Cherreads

Chapter 232 - Saat Gudang Senjata Terbangun

Kenangan menghantam seperti kilat. Tangisan keluarganya, darah, api, dan sosok Vella. Musuh yang telah merenggut segalanya darinya.

Kebencian itu hidup dalam setiap napas yang ia hirup.

"Kalian akan menyesal... karena membiarkanku tetap hidup," bisiknya.

Suaranya serak, namun udara di sekelilingnya ikut bergetar.

Sementara itu, di sisi fasilitas yang lebih terang, para subjek eksperimen berkumpul di dalam sebuah ruangan luas, gudang senjata utama.

Dengan desisan hidraulik, pintu baja raksasa bergeser terbuka. Cahaya putih membanjiri ruangan, memantul pada ratusan senjata yang tersusun rapi seperti pameran dari medan perang masa depan.

Seorang perwira berseragam hitam berdiri di tengah ruangan sambil memegang tablet.

"Frans dan Isabel, senapan mesin. Raphael dan Radit, senapan serbu. Thivi, Zinnia, dan Livia, senapan runduk. Ethan, submachine gun. Felicia, senjata khusus."

Frans masuk lebih dulu. Matanya berbinar saat menatap deretan senjata api yang seakan tidak ada habisnya.

"Gila... ini luar biasa," gumamnya penuh kekaguman. "Rasanya seperti gudang Perang Dunia Ketiga."

Isabel mengangkat sebuah magasin drum dan tersenyum lembut.

"Aku bisa menghabiskan seharian hanya untuk melihat semua ini," katanya sambil berputar perlahan seperti gadis yang sedang berada di toko perhiasan.

Livia berjalan hati-hati menuju bagian senapan runduk. Ia menunjuk sebuah senapan besar bertuliskan CheyTac.

"Um... bolehkah aku memilih yang ini?" tanyanya lembut, seperti anak kecil yang meminta izin meminjam buku.

Zinnia yang sedang memeriksa laras F2000 yang telah dimodifikasi melirik ke arahnya.

"Senjata itu besar sekali untukmu, Livia. Kau yakin bisa menggunakannya?"

Perwira di samping mereka segera menjawab dengan nada tegas.

"Justru itu pilihan yang sempurna. Berdasarkan simulasi kami, akurasi Livia mencapai seratus persen. Ia paling efektif dalam posisi diam. Dengan daya hancur CheyTac, dia akan menjadi inti dari serangan jarak jauh kami."

Livia menarik napas dalam-dalam lalu mengangkat senapan itu.

Tubuhnya sempat goyah sesaat, tetapi tak lama kemudian ia menemukan keseimbangannya. Senyum malu-malu muncul di wajahnya.

Isabel berjalan menuju meja yang menampilkan sebuah RPD. Jarinya menyentuh magasin bundar itu seolah sedang memegang peninggalan kuno.

"Lucu sekali... magisinnya bulat," katanya ceria. "Aku suka. Aku pilih yang ini."

Radit yang santai seperti biasa langsung mengambil sebuah SCAR yang dilengkapi vertical grip. Ia memutarnya dengan ringan lalu mengangkatnya untuk menguji beratnya.

"Nah, ini baru senjata laki-laki sejati," katanya sambil menyeringai.

Raphael memilih sebuah M4A1 tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Gerakannya efisien dan tenang, seperti seorang prajurit yang sudah lama akrab dengan aroma mesiu. Tatapannya kosong namun tajam, seolah sedang melihat medan perang yang belum datang.

Di sisi lain, Ethan berdiri diam sambil tenggelam dalam pikirannya. Setelah memperhatikan Radit dan Raphael, ia menoleh kepada sang perwira.

"Aku tidak bisa mendapatkan yang seperti mereka?" tanyanya.

Perwira muda itu tersenyum lalu menunjuk sebuah senapan CQB.

"M4 CQB-R. Ringan, cepat, dan mematikan. Sangat cocok dengan gaya bertarungmu yang lincah."

Ethan memeriksa sistem rel pada senjata itu lalu tersenyum tipis.

"Baiklah... ternyata ini lebih cocok untukku daripada yang kubayangkan."

Di dalam gudang senjata yang dingin itu, suasana bergetar seperti medan perang yang menunggu untuk menyala. Lampu LED kebiruan memantul pada dinding logam yang mengilap, menciptakan bayangan tajam di wajah mereka. Dentingan baja dan bunyi klik senjata bergema sebelum akhirnya kembali tenggelam dalam keheningan.

Langkah kaki berat terdengar dari sisi barat ruangan.

Seorang pria mengenakan setelan taktis hitam dengan lencana heksagonal muncul sambil membawa sebuah koper besar berwarna hitam doff. Permukaannya berkilau seperti obsidian, sementara pemindai sidik jari berwarna merah berkedip di bagian atasnya. Benda itu terasa asing sekaligus berbahaya.

Dengan gerakan hati-hati, ia meletakkannya di atas meja logam yang telah diperkuat.

Ruangan seketika membeku.

Bahkan Ethan ikut terdiam.

Semua mata tertuju kepada Felicia.

Rambut hitamnya terurai di atas bahunya. Ia berdiri tegak seperti dewi perang yang turun ke bumi. Tatapannya tajam dan tenang, seolah ia sudah mengetahui apa yang berada di dalam koper itu.

"Giliranmu, Felicia," kata sang perwira dengan nada berat.

Ia menempelkan jarinya pada pemindai. Lampu merah berubah menjadi hijau. Bunyi klik dan desisan mekanis terdengar saat kunci pengaman terbuka satu per satu.

Tutup koper itu perlahan terangkat, melepaskan semburan uap dingin yang menyebar ke udara. Aroma logam yang tajam memenuhi ruangan dan membuat bulu kuduk meremang.

Di dalamnya terbaring dua senjata, seperti relik suci dari sebuah perang besar.

Sebuah shotgun otomatis laras ganda berwarna perak berkilau lembut.

Di sampingnya terletak Solothurn S18-100 yang telah dimodifikasi. Senapan anti-tank raksasa yang elegan namun mengerikan, dengan berat lebih dari lima puluh kilogram.

"Yang pertama," kata sang perwira sambil menunjuk shotgun itu, "shotgun otomatis laras ganda. Bisa menembak secara bersamaan maupun bergantian. Daya ledaknya sempurna untuk pertempuran jarak dekat."

Felicia mengangkat senjata itu hanya dengan satu tangan.

Gerakannya begitu alami, seolah senjata tersebut merupakan bagian dari tubuhnya sendiri.

"Dan yang ini," lanjut sang perwira sambil menyentuh laras panjang Solothurn. "Senapan anti-tank dari Perang Dunia Kedua yang telah ditingkatkan dengan stabilizer dan sistem pelacakan target. Peluru kaliber seratus milimeter. Satu tembakan mampu menghancurkan tank ringan. Beratnya lima puluh tiga kilogram. Tapi kurasa itu bukan masalah bagimu."

Thivi yang sedang melipat VSK miliknya langsung berbalik dengan wajah terkejut.

"Wah... benda itu besar sekali," gumamnya. "Memangnya kau mau menembak apa dengan itu? Kapal perang?"

Felicia tetap diam. Ia mengangkat Solothurn itu dengan satu tangan lalu mengarahkannya ke sebuah boneka latihan.

Sang perwira hendak memperingatkannya, tetapi...

BOOOOM!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh ruangan. Boneka latihan itu hancur dalam sekejap, sementara dinding beton di belakangnya langsung jebol. Asap tebal bergulung memenuhi udara, dan aroma mesiu yang tajam menyebar ke segala arah.

 

More Chapters