Kaivan duduk di sandaran lengan sofa, tersenyum lembut. "Heh, jangan bilang begitu, Mom. Terus saja berdoa. Mungkin bukan sekarang, tapi suatu hari nanti… kita akan pergi ke sana bersama."
Kata kata itu sederhana, namun membawa kehangatan. Ibunya menatapnya dengan mata yang berkilau, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Kaivan.
"Kamu selalu tahu cara membuat Ibu merasa tenang."
Kaivan tersenyum dan kembali menatap layar. Pegunungan Norwegia terlihat semakin megah diiringi alunan orkestra yang mengalun lembut. Ketenangan perlahan menyelimuti dirinya, meskipun ia tahu betapa jauhnya mimpi itu dari kenyataan.
"Suatu hari nanti, Mom," gumamnya pelan pada diri sendiri. "Kita akan mewujudkannya."
Setelah beberapa saat, ia berdiri dan meraih tasnya. "Aku di kamar, ya."
"Baik, sayang. Tapi jangan lupa makan malam," jawab ibunya lembut.
Tatapannya kembali pada layar, namun ada sesuatu yang berubah. Di matanya kini berpendar percikan keyakinan kecil. Bukan lagi mimpi kosong, melainkan harapan rapuh yang mulai mengambil bentuk.
Keesokan paginya, cahaya matahari mengalir masuk ke bengkel kecil milik Kaivan. Sinar itu menembus jendela, membentuk garis garis terang di papan tulis besar yang berdiri di tengah ruangan. Alat alat dan kabel tersusun rapi, mencerminkan kedisiplinan pemiliknya.
Kaivan berdiri tegak dengan spidol di tangan. Tatapannya tajam dan fokus, seperti seorang seniman yang sedang menggambar garis awal sebuah mahakarya.
"1. Budget Plan. A. Hardware," tulisnya dengan goresan mantap.
Baris demi baris ia mencatat harga dan komponen. Scanner, RAM, motherboard, hingga catatan terakhir yang berbunyi "TTS Software: Rp500.000 sampai Rp1.500.000".
Sebuah rencana mulai terbentuk. Sebuah perangkat yang dapat memindai dan mengubah isi Tome Omnicent menjadi suara. Ia membayangkan teknologi OCR dan TTS digabungkan, membuka rahasia buku itu tanpa perlu benar benar membukanya.
Pintu bengkel terbuka pelan.
Zinnia masuk dengan sweater kebesaran yang jatuh anggun di tubuhnya. Rambut ungunya bergoyang lembut setiap kali ia melangkah. Mata tenangnya langsung menangkap papan tulis yang dipenuhi catatan.
"Anggaran apa yang sedang kamu buat?" tanyanya tenang, namun penuh rasa ingin tahu.
Ia melangkah lebih dekat, menyingkirkan poni dari dahinya saat matanya menelusuri tulisan Kaivan.
Kaivan meletakkan spidolnya. Ekspresinya tenang, namun ada kilau semangat di matanya.
"Alat untuk membaca Tome Omnicent. Dengan OCR dan TTS, kita bisa mendengarkan isinya kapan saja dan di mana saja."
Zinnia mengangkat alis, lalu bersandar santai pada meja.
"Seperti pembaca otomatis? Kamu benar benar pikir itu mungkin?" tanyanya, nada suaranya skeptis meski ketertarikannya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Kaivan mengangguk, lalu menunjukkan diagram kasar di atas meja.
"Teknologinya sudah ada. Kita hanya butuh presisi agar semuanya bekerja. Ini mungkin kunci untuk memahami rahasia Tome itu."
Matanya bersinar penuh keyakinan. Di ruangan kecil itu, sebuah mimpi perlahan mulai terbentuk.
Zinnia mencondongkan tubuh, jarinya mengikuti garis tepi diagram.
"Lalu langkah berikutnya? Kamu tahu proyek sebesar ini butuh lebih dari sekadar keyakinan, kan?" katanya pelan, tajam namun tetap tenang.
Kaivan menyilangkan tangan dan menatapnya dengan senyum tipis.
"Langkah berikutnya adalah mengumpulkan sumber daya. Anggarannya sudah siap. Sekarang aku hanya butuh bantuan untuk mewujudkannya."
Pandangan Kaivan sempat melirik daftar perangkat keras di papan tulis.
Tiba tiba ponselnya berdering, memecah keheningan. Nama "Thivi" muncul di layar. Ia langsung mengangkatnya.
"Pesananmu sudah siap! Oh iya, sekalian jemput aku juga!" suara ceria Thivi terdengar dari seberang.
Senyum kecil muncul di wajah Kaivan.
"Baik. Frans akan menjemputmu," jawabnya singkat.
Setelah menutup telepon, ia menoleh pada Felicia yang duduk tenang di dekat sana. Rambut panjangnya jatuh lembut di punggung, dan matanya dipenuhi keteguhan yang tenang.
"Felicia, pergi bersama Radit dan Frans ke tempat Thivi. Ambil ponsel bekasnya dan bawa ke sini," kata Kaivan lembut namun tegas, mempercayakan tugas itu sepenuhnya padanya.
