Ia kembali mengguncang tubuh ibunya. "Bu, tolong... kita tinggal punya tiga hari sebelum penerbangan. Ibu tidak mau melewatkannya, kan? Ibu selalu bilang ingin merasakan salju pertama di Norwegia..."
Ia menekan kedua tangannya ke dada sang ibu yang sudah dingin dan kaku. Hatinya menolak kenyataan itu, dan dalam kepanikan penuh penyangkalan, ia mulai melakukan CPR. Telapak tangannya menekan dada yang tak lagi menyimpan kehidupan, hanya tulang rapuh dan daging yang tercabik.
"C-CPR... ini akan membantu... Ayolah, Bu... kita jadi melihat aurora bersama, kan? Tapi Ibu harus bangun dulu... Tolong... bilang kalau ini cuma lelucon..."
Suaranya pecah, serak seperti logam yang dipaksa melengkung. Ia memberikan napas buatan pada bibir yang telah kehilangan warna, kehangatan, dan jiwa. Setiap hembusan terasa seperti bagian dari dirinya sendiri yang ikut terkuras habis. Darah memenuhi tangannya, ia bahkan tak tahu darah siapa. Setiap tekanan di dada sang ibu hanya menghasilkan bunyi retakan tulang yang memuakkan.
Beberapa langkah di belakangnya, Isabel berdiri membeku. Ia ingin bergerak, ingin menarik Kaivan menjauh dari jurang yang sedang menelannya hidup-hidup, ingin memeluknya, tetapi tubuhnya tak mampu bergerak. Napasnya tercekat. Pikirannya berteriak. Hatinya gemetar.
Tatapannya jatuh pada bagian bawah tubuh ibu Kaivan yang terpisah di lantai. Kedua kaki itu diam tak bergerak, menghadap langit-langit seolah menuntut jawaban dari langit.
Wajah Isabel memucat. Rasa takut dan duka mengalir di tubuhnya seperti racun. Ia menutup mulutnya, berusaha menahan tangis. Namun tubuhnya tetap bergetar tanpa kendali.
"Kaivan…" bisiknya, suaranya bergetar hebat, seakan setiap huruf yang keluar melukai tenggorokannya sendiri. Ingin ia memeluk bahu itu, bahu yang terus menunduk menekan dada ibunya dengan CPR yang sia-sia. Tapi ia tahu, bahwa tidak ada pelukan atau kata-kata yang mampu menjahit kembali luka sebesar ini.
Namun Kaivan tidak mendengar. Tidak ingin mendengar. Dunia di sekitarnya telah lenyap. Ia hanya melihat wajah ibunya. Matanya terus menatap penuh harap, menolak kenyataan. "Bu, lihat aku… Kaivan sudah besar sekarang. Aku sudah bisa jaga Ibu. Aku janji…" Tangannya yang bergetar menghapus darah yang mengalir dari pelipis ibunya, mencoba membersihkan wajah itu dari noda... seolah dengan begitu ibunya akan kembali bicara, tersenyum, hidup.
"Ibu mau lihat aurora, kan? Mau lihat salju bersama Kaivan? Jangan tinggalin aku, bu… Jangan tinggalkan Kaivan sendirian..." Tangisnya meledak lagi, kali ini seperti ledakan bom sunyi yang menghancurkan relung-relung jiwanya.
Isabel, yang tak tahan lagi, akhirnya menjatuhkan diri dan memeluk Kaivan dari belakang. Tubuhnya gemetar seperti daun yang digoyang badai. "Kaivan, cukup… Kumohon, cukup… Ibu dan Teh Kira sudah pergi… Mereka sudah tidak sakit lagi… Mereka… sudah tenang…" Air matanya jatuh seperti hujan deras, membasahi punggung Kaivan, mengalir hingga ke lantai berdarah.
Air matanya jatuh seperti hujan deras, membasahi punggung Kaivan lalu menetes ke lantai yang dipenuhi darah.
Namun Kaivan menggeleng keras, menolak setiap kata itu.
"Tidak! Mereka belum pergi! Mereka cuma... cuma butuh pertolongan pertama! Aku hanya harus membangunkan mereka sekarang... Bu, Teh, tolong bangun! Bangun!"
Ia kembali memeluk tubuh ibunya, merasakan dinginnya kematian meresap ke telapak tangannya. Tangisnya pecah dan bergema di rumah yang sunyi.
"Ibu, Teh... kenapa kalian pergi...? Apa aku melakukan kesalahan...? Maafkan aku... tolong... kembali lagi... aku janji akan jadi anak yang baik... aku akan melindungi kalian... jangan tinggalkan aku sendirian..."
Suaranya perlahan melemah hingga hanya tersisa isak menyayat hati. Di luar, hujan deras seakan ikut menangis bersama mereka.
Isabel memeluk Kaivan erat, mencoba memberinya kekuatan yang ia tahu tak akan pernah cukup untuk menambal duka sedalam ini.
Kaivan terus berbicara pada tubuh ibunya yang tak lagi merespons, tangannya masih berusaha menyatukan bagian yang terbelah. "Aku akan memperbaiki ini, bu… Kaivan janji… Aku akan buat semuanya seperti semula… Kita akan pergi ke Norwegia bersama-sama…" Suaranya terdengar putus asa, penuh dengan kebohongan yang ia ciptakan sendiri demi menghindari kenyataan pahit yang ada di hadapannya.
Isabel akhirnya tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia berteriak dalam pelukannya pada Kaivan, ikut merasakan rasa kehilangan yang begitu dalam, meski ia tahu bahwa rasa sakit yang dirasakan Kaivan jauh lebih hebat dari apapun yang bisa ia bayangkan.
Hujan di luar semakin deras. Cahaya merah dan biru dari sirene polisi memantul di genangan air, mewarnai suasana dengan kesedihan yang suram. Aroma logam darah memenuhi udara. Para paramedis dan polisi yang pertama masuk hanya bisa terpaku, menahan mual yang naik ke tenggorokan mereka.
Salah satu petugas medis menunduk, melihat tubuh ibunya Kaivan yang terbelah menjadi dua. Matanya terbelalak, jari-jarinya gemetar ketika mencoba memeriksa denyut tubuh yang sudah memucat itu. "Tuhan, apa yang terjadi di sini?"
Beberapa polisi menutup mulut mereka, tak sanggup melihat lebih lama.
Di luar rumah, sebuah mobil berhenti mendadak. Radit, Frans, dan Zinnia berlari turun dengan wajah tegang saat melihat garis polisi membentang di halaman.
Radit berlari paling depan, panik jelas terlihat di wajahnya.
"Isabel! Apa yang terjadi?!"
Isabel mengangkat wajahnya yang bengkak karena tangis.
"Ibu... ibu Kaivan... sudah tiada..." suaranya bergetar. Air matanya kembali pecah saat mengingat senyum hangat ibu Kaivan pagi tadi.
Frans membeku.
