Thivi mengeluarkan jeritan kecil dan hampir menjatuhkan senjatanya. Raphael hanya melirik sekilas dengan ketenangan yang sama seperti biasanya. Radit menyipitkan mata, terjebak di antara keterkejutan dan kekaguman.
"Kau berencana menembak mantanmu pakai benda itu, Fel?" canda Radit sambil tertawa gugup.
Felicia menjawab datar tanpa menoleh. "Kalau hukum mengizinkan, aku akan melakukannya lagi dan lagi."
Tawa kecil pun pecah. Canggung, tegang, namun cukup untuk sedikit mengendurkan suasana.
Kemudian Livia melangkah maju, suaranya lembut.
"Senjata-senjata ini... benar-benar untuk kami?"
Sang perwira mengangguk.
"Ya. Setiap senjata akan dimodifikasi agar sesuai dengan kemampuan masing-masing dari kalian. Rawatlah dengan baik. Mereka bukan sekadar alat, melainkan perpanjangan dari tubuh kalian."
Langkah kaki perlahan bergema dari ambang pintu.
Semua orang menoleh.
Levan berdiri di tepi cahaya biru pucat. Posturnya tegak, wajahnya tenang. Sebuah tablet hitam berada di tangannya, sementara senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Aku membawa rekaman terbaru Kaivan," katanya pelan, namun setiap kata terdengar jelas membelah udara. "Setelah melihat ini... kalian akan kehilangan kata-kata."
Keheningan langsung turun. Tatapan mereka menjadi lebih tajam.
Felicia perlahan menurunkan Solothurn di tangannya. Matanya terkunci pada sosok Levan.
Di sebuah laboratorium yang jauh dari lokasi Kaivan, udara dingin mengalir dari sistem ventilasi. Cahaya putih memantul pada dinding baja, menciptakan bayangan samar orang-orang yang berada di dalamnya.
Di tengah ruangan, sebuah layar besar menampilkan rekaman latihan dan misi Kaivan.
Teman-temannya berkumpul mengelilinginya, masing-masing menunjukkan ekspresi yang berbeda.
Frans menopang dagunya sambil menatap layar.
"Itu benar-benar Kaivan?" gumamnya, cukup keras untuk memecah keheningan.
Levan berdiri di hadapan mereka. Ia membenarkan kacamatanya sebelum berbicara.
"Ya. Kaivan berkembang dengan sangat cepat. Ia menjalani pelatihan yang ekstrem. Kami bahkan membuat simulasi infiltrasi bank yang dijaga oleh pasukan militer. Hasilnya, dia menyelesaikan semuanya dengan mudah."
Ada sedikit kekaguman tersembunyi dalam suaranya.
Video itu menampilkan Kaivan yang berbeda dari sosok yang mereka kenal.
Gerakannya tajam dan efisien. Setiap langkah diperhitungkan dengan presisi sempurna. Ia melompat dari satu sudut ke sudut lain, memanfaatkan lingkungan seolah mampu melihat pola yang tidak dapat dilihat orang biasa.
Ethan menoleh ke arah Raphael yang duduk di belakang mereka dengan ekspresi serius.
"Kau pernah bertarung melawannya, kan?"
Raphael mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Ya. Tapi aku tidak menyangka dia akan menjadi seperti ini. Kalau kami bertarung lagi sekarang... kemungkinan besar aku akan kalah telak."
Suaranya rendah, jujur, dan dipenuhi rasa hormat.
Felicia berdiri dengan kedua tangan terlipat, memperhatikan setiap gerakan Kaivan.
"Dia cepat," katanya tenang. "Tapi bukan karena dia menjadi lebih kuat. Dari yang kulihat, kemampuan fisiknya tidak berubah."
Di sudut ruangan, Isabel duduk sendirian. Dinding baja di belakangnya memantulkan cahaya biru dari layar holografik. Bahunya sedikit membungkuk, membentuk siluet rapuh di tengah suasana yang begitu militeristik.
Wajahnya tetap dingin, namun jari-jarinya menggenggam ujung pakaiannya erat-erat, bergetar samar saat menahan emosi yang tidak ingin ia tunjukkan.
Tak jauh darinya, Thivi duduk bersila di lantai baja di samping meja yang dipenuhi senjata modifikasi. Rambut hitam pendeknya tampak berantakan, sementara mata birunya yang cerah berkilau penuh rasa ingin tahu.
Ia mencondongkan tubuh ke depan lalu memiringkan kepala.
"Kalian sadar tidak?" katanya tiba-tiba. "Kaivan terlihat... lebih pendek sekarang."
Radit berhenti memainkan pelatuk SCAR miliknya lalu mengangkat sebelah alis.
"Apa maksudmu? Lebih pendek bagaimana?"
Thivi mengangkat bahu.
"Aku tidak tahu... rasanya seperti dia tidak pernah bertambah tinggi. Aku ingat jelas. Tingginya selalu sama. Masih sekitar seratus enam puluh sentimeter. Kita semua berubah, tapi dia? Dia tetap sama persis. Tidak ada yang berbeda sedikit pun."
Raphael yang bersandar pada rak senjata membuka matanya sedikit lebih lebar. Ia tidak berkomentar, tetapi alisnya bergerak tipis. Sebuah tanda kecil bahwa pikirannya sedang bekerja cepat.
Langkah kaki yang mantap terdengar dari balik layar.
Levan, dengan jas laboratorium putih yang berkibar lembut, berjalan menuju tengah ruangan. Sepatu kulit hitamnya berkilau di atas lantai logam, menciptakan irama tegang saat ia mendekat.
Ia berhenti di depan layar holografik, memasukkan satu tangan ke dalam saku jasnya, lalu mengamati setiap anggota tim dengan tatapan penuh perhitungan.
"Pengamatan yang bagus," katanya tenang. Suaranya dalam dan terukur. "Itu juga sesuatu yang kami sadari... dan saat ini sedang kami selidiki."
Zinnia perlahan menoleh. Matanya dipenuhi pertanyaan. Thivi langsung meluruskan duduknya. Radit menurunkan senjatanya ke atas pangkuan dengan ekspresi yang kini serius.
Felicia yang masih memegang Solothurn perlahan menurunkan laras senjatanya.
Seolah seluruh ruangan kini berpusat pada Levan.
"Benar," lanjut Levan. "Kaivan tidak mengalami pertumbuhan fisik sebagaimana seharusnya. Hasil pemindaian biometrik kami menunjukkan bahwa struktur tulangnya hampir tidak berubah selama satu tahun terakhir. Terhenti dalam kondisi yang... mencurigakan."
Keheningan menelan ruangan.
Yang tersisa hanyalah dengungan sistem pendingin dan suara lembut dari layar holografik.
"Tapi itu... aneh," gumam Livia pelan.
Ia berdiri di samping rak senjata sambil memeluk erat senapan CheyTac miliknya seperti boneka kesayangan.
"Usia tujuh belas tahun seharusnya masih masa pertumbuhan, bukan?"
