Cherreads

Chapter 106 - Malam Saat Ia Akhirnya Merasa Dilihat

Matanya terpejam, dan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, mengalir pelan di pipinya. "Aku sudah berusaha sekuat mungkin... tapi apa kamu pernah benar-benar menyadarinya?"

Suara lirihnya retak di tengah sunyinya malam. Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang memeluk luka di hatinya. Thivi menggigit bibirnya, menahan isak. Semua usahanya, nada suaranya yang manis, gestur kecilnya yang menggoda, caranya selalu berdiri sedikit lebih dekat, tak satu pun benar-benar menarik perhatian Kaivan. Atau mungkin... dia memang tidak pernah peduli.

Lelah. Bukan hanya tubuhnya, tapi bagian hatinya yang terus berharap pada kekosongan. Ia ingin berhenti, tapi tidak tahu caranya.

Perlahan, matanya terasa berat. Kesedihan menyeretnya ke tepi tidur. Ia terlelap, gelisah, namun untuk sesaat terasa damai. Dalam mimpinya, Kaivan menatapnya dengan lembut, menggenggam tangannya, dan berbisik, "Aku melihatmu, Thivi."

Namun sebelum ia tenggelam lebih dalam dalam kehangatan itu, sesuatu bergerak di dalam dirinya. Sebuah tarikan halus, suara tanpa suara, memanggilnya kembali pada kesadaran. Kelopak matanya bergetar, terbuka setengah, menangkap cahaya pucat bulan yang menembus gelap. Seolah ada sesuatu di luar nalar yang memanggilnya.

Ia bangkit. Tubuhnya terasa ringan, langkahnya seperti melayang. Pepohonan berbisik memanggil namanya melalui angin. Ia berjalan pelan, membelah bayangan, menuju sesuatu yang belum ia pahami.

Angin malam menyentuh kulitnya. Di antara gemerisik daun, hanya pikirannya sendiri yang menjawab, bayangan Kaivan dan Felicia. Senyum mereka. Sentuhan mereka. Perhatian yang seharusnya menjadi miliknya.

Thivi mengepalkan tangannya. Kukunya menekan telapak yang lembap. Ia menahan badai di dalam dirinya, cemburu, sedih, kesepian.

"Kaivan... apa aku tidak cukup baik?"

Puncak bukit menyambutnya. Rumput berbisik pelan, bintang-bintang bersinar dingin di atas. Indah, namun kosong. Dunia seakan berpura-pura tidak melihat luka yang membelah dadanya.

Ia duduk, memeluk lututnya, menundukkan kepala. Napasnya yang berat memecah keheningan.

Seolah menjawab rasa sakitnya, angin malam mengangkat rambut pendeknya. Di tengah bisikan itu, sebuah suara muncul, dalam, familiar, menggema langsung ke hatinya.

"Kamu cocok denganku, Thivi. Maaf... aku tidak menyadari bahwa kamu mencintaiku sebesar itu."

Jantung Thivi seolah berhenti sesaat. Ia menoleh. Di bawah cahaya bulan, berdiri Kaivan. Wajahnya setenang biasa, namun matanya... menyimpan ketulusan.

"Kaivan...?" bisiknya.

Kaivan melangkah mendekat, perlahan namun pasti. Napas Thivi bergetar. Saat tangannya menyentuh tangannya, kehangatan menyebar ke seluruh tubuhnya, mengguncang ketenangan rapuh di dalam dirinya.

"Aku terlalu lama buta," ujar Kaivan pelan, penyesalan membebani setiap katanya. "Aku tidak pernah sadar betapa berartinya kamu untukku."

Thivi menatapnya, mata birunya berkilau. "Lalu... kenapa sekarang?"

Kaivan terdiam sejenak. Ibu jarinya mengusap air mata di pipinya.

"Karena aku bodoh. Terlalu takut membuka hati... untuk melihat siapa yang benar-benar berada di sampingku."

Thivi tidak berkata apa-apa. Dunia seakan berhenti. Kaivan menariknya ke dalam pelukan, hangat, nyata. Di dadanya, ia mendengar detak yang tenang dan kuat, berbeda dengan detaknya sendiri yang gemetar.

"Thivi...," bisiknya di dekat telinganya, suaranya penuh kehangatan. "Aku mencintaimu."

Kata-kata itu mengguncangnya hingga ke dalam. Matanya kembali memanas. Namun sebelum air mata itu jatuh, Kaivan kembali berbicara, pelan dan lembut.

"Tapi... aku butuh bantuanmu."

Thivi membeku. Ia sedikit menjauh, mencari arti di mata Kaivan. "Bantuan...?"

Suara Kaivan mengalir seperti angin lembut, menyentuh bagian rapuh di hatinya. Ia tetap diam, membiarkan kehangatan itu mencairkan beku di dalam dirinya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dilihat, benar-benar dicintai. Namun sebelum kebahagiaan rapuh itu berakar, Kaivan kembali berbicara, penuh harap, penuh permohonan.

"Thivi, kalau kamu benar-benar mencintaiku... aku ingin kamu memberikannya pada yang lain. Pada kita semua."

Dari balik jubahnya, Kaivan mengeluarkan sesuatu. Thivi mengedipkan mata di balik air matanya, tak mampu melihat dengan jelas. Sebelum ia sempat bertanya, Kaivan mendekat, dan mencium dirinya.

Lembut. Dalam. Sunyi.

Ciuman itu terasa seperti mantra. Tubuh Thivi bergetar, bukan karena dingin, melainkan kehangatan yang meresap ke dalam dirinya, menenangkan hatinya yang bergetar. Napasnya melambat. Dunia di sekitarnya memudar, tertelan kabut lembut. Ia tidak ingin melepaskannya, namun tenaganya menyerah. Ia terjatuh perlahan ke dalam pelukan Kaivan, tertidur dengan senyum damai di wajahnya.

More Chapters