Cherreads

Chapter 199 - Pertanyaan yang Belum Siap Ia Jawab

Ia mengirim pesan itu kepada Radit, Raphael, Felicia, Thivi, Zinnia, Livia, dan Ethan.

Sebuah peringatan sunyi. Panggilan tanpa suara bagi mereka yang mengerti.

Waktu terus berjalan hingga bel terakhir berbunyi. Gaungnya terasa seperti lonceng kematian bagi hari yang Isabel harap bisa ia lalui tanpa menarik perhatian. Ia merapikan buku-bukunya lalu berjalan menuju gerbang, berharap dapat menghindari setiap tatapan dan setiap pertanyaan.

Namun begitu ia melangkah keluar dari bayangan gedung sekolah, Frans sudah berdiri di sana. Bersandar tegak di dinding, menunggunya. Kedua tangannya masuk ke saku dengan santai, namun tatapannya membelah udara seperti bilah tak kasatmata.

"Isabel," panggilnya.

Suaranya dalam, tenang, dan tegas. Tidak keras, namun cukup tajam untuk menghentikan langkah siapa pun.

Isabel membeku. Suara itu menyusup ke dalam dadanya seperti pisau lambat yang sengaja ditancapkan perlahan. Ia berbalik sedikit demi sedikit lalu menatap mata Frans. Napasnya tersendat, terjebak di antara rasa takut dan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Frans melangkah mendekat satu langkah, santai namun pasti.

"Apa kau punya waktu sebentar? Aku ingin bicara," katanya. Posturnya tetap tenang, namun ketegangan di rahangnya memperlihatkan berat dari kata-kata itu.

Isabel menggigit bibir bawahnya. Gerakan kecil, namun cukup untuk menunjukkan badai di dalam dirinya. Matanya bergerak gelisah ke sekitar, lorong sekolah dipenuhi siswa yang pulang, namun semuanya terasa jauh dan samar.

"Tentang apa?" tanyanya. Suaranya berusaha terdengar datar dan tenang, namun getaran kecil tersembunyi di baliknya. Tangan kirinya menggenggam erat tali tas, seolah ia membutuhkan sesuatu untuk dipertahankan.

Frans menatap lurus ke dalam matanya, dalam dan tak tergoyahkan. Tatapan itu terasa seperti menyelam hingga dasar lautan emosi Isabel, mencari kebenaran yang lama terkubur.

"Hanya sebentar," ulang Frans pelan. "Ada sesuatu tentang Kaivan yang perlu kita bicarakan."

Nama itu. Nama yang menghantam kepalanya seperti ledakan. Dunia di sekitar Isabel terasa runtuh perlahan dan tak terhindarkan. Dadanya naik turun saat ia menarik napas panjang, berusaha tetap tenang.

"Baiklah," jawabnya akhirnya. Suaranya pelan, namun mantap. Meski begitu, keraguan berkilat di matanya. Ketakutan. Luka yang baru saja kembali terbuka.

Dengan langkah berat, ia mengikuti Frans menuju sudut sekolah yang lebih sepi, menuju percakapan yang akan mengubah segalanya.

Dari kejauhan, sekelompok orang memperhatikan mereka. Radit berdiri sambil menyilangkan tangan dengan ekspresi yang sulit dibaca. Di sampingnya, Ethan menyalakan rokok, terlihat santai namun tatapannya tajam mengawasi. Thivi berbisik kepada Zinnia, menebak-nebak apa yang sedang dibicarakan Frans dan Isabel. Felicia, Livia, dan Raphael juga berada di sana, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri.

Ketegangan menggantung di udara saat Isabel dan Frans berjalan di jalur luar sekolah. Isabel menjaga jarak, sementara Frans melangkah perlahan sambil memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Aku tahu kau terus menghindari ini," ucap Frans lembut. "Tapi aku butuh jawaban, Isabel. Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Kaivan?"

Isabel menundukkan kepala, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Napasnya bergetar, kata-kata terasa tersangkut di tenggorokannya.

"Aku bukan musuhmu, Isabel. Aku hanya ingin mengerti. Kalau kau tidak ingin bicara, aku tidak akan memaksamu. Tapi setidaknya… ketahuilah kalau kami peduli," tambah Frans sambil melangkah sedikit lebih dekat.

Isabel mengangkat wajahnya, matanya berkilau menahan emosi. "A-Aku tidak bisa mengatakannya. Semuanya terlalu rumit."

Frans mengangguk pelan, menelan rasa penasarannya. "Kalau begitu aku akan menunggu sampai kau siap."

Saat mereka kembali ke depan gerbang sekolah, setiap tatapan langsung mengikuti mereka. Di bawah langit kelabu, Isabel merasa rahasianya perlahan naik ke permukaan, dan ia tahu konflik ini baru saja dimulai.

Sementara itu, di ruangan bawah tanah yang sudah lama berubah menjadi laboratorium darurat, Kaivan duduk di depan meja kerjanya. Komponen elektronik dan bahan peledak tersusun rapi dengan presisi mengerikan. Di sampingnya, Tome Omnicent memancarkan cahaya biru samar.

"Kaivan, kau tidak akan selamat kalau melakukan ini lagi. Ini jebakan," peringat Tome itu dengan suara yang bergema pelan.

Kaivan berhenti sejenak lalu menatap dingin ke arah Tome. "Aku tidak peduli kalau tertangkap. Selama aku bisa menghancurkan lebih banyak bisnisnya dan membuatnya menderita, itu sudah cukup. Aku akan terus bergerak sampai dia menunjukkan wajah aslinya."

