kinroku terdiam, untuk sesaat saat semua mulai lebih hangat, justru gebrakan hangat itu membantingnya hingga ke lantai ring, baru saja dia ingin menantang masa masa mudanya, kini di tinju oleh satu pukulan telak gadis berambut hitam yang duduk di sebelahnya.
tidak maksudnya ini bukan karena gadis itu yang memegang tasnya entah dari mana, tatapanya yang terlihat mesum, atau bahkan karena gadis itu tipenya, masalahnya adalah kinroku berusia hampir 17 tahun Bahkan hanya berbicara pada wanita di keluarganya.
tatapan kinroku kosong, uap panas dari hasil kerja paksa otaknya terlihat jelas, gadis di depanya hanya diam menunggu respon hingga beberapa menit, sebelum kemudian dia sedikit kesal dan menarik tangan kinroku, dan mengaitkan tasnya dengan kasar.
"..."
"..."
"baiklah aku lanjutkan..." mata theodor nampak sedikit menyipit melihat gadis itu dan kinroku.
"ganti baju kalian dengan baju olahraga, sebentar lagi kita cek petensi"
Kelas tersentak dengan ucapan theodor, masa masa orientasi akademi yang mereka impikan sirna dengan uji praktek di hari pertama, bisikan bisikan goib yang mempertanyakan keseriusan theodor nampak berseliwiran, namun hanya ada satu orang yang berani berdiri.
"permisi pak..."
"ya, kalau tak salah kau." theodor mengintip absensi dan nomor peserta.
"hajaime."
"hakari ken pak..."
"oh benar, ada apa hakari perutmu sakit."
"tidak pak, kenapa langsung praktek, bukankah dalam brosur sekolah tak ada ujian praktek."
"ah ini bukan matpel, ini kemauanku saja."
"apa apaan itu, memangnya bisa begitu."
Ken terdiam melihat theodor yang menunjukan tanda pengenalnya, tertulis disana wakil kepala sekolah grandmagic, theodor terseyum tipis, sebelum kemudian membereskan bukunya dan berjalan keluar.
"5 menit atau ku pulangkan kalian."
Pintu tertutup bersama dengan wajah heran para siswa, setidaknya tak semua orang disana merasa terkejut, yang paling memprihatinkan, dia bahkan tak tahu apa yang baru saja terjadi.
Satu per satu siswa pergi ke ruang ganti, kinrroku yang baru saja tersadar kemudian mencoba menyusul, tadinya ingin begitu sengatan listrik atau sesuatu yang terasa seperti pegal dan keram bersatu, sebuah penyakit yang jarang terjadi padanya, kecuali dia diam cukup lama, namanya kesemutan.
Kinroku berlutut, tubuhnya bergetar dia terus memegang kakinya yang kesemutan dengan ekspresi yang di lebih lebihkan, dia berusaha berdiri, namun malah secara tak sengaja menendang meja di sebelahnya.
"...onamin, sosis keny-."
Seorang siswa berambut kuning kehitaman, membuka pintu kelas, wajahnya polos dengan motif khas siswa bego menatap lurus ke arah kinroku yang sedang bergetar hebat kesakitan.
Lampu prasangka menyala, pria itu mendekai kinroku dan menepuk pundaknya dengan ramah dan sedikit tertawa.
"tenang kawan... ada saatnya kita harus hidup mandiri dan terpisah dari orang tua, usap air matamu dan busungkan dada." dia bicara seolah mengerti beban itu, padahal yang dia pikirkan hanyalah bebas dari kakaknya.
Kinroku tak menoleh, beberapa saat kemudian dengan suara bergetar kinroku menengok ke arah pria itu, dengan wajah memelas dan air mata yang hampir tumpah berusaha mengatakan sesuatu.
"kakiku kesemutan..."
"apa ternyata kesemutan ku kira kau menangis sendiri di kelas."
"aku baru tahu listrik bisa meredakan kesemutan."
"aku juga."
"...lalu kenapa kau menyetrumku."
"oh iyu, maaf maaf, sihirku bocor." pria polos itu tertawa keras sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
Heran, kata tepat untuk mendeskripsikan wajah kinroku, dia menghelan nafas seperti ya sudahlah, dia sudah cukup shock hari ini, dan merasa lelah sebelum tes benar benar datang.
"oh namaku kokonei, hayae kokonei, namamu?"
"kikai kinroku, sen-"
"kinro, ahaha nama bagus, apa itu emas, apa kau orang kaya?"
"tidak, aku orang biasa."
"benarkah."
Dia masih canggung, namun seidikit lebih santai sebelum kemudian mereka sampai di ruang ganti.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN.
