Cherreads

Chapter 5 - jubah ekskulif, dan mantra bawaan.

 Sinar lembut mentari masuk dari celah gorden kamarnya, kasurnya sedikit berantakan selimutnya sudah ada di bawah lantainya, kaos nya sedikit terangkat memperlihatkan perut terlatihnya, kinroku sudah bangun, namun dia masih berniat bermimpi.

 Ah... ini bukan mimpi air matanya hampir tumpah, kinroku berbalik memeluk bantal.kenapa kenapa, kenapa, ini bukan mimpi, padahal aku sudah mencubit pipiku, tapi terasa sakit, akhhhhh...aku ingin bangun dari mimpi ini, siapapun bangunkan aku.

 "kinroku kau ingin masuk?"

"juryo aku absen saja."

 "apa kau sakit, haruskah aku panggil bu dokter."

"tidak perlu aku hanya pusing..." wajah kinroku nampak berkeringat dingin, kinroku mencoba bolos di hari keduanya.

 Juryo menatap kinroku dengan khawatir, sebelum kemudian dia mengenakan sepatunya dan berjalan keluar, kinroku sedikit mengintip dan kembali bersembunyi di balik bantalnya, tepat sebelum juryo ingin keluar dari kamar.

 "begitu ya sayang sekali, padahal hari ini kita di beri jubah sihir."

 *gedebruk *

 Suara jatuh yang keras terdengar dari belakang juryo, dia berbalik sebentar terlihat kinroku yang jatuh, awalnya dia tak sadar, namun saat dia sadar dan berbalik untuk kedua kalinya kinroku sudah siap memakai sepatu dan seragamnya.

 "apa yang kau tunggu ayo pergi."

 

Wajah kinroku berubah ceria, dia nampak antusias dengan semua eks[presi yang sejauh ini keluar dari wajahnya, kenapa bisa begitu, sederhana, kinroku laki laki berusia 17 tahu di depan kita, cinta dengan teknologi.

Pintu kamarnya terbuka saat kinroku dan juryo hendak keluar, nampak kokonei yang ingin mengentuk pintu, mereka saling menatap, sebelum kemudian sedikit tertawa dan pergi bersama.

 "namaku hayae kokonei."

"panggil saja aku juryo."

 "ah sobat juryo, rambutmu keren."

"terima kasih sulit membilas rambut setebal ini."

 "benarkah, apa itu seperti spons."

 

 "apa apaan itu."

"hehe maaf maaf."

 

 "oh benar juga..." kokonei terlihat berhenti, membuat juryo dan kinroku berhenti, dia diam tak bicara sepatah katapun, menatap dalam ke arah kinroku dan juga juryo, sebelum kemudian dengan nada serius bertanya.

 

 "katanya perempuan lebih sering memakai tank top sebagai dalaman dari pada bra."

Matanya memancarkan keseriusan dan juga keyakinan, namun ucapan bodohnya terdengar seperti sesuatu yang tak berguna, kinroku hanya bisa diam melihat temanya dengan tatapan rumit gabungan antara terkejut, sedikit tertarik dan juga heran.

 "ha...?" nada kinroku melambat dia nampak masih mencerna apa yang kokonei bilang.

 

 "kau benar kokonei, Beberapa wanita memilih tank top sebagai pakaian dalam dibanding bra karena alasan kenyamanan, kepraktisan, dan estetika tubuh. Tank top biasanya tidak memiliki kawat atau karet yang menekan seperti bra, sehingga terasa lebih ringan, sejuk, dan bebas dipakai terutama di rumah atau di iklim panas; bagi wanita dengan ukuran dada kecil hingga sedang, tank top sering sudah cukup memberi penopang ringan tanpa rasa terikat. Selain itu, tank top membantu menghindari garis bra yang terlihat pada pakaian luar dan memberikan tampilan yang lebih natural pada bentuk tubuh. Secara historis, tank top mulai populer pada awal abad ke-20 ketika pakaian renang tanpa lengan yang digunakan di kolam renang (swimming tank) menginspirasi desain pakaian tanpa lengan yang ringan; kemudian pada pertengahan abad ke-20 hingga 1970-an, camisole dan tank top mulai dipakai sebagai pakaian dalam wanita yang praktis dan minimalis. Seiring perkembangan budaya mode modern—terutama sejak 1990-an—tank top juga menjadi bagian dari estetika kecantikan yang menekankan kesan santai, tubuh alami, dan gaya sederhana, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai lapisan dalam tetapi juga sebagai simbol gaya feminin yang kasual namun tetap menarik.

