Cherreads

Chapter 186 - Denyut yang Menolak Padam

"Tiada? Bagaimana? Kenapa ini bisa terjadi...?" Suaranya tenggelam bersama suara hujan dan sirene.

Di dalam rumah, Kaivan berlutut di samping ibunya. Saat para paramedis mulai memasukkan tubuh sang ibu ke dalam kantong hitam, ia menjerit dan meronta.

"Apa yang kalian lakukan?! Jangan tutupi dia! Dia tidak bisa bernapas!"

Ia mencengkeram tangan salah satu paramedis.

"Bu... tolong... jangan tutupi Ibu! Ibu masih hidup! Ibu cuma tidur...!" Jemarinya yang gemetar terus menggenggam kain putih yang membungkus tubuh ibunya.

Felicia menerobos garis polisi. Saat melihat pemandangan itu, tubuhnya membeku. Kaivan yang biasanya pendiam dan pemalu kini terlihat seperti anak kecil yang kehilangan seluruh dunianya. Ia segera berlari lalu memeluknya erat.

"Kaivan... cukup... tolong tenanglah," bisiknya, berusaha menenangkan tubuh Kaivan yang terus gemetar.

Namun Kaivan meronta dalam pelukannya.

"Lepaskan aku, Felicia! Aku harus menolong Ibu dan Teh!" Suaranya serak, seluruh tubuhnya bergetar karena tangis.

Seorang polisi melangkah mendekat, suaranya ikut bergetar.

"Nak... ibu dan kakakmu sudah tiada... Kami menemukan ibumu dalam keadaan yang sangat mengenaskan..." Ia menundukkan kepala, tak sanggup menatap mata Kaivan yang telah hancur.

Tubuh Felicia menegang.

"Tiada...?" bisiknya lirih, lalu ia jatuh terduduk sambil menangis. Pelukannya pada Kaivan semakin erat.

"Kaivan... maafkan aku... aku sungguh, sungguh minta maaf..."

Beberapa saat kemudian, mobil lain datang. Livia turun bersama ayahnya, keduanya terpaku melihat ambulans dan mobil polisi memenuhi tempat itu.

Ayah Livia segera menghampiri polisi terdekat.

"Apa yang terjadi? Anak-anak ini baik-baik saja?" tanyanya penuh kekhawatiran.

Polisi itu menghela napas tegang.

"Pak, apakah Anda wali mereka? Kami membutuhkan orang dewasa untuk mendampingi mereka. Mereka terlalu muda untuk menghadapi ini sendirian."

Ayah Livia menatap Kaivan yang gemetar dalam pelukan Felicia.

"Ya. Saya mengenalnya. Saya akan tetap bersama mereka," katanya tegas sambil menepuk bahu polisi itu.

Tiba-tiba, teriakan terdengar dari dalam rumah.

"Oksigen dan defibrilator! Sekarang! Dia masih punya denyut nadi!"

Seorang paramedis berlutut di samping Teh Kira.

"Detak jantungnya lemah! Tutup luka di kepalanya dan segera bawa ke rumah sakit!" perintahnya.

Napas Kaivan seakan berhenti. Dengan sisa tenaganya, ia berlari menghampiri mereka.

"Teh Kira... tolong... bangun... Kaivan di sini!" tangisnya sambil menggenggam tangan kakaknya yang dingin.

"Jangan tinggalkan aku... tolong... aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi..."

Para paramedis segera memasang selang oksigen dan bergerak cepat menstabilkan kondisinya. "Kita harus bergerak! Bawa dia ke ambulans!" teriak ketua tim.

Felicia berdiri di samping Kaivan dengan mata merah. Ia menggenggam erat tangan Kaivan yang berlumuran darah. "Kaivan... biarkan mereka menolongnya. Kita ikut ke rumah sakit," bisiknya, berusaha terdengar tenang meski suaranya ikut bergetar.

Kaivan mengangguk lemah. Dengan langkah limbung, ia mengikuti para medis yang membawa kakaknya pergi. Pelukan Felicia di punggungnya dan tatapan cemas teman-temannya membuat dunia di sekelilingnya terasa membeku, sunyi, dan begitu hampa.

Malam itu, Rumah Sakit Hasan Sadikin diselimuti ketegangan. Hujan terus mengguyur Bandung, membuat malam yang muram terasa semakin gelap. Di ruang tunggu dingin beraroma antiseptik di depan ruang operasi, sekelompok remaja duduk dalam keheningan berat. Radit, Frans, Zinnia, Isabel, Livia, dan Felicia terus menatap pintu yang tertutup rapat. Lampu indikator di atasnya berkedip pelan, namun setiap kedipannya terasa seperti hantaman di dada mereka.

Kaivan duduk di ujung ruangan, terpisah dari yang lain. Wajahnya pucat, matanya kosong menatap lantai. Rasanya seperti dunia di dalam dirinya sedang runtuh. Langkah kaki perawat dan suara mesin medis terdengar samar seperti gema yang jauh.

Tak lama kemudian, Raphael dan Ethan datang dengan napas memburu dan wajah penuh kecemasan. Raphael langsung bertanya, "Bagaimana keadaannya?" Suaranya tegang dipenuhi kekhawatiran.

Zinnia mengangkat wajahnya yang sembab. "Teh Kira masih dioperasi," jawabnya lirih. "Yang bisa kita lakukan sekarang cuma menunggu... dan berharap."

Raphael mengangguk, berusaha tetap kuat. Doa adalah satu-satunya hal yang tersisa bagi mereka. Ethan melirik Kaivan yang membeku dalam keputusasaan, lalu duduk di sampingnya dan menepuk bahunya pelan.

More Chapters