Cherreads

Chapter 8 - bukan cinta biasa

Terekam memori yang dilalui bersama dan serasa cepat berlalu ramadhan kali ini diawali februari, dulu Desember sering mengadakan puasa di kampung

10 bulan jarak waktu begitu singkat ya, untuk ramadhan

Novi :" Kamu kapan kerumah? "

Li :" Kapan ya? "

Mama:" Tergantung mama aja "

Trus di medan ada seorang lelaki yaang menunggu kedatangan šŸ›¬ pesawat landing depan rumah

Ada sebuah kitab didalam bagasi, entah siapa yang mengambil mereka sangat antisipasi memberi itu kitab ke ayu

Ayu sangat cantik dan sangat sayang bang ronald

"Ya Rabbi, saya bosan dengan hidup ini. Ataukah saya harus pergi dengan cara saya sendiri?" tanya batin ,dengan tatapan kosong menatap langit mendung.

"Mamah!" Suara itu mengagetkan saya, senyum ceria itu terpancar dari wajah Dilla. Namun, hati saya seperti diiris tipis Sayang, ini uang jajan buat Dilla sekolah."

Anak kecil itu tersenyum, seolah-olah memberikan kekuatan pada wanita yang telah melahirkannya. Setelah Dilla berangkat sekolah, saya langsung mencuci pakaian yang sudah menumpuk itu. Saya berusaha melupakan kejadian yang tak mengenakkan hati itu.

***

Sebulan telah berlalu dari kejadian itu, hati saya semakin terasa dingin. Tubuhnya semakin hari semakin kurus. Ia merasa tidak enak badan. Kepala yang sangat pusing dah perut yang selalu mual. Semua itu tanda-tanda penyakit maag kronisnya yang sering kambuh.

Sore harinya saya meminta Rama untuk mengantarnya berobat ke Ibu Bidan, Dilla pun ingin ikut dengannya. Ibu Bidan pun bertanya tentang apa saja keluhannya. Saya langsung menjelaskan secara rinci tentang gejala yang ia rasakan. Ibu Bidan pun akhirnya memeriksa saya, kemudian Ibu Bidan tersenyum.

"Selamat ya, Teh saya sekarang hamil," ucap Ibu Bidan.

"Ini sudah memasuki minggu kesepuluh, apa Teh saya enggak merasakan apapun?"

Rama melirik saya sekilas dari arah luar.

"Ya Allah... Engkau percayakan lagi seorang malaikat kecil bersemayam di rahim hamba, sedangkan hamba sendiri ragu pada diri ini. Apa yang harus hamba lakukan dengan keadaan ini Ya Allah? Berilah hamba kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian yang Engkau berikan." Doa saya dalam hati.

Saat pulang, Rama langsung pergi kerja dengan wajah kecut.

"Mamah, Dilla mau punya adik bayi?" tanya anak sulungnya itu.

Ana hanya mengangguk tersenyum getir.

"Yeeeeaaaay, Dilla mau punya adik!" teriak Dilla

"Anaaa! Ini tolong masakin," ucap Ibu mertuanya.

"Bu, maaf banget, tapi hari ini saya enggak bis---"

"Halah pemalas kamu! Rama udah capek kerja, kamu di rumah malah malas-malasan! Lihat tuh, menantu tetangga kerja menjahit! Kamu juga berlajar menjahit sana!"

Akhirnya saya mengalah, ia mengambil tahu juga tempe yang harus ia masak. Padahal ia ingin beristirahat, badannya bener-bener terasa lelah. Apalagi setelah tahu bahwa ia tengah mengandung calon anak keduanya.

"Ana, barusan Ibu dengar Dilla... benar kamu lagi hamil?" tanya mertuanya itu dengan wajah yang sulit diartikan.

"Iya, Bu." Wajah saya menunduk.

"Kamu ini, malah nambah-nambahin beban Rama. Rumah juga udah buruk begini malah nambah anak! Sudah Ibu bilang, jangan hamil dulu saya! Kamu ngurus anak satu aja enggak bisa!"

Hati saya berdenyut nyeri, mertuanya itu bukannya bersyukur mendengar kabar itu tapi malah sebaliknya. Seolah-olah menyalahkan saya atas kehadiran bulatan kecil dalam rahimnya.

"Mamah, kok, Nenek marah-marah sama Mamah?" tanya Dilla seraya memeluk tubuh kurus saya.

Saya tersenyum getir mendengarnya.

"Sayang, Dilla... tunggu Mamah, ya? Mamah mau ngambil air, air buat kita minum sudah habis."

Saya langsung menuju dapur yang berlantaikan tanah itu, jika hujan turun, lantai tanah itu sudah pasti lecet. Tangannya mengambil dua kompan yang akan ia isi dengan air bersih. Ia sering meminta air bersih itu dari iparnya.

Bobot isi kompan itu lebih dari sepuluh kilo dengan jalan yang menajak dan lecet. Tubuh kurus itu akhrinya tak bisa seimbang sehingga membuat saya terjatuh. Kompan berisi air itu tumpah dengan perut saya mengenai bebatuan.

"Ya Allaaaaaah...."

Tubuh yang bergetar itu berusaha untuk bangun, memegangi perutnya yang terasa sakit.

"Kenapa sih kamu gak hati-hati, saya".Dengan santainya Ibu Mertuanya berbicara seperti itu. Ternyata wanita itu yang saya anggap sebagai orang terdekatnya tak mengkhawatirkan keadaannya.

Lalu, kapan luka itu akan sembuh jika terus-menerus mertuanya menggali luka di hatinya? Bahkan dulu saat melahirkan Dilla, saya mengalami baby blues. Saat itu ia benar-benar tertekan jiwa dan raganya oleh setiap ucapan yang keluar dari mertuanya itu. Kata mertua dilla

Akhirnya saya berjalan dengan terburu-buru, bukan karena rasa sakitnya menghilang. Namun, ia ingin segera sampai rumah mengistirahatkan rasa sakit yang menyerang jiwa dan raganya. Saya merebahkan tubuhnya di atas kasur lusuh itu menahan rasa sakit yang semakin lama semakin menjadi.

"Haruskah di tahun kesembilan ini aku menyerah?" Kata dilla ke budehnya Novi

More Chapters