Ia kembali merakit bahan peledak itu dengan gerakan tenang namun dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan. Tome itu hanya bisa terdiam, menyaksikan Kaivan perlahan menenggelamkan dirinya sendiri dalam amarah dan tujuan.

Kembali di sekolah, Felicia dan Livia menunggu di dekat gerbang. Felicia melangkah maju dengan tatapan tegas.

"Isabel," panggil Felicia. "Kau tahu Kaivan ada di mana sekarang?"

Isabel membeku, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Tidak, aku tidak tahu."

Livia mendekat dengan tatapan penuh harap. "Tolong, Isabel. Katakan pada kami. Kak Kaivan ada di mana?"

Jantung Isabel berdegup menyakitkan. Ia tahu mereka peduli, namun ia juga tahu Kaivan sedang berjalan di jalur yang berbahaya. Ia tidak bisa menyeret mereka masuk ke dalamnya. "Aku benar-benar tidak tahu," ulangnya lebih tegas.

Di ruangan bawah tanah, Kaivan menutup ritsleting tasnya. Bom yang baru selesai dibuat tersimpan rapi di dalamnya. Ia memandangi tempat persembunyiannya sejenak, menarik napas panjang, lalu melangkah menuju pintu.

Sebelum sempat membukanya, Tome itu kembali berbicara, kali ini lebih mendesak. "Apa kau yakin tidak ingin meminta bantuan teman-temanmu, Kaivan? Kali ini kemungkinan tertangkap sangat tinggi. Mereka sudah menunggumu."

Kaivan melirik layar Tome itu lalu menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan menyeret mereka ke dalam dendam pribadiku. Ini pertarunganku," katanya dingin. "Kalau ini perang yang harus kuhadapi sendirian, maka aku juga akan menanggung akibatnya sendirian."

Dengan kata-kata terakhir itu, Kaivan membuka pintu lift lalu masuk ke dalamnya. Dengungan mesin bergema di ruangan. Tatapannya tenang dan tak goyah, hanya terfokus pada satu tujuan: menghancurkan operasi Vella sekali lagi dan membuatnya merasakan penderitaan yang sama seperti yang Kaivan rasakan.

Lift itu berhenti. Pintunya terbuka perlahan dengan bunyi lembut. Kaivan melangkah keluar, meninggalkan ruangan bawah tanah yang remang-remang di belakangnya. Ia berjalan menuju malam sambil membawa tas berisi bahan peledak dan amarah yang sudah tak mampu lagi ia bendung.

Bulan purnama menggantung tinggi di langit, cahaya pucatnya menyinari jalan yang kini dilalui Radit, Raphael, Felicia, Frans, Thivi, Zinnia, Ethan, Livia, dan Isabel. Mereka bergerak bersama dengan langkah yang tidak selaras, beberapa terburu-buru, beberapa ragu, namun semuanya dibungkus kegelisahan yang sama. Angin malam membawa bisikan samar tentang apa pun yang menunggu mereka di akhir perjalanan ini.

Di dalam mobil, Isabel duduk di kursi depan. Jemarinya gemetar saat memegang peta. Dengan suara nyaris seperti bisikan, ia berkata, "Tempat di mana semuanya dimulai. Aku pernah pergi ke sana bersama Kaivan… rumah seorang Nenek. Orang yang memberikan Tome Omnicent padanya. Mungkin dia ada di sana."

Keheningan langsung memenuhi mobil. Dari kursi belakang, Radit mencondongkan tubuh ke depan dengan ekspresi tajam.

"Dan baru sekarang kau memberitahu kami?" suaranya membelah udara. "Kita sudah membuang begitu banyak waktu! Kalau kau tahu, kenapa tidak bilang dari awal?"

Isabel menundukkan pandangan, menghindari mata Radit. "Aku tidak yakin dia ada di sana," jawabnya pelan, hampir tenggelam oleh suara mesin mobil. "Dan… aku tidak ingin menyeret semua orang ke dalam ini kalau ternyata aku salah."

Livia mengulurkan tangan dari samping Felicia lalu menggenggam lembut tangan Isabel. "Ini bukan salah Kak Isabel. Kami cuma ingin memastikan Kaivan baik-baik saja," katanya dengan suara menenangkan.

Bahkan Felicia yang biasanya pendiam ikut berbicara. "Kalau tempat itu penting, berarti kita harus memeriksanya. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan Kaivan menghadapi semua ini sendirian," ujarnya tegas dengan mata penuh keyakinan.

Isabel menarik napas panjang lalu mulai mengarahkan sopir. Perjalanan itu terasa panjang meski sebenarnya hanya beberapa menit. Tidak ada yang berbicara. Mereka semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Saat mobil akhirnya berhenti, keheningan kembali turun. Sebuah rumah besar berdiri di depan mereka, dinding putihnya bersinar di bawah cahaya bulan, sementara gerbang besi tinggi menjaga halaman yang tampak sempurna. Rumah itu terlihat seolah menyembunyikan sesuatu yang besar di balik kemewahannya.

"Tempat ini kelihatan seperti rumah keluarga konglomerat," gumam Ethan sambil mengamati arsitektur mewah itu. "Aku bahkan tidak tahu Kaivan punya hubungan dengan tempat seperti ini."

Isabel turun lebih dulu lalu berjalan menuju gerbang. Ia mengetik kode pada panel kecil di sampingnya. Gerbang itu terbuka perlahan, memperlihatkan jalan batu menuju pintu utama. Ia berhenti sejenak lalu menoleh pada yang lain.

"Ini cuma tebakan," katanya datar. "Tapi aku harap kita menemukan sesuatu."

More Chapters