Cherreads

Chapter 107 - Mimpi yang Berubah Menjadi Jerat

"Apa…?" Suaranya begitu samar, seperti daun yang jatuh perlahan. Ia ingin bangkit, namun dunia telah lebih dulu membawanya menjauh. Kaivan menatap wajahnya yang terlelap dan berbisik, "Aku mencintaimu, Thivi…"

Dari bayangan di antara pepohonan, seorang pria melangkah keluar, William, pemegang Omnidream. Ia mendekat tanpa suara, matanya tertuju pada Thivi yang terbaring tenang di atas rumput. Wajahnya tampak tenang, namun senyumnya menyimpan kepuasan yang dingin.

"Hati yang retak adalah pintu terbaik untuk mengendalikan mimpi," gumamnya pelan, bibirnya melengkung tipis.

Di sampingnya berdiri seorang wanita berkerudung hitam. Matanya tidak mengatakan apa-apa, namun seolah menanyakan segalanya. "Lalu?"

William membuka kantong kecil dari kulit, mengeluarkan sebuah botol mungil dan selembar surat terlipat. Ia menyerahkannya pada wanita itu. "Letakkan ini di sampingnya. Surat itu akan memandu sisanya. Kita kembali ke vila setelah tugasnya selesai."

Wanita itu mengangguk tanpa suara. Ia berlutut di samping Thivi, meletakkan surat dan botol kecil di dekat gadis yang tertidur itu. William menengadah ke arah bintang-bintang, senyum dingin perlahan merekah di wajahnya.

"Malam ini akan tak terlupakan bagi mereka," bisiknya, nada suaranya penuh kepuasan. Lalu ia dan wanita itu menghilang ke dalam bayangan hutan.

Malam semakin dalam, angin berubah tajam dan dingin. Di tengah keheningan, Thivi terjebak dalam ilusi yang indah, terasa terlalu nyata. Di dalamnya, ia merasakan cinta, kehangatan, dan penerimaan. Namun kegelapan perlahan merayap di balik mimpi itu.

Saat embun fajar masih menempel di rumput, mata Thivi bergetar terbuka. Napasnya perlahan, teratur, kesadarannya kembali. Aroma tanah basah memenuhi udara. Pandangannya mulai jelas, memperlihatkan bentuk-bentuk di sekitarnya.

Jantungnya berdegup kencang saat ia melihat sebuah surat kecil dan botol di sampingnya. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia meraih surat itu. Tulisan di dalamnya rapi:

"Thivi, nanti campurkan ini ke dalam minuman dan berikan pada semua orang, termasuk aku. Aku ingin tidur dengan tenang. Jangan beri tahu siapa pun. Kamu juga harus meminumnya dan tidur di sampingku."

Thivi menatap surat itu cukup lama. Kata-katanya menembus jauh ke dalam dirinya, menyentuh sesuatu yang rapuh. Senyum tipis muncul di bibirnya, hangat dan tenang. Ia mengambil botol itu, mengamati isinya sejenak, lalu menyimpannya di sakunya.

Langkahnya mantap saat berjalan menuju vila. Pepohonan berdiri tinggi di kedua sisi, bayangannya bergoyang di bawah cahaya bulan. Setiap langkah kini terasa pasti. Tanpa ragu. Hanya satu tujuan, menjalankan permintaannya.

Ia mendorong pintu perlahan. Engselnya berderit lembut, membiarkan kehangatan vila menyambut dinginnya malam. Di dalam, api perapian berderak pelan, cahayanya melukis pantulan keemasan di dinding kayu. Gumaman suara lembut terdengar, teman-temannya masih terjaga. Tatapannya jatuh pada Zinnia yang duduk santai di sofa.

"Zinnia," ujar Thivi pelan. "Aku mau membuat teh untuk semua, tidak apa-apa?"

Zinnia menoleh, menatapnya sejenak sebelum mengangguk dengan senyum kecil. "Tehnya ada di kotak dekat kompor. Airnya sudah siap."

Thivi mengangguk dan berjalan ke dapur, langkahnya tenang namun terarah. Ia membuka kotak teh, mengambil beberapa sachet, lalu menatanya rapi di meja. Uap air dari ketel naik perlahan, membawa aroma yang menenangkan.

Dari sakunya, ia mengeluarkan botol kecil itu. Tangannya sedikit gemetar saat membuka tutupnya, namun tidak ada keraguan. Serbuk halus jatuh tanpa suara ke dalam cangkir, menghilang tanpa jejak. Ia mengaduknya pelan, menyusun cangkir-cangkir di atas nampan, lalu kembali ke ruang tamu.

"Teh hangat untuk semua," katanya dengan senyum lembut.

Frans mengambil yang pertama, disusul Radit, Felicia, Ethan, dan Zinnia. Tatapan Thivi menyapu wajah mereka satu per satu, mengamati saat mereka menyeruput teh yang ia buat. Perlahan, ia mengembuskan napas.

"Terima kasih, Thivi," ujar Felicia, meniup cangkirnya sebelum menyeruput pelan. "Pas sekali untuk malam seperti ini."

Mereka menikmati teh hangat dalam diam, hingga rasa kantuk mulai menguasai satu per satu. Frans yang pertama tertidur, bersandar di sofa dengan napas teratur. Radit menguap lebar, berusaha bertahan, namun kepalanya segera terkulai lemah. Felicia mencoba berbicara, namun suaranya memudar bersama tarikan tidur yang tak terelakkan.

Kaivan masih berusaha bertahan, meski kelopak matanya terasa berat. Untuk sesaat, ia menatap Thivi, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun sebelum bibirnya terbuka, matanya perlahan terpejam, napasnya menjadi lembut.

Thivi menatap mereka dan tersenyum tipis. Ia mengangkat cangkirnya dan meneguk sisa teh. Rasa kantuk mulai menyelimuti tubuhnya, dan ia berbaring di samping Kaivan, menyandarkan kepala di dada hangatnya.

Di bawah cahaya redup dan tubuh-tubuh yang terlelap, Thivi tersenyum. Malam terasa sempurna, seolah semua luka dan kekhawatiran telah tersapu oleh angin mimpi. Namun di balik ketenangan itu, sesuatu yang lebih gelap menunggu.

Malam menyelimuti vila dengan dingin dan sunyi. Cahaya bulan menari di lantai kayu, menyembunyikan bayangan yang merayap perlahan. Di antara bisikan angin, langkah kaki samar mendekat, membawa ancaman dari kegelapan.

Dari bayangan, William muncul. Tinggi, tenang, dengan mata tajam. Pemegang Omnidream berjalan tanpa suara, diikuti beberapa sosok berpakaian hitam yang menyatu dengan malam. Mereka berhenti di ambang ruang tamu, dan senyum licik muncul di wajah William saat melihat pemandangan di depannya.

Tubuh-tubuh tergeletak dalam damai yang menipu. Kaivan, Radit, Felicia, Ethan, Zinnia, Frans, dan Thivi, semuanya tak sadarkan diri, tanpa curiga. Sebagian di sofa, sebagian di lantai. Tome of Omnicent tergeletak di meja kecil, tak jauh dari tangan Kaivan.

William mengeluarkan sebuah foto dari sakunya, membandingkan wajah-wajah di dalam gambar dengan kenyataan di hadapannya. Mereka adalah orang-orang yang telah menggagalkan rencananya di Purwakarta. Ia melipat foto itu kembali, senyumnya semakin lebar.

"Mereka sudah tertidur," bisiknya. "Ikat mereka satu per satu. Pisahkan Kaivan dari Tome of Omnicent. Kita mulai sekarang."

More Chapters