Cherreads

Chapter 139 - Saat Yang Mengetahui Mulai Melupakan

Keheningan kembali turun, hanya diiringi uap hangat yang perlahan naik, menandai waktu yang terus berjalan.

Kata-kata terakhir dari Omnicent menggantung di udara, mengunci ruangan dalam diam yang menyesakkan. Seolah ada beban tak kasat mata yang jatuh menekan mereka semua. Tome Omnicent, wadah pengetahuan mutlak, tiba-tiba kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar informasi: ingatan tentang asal-usulnya sendiri.

"Tujuan akhirnya adalah membantu orang-orang di sekitar Kaivan untuk berkembang, dan juga untuk... aku tidak bisa mengingatnya..." suara Tome itu bergetar. "Aku, Omnicent, yang mengetahui segalanya... kenapa aku tidak bisa mengingat ini?"

Kaivan menegang. Rasa dingin merayap di tulang punggungnya. Matanya menyipit ke arah Tome itu, mencari jawaban atas perubahan mendadak ini. Namun tidak ada yang menjawab.

Tome itu bergetar, seolah diliputi ketakutan. Dalam wujudnya saat ini, sebuah buku kuno yang usang dengan ukiran samar bercahaya, halaman-halamannya berpendar redup, seakan sesuatu yang penting telah direnggut darinya.

"Segelnya...?" bisiknya pelan. "Kristalku...? Di mana kristalku...? Kenapa aku tidak bisa mengingat?!"

Kepanikan memenuhi suaranya, mengguncang udara di sekitar mereka. Seolah dunia yang dulu dipahami Omnicent sedang runtuh tepat di depan mata. Sesosok yang dulu penuh kebijaksanaan kini tampak rapuh, tersesat dalam kekosongan yang tak mampu ia pahami.

Isabel, yang sejak tadi tenggelam dalam pikirannya, akhirnya bergerak. Perlahan, ia merangkak mendekat, tatapannya terpaku pada Tome yang gemetar. Gerakannya lembut dan hati-hati, seperti mendekati anak kecil yang ketakutan.

Tanpa ragu, ia meraih dan memeluk buku itu. Jemarinya melingkar di atas sampul kerasnya, menariknya erat ke dada. Tubuh rampingnya bersandar pada permukaan dingin itu. "Sudah... tidak apa-apa," bisiknya pelan. "Jangan dipaksakan."

Gestur itu terasa alami, seolah ia sedang melindungi sesuatu yang jauh lebih rapuh dari sekadar benda. Dalam sunyi malam, kehangatan manusia bertemu dengan misteri yang tak terjangkau.

Kaivan melangkah mendekat, ekspresinya tenang namun tatapannya tajam. "Yang kita tahu, tujuan kita adalah berkembang. Sisanya, kita cari bersama." Nada suaranya lembut, tapi pasti. "Kau bilang kau butuh kristalmu, kan? Kita akan menemukannya."

Masih memeluk Tome itu, Isabel berkedip. "Eh...? Kenapa..." alisnya sedikit berkerut. Sekilas, sesuatu yang tak terlihat seperti menyentuhnya, namun tak ada yang menyadarinya.

Tome itu mulai tenang, meski kebingungan masih menggantung di udara. Lalu terdengar suara kecil, selembut helaan penyesalan.

"Maafkan aku... aku tidak bisa mengingat asal-usulku... aku ingin beristirahat... Tolong, jangan bertarung..."

Suaranya memudar, kehilangan kekuatan. "Kaivan masih bisa menggunakanku seperti biasa..." gumamnya.

Cahaya samar di dalam halamannya perlahan meredup. Kesadarannya padam, seperti nyala kecil yang ditelan angin. Yang tersisa hanyalah buku tua itu, sunyi dan nyaris tanpa kehidupan.

Isabel melonggarkan pelukannya, menatapnya dari dekat. Ekspresinya sulit dibaca, tenang namun jauh, seolah sesuatu telah berakar di dalam dirinya.

Kaivan menatap rekan-rekannya, wajah mereka membeku dalam kebingungan. Pandangannya kembali pada halaman-halaman usang itu.

Semua ini belum selesai. Misteri ini masih jauh dari akhir. Dan tidak ada jalan untuk kembali.

Di tepi pemandian air panas, di bawah langit malam yang sunyi, Kaivan bersandar pada bibir batu. Uap hangat melingkupinya, meredam dingin udara dan membungkus malam dalam ketenangan yang aneh. Jemarinya menyentuh sampul Tome Omnicent saat ia menatap riak air.

"Kita hanya perlu mengumpulkan sepuluh orang dulu, kan?" gumamnya pelan, seperti mengingatkan diri sendiri. "Lalu menjalani hidup seperti biasa."

Ia menutup buku itu perlahan dan meletakkannya di samping kolam. Napas panjangnya bergetar. "Itu saja dari Tome Omnicent." Kata-katanya ringan, namun terasa berat.

Raphael, yang duduk dengan tangan bertumpu di lutut, menatap Kaivan. "Jadi cuma itu?" gumamnya, ada kekecewaan tipis dalam nadanya. "Berarti Tome lain memang ada, kan?"

Keheningan mengikuti. Pikiran itu menggantung di udara.

Ethan, yang berdiri di dekat tepi kolam, berbicara tegas. "Kita baru mengalahkan satu, Omnidream."

Isabel duduk bersila, suaranya lembut. "Tidak apa-apa. Untuk sekarang... kita jalani saja dulu." Matanya melembut, meski keraguan samar masih tersisa. "Pengetahuan itu belum akan membantu kita sekarang, kan?"

Senyum kecil muncul di bibirnya, meski ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.

Zinnia bangkit dari air, cahaya bulan berkilau di kulitnya. Ia menyibakkan rambut ungu gelapnya dengan jari-jarinya. "Kalau begitu, aku akan menyiapkan makanan, ya?" suaranya ringan, menenangkan di antara gemericik air.

Kaivan, masih setengah terendam dengan kepala bersandar di tepi kolam, melirik malas ke arahnya. Matanya setengah terpejam, napasnya berat, enggan meninggalkan kehangatan. "Kita makan di sini saja. Aku malas keluar," gumamnya.

Zinnia mengangkat alis, senyum kecil terbentuk. Ia sudah tahu betapa Kaivan menyukai kenyamanan. Dengan langkah anggun, ia berjalan ke meja dan mengambil beberapa piring ikan panggang. Aroma bumbu memenuhi udara, membuat malam terasa sedikit lebih hidup. Dengan keseimbangan yang terlatih, ia kembali ke tepi kolam.

Namun entah karena terlalu terburu-buru atau terlalu percaya diri, Zinnia terpeleset, jatuh tepat di atas kepala Kaivan, mendarat di wajahnya dengan posisi yang sangat tidak elegan.

"Eh, ah! M-maaf!" serunya panik, terlihat sangat polos meski posisinya benar-benar kacau.

More Chapters