Cherreads

Chapter 3 - Perubahan Yang tak diinginkan 2

—Alder berjalan pelan didepan pagar sekolah sambil memperhatikan Felix yang sedang berbicara dengan kakak tertuanya.

Dia memandangi wajah Felix dari kejauhan dengan rasa masih kurang percaya apa yang terjadi dengan perubahan Felix, dan dia masih terus kepikiran tentang perkataan ayah angkatnya..

"hah..." sambil menghela nafas, dia mulai berjalan dengan perlahan sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang. "Mulai sekarang.. aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi kepadanya, dan kuharap dia bukanlah orang yg disebut oleh ayah."

Dua puluh menit berlalu..

Alder sampai dirumahnya.

Disaat dia membuka pintu rumahnya, yang ia rasakan hanyalah kesunyian.

tidak ada satupun orang yang menyambut dirumahnya..

Selama ini Alder hanya tinggal seorang diri dari rumah peninggalan ayahnya, yang dimana dia sudah sendirian sejak 3 tahun yang lalu..

Saudara nya pergi meninggalkannya, tidak tahu apa alasannya meninggalkan dia seorang diri.

Namun, bagi Alder sudah biasa.

Dia mulai melangkah masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumahnya.

..

"Sunyi sekali.." gumamnya, dia melanjutkan langkah.

sebelum dia masuk ke kamarnya, dia pergi ke dapur sebentar untuk membuat kopi sebelum melakukan pencarian..

Disaat dia membuat minuman, dia melihat foto keluarganya, yang cuma ada Ayah Alder, dan Saudaranya..

Namun wajah saudaranya sudah dirobek oleh saudaranya sendiri sebelum pergi dari rumah.

Alder memegang foto tersebut, "Andaikan.. Ayah juga memberitahu kepada mu.. tapi demi kebaikan mu juga.. Ayah lebih memilih diam.."

Setelah selesai membuat kopi, Alder mulai menuju kamarnya.

Disaat dia membuka pintu kamarnya, terasa udara yang membuatnya merasakan masa lalu tapi sekarang hanyalah sisa kenangan yang sudah mulai pudar..

Alder meletakkan minuman di meja komputernya, dan berbaring sebentar dikasurnya sambil menatap langit langit.. dengan sedikit perasaan menyesal dan juga kebingungan.

"Aku iri sekali.. orang orang hidup dengan bahagia.. dengan senyuman.." gumamnya

"andaikan.. aku tidak memilih tujuan seperti itu.. tapi ini aku sudah memilihnya, dan aku tidak bisa menyesalinya.."

Dia mulai memenjamkan matanya, dengan harapan dia bisa tenang untuk sementara waktu..

dan setelah itu..

dia mulai mengingat perkataan ayahnya, "Alder.. jika seseorang yang kamu kenal mengalami perubahan sehari setelah kalian bertemu.. dia adalah orang yang akan kamu lindungi suatu hari nanti.."

Alder membuka matanya dan melihat ke arah komputernya, "Sepertinya aku harus mulai menyelidikinya..". dia bangun dari ranjang dan mulai duduk di depan komputernya, "baiklah, sepertinya aku harus menyelidiki yang terjadi kemarin"

ia menepuk tangannya dua kali, "Sistem dinyalakan", "Selamat Sore, Tuan."

Sistem komputer yang sudah cangih di zamannya, yang bisa dinyalakan oleh AI dan tentunya Alder memiliki AI pribadinya yang diberi nama 'Yar-01', AI yang dibuat oleh Ayah Alder dan dikembangkan oleh Alder setelah itu..

"Yar, berikan aku informasi dari semua berita yang terjadi kemarin." dengan cepat AI itu langsung mencari semua informasi dari sekian banyak berita yang terjadi kemarin. "Sudah, Tuan. Terdapat 231 berita yang terjadi di penjuru dunia, dan 19 berita yang terjadi di Cyranthia."

Dia mulai mencari tahu semua berita, sampai sampai dia menemukan suatu berita yang terjadi di mall kemarin "Hmm? kematian seseorang makhluk asing?" penasaran, dia mulai membuka informasi dan video yang ada di berita itu.

"Makhluk asing yang mendadak meninggal gara gara suatu hal yang tak diketahui, eh?" dia mulai menelusuri semua berita yang ada disana, "Hey Yar, menurutmu, berita ini bisa kamu jelaskan tidak?"

AI itu membalas,"Tentu, Tuan. Setelah aku selidiki berita ini, sebuah makhluk mitos yang dikenal sebagai Ras 'The Sablekin' yang sampai sekarang masih dicari tahu oleh manusia. namun sayangnya, kata detektif dia kemungkinan makhluk terakhir yang hidup, dan pada akhirnya ras itu sudah benar benar punah. menurut sumber yang aku temukan, Tuan."

