Mereka melangkah masuk dengan hati-hati. Suara langkah kaki mereka bergema pelan di halaman yang sunyi. Felicia berjalan paling depan, menuju pintu utama. Begitu masuk ke dalam, ketegangan tak kasatmata langsung memenuhi udara. Samar, namun mustahil untuk diabaikan.
Felicia segera mulai memberi instruksi.
"Periksa setiap sudut. Radit, Ethan, lantai atas. Frans, Livia, lantai bawah. Thivi, sisi kanan. Zinnia, taman belakang. Raphael dan Isabel, ikut denganku ke ruang bawah tanah."
Semua mengangguk, meski kegelisahan terasa berat di dalam dada mereka. Mereka berpencar, masing-masing membawa harapan untuk menemukan Kaivan sebelum semuanya terlambat.
Radit dan Ethan menaiki tangga marmer. Radit memimpin di depan, membuka pintu demi pintu tanpa ragu sementara Ethan mengikuti dari belakang dengan waspada.
"Aku tidak mengerti," gumam Ethan pelan. "Apa yang sebenarnya dilakukan Kaivan sampai dia harus bersembunyi seperti ini?"
"Dia pasti punya alasannya sendiri," jawab Radit tanpa menoleh. Ia menggeser pintu lemari dan menemukan tumpukan pakaian lama di dalamnya. "Tapi kalau dia membahayakan dirinya sendiri, aku tidak akan tinggal diam."
Di luar, Zinnia berdiri di taman yang luas, matanya menyapu setiap bayangan. Pohon-pohon tinggi menjulang di atasnya, siluetnya menari di bawah cahaya bulan. Udara dingin menyentuh kulitnya ketika angin malam berbisik di antara ranting-ranting. Ia memanggil nama Kaivan dengan suara pelan, nyaris seperti doa.
Tak ada jawaban, hanya suara dedaunan yang bergesekan.
Lampu neon redup berkedip di atas tangga menuju ruang bawah tanah. Tangga spiral yang sempit membawa Raphael dan Isabel turun perlahan, seolah menarik mereka menuju dunia lain. Setiap langkah menggema, membuat ketegangan di antara mereka semakin mengencang.
Raphael berjalan di depan, tatapannya menembus kegelapan. Isabel yang biasanya tenang kini gemetar, entah karena dingin atau karena takut.
"Isabel," bisik Raphael memecah keheningan. "Kenapa kau terus menghindari kami? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Langkah Isabel melambat, kepalanya tertunduk menatap sepatu yang tiba-tiba terasa begitu berat.
"Tidak terjadi apa-apa, Raphael. Aku hanya lelah dengan semua ini," jawabnya dingin, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Raphael berhenti lalu menoleh ke arahnya. Alisnya sedikit terangkat, nadanya terdengar ringan namun penuh selidik. "Kenapa kau menjauh? Apa Kaivan... melakukan sesuatu? Sesuatu yang terlalu memalukan untuk kau ceritakan pada kami?"
Isabel membeku. Wajahnya langsung pucat. Seluruh tubuhnya menegang, seolah udara di sekitarnya berubah menjadi es.
Setetes air mata jatuh di pipinya. Lalu satu lagi.
Raphael terdiam, penyesalan melintas di matanya. Bibirnya sedikit terbuka, ragu-ragu. "Kau serius...? Kau dan Kaivan... melakukan itu?"
Isabel tidak menjawab. Sebaliknya, ia jatuh berlutut, memeluk kedua kakinya sendiri sementara isaknya pecah begitu saja. Tangisnya menggema di ruang bawah tanah, tajam di antara udara dingin.
Lampu neon di atas mereka berdengung pelan, memancarkan cahaya biru pucat. Lantai lembap memantulkan bayangan mereka, dua sosok yang terjebak dalam momen rapuh. Raphael yang biasanya memiliki tatapan dingin kini tampak goyah. Ia berjongkok di samping Isabel, menurunkan tubuhnya perlahan. Tangannya gemetar sebelum akhirnya menyentuh bahu Isabel yang terus bergetar.
"Hei... tidak apa-apa, Isabel," bisiknya lembut, nyaris setipis angin malam. Suaranya rendah dan menenangkan. "Jangan menangis. Aku tidak akan memberi tahu siapa pun. Rahasiamu aman bersamaku."
Isabel gemetar, berusaha bernapas di sela isaknya. Bahunya bergetar hebat, seolah seluruh beban yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh. Rambut merah mudanya berantakan menutupi sebagian wajahnya sementara tatapannya terus tertuju ke lantai. Air mata jatuh tanpa henti. Lalu, dengan suara rapuh yang nyaris hancur, ia akhirnya bicara.
"Tadi... aku cuma mengancam Kaivan," bisiknya lirih, kata-katanya rapuh seperti kaca pecah. "Aku tidak ingin dia pergi, Raphael. Aku takut dia akan melakukan sesuatu yang nekat lagi, jadi... aku menawarkan tubuhku supaya dia tetap tinggal."