 

 Di luar dugaan juryo mengatakan hal itu dalam satu tarikan nafas, dengan satu tangan mengusap dagu dan tatapan yakin dia mengutarakan pendapatnya, membuat kinroku lebih terkejut lagi karena juryo bisa tahu sedetail itu.

Mata kokonei berbinar kagum, dia memegang tangan juryo dan nampak sangat bersemangat.

 "... tidak itu bukan apa apa hanya pengetahuan umum."

"tidak, umum dari mana." nada kinroku sedikit naik, namun mereka berdua mengabaikanya.

 

 "benar juga, omong omong kinroku kau tim bra atau tank top."

 Tatapan kinroku malu bercampurkan ragu matanya berbelok ke kiri dia memikirkan sesaat, dan memikirkan jawaban yang masuk akal tampa membuat dirinya terlihat mesum.

 "tank top..." dia mengatakanya dengan berbisik

 "hah, bra?" dahi kokonei dan juryo mengerut mereka mencondongkan tmboh mereka ke arah kinroku, dan memegang daun telinga mereka sambil bertanya kembali.

Kinroku yang tertekan mencoba memalingkan wajahnya, dia berputar karena kokonei terus mendesak kinroku, sebelum kemudian kinroku menelan ludahnya, dan mengatakanya dengan suara lantang.

 "aku lebih suka wanita dengan tank top."

Kinroku mengatakanya dengan suara yang lantang, beruntungnya lorong sekolah yang mereka adalah lorong alternatif yang sangat jarang di gunakan oleh para siswa maupun guru.

Harusnya begitu bayangan seorang gadis beraambut panjang yang terdiam terkejut di belakang kinroku, membuat kokonei dan juryo juga diam, mereka saling menatap menunggu hitung mundur.

 "..."

"apa kenapa kalian diam?"

 Kinroku merasa bingung bercampur cemas mengikuti sorot mata terkejut temanya dia berbalik, tempat kyouko dengan ekspresi jijik bercampur sampai kental dengan tatapan kosong ke arah kinroku.

Kyouko memeluk dadanya sambil berjalan pergi dengan langkah panjang, kinroku jatuh bibirnya terpelintir dan matanya kosong, dia jatuh sambil tertawa putus asa.

 

 Kukira tank top aman...

 Kukira memakai tank top akan aman.

Sedangkan kinroku jatuh dalam rasa malu, yang lainya terlihat menahan malu karena salah menyangka pakaian dalam yang dia pakai ternyata malah memicu laki laki.

 "...mungkin besok bra..."

 

 "ayolah jangan seperti itu, kan?"

"...ya, iya benar kinroku tenang saja pembicaraan laki laki yang di dengar perempuan tak akan menjadi masalah besar."

 Juryo dan kokonei mencoba menghibur kinroku yang merenung di pojok kelas, untuk beberapa saat akhirnya mereka mendengar jelas kinroku yang sedang berkomat kamit.

 Mereka mundur beberapa langkah, namun beberapa saat kemudian pintu kelas terbuka, dan nampak theodor dengan kantung mata yang semakin menghitam datang kekelas sambail mengerutu.

 "duduk."

Satu kata dan semua siswa kemudian kembali ke posisi mereka, begitu pula kinroku yang masih terhuyung di gendong oleh juryo di dudukan di kursinya, kinroku yang masih berkomat kamit, kemudian tak sadar bahwa dia sudah berda di kursinya.

Kinroku akhirnya sadar, dia melihat ke kanan dan kiri melihat kyouko yang sedang fokus mendengarkan theodor, namun kali ini nampak kyouko yang menggunakan jaket olahraga.

 ...ahh... sial di hari kedua, harusnya dari kemarin aku sadar jas ku belum ku cuci.. apa dari kemarin bauku aneh...

AKHHHH hah?, kenapa... kenapaa dii gantiii.. maaff, aku tak bermaksud bilang begitu, aku minta maaf, aku jujur aku lebih suka bra... jangan lihat aku seperti orang mesum, kumohon, siapa saja...

Kinroku semakin down, dia tatapanya kosong dan cemas, dia sedikit tertawa namun kemudian sebuah kapur melesat dengan kecepatan luar biasa, hampir mengenai kepalanya itu nyasar ke mejanya meninggalkan jejak debu putih.

 Theodor menatap tajam ke arah kinroku, membuat kinroku menjadi sadar dan akhirnya mulai mendengarkan theodor, theodor hanya menghelan nafas kecil sebelum kemudian melanjutkan.