Tidak ada reaksi, dia terdiam dan memucat. "Apa..?" dengan rasa sedikit syok

"Ti- tidak mungkin kan..?", AI itu bertanya, "Ada apa, Tuan?"

masih tidak ada tanda balasan dari Alder, AI nya mulai mencoba menyadarkannya, "Tuan, sadarlah Tuan!", masih tidak ada balasan, pada akhirnya AI itu mulai mengguncang kursi yang diduduki oleh Alder.

Setelah itu, Alder kembali sadar dari renungan yang begitu mendalam, "Ada apa, Tuan? apa anda baik baik saja?" khawatir AI tersebut, "Tidak.. Aku baik baik saja, Hanya saja.." AI itu mulai bertanya kembali, "ada apa tuan?"

Tidak bisa menahannya lagi, Dia mulai memberitahu kepada AI nya, "Makhluk yang disebut sebagai 'The Sablekin' itu adalah.. Pencipta mu, Yar. yang dimana.. dia adalah ayahku.."

AI itu sedikit bingung, dan pada akhirnya dia sadar, kalau dia diciptakan oleh Ayahnya Alder, bukan dia seorang.

Dan pada akhirnya, AI itu mulai membantu Alder, "Aku tidak tahu perasaan mu seperti apa, tuan. Tapi, bagiku seorang AI yang hanya bisa membantu mu untuk mencari informasi, aku akan berjuang dan tidak akan mengecewakan mu, karena mungkin adalah titipan dari penciptaku untukmu."

Dia hanya bisa terdiam dan tersenyum, "Yah.. kau tidak salah juga sih, dan pada akhirnya, apa yang dikatakan ayah itu ada benarnya juga.. Yar, coba cari siapa saja wajah yang ada di kejadian itu."

AI itu menerima perintah dari Alder, dan mulai mencari dan mengidentifikasi semua wajah yang hadir disana,"Sudah, Tuan. Aku mendapatkan sekitar... data.", Alder mulai menyelidiki siapa saja yang hadir, disaat dia melihat data orang orang, dia terkejut dengan adanya data 'Felix Erratic', yang dimana Felix hadir di kejadian itu, disitu dia mulai mempercayai kata kata ayahnya

"Hah.. jadi dia beneran orang yang harus kujaga sampai pada 'waktu' yang ditentukan.." dia melihat ke jendela, dan mulai berjalan ke arah jendela dan melihat sekitarnya, "Dunia yang akan nantinya.. tersisa puing puing nya saja, demi memburu satu orang saja..? dasar manusia yang angkuh.. bagaimana menurut mu, Yar?"

"Aku tidak mengerti apa yang anda katakan, Tuan", Alder hanya bisa tersenyum, namun matanya merasakan tatapan sedih dengan kota itu, "Pada akhirnya, kiamat akan terjadi sebentar lagi..."

Hari sudah mulai gelap..

Kembali ke sisi Felix..

Setelah pulang dari sekolah, Felix mulai merasa tidak enak badan lagi, yang membuat kakaknya khawatir dan mempertanyakan kondisinya, "Fel, kamu sakit lagi..?", namun Felix mengatakan kalau dia sehat sehat saja.

Setelah sampai dirumah, Felix membawa banyak sekali barang bawaan yang di beli oleh kakaknya. Karena setelah pulang sekolah mereka langsung pergi ke mall untung mencari baju untuk Felix nantinya..

"kak.. menurut mu ini ga berlebihankan..?", dengan perasaan sedikit malu. "Fel! karena kamu sudah seperti ini, kamu hanya bisa menerima kenyataan! jadi ikuti saja kemauan kakak dulu deh, dijamin ga menyesal kamu nantinya!"

Felix hanya bisa menghela nafas sambil kelelahan membawa semua perlengkapan yang di beli oleh kakaknya..

Setelah itu, Felix masuk kekamarnya dan mulai berbaring sambil menatap langit langit atap kamarnya, "Kenapa malah jadi seperti ini..? rambut ku semakin hari malah semakin panjang.. dan juga badan ku juga mulai mengecil.. walau gak ada perubahan yang besar tapi tetap saja aku mulai kurus.. dan juga di bagian lain malah terasa semakin berat..??"

Dia hanya bisa menerima nasib dan sejak itu Felix sering bergumam sendiri.

mentalnya perlahan mulai rapuh dan emosinya terkadang tidak stabil.