"Lightning magic, electric bolt."
Rentetan muatan positif berkumpul, berputar di satu titip layaknta benang yang di gulung, bola itu membesar seukuran bola sepak dengan kilatan kuning menyambar tanah, kokonei menjentikan jarinya, sebelum kemudian bola itu melesat lurus ke arah rompi anti sihir.
*blup*
Suaranya mirip batu yang tengelam ke sungai, sihir kokonei larut setelah menyentuh rompi itu menyisakan wajahnya yang heran dengan apa yang baru saja terjadi, di belakang kokonei nampak theodor yang mencatat beberapa hal, dengan acuh.
"8 dari 100, selanjutnya."
"pak bukanya terlalu sulit menggunakan rompi anti sihir."
"memangnya kenapa."
"bukanya pakai manekin kayu atau besi ya?"
"iya kalau kelas lain."
"LALU KENAPA KITA TIDAK."
Nada ken sedikit naik, namun theodor hanya acuh dan malah mengorek kupingnya.
"hakari kau cerewet ya."
"itu salah bapak memanfaatkan jabatan anda."
"ya terserah aku... ah, selanjutnya giliranmu."
"tapi abs-"
"kau ingin ku beri nol atau tes sekarang."
"..."
Terdengar suara tech dari ken, dia dengan alis yang menyipit kemudian berjalan maju, menyekat kacamatanya, dan kemudian menunjuk ke arah rompi anti sihir itu, mulutnya penuh dengan mantra, sebelum kemudian dia menjentikan jari.
"Sword magic, slash."
Satu pedang panjang muncul di depan ken, kilaunya memantulkan sinar matahari, sebelum kemudian pedang itu melesat lurus ke arah rompi itu, menusuk tepat di dadanya dengan kecepatan tinggi.
"30 dari 200, selanjutnya.
"bukankah kkmnya 100."
"...selanjutnya."
Tahun ini menarik, selain si pedang disini juga ada si anomali itu, terlebih beberapa nampaknya memiliki potensi yang menjanjikan, yah ini juga merepotkan, terlebih gadis itu...
"kikai kinroku." theodor memikirkan beberapa hal, kembali fokus dia kemudian menatap lurus ke arah kinroku mengharapkan sesuatu yang lebih menarik, namun kemudian wajahnya berubah heran.
Di ujung lapangan nampak kinroku yang ingin berlari namun kemudian terdiam membeku.
"haha ingin kabur dari pelatihanku, coba lebih baik." wajah tehdoro yang kusam terseyum ceria melihat kinroku di kelilingi api.
"ampun, toilet."
"tahan saja."
"tapi."
"apa kau ingin ku bumbui."
"..."
"nah bagus, sekarang cepatlah mulutku sudah masam."
Kobaran api itu sedikit menyusut namun tak padam, kinroku dengan wajah yang pucat hanya bisa mengehelan nafas, dan tak berani melawan.
Bagaimana ini... jika terus seperti ini mereka akan tahu sihir ku... tapi jika tidak di keluarkan bisa hangus aku... sudahlah masa bodo dengan apa yang terjadi, aku tak mau gosong... tapi bag-
"nol poin."
"belum pak."
"kalau begitu cepat."
Kinroku menelan ludah, dia menampar dirinya pelan sebelum kemudian membusungkan dadanya, dia mengarahkan jarinya ke arah rompi anti sihir itu, dia terlihat tak merapal mantra, namun struktur energi terlihat berukumpul di tanganya.
"Machine magic, Cannon."
Kinroku menjentikan jarinya, dari kehampaan sebuah meriam futuristik tercipta, dengan ornamen gelap keemasan, berdiri kokoh setinggi pinggang kinroku, dia kembali menjentikan jarinya tanda pengumpulan energi dari meriamnya.
Sebuah suara nyaring seperti dentuman altereri terdengar, meriam itu memuntahkan bola energi kuat berwarna emas mengarah lurus ke arah rompi anti sihir, lintasan energi itu terkikis dan hangus, rompi itu hancur berkeping keping menjadi robekan robekan kecil.
Hembusan angin menyapu debu hasil kerusakan, dan terlihat dari kejauhan tihan sepak bola yang berada di belakang lintasan serangan itu hancur, lurus terus hingga menghilang begitu saja.
Ekspresi beberapa orang nampak tercengang, dampak dari serangan ringan kinroku terasa seperti mortir dari tank sihir, dan pelaku dari serangan itu hanya terdiam. Sebelum kemudian berlutut dengan wajah pucat.
Tamat sudah... mereka kini tahu... sihirku, ya inilah sihirku, mesin... tapi di dunia sihir...
