Kaivan menggeleng pelan. "Nanti saja. Aku ingin menyelesaikan ini dulu." Suaranya tenang, namun tegas.
Senyum Felicia melunak, tetapi ada sesuatu di matanya yang berubah menjadi serius. "Baiklah kalau begitu..."
Tanpa peringatan, ia meraih kerah baju Kaivan dan menariknya berdiri dari kursi seperti mengangkat karung beras.
"Hei! Lepaskan aku, Fel!" protes Kaivan sambil meronta ketika Felicia dengan mudah menyeretnya pergi. Tubuhnya yang ramping sama sekali tidak memberi perlawanan. Ia tampak seperti boneka kain di tangan gadis itu.
Para siswa menatap dengan bingung saat Felicia menyeret Kaivan keluar. Bisik bisik penasaran mulai menyebar di seluruh kelas, tetapi Felicia tidak peduli. Dengan langkah cepat dan pasti, ia membawanya langsung menuju taman sekolah, tempat biasa mereka di bawah pohon besar yang rindang. Dengan lembut ia mendudukkan Kaivan di bangku kayu tua sebelum ikut duduk di sampingnya.
"Fel, serius. Aku harus menyelesaikan perhitungan itu," gumam Kaivan setengah kesal.
Felicia tidak menjawab. Ia malah membuka kotak makan siangnya dan tanpa peringatan menyodorkan satu sendok makanan ke arah Kaivan.
"Ini waktunya makan siang, bukan waktunya berhitung. Sekarang buka mulut," katanya ceria.
Kaivan ragu sejenak, tak mampu menolak senyum lembut itu. Ia menghela napas pelan lalu membuka mulut, menerima suapan itu dengan rasa terima kasih yang setengah terpaksa.
"...Terima kasih," bisiknya.
Bahkan di luar kelas pun fokus Kaivan tidak goyah. Matanya tetap terpaku pada buku catatan yang dipenuhi angka angka padat dan diagram rumit. Alisnya berkerut rapat. Jarang sekali ia terlihat seserius ini.
Felicia duduk anggun di sampingnya. Rambut hitam panjangnya jatuh seperti sutra di bawah cahaya matahari yang menembus dedaunan. Sesekali ia mengintip catatan Kaivan, berhati hati agar tidak mengganggunya.
Beberapa saat kemudian Radit muncul sambil membawa roti kemasan. Ia langsung duduk di samping Felicia.
"Kenapa banyak sekali hitung hitungan itu, Kaivan? Kelihatannya seperti kamu sedang merencanakan perjalanan ke luar negeri," canda Radit sambil membuka bungkus rotinya.
Kaivan hendak menjawab, tetapi Felicia kembali menyelipkan satu suapan makanan ke mulutnya. Gerakan itu begitu alami hingga membuatnya terdiam.
Ia mengunyah, lalu sempat berkata, "Aku sedang membuat anggaran..." sebelum satu sendok lagi memotong kalimatnya.
"...untuk membangun se..." namun lagi lagi sebuah suapan menghentikannya.
Radit menghela napas panjang. "Felicia, bisa tidak kamu membiarkan dia menyelesaikan satu kalimat saja?"
Felicia menoleh kepadanya. Mata merahnya berkilat tajam.
"Kamu mencoba mengaturku?" tanyanya dingin.
Radit langsung membeku. Kedua tangannya terangkat tanda menyerah.
"Bercanda, bercanda! Aku tahu posisiku," katanya cepat.
Sementara itu, di balkon atas gedung sekolah, Tania berdiri diam dengan kedua tangan terlipat. Tatapannya tertuju pada taman di bawah. Wajahnya menyimpan kebingungan, rasa penasaran, dan sedikit kecemburuan yang bahkan ia sendiri enggan mengakuinya.
"Kenapa dia masih bisa setenang itu?" bisiknya pelan. "Setelah semua yang terjadi... setelah lolos dari polisi, dia masih punya orang orang di sisinya."
Langkah kaki ringan mendekat dari belakang. Rina, temannya, datang dengan senyum menggoda. Mengikuti arah pandang Tania, ia menyeringai kecil.
"Masih memperhatikan si kutu buku itu?" katanya sambil menyenggol bahu Tania.
Tanpa sadar Tania bergumam pelan, "Kalau saja aku tahu Kaivan akan berubah seperti ini... mungkin dulu aku sudah bilang iya."
Kata kata itu keluar sebelum ia sempat menahannya. Matanya langsung membesar, terkejut oleh kejujurannya sendiri.
Senyum Rina semakin lebar.
"Oh? Jadi sekarang kamu suka dia?"
Dari belakang mereka, Dandi terkekeh sambil mendekat dengan tangan terlipat.
"Tunggu. Kamu sekarang tertarik sama si kutu buku?"
Tania langsung tersulut.
"Tidak! Aku cuma... dia sekarang berbeda. Lagipula kita juga tidak bisa lagi memanfaatkan dia untuk makan gratis di kafe, kan?" katanya defensif, mencoba menutupi kegugupannya.
Kembali di taman, Kaivan menyandarkan tubuhnya pada bangku kayu tua. Felicia masih menyuapinya, kali ini lebih lembut, memberinya ruang untuk berpikir.
Radit meliriknya lalu bertanya, "Kenapa tidak memakai Tome Omnicent saja? Bukankah itu lebih cepat?"
Kaivan berhenti di tengah suapan dan menatapnya.
"Aku tidak ingin bergantung padanya," katanya pelan. "Rasanya... lebih benar jika aku melakukannya dengan tanganku sendiri. Kalau semuanya sudah siap, nanti akan kujelaskan."
