"Kau yang diam!" Felicia dan Thivi membalas bersamaan, nada kesal mereka bercampur gurauan.
Raphael tak bisa menahan diri lagi. Tawa pecah dari bibirnya, menggema di balkon. "Hahaha! Biarkan saja mereka. Jangan ikut campur."
Tawa mereka membesar, menghapus sisa ketegangan yang sempat muncul. Saat suara mereda, malam kembali memeluk mereka. Angin dingin mulai membawa rasa kantuk, dan satu per satu mereka masuk ke dalam rumah, mencari hangatnya kamar.
Namun malam belum benar-benar usai.
Di lorong redup yang hanya ditemani suara jam berdetak, Thivi tak mampu mengusir bayangan momen di gudang kayu saat perjalanan ke vila. Rasa penasaran menariknya perlahan.
Ia melangkah pelan menuju kamar Kaivan. Berhenti di depan pintu, ia berbisik, "Kaivan… mau lanjut yang di gudang waktu itu? Aku masih penasaran." Suaranya lembut, sedikit menggoda, namun tertahan.
Kaivan terdiam, lalu tersenyum kecil, ragu. Kenangan itu sempat terlintas, namun ia menggeleng pelan. "Sekarang belum, Thivi. Nanti kalau semuanya sudah selesai."
Kekecewaan sempat terlukis di wajahnya, tapi Thivi tak memaksa. Ia kembali ke kamarnya, hatinya masih gelisah. Rasa penasaran itu belum hilang, dan mungkin memang tak akan hilang.
Di luar, langit malam tetap gelap, dihiasi bintang samar di balik awan tipis. Rumah sudah sunyi, hampir semua terlelap. Kecuali Thivi.
Pikirannya terus kembali ke gudang kayu itu. Momen yang belum selesai, seolah menggantung. Dan malam ini, ia ingin menutup jarak itu.
Dengan langkah pelan, Thivi kembali keluar ke lorong. Lantai kayu berderit halus. Senyum tipis muncul di bibirnya. "Kalau cuma kita berdua… pasti seru," gumamnya pelan, jantungnya berdetak tak teratur.
Namun saat ia mendekati pintu Kaivan, ia berhenti.
Seseorang sudah berdiri di sana.
Felicia.
Tangan bersilang, postur tegap, mata tajam. Seolah ia sudah menebak semuanya.
"Mau ke mana malam-malam begini?" tanya Felicia pelan, tenang namun menusuk.
Mata Thivi melebar. "Kamu ngapain di sini?!" balasnya cepat, berusaha tenang meski panik terselip.
Felicia tak bergerak. Tatapannya tetap. "Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu mau masuk ke kamar Kaivan?"
Sunyi.
Tak ada alasan. Tak ada penjelasan. Hanya kejujuran yang saling terbaca di mata mereka.
Thivi tahu Felicia mengerti.
Dan malam pun berakhir begitu saja, tanpa kata.
Hanya angin dingin yang menjadi saksi rahasia yang lewat di antara mereka.
Fajar datang perlahan, membawa udara dingin yang menyelinap ke dalam kamar. Kaivan yang masih tertidur tiba-tiba merasa sesuatu menekan lengannya. Saat ia membuka mata, ia membeku.
Di kedua sisinya, Felicia dan Thivi tertidur, memeluk lengannya seperti bantal.
Ia mencoba bergerak, tapi tubuh Felicia menahannya. Kaivan menghela napas pasrah. "Kalau ada yang lihat… pasti disalahartikan," gumamnya, wajahnya memerah.
Belum sempat ia lepas, pintu kamar terbuka pelan. Ethan masuk dengan mata setengah mengantuk, berniat mengambil sesuatu. Namun saat melihat pemandangan itu, ia langsung berhenti.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat ponselnya.
Klik!
Cahaya flash menyala.
"Maaf ganggu," katanya santai sambil menutup pintu dengan senyum jahil.
"Hei! Jangan kamu sebarin!" teriak Kaivan panik, tapi pintu sudah tertutup.
Di lorong, tawa Ethan menggema. "Raphael! Sini lihat! Aku dapat karya seni!"
Kaivan akhirnya berhasil lepas dan langsung berlari mengejarnya, wajahnya merah padam, sementara Felicia dan Thivi masih tertidur tanpa sadar akan kekacauan pagi itu.
Pagi pun tiba. Cahaya matahari masuk perlahan, menghangatkan rumah yang tenang. Saat Kaivan turun ke ruang makan dengan wajah masih canggung, Felicia dan Thivi sudah duduk di sana, tampak segar seperti tak terjadi apa-apa.
Raphael dan Ethan tertawa membicarakan sesuatu, sementara ibu Kaivan dan Kira sibuk menyiapkan sarapan.
Kaivan duduk sambil menghela napas panjang. Tatapan Ethan dan Raphael saja sudah cukup membuat wajahnya kembali memanas. Tawa kecil mengalir di meja, seakan mengingatkan bahwa foto rahasia itu masih ada.
Dingin fajar perlahan hilang, digantikan cahaya hangat yang memenuhi ruangan. Suasana terasa damai, seolah kekacauan semalam hanyalah mimpi.
Namun Kaivan tetap tak bisa menghilangkan rasa canggung itu.
"Mau sarapan, Kaivan?" tanya ibunya lembut.
