Kaivan mengangguk pelan, memilih fokus pada piringnya daripada dua gadis di sampingnya.
Untuk beberapa saat, hanya suara sendok dan garpu yang beradu pelan mengisi ruangan. Lalu Kira memecah keheningan dengan suaranya yang cerah.
"Felicia, kamu punya pacar?"
Felicia mengangkat pandangannya sebentar, lalu menjawab datar. "Sudah tidak, Teh. Sekarang aku sendiri."
"Sayang sekali. Kamu cantik, dan bisa masak juga," ujar Kira sambil menghela napas.
Felicia tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Aku ingin fokus ke diri sendiri dulu. Lagipula… aku nyaman dengan keadaan sekarang," gumamnya, melirik lembut ke arah Kaivan.
Thivi menyadarinya. Perasaan tidak nyaman di dalam dadanya langsung mengencang. Ia segera menyela dengan nada ceria.
"Bu, masakan aku kemarin enak, kan?"
Ibu Kaivan tersenyum hangat. "Enak sekali. Kamu hebat untuk seusiamu."
Mata Thivi berbinar. Ia langsung memanfaatkan momen itu.
"Berarti aku cocok jadi menantu, ya, Bu?"
Meja makan seketika membeku.
Felicia yang sedang makan tiba-tiba tersedak. Wajahnya langsung memerah. Ia menutup mulutnya, menahan batuk, menatap Thivi dengan mata lebar yang campur aduk.
Ibu Kaivan tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang mulai menegang.
"Haha, jangan buru-buru. Kalian masih pelajar. Kecuali… kalian berdua memang pacaran?" tanyanya santai.
Sebelum Thivi sempat menjawab, Felicia memotong, suaranya masih serak.
"Tidak, Bu. Mereka tidak pacaran."
Thivi langsung menoleh tajam. "Kenapa kamu yang jawab?!"
Suaranya meninggi, tak mampu menyembunyikan kesal dan cemburu.
Suasana meja kembali tegang. Raphael tersenyum tipis, menikmati drama kecil itu. Ethan yang duduk di samping Kira mengangkat ponselnya.
"Teh, lihat deh. Ada yang lucu."
Kira mendekat. Ekspresinya langsung berubah saat melihat layar. Matanya membesar, lalu menatap tajam ke arah Kaivan.
"Kaivan. Ini foto apa?" suaranya meninggi.
Suasana makin menegang. Dengan langkah cepat, Kira merebut ponsel Ethan dan menghampiri ibu Kaivan.
"Bu, lihat ini," katanya sambil menyerahkan ponsel.
Di layar terlihat foto itu, Kaivan, Felicia, dan Thivi tertidur bersama di satu tempat tidur.
Ibu Kaivan menatap layar dengan tenang, lalu mengalihkan pandangan pada putranya. Suaranya lembut, tapi tegas.
"Kaivan, ikut ibu sebentar ya."
Ruangan langsung sunyi.
Felicia dan Thivi yang tadi masih saling menyenggol kini terdiam. Mereka tahu, jika ibunya bicara seperti itu, berarti ini serius.
"Iya, Bu," jawab Kaivan pelan. Suaranya datar, tapi jantungnya berdebar keras.
Beberapa menit kemudian, ia mengikuti ibunya ke ruang tamu. Udara terasa berat. Hanya suara jam dinding yang terdengar, seolah menegaskan keseriusan suasana.
Seorang wanita Dewasa duduk bersandar di kursi krem. Wajahnya tenang, tapi tegas. Jarinya mengetuk pelan sandaran kursi, matanya tertuju pada Kaivan yang berdiri kaku di depannya.
"Kamu benar-benar tidak melakukan apa-apa pada mereka?" tanyanya langsung, tanpa berputar-putar.