Felicia tersenyum lembut. Ujung jarinya menyentuh lengan Kaivan dengan ringan.
"Kamu memang keras kepala," bisiknya. Lalu ia melirik Radit dengan senyum tipis. "Tapi memang begitulah dia."
Kaivan menoleh dan melihat Tania, Rina, serta Dandi berdiri di balkon atas. Ekspresinya tetap tenang. Tanpa sedikit pun rasa takut, ia memalingkan pandangannya.
Mereka sudah tidak penting lagi.
Bel sekolah berbunyi menandakan waktu istirahat telah berakhir. Para siswa mulai kembali ke kelas. Kaivan, Felicia, dan Radit pun segera menyusul.
Momen singkat di bawah bayangan pohon itu mengingatkan Kaivan pada sesuatu yang sederhana namun berharga. Ia tidak berjalan sendirian di jalan ini. Teman temannya, sesederhana apa pun mereka, tetap berdiri di sisinya.
Di sebuah akademi elit bergengsi, Isabel berjalan perlahan menyusuri koridor setelah bel pulang berbunyi. Rambut merah mudanya yang lembut berkilau diterpa cahaya matahari dari jendela panjang di sepanjang lorong. Setiap langkah anggunnya menarik banyak tatapan, namun pikirannya melayang jauh.
Matanya menatap kosong ke arah taman sekolah, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Di pintu gerbang utama, ia melihat sepasang siswa berbicara dengan penuh kehangatan. Sang lelaki merangkul bahu pacarnya dengan lembut.
"Tira, nanti kalau aku punya sedikit uang lebih, kita pergi liburan bareng," katanya sambil tersenyum.
Gadis itu membalas dengan mata berbinar.
"Baik, Frans. Kita menabung dulu ya. Tapi saat liburan sekolah nanti... hanya kita berdua, oke?"
Isabel berhenti melangkah. Senyum tipis muncul di bibirnya, meskipun matanya menyimpan perasaan lain.
Betapa menyenangkannya... memiliki seseorang yang begitu peduli, pikirnya.
Dalam diam, sebuah kenangan samar muncul di benaknya. Seorang pemuda yang pernah menolongnya. Gambarnya kabur, tetapi kehangatan saat itu masih terasa.
Bukankah dulu ada seorang anak laki laki yang menolongku? Dia sangat baik...
Apakah mungkin... dia menyukaiku?
Pipinya memerah tipis.
Apa mungkin... benar begitu?
Ia mencoba mengingat lebih jelas. Tatapannya menajam ketika ia mencari nama yang seolah melayang tepat di ujung ingatan.
Pan? Tipan? Pan sesuatu...
Ia menggerutu pelan karena kesal. Ia tahu kenangan itu bukan sekadar nostalgia. Ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang harus ia ketahui.
Tiba tiba suara Frans memotong pikirannya ketika ia menjawab panggilan telepon.
"Tentu saja. Aku akan membawa semua ponsel bekasnya hari Sabtu. Baik, Kaivan."
Isabel membeku.
Matanya melebar, jantungnya berdetak kencang. Lalu kilatan pengenalan muncul di wajahnya.
Itu dia... pria yang suka ponsel bekas!
Sekarang aku ingat!
Pikirannya dipenuhi kegembiraan yang tiba tiba mekar di dadanya.
Hari Sabtu... aku harus menemuinya. Dan memastikan... siapa sebenarnya namanya.
Ia tersenyum cerah, sama sekali tidak menyadari bahwa nama yang ia cari sebenarnya sudah diucapkan dengan jelas barusan.
Langit senja menyelimuti kota dengan warna jingga. Burung burung kembali ke sarang sementara langkah kaki bergema di jalan yang mulai sepi.
Kaivan berjalan perlahan. Tubuhnya santai namun terasa lelah setelah seharian di sekolah.
Di depan rumahnya, ia menghela napas pelan, menurunkan tasnya, lalu melepas sepatu dengan ujung kaki.
Pintu kayu itu berderit pelan saat dibuka, menyambutnya dengan aroma rumah yang akrab, bau kayu tua dan sisa masakan siang hari.
Kaivan membuka pintu dan berkata pelan, "Aku pulang," hampir seperti kebiasaan. Di tangannya tergantung kantong kecil berisi tahu goreng.
Biasanya ia akan mendengar langkah kaki ibunya dari dapur, diikuti sapaan hangat.
Namun malam ini rumah terasa sunyi.
Ia melangkah masuk melewati ruang tamu yang rapi dengan perabot sederhana. Di tengah ruangan, ibunya duduk diam di depan televisi.
Sebuah dokumenter tentang Norwegia sedang diputar. Pegunungan bersalju, lembah yang tenang, dan langit biru yang jernih memenuhi layar.
Pemandangannya begitu indah, seolah membawa jiwa ibunya pergi ke negeri yang jauh itu.
Kaivan mendekat dengan tenang, menyandarkan tubuh rampingnya di sisi sofa sambil memperhatikan wajah ibunya.
Wajah itu damai... namun penuh kerinduan.
Senyum tipis muncul di bibirnya, bergetar seakan menyimpan kata kata yang tak pernah diucapkan.
"Ibu ingin pergi ke sana suatu hari nanti?" akhirnya Kaivan bertanya lembut.
Ibunya sedikit terkejut lalu menoleh dengan senyum malu malu.
"Tentu saja ingin," bisiknya pelan. "Tapi... bagaimana mungkin? Biayanya terlalu mahal. Itu hanya mimpi, Kai."