Felix yang sudah merasa kelelahan mulai memenjamkan matanya, dan perlahan lahan dia mulai tertidur..

Namun, dia bermimpi, kalau dirinya akan menjadi incaran, dan dunia mulai hancur demi menangkap dirinya.

Sontak membuat Felix bangun dari tidur dengan ekspresi yang panik..

Setelah ia mulai sadar, kalau itu hanyalah mimpi.. Namun, dia merasakan mimpinya itu terasa nyata..

perlahan lahan, air mata nya mulai berjatuhan tanpa ia sadari, yang membuat dia sedih dan mulai menanggis..

Elena yang mendengar tangisan Felix di depan pintu kamar Felix, ikutan sedih dan hatinya sangat hancur ketika adik yang dia sayangi berubah. padahal itu bukan takdir yang diinginkan oleh adiknya..

Elena mengusap air matanya, dan mulai mengetok pintu kamar Felix

Tock, Tock, Tock

"Fel.. kakak buka pintu nya ya..", tidak ada balasan dari Felix, namun masih terdengar suara tangisannya. Elena membuka pintu kamar Felix, dan menutup sedikit pintu kamarnya..

dan mendekati Felix,"Fel.. yang sabar ya.. kakak harap, kamu bisa kembali seperti awal..", perasaan Felix sedikit hancur, namun dia masih mempunyai kakaknya yang peduli dengannya..

Felix memeluk kakaknya, "K-kalau aku pada akhirnya.. aku tidak bisa kembali seperti awal.. kakak masih menganggap aku keluarga kan..?", dengan perasaan yg hancur, kakaknya nya masih mencoba menenangkan adiknya,"Siapapun kamu.. kamu tetaplah adik ku dan kita adalah keluarga.."

Felix melepaskan tangisannya yg keras..

Kakaknya hanya bisa mendukungnya, dan menolongnya.. tidak ada satupun dunia yang akan mengenal Felix nantinya..

Rhett yang mendengar tangisan mereka di luar pintu kamar Felix juga merasakan perasaan yang hancur dari kata kata adiknya..

Dan pada akhirnya, malam itu menjadi malam yang panjang..

Felix mulai mencoba menstabilkan mentalnya, dan Elena mulai menyiapkan makan malam..

Setelah semua itu terjadi, Rhet mengetuk pintu kamar Felix, "Felix, ini aku."

Dia masuk ke kamar Felix

Rhett menatap wajah adiknya, matanya seperti mengatakan kalau kondisinya masih tidak stabil..

"Fel.. kamu tahu..? kalau dulu.. kakak sudah membuat janji untuk kita berdua kan..? kalau kakak akan terus melindungi mu, apapun yang terjadi dan seberat apapun rintangannya..", Felix hanya bisa memeluk lutut kakinya dengan raut wajah yang sedih

Rhett kehabisan kata..

disaat itu, dia mulai mencoba memberi tahu sesuatu kepada Felix, "Fel.. aku gatau bagaimana cara menghibur kamu sekarang.. tapi, kamu juga akan membutuhkan identitas baru kan.. Jadi, kakak harap kamu bisa memikirkan nama baru nantinya ya.. tapi gausah dipikirin juga kalau kamu gamau.."

Rhett mulai berdiri, disaat dia mulai melangkah maju selangkah, tangannya di pegang oleh tangan Felix yang lembut, "Maafkan aku kak.. mulai dari sekarang aku merepotkanmu.." dengan nada yang masih tersedu sedu..

Rhett membalas perkataannya, "Itu tugas ku sebagai kakak loh!" dengan senyuman.

Felix mulai merasa sedikit membaik..

Disaat itu juga, dia mulai memikirkan nama yang bagus untuknya..

Lima belas menit berlalu..

Elena memanggil Rhett dan Felix untuk bersiap makan malam bersama.

Setelah semua sudah berkumpul, Elena dan Rhett melihat wajah Felix sudah mulai baikan, namun kelihatannya dia ingin menyampaikan sesuatu kepada kedua kakaknya

"Kak Rhett.. seperti yang kamu bilang.. aku membutuhkan identitas yang baru kan..?" kedua kakaknya saling memandang satu sama lain, seolah berkata "kamu beneran bilang itu ke Felix, Rhett?", Rhett hanya bisa membalas, "kalau tidak, semua orang akan tau identitas aslinya kan?"

"jadi.. Nama apa yang akan kamu pilih nantinya, Fel?" tanya Rhett.

"aku.. sudah memikirkannya.. Sebuah bunga yang lavender yang sedikit mirip dengan warna mataku.. aku memilih nama.."

"Flora."

-BERSAMBUNG-

More Chapters