Waktu seakan berhenti.
Felicia dan Thivi berteriak bersamaan.
"Apa yang kamu lakukan, Zinnia?! Kaivan bisa kehabisan napas!" teriak Felicia.
Thivi menutup mulutnya, matanya melebar. "Kaivan! Kamu tidak apa-apa?!"
Kaivan meronta, berusaha mendorong Zinnia menjauh, tapi posisinya membuat semuanya sulit. Napasnya tersendat, wajahnya memerah, entah karena marah, malu, atau kekurangan udara, sulit ditebak. Zinnia buru-buru menjauh, mengibaskan air dari tubuhnya sambil menunduk. "Aku benar-benar tidak sengaja," gumamnya cepat.
Kaivan menatapnya dengan wajah merah dan mimisan tipis. "Kamu... serius..." ucapannya terhenti, berubah menjadi helaan napas tak percaya.
Sementara itu, di sudut kolam, Frans yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya tiba-tiba berdiri.
"Sial! Aku lupa chat pacarku!" serunya, lalu berlari dan hampir tersandung batu di tepi kolam.
Radit langsung tertawa melihat Frans yang sempoyongan.
"Kaivan, kamu mimisan," ejek Radit sambil tertawa.
Raphael, yang duduk diam di sudut pemandian air panas, menghela napas panjang. Bahkan tanpa jawaban dari Tome Omnicent, momen seperti ini, kekacauan hangat dan tawa tanpa beban, mengingatkannya bahwa perjalanan mereka bukan hanya tentang mencari kebenaran.
Ia bersandar ke dinding batu, matanya mengarah ke langit malam yang dipenuhi bintang. Senyum tipis melembutkan wajahnya.
"Aku penasaran kapan kalian semua bisa bersikap serius," gumamnya, antara kesal dan hangat.
Di bawah langit penuh bintang, teras pemandian perlahan hidup kembali dengan tawa dan aroma ikan panggang. Kehangatan air memeluk tubuh mereka, menjadi tempat berlindung sesaat dari dunia berbahaya di luar sana. Dalam kenyamanan itu, mereka menemukan tempat kecil untuk bernaung di tengah ketidakpastian.
Beberapa jam kemudian, saat semua orang telah tertidur, Kaivan duduk sendirian di bangku panjang teras vila. Angin malam menyusup lewat celah jaketnya, tapi ia tidak peduli. Di pangkuannya, Tome Omnicent terbuka, halamannya berpendar samar di bawah cahaya bintang, diam, tak lagi berbicara. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang tertinggal.
Ia menarik napas dalam dan menatap halaman-halaman yang kini terasa jauh. Matanya yang lelah memantulkan kegelisahan dan kebingungan kosong. Di tengah sunyi, langkah kaki pelan mendekat, ragu namun tulus.
"Hei... Kaivan?"
Ia menoleh. Ia mengenali suara itu, Zinnia. Rambut ungunya diikat, wajahnya diterangi lembut oleh cahaya bulan. Ia berdiri di ambang pintu, ekspresinya ragu tapi hangat.
"Kenapa belum tidur?" tanyanya pelan.
Kaivan menghembuskan asap tipis. "Tadi kebanyakan tidur. Tidak ngantuk."
Zinnia duduk di sampingnya, menghela napas pelan. "Kai... soal kejadian di pemandian tadi... maaf ya. Aku benar-benar tidak sengaja."
Tangannya menggenggam di pangkuan, tak berani menatapnya. Kaivan terdiam sejenak sebelum menjawab datar, "Tidak perlu minta maaf." Jemarinya menyentuh pipinya sendiri, seolah mengingat kejadian itu. Suaranya merendah, hampir berbisik. "Harusnya kamu bilang dulu... tapi, tidak seburuk itu juga."
Zinnia membeku, matanya melebar. "Hah?" napasnya tertahan.
Kaivan ikut memerah, cepat memperbaiki ucapannya. "Maksudku... kalau kamu bilang dulu, aku tidak akan sekaget itu."
Zinnia menunduk, pipinya merona tipis. Entah kenapa, udara malam yang dingin terasa hangat. Dalam diam, ia menatap langit, menyembunyikan senyum kecil. Malam ini terasa berbeda.
Ia bangkit perlahan. "Baiklah... aku masuk duluan. Udara makin dingin."
Ia berdiri, langkahnya anggun, tubuh rampingnya bergerak ringan. Sebelum pergi, ia melirik Kaivan yang masih menunduk, tenggelam dalam pikirannya. Ekspresinya sulit ditebak, tapi cukup untuk membuat detak jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Pintu penginapan tertutup pelan di belakangnya. Dalam keheningan setelah itu, suara lain terdengar.
"Kaivan, kamu masih bangun?"
Itu Isabel, memanggil dari dalam, suaranya lembut, membawa nada perhatian yang terasa seperti seorang istri kepada suaminya.
Kaivan menghela napas panjang. Ia mematikan rokoknya di asbak yang penuh, lalu menutup Tome Omnicent di pangkuannya. Ia menatapnya sejenak sebelum akhirnya bangkit dan masuk ke dalam.
Kamar para gadis diselimuti keheningan, rapuh dan tipis. Hanya cahaya bulan yang menyelinap dari celah tirai, melukis pola samar di lantai kayu. Meski terlihat semua telah tertidur, bisikan pelan masih tersisa di balik selimut hangat.
