Setiap tetes darah yang mengalir dari pelipisnya melayang perlahan di udara, seolah waktu itu sendiri melambat.
Mata yang masih tersisa bergetar saat menatap langit kematian yang berputar tanpa henti.
"Lari...?" pikirnya lemah. "Haruskah aku... lari? Lengan kiriku... sudah tidak bisa digerakkan lagi. Kaki kananku mati rasa. Mata kiriku... sudah gelap. Kalau aku lari sekarang... aku akan kehilangan Lyra... aku akan gagal... lagi..."
Kenangan masa lalunya, tentang ketakutan dan kegagalan, melintas seperti kilat yang membelah kabut.
Ia terengah. Napasnya membeku di udara. Jantungnya berdentum seperti genderang perang yang dipukul tanpa irama, menyakitkan dan tak menentu.
"Tidak... tidak... aku tidak bisa hanya diam! Aku harus bertahan! Aku harus bertarung! Aku... AKU HARUS BERTARUNG!!"
Tiba-tiba, dari langit yang menggelap di kejauhan, sebuah rudal kecil membelah kabut salju. Namun tidak ada ledakan yang mengikuti. Sebaliknya, sebuah benda berputar melesat keluar, memantulkan kilatan petir yang menyambar. Benda itu adalah sebuah cincin logam tebal, selebar lengan manusia, melaju lurus ke arah Kaivan.
Mata yang masih tersisa membelalak. Secercah harapan samar muncul di dalam pikirannya yang setengah sadar. Didorong oleh naluri dan keputusasaan, ia mengulurkan tangannya yang gemetar, terjebak di antara kesadaran dan kegilaan. Jari-jarinya meraih ke depan... lalu...
"Klik."
Dunia terdiam selama sepersekian detik, tepat sebelum badai yang sesungguhnya dimulai.
Puluhan jarum mikro menembus pergelangan tangannya, menusuk kulit, merobek otot, lalu menyusup jauh ke dalam tulang.
"CHHK! CHHK! CHHK! CHHK!!"
Rasa sakit itu melampaui logika manusia. Gelombang senyawa kimia, stimulan sintetis, adrenalin murni, dan penekan rasa sakit militer generasi terbaru mengalir deras ke dalam aliran darahnya. Darahnya mendidih. Penglihatannya terasa terbakar.
"HAAAAHHHH!!!!"
Raungan Kaivan merobek kabut dan mengguncang pegunungan. Salju meledak ke udara. Tanah bergetar hebat. Kulitnya menggelap, sementara urat-urat di tubuhnya muncul seperti sungai merah bercahaya. Tubuhnya kejang hebat, memanas seperti mesin perang yang baru dihidupkan.
Ia menghantam tanah yang membeku sambil mengerang dan menggeram. Gumpalan darah membeku di sekitar bibirnya. Namun tangannya tetap mencengkeram salju, menekan permukaan es ke kakinya yang hancur untuk menghentikan pendarahan. Lengan satunya yang telah terputus ia tekan ke salju juga, seolah masih berharap pada sebuah keajaiban.
Di seberang medan perang yang telah hancur luluh, sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggilnya.
"KAIVAN!!!"
Itu adalah Lyra.
Ia tak lagi mampu melihat dengan jelas, tetapi sensor Lyra masih bisa menangkap bentuk tubuh dan suaranya. Lyra terbaring dalam keadaan hancur. Dada dan bahunya masih berfungsi, namun bagian bawah tubuhnya telah musnah. Kabel dan pipa mencuat dari pinggangnya, sementara Ya'juj dan Ma'juj mengelilinginya seperti iblis-iblis logam.
"KAIVAN! TOLONG! JANGAN... MATI!!"
Mata hijau Lyra berkedip tidak stabil, tanda bahwa inti sistemnya mengalami kerusakan parah. Di balik lensa dingin itu kini ada rasa sakit. Ada kehilangan yang tak mampu diterjemahkan oleh algoritma mana pun. Ia menangis tanpa air mata.
Kaivan tidak menjawab. Sebaliknya, tanpa sadar ia mulai berbisik.
"Kami... yang bangkit dari kehancuran. Kami adalah artefak dunia yang mencuri seluruh pengetahuan kekuasaan dari setiap relik. Kami menertawakan kebijaksanaan, namun gemetar menghadapi hari esok.
Aku akan menjadi Omniruler, penguasa seluruh pengetahuan di dunia ini. Aku akan menenggelamkan kalian ke dalam makam yang sempurna."
Ia menarik napas dalam-dalam. Paru-parunya yang robek menjerit kesakitan, namun tubuhnya tak lagi mengenali batas rasa sakit. Hanya satu kaki yang masih utuh. Posturnya bengkok dan rusak, seperti sosok iblis yang lahir dari peperangan.
Namun auranya... telah berubah.
Ia bukan lagi Kaivan, anak laki-laki yang canggung dan penakut. Sosok yang berdiri di antara salju dan kobaran api itu kini adalah perwujudan tekad itu sendiri, lahir dari kehancuran dan kemauan yang tak dapat dipatahkan.
Ya'juj dan Ma'juj yang mengelilingi Lyra perlahan menoleh. Naluri mereka merasakan ancaman yang lebih besar. Dengan geraman logam yang berat, mereka bergerak bersamaan. Bukan karena haus darah, melainkan karena rasa takut.
Kaivan mengangkat tangan kanannya. Gelang besar di pergelangan tangannya memancarkan cahaya ungu kebiruan yang berdenyut seperti jantung buatan. Sebuah suara mekanis bergema.
"CHHT!"
Puluhan bola kecil seukuran kelereng muncul dan melayang sempurna mengelilingi tubuhnya.
"Kalian... akan dihapus."
Itu bukan teriakan.
Itu adalah vonis.
Pada detik berikutnya, bola-bola itu melesat ke depan seperti anak panah yang keluar dari neraka. Suaranya bukan ledakan, melainkan siulan tajam, seperti jeritan roh-roh yang baru saja dibebaskan.
"BOOM! BOOM! BOOM!"