 "jadi jika nanti ada yang tak muat atau kebesaran harap langsung beri tahu aku agar bisa langsung di tukar, oh dan ingat ini bukan barang murah jadi jangan semabarangan merusak atau menghilangkanya."

Theodor menepuk sampul bukunya, dan seketika 31 jubah sihir yang di gantungkan pada meja samping siswa muncul, jubah halus dan nampak hangat dengan warna hitam dan ornamen emas dan perak yang terlihat mewah.

Kinroku memperhatikan jubahnya, dia merasa takjub sekaligus tertarik dengan jubah itu, melihat dari ujung atas sampai bawah, ornamen keemasan dan logo akademi di sisi kiri bagian dadanya.

 tanpa sadar dia memperhatikanya terlalu lama, semua siswa telah memakai jubah itu, kinroku kemudian memakai jubah itu dengan terburu buru sampai tudung jas itu terbalik masuk kedalam.

 "...."

 Theodor meunggu sampai semua benar benar selesai memakai jubah mereka, dia kemudian berjalan ke arah jendela, membukanya dan merasakan aangin sepoi pagi, menghirup beberapa kali udara segar, dan terseyum ramah.

 "praktikum ke ginasium sekarang."

 Bukanya kemarin praktik?...

Singkronis pikiran mereka terjadi lagi kali ini ken tidak berdiri, dia hanya menatap kesal ke arah theodor yang terseyum sok ramah, mereka kemudian pergi ke ginasium.

 "hei lihat mereka keluar lagi."

"nampaknya dihukum?"

 "ahaha ini sudah berkali kali, memangnya seburuk apa kelas 1a?

"yang terburuk?"

beberapa siswa dari kelas sebelah berbisik, namun kata kata itu jelas terdengar oleh kelas 1A, mereka hanya menghelan nafas mencoba agar wajah mereka tak benar benar terlihat, layaknya kumpulan napi yang berjajar menuju penjara.

Sebuah patung angsa yang tak terlalu besar nampak baru saja dipindahkan oleh staf sekolah, theodor kemudian duduk dikursi dan mulai mengeluarkan kertas, dia nampak memperhatikan dan melingkari beberapa nama dan melanjutkan.

 "baiklah sesuai absen yah."

"..." mereka terdiam bingung mata mereka saling melihat, mencoba mengingat apakah theodor sudah mengatakan hal apa yang harus mereka praktikan, theodor juga sama sama heran karena muridnya masih diam.

 "ah benar juga aku lupa menjelaskan..."

 Theodor kemudian berdiri dari kursinya, dia menyentuh bola kristal di dada patung angsa itu, dan seketika sebuah cahaya berwarna merah menyala dari mata patung tersebut, dan 3 lingkaran yang terbuat dari struktur sihir berputar mengelilingi area kecil diantara dia dan dan patung angsanya.

 "ini alat untuk mengetahui apakah kalian meiliki sihir bawaan sekaligus volume sihir kalian.. tempelkan dan alirkan energi sihir kalian secara natural."

 Theodor mengatakan itu sambil membalikan badan dan kembali duduk, dia kemudian kembali membuka bukunya dan menyiapkan bulpoinya.

 

 "sejauh ini baru, hakari ken, hayae kokonei, dan... siapa namamu tadi kribo."

"juryo saja pak."

 "yah kau, siapa lagi... oh benar selanjutnya... kikai kinroku."

 

 Kinroku kemudian maju beberapa langkah, dia melihat ke arah patung ansa itu dengan takjub, bagaimana cara alat ini bekerja terus berputar di kepalanya, dia kemudian melihat ke arah theodor, theodor terseyum tipis membuat kinroku menjadi ketakutan dan bergegas.

 "aku mulai pak."

"ya."

 Semua mata tertuju ke punggungnya, kinroku mulai menyentuh kristal di dada angsa itu, dia merasakan sedikit aliran sihirnya di serap oleh patung itu, secara bersamaan dia sedikit mengerti tentang struktur alat sihir itu, padahal ini baru pertama kalinya dia melihat ini.

Sebuah cahaya gelap memancar dari mata angsa itu, di barengi oleh kilatan kilatan emas, gempa kecil terjadi di ruangan itu, menguncang beberapa benda sehingga beberapa siswa menjadi panik.

Kinroku yang juga ikut panik kemudian mencoba menarik tanganya,namun rasanya seperti tanganya di sedot oleh vakum misterius berbentuk batu, kilatan keemasan dan cahaya gelap itu kemudian memadat.

