Cherreads

Chapter 103 - Malam Ketika Ia Akhirnya Menggapainya

Zinnia duduk anggun di kursi kayu dekat meja. "Kalau memang seenak itu, mungkin kita harus menjadikanmu koki resmi," katanya dengan nada bercanda.

Tawa pun menyusul. Malam itu, Vila Kidang Kencana dipenuhi kehangatan dan kebersamaan. Di atas meja tersaji steak berair, ikan berbumbu, jagung bakar yang harum, serta saus menggoda yang melengkapi hidangan.

Thivi duduk di samping Kaivan. Tanpa ragu, ia mengambil sepotong ikan dan menyuapkannya. "Kaivan, coba ini. Kamu pasti suka."

Kaivan mengangkat alis, sedikit terkejut, namun tak bisa menolak senyumnya. Ia menggigitnya, matanya langsung melebar. "Hmm… enak. Ikan buatanku, ya?"

Thivi tersenyum lebar, jelas puas. "Serius? Kalau begitu aku juga mau!"

Di seberang meja, Felicia memperhatikan mereka dalam diam. Ekspresinya tetap tenang, namun matanya berkata lain. Ia memotong steak dengan anggun, lalu menggigit perlahan, seolah menumpahkan kekesalannya tanpa kata.

Isabel menyadari ketegangan itu dan menghela napas pelan. Ethan dan Raphael tetap fokus pada makanan mereka, memilih untuk tidak terlibat.

Tak jauh dari sana, Frans mengunyah santai sambil melirik Kaivan yang dikelilingi gadis-gadis cantik. Dalam hati ia bergumam, "Hah… kapan ya ada yang menyuapiku seperti itu?"

Di pemandian air panas, Raphael sudah lebih dulu berendam. Uap air menyelimuti siluetnya saat ia bersandar, menikmati kehangatan dan ketenangan yang jarang ia rasakan. Tawa dari meja makan terdengar samar, berubah menjadi dengungan lembut, ia tenggelam dalam ketenangannya sendiri.

Lalu, suara pintu vila yang terbuka pelan menarik perhatian semua orang. Langkah kaki lembut terdengar, dan Zinnia muncul. Baju renang hitamnya dengan sentuhan ungu membingkai tubuhnya dengan anggun, dipadukan dengan rok tipis transparan. Meski sederhana, pesonanya tak bisa disangkal.

Ia menyingkirkan rambut panjangnya ke samping, tatapannya tenang dengan senyum tipis yang memancarkan keteduhan. "Kalian tidak ikut berendam?" tanyanya lembut, memecah keheningan dengan pesona alaminya.

Thivi, yang sejak tadi diam-diam memperhatikan, tiba-tiba bangkit. "Aku juga harus ganti!" serunya, lalu berlari masuk dengan energi yang meledak.

Felicia menghela napas kecil, namun tak mau kalah. Dengan tenang ia berdiri dan berjalan menuju vila, tatapannya mantap, membawa tekad diam untuk membuat Kaivan memperhatikannya.

Sementara itu, para lelaki memilih cara yang lebih sederhana. Satu per satu, mereka melepas baju tanpa banyak bicara. Radit meregangkan tangan, ototnya tampak di bawah cahaya redup, sementara Ethan menghembuskan napas panjang, merasakan angin malam menyentuh kulit mereka yang hangat.

Beberapa saat kemudian, suasana berubah saat pintu vila terbuka. Felicia keluar, langkahnya anggun namun malam ini terasa lebih lembut dari biasanya. Semua mata langsung tertuju padanya.

Dengan satu tarikan napas pelan, ia membiarkan handuk yang menyelimuti bahunya jatuh. Baju renang hitam yang ia kenakan memeluk tubuhnya dengan elegan, terbuka di sisi pinggulnya. Kulit pucatnya bersinar di bawah cahaya luar, pemandangan yang memikat sekaligus hening.

Tanpa berkata apa pun, ia membiarkan udara malam menyentuh kulitnya, lalu berjalan perlahan mendekati Kaivan yang masih menyelesaikan suapan terakhirnya.

Kaivan baru menyadari kehadirannya saat bayangannya jatuh di atas meja. Ia mendongak, dan mata mereka bertemu.

"Menurutmu… pakaian ini cocok untukku?" tanyanya lembut, suaranya tenang namun menyimpan getar halus.

Kaivan terdiam. Tatapannya terkunci pada Felicia, detak jantungnya terasa lebih keras dari biasanya. Bukan hanya kecantikannya malam ini, ada keberanian dalam sorot matanya, tenang namun bercahaya.

"C… cocok sekali untukmu, Felicia," bisiknya pelan.

Felicia tersenyum tipis. Kilau puas tampak di matanya. Ia meraih tangan Kaivan, jemarinya hangat dan mengejutkan karena begitu mantap.

"Ayo, kita ke kolam," katanya, tenang namun tegas.

Kaivan tidak berkata apa-apa, namun membiarkan dirinya ditarik. Mereka berjalan menuju kolam, kabut tipis menyambut langkah mereka.

Malam terasa tenang, hanya diisi suara air yang beriak lembut dan napas mereka yang pelan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

"Kalian ini jahat! Kenapa mulai tanpa aku!?" teriak Thivi dengan nada ceria saat ia keluar dari vila. Bikini cerahnya memantulkan energinya yang berani dan riang. Tatapannya mencari Kaivan, lalu berhenti.

Meski sudah berada di dalam kolam, Kaivan masih mengenakan kemeja basahnya yang menempel di tubuh. Thivi menyipitkan mata, lalu tersenyum nakal saat mendekat, rasa penasarannya terlihat jelas.

"Kaivan, kenapa kamu masih pakai itu?" tanyanya dengan nada manis yang menggoda.

Kaivan menoleh sedikit, terkejut dengan perhatiannya yang tiba-tiba. "Aku nyaman begini," jawabnya singkat, nadanya datar, jelas tidak ingin membahasnya.

Namun Thivi tidak puas. Dengan tawa ringan, ia melangkah lebih dekat dan meraih ujung kemeja Kaivan. "Ah, masa begitu saja. Kamu seperti anak kecil, harus dibantu buka baju," godanya sambil mulai menariknya ke atas.

More Chapters