Felicia mengangguk ringan. "Baik."
Ia berdiri dengan anggun lalu berjalan menuju pintu.
Pada saat yang sama, pintu bengkel kembali terbuka.
Raphael dan Ethan masuk dengan langkah mantap. Di belakang mereka terdengar tawa samar Radit.
"Masuk saja, Kaivan ada di dalam," kata Radit santai sambil melambaikan tangan.
Raphael masuk lebih dulu. Kehadirannya terasa serius dan berwibawa. Ethan menyusul dengan kedua tangan di saku, ekspresi santainya seperti biasa.
Mereka menemukan Kaivan berdiri di depan papan tulis, merapikan catatan dan sketsa yang berserakan.
Kaivan menoleh dengan senyum cerah.
"Waktu yang pas," katanya penuh semangat sambil menutup tasnya yang kini sudah penuh alat dan kertas.
Raphael sedikit mengernyit.
"Kita mau ke mana?" tanyanya, suaranya dalam dan dipenuhi rasa ingin tahu.
Kaivan menatapnya dengan mata yang berkilau oleh keteguhan tenang.
"Urusan," katanya singkat.
Satu kata yang tajam, namun sarat tujuan.
Raphael dan Ethan saling bertukar pandang. Mereka tahu ini bukan sekadar rencana biasa.
Tanpa bertanya lagi, keduanya mengangguk dan mengikuti Kaivan. Ke mana pun ia pergi, selalu ada arah tak terduga yang menunggu.
Saat mereka melangkah keluar, matahari pagi menyambut. Dua motor terparkir di pinggir jalan, berdiri seperti perpanjangan dari kehendak mereka.
Kaivan yang pertama mengenakan helmnya. Gerakannya cepat dan presisi.
"Ayo," katanya tenang.
Raphael dan Ethan mengangguk lalu menaiki motor masing masing. Raphael berkendara dengan keyakinan yang stabil, sementara Ethan menyalakan rokok sebelum memutar gas perlahan.
Perjalanan mereka berlangsung dalam keheningan, hanya ditemani dengungan mesin. Kota perlahan terbangun, namun mereka tetap tenang saat melintasi gang sempit dan bangunan tua.
Angin pagi menyentuh wajah mereka, membawa rasa kebersamaan yang tak perlu diucapkan.
Sesekali Ethan bersenandung pelan, namun sebagian besar waktu ia tetap diam. Mata tajam Raphael mengamati setiap tikungan dan bayangan di sepanjang jalan.
Langit berubah kelabu saat mereka tiba di tujuan.
Sebuah bangunan tua berkarat berdiri di sana seperti peninggalan masa lalu. Sekitarnya sunyi, hanya sesekali orang lewat.
Udara berbau logam dan debu, dipenuhi kesunyian yang berat.
Beberapa waktu kemudian, Kaivan dan Raphael keluar dari bangunan itu sambil membawa karung besar berisi ponsel bekas.
Langkah mereka mantap. Bahu mereka tidak tampak terbebani.
Raphael melempar senyum kecil pada Kaivan.
"Sepertinya lain kali aku harus mencari harga yang lebih murah lagi," katanya bercanda ringan.
Namun matanya berkilau puas. Misi selesai. Satu langkah lagi mendekati tujuan mereka.
Kaivan menatapnya dengan pandangan tenang namun tajam.
"Tepat," jawabnya singkat. "Kamu memang ahli dalam hal ini. Aktingmu dan kemampuan beradaptasimu membuat semuanya jauh lebih mudah."
Raphael tertawa pelan dan mengangkat bahu seolah menepis pujian itu.
Namun langkah Kaivan tiba tiba terhenti.
Di seberang jalan berdiri Isabel.
Rambut merah mudanya bergoyang tertiup angin. Matanya tampak gelisah saat ia menatap sekeliling. Ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang.
Ethan bersandar pada dinding bata yang usang. Satu kakinya bertumpu di tepi trotoar, sebatang rokok menggantung di antara jarinya.
Asap tipis naik perlahan ke udara.
Namun matanya tetap tertuju pada Isabel.
Saat pandangannya bertemu dengan Kaivan, ketegangan tipis muncul di udara.
Isabel berdiri kaku.
Angin memainkan helai rambutnya, namun wajahnya tetap diam ketika Kaivan dan Raphael keluar dari bangunan.
Tatapan mereka bertemu.
Seolah dunia mendadak terdiam.
Kaivan menurunkan karung dari bahunya lalu merapikan posturnya saat berjalan mendekatinya.
Raphael mengikuti dari belakang, santai namun tetap waspada.
Dengan setiap langkah, beban di pikiran Kaivan terasa lebih berat daripada karung yang baru saja ia bawa.
Tempat ini bukan dunia Isabel.
Bukan tempat yang seharusnya ia datangi.
Kaivan tahu itu.
Dan pertanyaannya keluar tajam."Apa yang kamu lakukan di sini?"
Isabel tersentak sedikit. Ia melirik Ethan sebelum menarik napas kecil. "Dia menunggumu… sambil merokok," bisiknya ragu.