3 cincin lingkaran sihir memutari kinroku dan juga patung itu, warnanya emas cerah yang menyilaukan mata, dan dari cahaya gelap di mata angsa itu, muncul siluet struktur sihir mesin kinroku.

Bentuknya seperti tumpukan gir besar yang bergerak layaknya mesin uap yang menghasilkan energi, kinroku merasa sedikit takjub dengan sihirnya sendiri, sedangkan theodor dengan santai mencatat.

 "oke selanjutnya."

"pak tanganku... di sedot pak."

 'tarik saja."

 "benar benar susah pak."

 Kinroku mencoba menarik tanganya dengan kuat, dia menariknya layaknya menarik tali tambang, namun yang ada hanya bahunya yang terasa sakit, theodor kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat.

Untuk sesaat theodor membaca tulisan rune di cincing sihir milik kinroku, kemudian berjalan begitu saja menembus lingkaran sihir itu seperti gorden kamar mandi, dia mencenngkram tangan kinroku dan menariknya semudah menarrik tali kusut di rambut.

 "..."

"..."

 Mereka diam kinroku menatap tanganya dengan heran, sedangkan theodor menatapnya dengan sedikit kesal, theodor kemudian menendang kinroku ke kelompoknya.

Kinroku nampak mendarat di atas kokonei, kepalanya rasanya membentur lantai dengan kuat, dia hanya mengusap kepalanya mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

 "beberapa orang yang memiiki sihir bawaan akan memunculkan bayangan dari sihir mereka, tergantung seberapa kuat dan besarnya potensinya, maka dari itu aku meminta kalian serius, jangan alirkan selain energi murni kalian atau mesin ini akan rusak."

 Theodor menjelaskan dengan santai sambil duduk kembali di kursinya, dia melihat daftar nama, dan kemudian memanggil satu nama yang membuat kinroku sedikit tertarik.

 "tanjou kyouko."

Kyouko yang tengah mengobrol dengan teman temanya sedikit tersentak kaget, dia melihat sebentar, sebelum kemudiaan berdiri dari duduknya, dia melambaikan tangan ke temanya, dan berjalan mendekati patung ansa.

Kyouko kemudian mengarahkan tanganya ke kristal di dada angsa itu, membiarkan aliran energinya mengalir begitu saja, tak ada yang terjadi, hanya polos cahaya putih yang menyilaukan, dan satu lingkaran sihir berwarna merah.

Kyouko puas kemudian segera kembali ke kelompoknya, namun apa benar begitu?

Theodor menepuk kepala kyouko pelan dengan buku absensi, kyouko kemudian melihat kebelakang mencoba memastikan apa yang dia buat sampai theodor mengetuk rambut halusnya.

 "..."

"jangan kira aku tak tahu, lakukan dengan benar atau ku coret nilaimu."

"...ehh.." tatapan kyouko nampak sedikit kesal namun pasrah, dengan nada datarnya.

 Dia kemudian kembali ke patung angsa itu, namun kali ini theodor tepat di belakangnya, memperhatikan setiap gerak gerik kyouko, memastikan dia tak melakukan apapaun yang menyangkut rekayasa nilai.

 Kyouko hanya menghelan nafas pendek, dia membuat tubuhnya santai, dia menempelkan ujung jarinya ke patung ansa itu, membuat sedikit aliran sihirnya mengalir ke dalam batu sihir di dada angsa itu.

 Sebuah lonjakan aura yang tak mengenakan nampak terpancar dari angsa itu, saat para siswa sadar kabut gelap sudah mengenang sampai lutut mereka, mereka kemudian berdiri bertanya tanya datang dari mana kabut tersebut.

Sebuah konstruksi sihir keluar dari dada angsa itu dengan kasar, mengukir udara menjadi tiga cincin sihir yang mengelilingi kyouko dan patung angsa itu, warnanya gelap, sangat gelap terlihat menyerap cahaya tampa memantulkanya lagi.

Dari atas kepala angsa itu, muncul satu lingkaran berwarna putih bersih yang memancarkan cahaya lembut, namun beberapa detik kemudian di belakangnya, muncul sebuah kerangka manusia berukuran besar yang memakai jubah dan tudung putih.

 Tangan tangan kerangka muncul saling berpegangan, membentuk uroboros dengan tangan kerangka, cahaya gelap memancar dari angsa itu, sebelum kemudian suara clak terdengar, berlian di dada angsa itu telah pecah, sebelum semua bayangan sihir kyouko benar benar sempurna.

 "..."

"...oke selanjutnya."

More Chapters