Raphael menarik napas tajam. Pengakuan itu menghantam dadanya begitu dalam. Namun ia tidak marah. Tatapannya justru meredup, dipenuhi simpati yang sunyi. Ia memalingkan wajah sesaat, membiarkan Isabel meluapkan luka yang selama ini ia pendam.
Keheningan kembali merayap, hanya diisi suara tangis Isabel yang melemah. Lalu Raphael bertanya pelan, "Tapi dia tetap pergi, kan?"
Isabel mengangguk lemah. "Dia tetap pergi..." bisiknya hampir tak terdengar. Bahunya kembali bergetar.
Rasa sesak mencengkeram dada Raphael. Ia ingin menghiburnya, tetapi tahu kata-kata saja tidak akan mampu menyembuhkan luka seperti itu. Saat pandangannya menyapu ruang bawah tanah, sesuatu menarik perhatiannya, sebuah pintu baja besar di sudut ruangan, memantulkan cahaya samar di bawah neon biru. Desainnya terlalu modern untuk ruang tua berdebu seperti ini.
Ia berdiri perlahan, kembali tegak dan waspada. Dengan tenang namun penuh kewaspadaan, ia menunjuk pintu itu. "Isabel..."
Isabel perlahan mengangkat kepala. Matanya sembap dan merah, pipinya dipenuhi jejak air mata, namun ia mengikuti arah pandangan Raphael.
"Pintu baja itu," lanjut Raphael sambil melangkah mendekat. "Menuju ke mana?"
Isabel mengerjap bingung sebelum melihat pintu itu sendiri. Alisnya berkerut, mencoba mencari ingatan. "Aku belum pernah melihat pintu itu sebelumnya," gumamnya pelan. Ia berdiri dengan langkah goyah lalu mendekat ke sisi Raphael. "Apa mungkin itu ruangan rahasia? Mungkin... tempat Kaivan bersembunyi?"
Raphael menempelkan jarinya pada logam dingin itu. Permukaannya halus dan berat, mahal, terasa sangat tidak cocok berada di ruangan tua seperti ini. Di sampingnya, panel elektronik redup berkedip pelan.
"Kalau begitu, kita harus membukanya," katanya tegas.
Isabel menggigit bibir bawahnya, terjebak di antara takut dan tekad. "Tapi bagaimana? Pintu seperti ini pasti punya sistem keamanan yang rumit."
"Kita harus mencoba," jawab Raphael tajam. Namun ia tahu dirinya tidak memiliki kemampuan untuk membobol sesuatu seperti ini.
Ia menoleh pada Isabel yang kini berdiri di sampingnya, rapuh namun berusaha kuat. "Aku akan memanggil yang lain. Kalau Kaivan benar ada di sini, kita akan menghadapinya bersama."
Isabel mengangguk pelan. Air matanya mulai mereda, digantikan tekad yang penuh kekhawatiran.
Tak lama kemudian, kedelapan teman mereka berkumpul di depan pintu baja misterius itu. Ruang bawah tanah terasa semakin berat, dipenuhi rasa penasaran dan ketakutan. Frans yang biasanya percaya diri menjadi orang pertama yang bicara.
"Isabel," katanya serius, "kau benar-benar tidak tahu cara membuka ini?"
Isabel menggeleng. Ekspresinya jujur namun dipenuhi rasa bersalah. "Aku... bahkan tidak tahu pintu ini ada," jawabnya pelan.
Saat semuanya terdiam, Thivi dan Livia berjongkok di dekat dinding. Di sana, terdapat tulisan kecil yang terukir dalam banyak bahasa. Thivi mendekat lalu membacanya satu per satu. "Kra, Lege, Soma, Po, Oku, Doc, Lees, Read, Baca, Iqro, Karanta, Anbib, Ik'ikthe... Apa maksud semua ini?" tanyanya sambil menyipitkan mata.
Livia mengerucutkan bibir, berpikir keras. "Mungkin semuanya berarti 'baca'... hanya dalam bahasa yang berbeda."
Radit mengangkat alis. "Kalau artinya 'baca', kenapa pintunya memakai keypad angka sementara petunjuknya huruf?"
Zinnia menyilangkan tangan, berpikir dalam-dalam. "Mungkin... kita harus mengubah kata 'baca' menjadi angka?"
Raphael menoleh cepat, matanya sedikit berbinar. "Maksudmu mengubah setiap huruf menjadi posisi alfabet?"
"Iya," jawab Zinnia pelan.
Ethan yang sejak tadi diam langsung menunduk ke panel lalu mulai mengetik. "'B' itu huruf kedua, jadi dua. 'A' itu satu. Jadi 'BACALAH'... tunggu," gumamnya sementara jemarinya bergerak cepat di atas keypad.
Felicia menambahkan dengan tajam, "Untuk huruf 'L', karena itu huruf kedua belas, berarti satu dan dua, kan?"
"Benar," jawab Ethan tanpa mengalihkan fokus. Jemarinya terus menari di atas panel. Semua orang menahan napas.
TING!
