaian sederhana untuk digunakan nya.
Setelah memilih, Akhir Felix menemukan dua pakaian yang di pilih nya. Disaat itu, Alexa Menghampiri Felix, dia minta untuk menilai seberapa cocoknya Alexa dengan pakaian itu sebelum membeli nya.
Tidak bisa menolak, akhirnya Felix Mengiyakan dan mereka menghabiskan waktu sekitar 13 menit..
Setelah semua itu selesai, akhir nya mereka mencari tempat untuk mengisi perut mereka.
"Eh Fel, kamu lapar ga? Mau nyari tempat makan dulu? Kebetulan sih, ada tempat ramen yang aku rekomendasiin sih, mau coba gak?"
Karena Felix orangnya ga enakan, akhirnya dia menerima Tawaran Alexa. Karena dia juga sudah mulai merasa lapar
Felix mengikuti Alexa pergi ke tempat itu. Ketika mereka sampai, mereka memesan makanan.
"Hei Alexa, aku pesen yang sama kayak kamu aja deh. Aku nggak tau rasanya gimana, hehe."
Alexa bilang tidak apa-apa, dan mereka memesan hidangan yang sama.
Sepuluh menit berlalu, dan makanan akhirnya disajikan di meja mereka. Melihat kualitas makanannya, Felix kagum. Ini pertama kalinya dia makan sesuatu seperti ini.
"Alexa… kamu beneran beli makanan dengan harga segini?"
Dengan tidak percaya, Felix bertanya padanya. Alexa menjawab dengan serius bahwa ya, itu memang harganya. Setelah menyelesaikan makan mereka, Alexa mengambil struknya dan membayar semuanya.
"Kali ini, aku yang traktir, Fel. Hehe."
Felix tidak bisa menolak.
Setelah membayar, Felix bertanya tentang total biayanya.
"Hm? Harganya? Cuma 214 Cyran."
Terkejut, Felix memberi tahu Alexa bahwa jumlah itu bisa menutupi biaya makannya selama sebulan penuh. Tapi karena Felix juga tahu kalau Alexa berasal dari keluarga kaya, dia bisa memahaminya. Waktu menunjukkan pukul 17:27.
Alexa pergi duluan karena ada urusan mendesak. Felix tetap berada di sekitar mall, menenangkan dirinya sambil memperhatikan orang-orang bermain, bercanda, dan berbelanja.
Saat Felix sedang menikmati momen tenang itu, seorang pria yang lebih tua mendekatinya dan menawarinya minuman. Kebetulan sekali, Felix sedang haus. Tanpa berpikir panjang, dia menerimanya dan meminum semuanya.
"Fuah… segar bang— huh…?"
Dia melihat sekeliling. Pria yang menawarinya minuman itu tiba-tiba menghilang. Sesuatu terasa aneh saat Felix berdiri. Dia merasa pusing, dan tubuhnya terasa panas yang tidak biasa. Felix mengira dia mungkin demam dan memutuskan untuk pulang.
Saat dia berjalan menuju halte bus, dia melihat kerumunan besar. Penasaran, Felix mendekat. Ketika dia melihat apa yang telah terjadi, ternyata itu adalah pria yang sama yang memberinya minuman—sekarang terbaring di sana, mati.
Seorang detektif yang kebetulan ada di sana memberi tahu semua orang bahwa pria itu termasuk dalam ras yang telah bersembunyi selama 600 tahun. Detektif itu mengatakan bahwa jika salah satu dari mereka muncul di permukaan, itu berarti seluruh ras tersebut sudah punah.
Mendengar kata-kata itu, Felix mulai panik dan cepat-cepat meninggalkan tempat kejadian, menuju rumah. Di dalam bus, Felix merasa semakin pusing, dan rasa panas di dalam tubuhnya menjadi semakin menyakitkan. Setelah dua puluh tiga menit lagi, Felix tiba di rumah dan melihat bahwa mobil Elena sudah ada di sana.
Felix bergegas masuk, nyaris tidak bisa berdiri, tubuhnya menyerah. Dia membuka pintu dan ambruk, tubuhnya terbakar oleh panas.
Elena segera menyadari dan bergegas menghampiri dengan cemas, membantu Felix ke kamarnya dan meletakkan kompres dingin di dahinya.
Ketika Elena menyentuh tubuh Felix, sesuatu terasa aneh di pikirannya.
Kenapa tubuh Felix terasa seperti mengecil…?
Dia segera menepisnya, berpikir dia hanya berhalusinasi—tapi pikiran itu tetap membekas.
Akhirnya, Rhett pulang lebih awal dari biasanya karena tempat kerjanya tutup sementara. Elena segera memberi tahu Rhett bahwa Felix sakit dan memintanya untuk menjaga Felix sebentar.
Cemas, Rhett langsung menuju kamar Felix dan memeriksanya. Perasaannya sama dengan Elena—sesuatu terasa salah.
Tubuh Felix tampak lebih kecil. Rhett meragukannya… namun sebagian dari dirinya mempercayainya. Pada akhirnya, Rhett memilih untuk membiarkan Felix beristirahat.
—BERSAMBUNG—
