Cherreads

Chapter 104 - Luka yang Membungkam Malam

Kaivan tersentak, refleks mencoba menghentikannya, tetapi Thivi lebih cepat, gerakannya penuh energi tanpa pikir panjang. "Thivi, jangan…!" protesnya, namun sudah terlambat. Dengan satu tarikan cepat, kemeja itu terlepas.

Tawa Thivi langsung menghilang. Matanya membesar, membeku dalam keterkejutan saat melihat punggung Kaivan. Di sana, terukir sebuah luka besar yang mengerikan, jejak dari masa lalu yang penuh penderitaan. Luka itu memang telah sembuh, tetapi kehadirannya masih berteriak tentang rasa sakit dan perjuangan untuk bertahan hidup.

Felicia, yang juga melihatnya, terdiam. Warna merah tajam di matanya melembut, berubah menjadi duka dan amarah yang tertahan. Malam yang tadinya penuh canda seketika terasa berat, bahkan udara seolah ikut menahan napas.

Thivi berdiri tanpa kata, keberaniannya yang tadi menghilang. "Kaivan… apa yang terjadi padamu?" tanyanya pelan, suaranya bergetar antara rasa bersalah dan iba.

Kaivan tidak menjawab. Wajahnya tetap dingin, meski ketidaknyamanan terlihat di matanya. Perlahan, ia menoleh ke arah kolam, menatap riak air yang menyebar tanpa berkata apa pun.

Lalu, sebuah suara berat yang dipenuhi penyesalan memecah keheningan.

"Maaf… seharusnya aku tidak berada di sini. Semua ini salahku…"

Semua orang menoleh. Raphael berdiri di tepi kolam, wajahnya tertunduk. Cahaya redup vila membingkai kesedihan di rautnya, ekspresi yang jarang mereka lihat.

"Akulah yang menusuk Kaivan di Purwakarta… waktu itu, aku masih… seorang teroris."

Keheningan menjadi semakin berat, menekan seperti beban. Wajah Felicia mengeras. Mata merahnya menyipit tajam, dan dalam sekejap, ia melesat keluar dari kolam, air terciprat ke segala arah.

Dalam hitungan detik, ia sudah berdiri di depan Raphael, tangannya mencengkeram leher pria itu dengan kuat. "Apa yang sudah kau lakukan pada Kaivan!?" teriaknya, suaranya menggema di halaman vila, penuh amarah yang selama ini tertahan.

Cengkeraman Felicia semakin kuat, menarik Raphael lebih dekat. Napasnya berat, dadanya naik turun, kemarahannya tak lagi bisa dibendung.

Namun Raphael tidak melawan. Tatapannya tetap tenang, menerima setiap luapan amarah itu. "Aku tahu aku pantas mendapatkannya," gumamnya pelan. "Aku tidak meminta maaf untuk dimaafkan. Aku hanya ingin kalian semua tahu."

Dari tepi kolam, suara lain akhirnya memecah ketegangan, lembut namun tegas, seperti bisikan yang membawa badai.

"Felicia, cukup." Suara Kaivan tenang, namun kuat. Tatapannya mengunci pada Felicia. "Cukup."

Felicia membeku. Mata merahnya bergetar, amarah masih menyala di dalamnya. "Tapi Kaivan, dia…"

"Aku tahu," potong Kaivan lembut namun pasti. "Tapi sudah cukup. Aku sudah memaafkannya."

Felicia menatap Kaivan, emosinya runtuh perlahan. Amarah berubah menjadi ragu, lalu ragu menjadi duka. Tangannya melemah, cengkeramannya mengendur. Raphael jatuh berlutut di tepi kolam, terengah-engah sambil memegangi dadanya.

Keheningan kembali turun. Hanya suara air yang beriak pelan dan napas Felicia yang tak stabil yang terdengar. Radit, Frans, Zinnia, Thivi, Ethan, dan Isabel, semuanya hanya bisa menyaksikan tanpa kata.

Kaivan menarik napas dalam, pandangannya menyapu wajah mereka satu per satu. Ia tahu betapa beratnya apa yang akan ia katakan.

"Ini benar," mulai Kaivan, suaranya jelas namun berat. "Di Purwakarta, aku dan Raphael bertarung. Dia menusukku… seperti yang kalian lihat."

Ia mengangkat tangan, memberi isyarat pada luka di punggungnya, luka lama yang masih menyisakan denyut samar, seperti bayangan rasa sakit yang belum sepenuhnya pergi. "Tapi saat dia jatuh, aku melihat sesuatu di matanya. Bukan kebencian… melainkan keputusasaan. Dan saat itu, aku memilih memberinya kesempatan."

Radit, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Tapi kenapa, Kaivan? Kenapa kamu membawanya ke sini? Apa ini perintah Tome Omnicent?"

Kaivan menatapnya, tenang, teguh, tak tergoyahkan. "Karena semua orang pernah melakukan kesalahan. Sama sepertiku, dia juga pantas mendapat kesempatan kedua. Aku percaya pada penebusan, Radit. Pada perubahan, jika diberi ruang untuk tumbuh."

Felicia, yang tadi membeku, akhirnya menemukan suaranya kembali. Namun kini bukan amarah yang terdengar, melainkan duka. Air mata mengalir di pipinya, tak peduli sekuat apa ia mencoba menahannya.

Ia melangkah mendekat dan menyandarkan kepalanya di punggung Kaivan, tepat di atas luka yang ditinggalkan Raphael. Suaranya bergetar, hampir tenggelam oleh angin malam. "Seharusnya aku ada di sana… aku merasa gagal melindungimu. Kalau saja waktu itu aku ikut, mungkin punggungmu tidak akan membawa luka ini."

Kaivan terdiam sejenak, lalu perlahan berbalik menghadapnya. Tangannya meraih tangan Felicia, jemarinya menyentuh rambutnya dengan lembut, seolah menenangkan badai di dalam dirinya.

"Felicia," ucapnya pelan namun tulus, "kamu sudah melakukan cukup banyak. Kamu menyelamatkan banyak orang bersama Radit dan Ethan. Itu sudah lebih dari cukup."

Felicia menggeleng, air matanya masih jatuh. "Tapi aku ingin berada di sisimu. Aku ingin melindungimu, ingat?"

Kaivan tersenyum, hangat dan tenang, senyum yang tidak membutuhkan pembelaan apa pun. "Aku tahu. Tapi kita tidak selalu bisa berada di sisi satu sama lain. Yang penting, sekarang kita ada di sini. Bersama. Aku sudah memaafkan Raphael… dan aku ingin kamu juga begitu. Ini bukan lagi tentang masa lalu, tapi tentang bagaimana kita bertahan, dan terus melangkah ke depan."

More Chapters