Dari kabut dan kobaran api yang seolah tak berujung, muncul beberapa Ya'juj dan Ma'juj. Makhluk-makhluk primitif dengan kulit kasar, tubuh yang dibalut lapisan otot tebal dan darah yang membeku. Namun kini mereka berbeda. Mereka bukan lagi sekadar monster buas. Mereka telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Tubuh mereka di paksa menyatu dengan pecahan tank yang brutal. Pelat baja dari kendaraan militer tertanam di dada dan punggung mereka, diikat menggunakan tulang manusia serta kawat berduri hingga menjadikan mereka benteng hidup yang berjalan. Di tangan mereka, laras meriam yang hancur berubah menjadi gada raksasa, sementara bilah baling-baling helikopter yang patah diasah menjadi pedang besar yang mematikan.
Setiap langkah mereka mengguncang tanah. Dari tenggorokan mereka keluar raungan yang bukan berasal dari makhluk hidup, melainkan kemarahan murni dari dunia kuno yang terlupakan.
"Mereka memperkuat diri mereka sendiri!" seru Lyra ketika sensor termalnya mendeteksi perubahan drastis. Suhu tubuh para makhluk itu turun tajam, seolah tubuh mereka sedang beradaptasi agar dapat bertahan lebih lama dalam kondisi medan perang yang ekstrem.
Angin kencang meraung, mengangkat abu dan pecahan pelat baja ke langit. Di atas mereka, awan berubah menjadi merah pekat seperti darah yang membeku, seakan memantulkan amarah dunia yang sudah tak bisa diselamatkan. Di kejauhan, suara siulan tajam membelah badai. Sebuah roket kecil meluncur dari fasilitas laboratorium, menembus kabut salju yang tebal.
Lyra mendongak dan menyadarinya.
"Kaivan, tolong pergi! Aku..."
Kata-katanya terputus oleh jeritan dari sistemnya sendiri.
Tanah di bawahnya meledak.
Salah satu Ya'juj dan Ma'juj menerobos keluar dari tanah yang membeku, lalu menggigit kaki mekanis Lyra dengan kekuatan yang mustahil. Giginya mengebor logam seperti mesin industri, menghancurkan bahkan titanium yang telah diperkeras.
"KRRRAAAKKK!!"
"Ahh!"
Lyra kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tubuh logamnya menghantam tanah, menghancurkan lapisan salju yang tebal. Dalam sekejap, monster-monster lain mengerubunginya seperti kawanan serigala yang menerkam rusa yang telah tumbang. Mereka mencabik bagian pinggangnya, merobek kabel-kabelnya, dan menghancurkan perisai energinya. Percikan listrik liar meledak di segala arah, cahaya biru menari di antara cakar dan taring.
"LYRA!" teriak Kaivan sekuat tenaga, namun suaranya tenggelam oleh gemuruh pertempuran dan alarm melengking dari sistem Lyra yang rusak.
Dengan kujang berantainya yang masih meneteskan darah, Kaivan menerjang ke depan. Ia melompat ke atas salah satu monster dan menusukkan senjatanya ke celah di leher makhluk itu.
TING!
Bilahnya terpental.
Retak.
Terbelah.
Lalu hancur menjadi serpihan baja.
Zirah yang memperkuat tubuh Ya'juj dan Ma'juj itu terlalu kuat untuk ditembus.
"Sialan!"
Kaivan berusaha mundur.
Namun ia terlambat satu detik.
Monster lain menerjang dari sisi kirinya dan menggigit kaki kanannya. Suara tulang yang patah dan logam yang remuk bergema bersamaan.
"AAAAARRRGHH!!!"
Kaivan menjerit. Darah segar menyembur dari pahanya. Belum sempat ia bereaksi, makhluk lain menyerang dari belakang dan menghunjamkan tombak raksasa ke lengan kirinya.
Tombak itu menembus lurus.
Lengannya terputus seketika.
"ARRHH...!!"
Bahkan sebelum ia sempat menarik napas, sebuah tangan raksasa mencengkeram kepalanya. Cakar-cakar tajam seperti belati menusuk mata kirinya.
Rasa sakitnya melampaui batas yang bisa dibayangkan.
Dalam sekejap, dunianya runtuh.
Makhluk itu mengangkat tubuhnya lalu melemparkannya ke udara.
Tubuh Kaivan berputar tanpa kendali. Dunia di sekelilingnya terpelintir hebat. Darahnya meninggalkan garis-garis merah di langit. Angin beku membungkus tubuhnya yang hancur. Satu-satunya suara yang masih bisa ia dengar hanyalah dentuman jantungnya sendiri.
Perlahan, penglihatannya mulai memudar.
Namun dari sudut mata yang masih tersisa, ia melihat Lyra. Masih hidup, meski tubuhnya nyaris hancur sepenuhnya. robot itu mengulurkan tangan ke arahnya dengan lengan yang hampir tercabik lepas.
"...Kaivan... jangan mati..."
Salju turun semakin deras, seperti lembaran putih tanpa akhir yang menutupi dunia dalam pelukan kehampaan. Di atas Pegunungan Kaukasus, langit menyala merah, terbelah oleh kilatan petir dingin yang menari di antara awan kelabu. Udara membeku hingga ke tulang, membawa aroma darah, logam hangus, dan amarah yang belum terselesaikan.
Di tengah badai kehancuran itu, tubuh Kaivan melayang di udara. Tak lebih dari daging yang robek dan logam yang patah, terlempar seperti boneka rusak oleh kekuatan Ya'juj dan Ma'juj.
Pikirannya mendidih. Bukan karena panas, melainkan karena konflik yang berkecamuk di dalam dirinya.
