Tanpa suara, para bawahannya bergerak cepat. Tali-tali kuat melilit pergelangan tangan dan kaki, diikat rapat dengan ketelitian yang nyaris tak terdengar. Setiap simpul mengunci nasib mereka yang terlelap, tak memberi kesempatan sedikit pun untuk melawan.
Saat mereka sampai pada Felicia, William menoleh pada wanita berkerudung di belakangnya. Rapi, eksekutor paling presisinya, menatap tanpa ekspresi, menunggu perintah.
"Rapi," ujar William pelan, mengangguk ke arah Felicia. "Gunakan rantai untuknya. Dia bukan manusia biasa. Dia salah satu dari kita."
Tanpa sepatah kata, Rapi mengeluarkan rantai besi. Suara logam berdering lirih di tengah sunyi saat ia mengikat Felicia dengan cepat. Setiap lilitan mengunci kuat, mustahil dilepaskan. Bahkan dalam tidurnya, Felicia tampak terbenam di bawah tekanan yang tak terlihat.
Setelah selesai, Rapi menoleh pada William, matanya seakan bertanya. "Bagaimana dengan Tome of Omnicent?"
William tersenyum, kilatan licik tersembunyi di balik ketenangannya. "Biarkan saja. Hanya Kaivan yang bisa membukanya. Jika kita membawanya, kita hanya akan mengundang bencana."
Rapi mengangguk singkat. Ia tahu William bukan orang yang gegabah.
Semuanya telah siap. William kembali mengangguk. "Bawa mereka. Aku akan menangani mereka sendiri."
Di dalam gelap, tubuh-tubuh itu mulai terangkat perlahan. Seperti arwah yang diangkut oleh keheningan, mereka dibawa pergi. Kaivan, yang diikat paling kuat, dipisahkan lebih dulu. Satu per satu, mereka dimasukkan ke dalam kendaraan hitam yang menunggu diam di luar.
Udara dingin menyelimuti iring-iringan itu saat mereka bergerak menjauh, meninggalkan vila dalam kekosongan. Hanya angin malam yang tersisa, membawa bisikan tragedi yang baru saja dimulai.
Malam semakin dalam saat Isabel dan Raphael berjalan menyusuri jalan setapak menuju vila. Angin lembut menyapu rambut merah muda Isabel, membingkai wajahnya seperti mimpi yang bergerak. Cahaya bulan menari di tanah, menciptakan bayangan panjang yang mengikuti langkah mereka.
Setelah perjalanan sunyi yang panjang, mereka akhirnya tiba. Malam itu, keduanya tampak lebih tenang, meski beban di hati belum sepenuhnya terangkat. Isabel memandang Raphael dengan lembut, ia tahu ada luka di dalam dirinya yang belum sembuh.
Raphael berhenti di bawah lampu taman yang redup. Tatapannya pada Isabel samar, seolah mencari jawaban yang bahkan ia sendiri tak yakin ada.
"Raphael," bisik Isabel pelan namun mantap. "Kamu bukan orang asing di sini. Semua orang sudah tahu isi hatimu sekarang, kami semua menerima perubahanmu."
Raphael menunduk. Kata-kata itu meresap dalam dirinya. "Kau tahu, Isabel," gumamnya dengan suara berat, "aku masih merasa... tidak pantas."
Ia bisa melihat kelelahan di matanya, bukan kelelahan tubuh, melainkan jiwa yang pernah tersesat.
"Aku telah menyakiti banyak orang. Kaivan... yang lain. Aku bahkan membuatnya menderita. Apa aku masih pantas berdiri di sini?"
Isabel melangkah mendekat dan meletakkan tangannya dengan lembut di bahunya. "Kalau Kaivan bisa memaafkanmu, kenapa kamu tidak bisa memaafkan dirimu sendiri?"
Ekspresi Raphael melunak, kehangatan kembali berpendar di matanya. Namun langkah mereka terhenti saat vila mulai terlihat. Tatapannya menajam, tubuhnya menegang.
Pintu depan sedikit terbuka. Keheningan menggantung berat di udara. Mereka saling bertukar pandang waspada sebelum melangkah maju.
"Ada yang tidak beres..." gumam Raphael. Ia maju dengan hati-hati dan mendorong pintu.
Apa yang mereka lihat di dalam membuat kulit mereka merinding. Ruang tamu berantakan, bantal berserakan, kursi terbalik, gelas-gelas setengah terisi air.
Naluri Raphael langsung bekerja. "Kaivan? Zinnia? Felicia?" panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Kepanikan muncul di mata Isabel saat ia berlari membuka pintu-pintu lain, namun setiap ruangan kosong. Aroma kehidupan yang biasa ada telah menghilang, digantikan oleh dinginnya kehampaan.
"Raphael..." suaranya bergetar saat kembali. "Apa mereka... meninggalkan kita?"
Kata-kata itu menggema, membuat keheningan terasa semakin berat.
Rahang Raphael mengeras. Ia melangkah maju dan melihat sesuatu di atas meja, sebuah buku bersampul kayu. Ia langsung mengenalinya.
Tome Omnicent.
Ia menyentuh permukaannya dengan hati-hati. Suara Isabel bergetar. "Kaivan tidak mungkin meninggalkannya begitu saja..."
