Ah... kami benar benar melakukanya ///...
wajah kinroku memerah padam matanya mencari pengalih perhatian, langkahnya sedikit melambat sesat kemudian kinroku akhirnya berhenti melangkah mencoba bertanya pada kyouko.
"anu... kyouko... kamu tak keberatan, soal itu?"
"...///.... tidak."
"hah?... kenapa."
"kenapa?, lagi pula... itukan kamu, aku yakin kamu orang baik."
kyouko mengatakan hal itu sambil memalingkan wajahnya, telinganya sedikit memerah tanda malu.
Kinroku terdiam semakin terbakar, dia terduduk lemas sambil menutupi wajahnya tepat kemudian kyouko menjulurkan tanganya,
-dia sempat ragu namun kemudian meraih tangan itu dan kembali berdiri.
"jadi bagaimana?, hari pertama."
"...lancar?"
"..."
Kinroku dan kyouko sudah berhadapan dengan loli itu, utsune nampak terbang sambil melayang dengan santai memakan beberapa makaron dan melihat dokumen terbang dengan wajah cemas.
Utsune melihat ke arah mereka, dengan santai mencondongkan tubuhnya dan kemudian turun, dia terdiam dengan perbedaan tingginya dengan kedua orang itu-
-alisnya mengerut.
Jentikan jari terdengar dan utusne kemudian terbang agar bisa setara dengan mereka.
"bagus... kalau begitu kau boleh pergi."
"pergi... hah?, pergi?"
Kinroku tersentak kaget dia diminta pergi begitu saja setelah hari yang melelahkan itu !!!, utsune hanya diam dan dengan santai menambil ban osis d bahu kinroku yang bahkan dia sendiri tak sadari ada disana.
Kyouko hanya diam mengamati sambil memakan makaron yang beterbangan di tempat itu.
"tapi... maaf, ketua saya tak mengerti."
"...intinya sekarang tak ada lagi yang akan mengganggumu kan?"
"ya?."
"aku hanya memberimu perlindungan bukan keangotaan... cih, siapa juga yang ingin punya pelayan penakut."
"..."
Pelayan~, ehem maksudnya kinroku hanya menggaruk kepalanya, dia bersyukur sekaligus heran, loli itu menatapnya semakin kesal, entah kenapa namun utsune merasa tak nyaman dengan kehadiran kinroku.
"sudah, aku tak tahan pergi kau."
*clack*
Jentikan jari utsune memindahkan kinroku entah kemana, kyouko menengok ke arah utsune yang tiba tiba mengikat rambutnya kebelakang dan mengeluarkan konsol game serta televisi yang dia sembunyikan di balik meja kerjanya.
"akh... aku kalah."
"..."
"apa?"
"..."
"jadi ku tanya, kenapa cabe ada yang gendut ada yang kering, nah dia terus jawab... itu karena..."
*plok... duar*
Kinroku muncul di atas meja dia jatuh menghantamnya kuat, beruntung juryo kokonei banjou dan ken yang sedang makan dengan siggap mengangkat piring nasi dan lauk tampa mempedulikan kinroku.
"kinroku, bagaimana jika misonya tumpah, kalau jatuh lihat lihat."
"..."
Kinroku menatap heran kokonei yang masih bisa mengatakan itu, beberapa saat kemudian nampak kinroku ikut makan bersama mereka, makan dengan tenang dan hening mereka berlima entah kenapa tak berbicara apapun.
"omong omong kinroku kau gabung osis?"
"hah?, tidak..."
"oh."
Ken membuka percakapan dengan acuh nadanya tak sehangat biasaya, nampak sedikit kekecewaan di matanya, entah karena dia berharap kinroku masuk osis bersamanya, atau hal hal lain.
Kinroku yang menyadari itu sedikit tak enak dengan ken.
"kokonei kamu baik?"
"hmmm... umumm, ummm."
"habiskan dulu."
"aku bilang baik saja."
"begitu ya."
"iya~."
"memangnya kau kenapa?"
"oh aku?... aku di banting pacar kinroku."
Awalnya kinroku tak sadar dan masih asik menyumpit ikan bakarnya, sampai beberapa detik kemudian wajahnya beruah pucat, namun terlambat puluhan pedang ken sudah menodongnya.
Juryo yang sudah berdiri dengan tali, dan banjou yang memegang tanganya.
"jadi apa tadi?"
"oh benar, mari kita lihat... kinroku pacaran padahal baru 3 hari di sekolah."
"ampun..."
Kinroku bersimpu dengan tangan terikat tak berdaya dengan puluhan pedang ken sudah mengarah tepat ke kepalanya, banjaou yang sudah bersiap kemudian menyodorkan rumput laut.
Kenapa rumput laut......
"sekarang bicara."
"kyouko bukan paca-"
Dengan cepat banjou memasuan rumput laut kedalam mulut kinroku dengan kasar,
banjou nampak tak enak melakukan ini dia ,elihat ke arah ken yang nampak tegas, sebelum kemudian dengan aba aba, menarik kembali rumput laut panjang itu dengan cepat.
Kinroku terbatuk batuk dengan itu, mulutnya terasa kering akibat garam alami rumput laut itu.
"masih tak ingin mengaku."
"apa apaannn itu..."
"...salam hangat."
"...hah... aku hanya berpatroli bersamanya untuk menghindari kakak kelas yang mengincarku..."
"hmmm..."
Mereka terdiam memikirkan pembelaan kinroku.
"jadi kau di kejar lebih dari satu perempuan?"
Tampa basa basi kokonei mengatakan itu dengan nada santai dan polos.
Mata ken berubah ramah tanganya memegang pedang yang hendak mengarah ke adik kecil kinroku, kinroku nampak panik mencoba melepas ikatanya.
"tidak sebentar, ken tarik napas tenang dulu, biar aku jelaskan bukan seperti itu." kinroku mengatakanya dengan nada terburu buru.
"ho~ bagaimana?"
"it-"
"yo."
"hai~."
Kyouko kebetulan melewati mereka dan menyapa kinroku, dia refleks menjawab sapaan kyouko dengan santai, beberapa detik kemudian akhirnya dia sadar, dan wajahnya kembali pucat.
"jadi, hanya jalan jalan agar kakak kelas takut kan?"
"benar... juryo, aduh apa ada goresan di sana?"
"sebentar aku tempelkan perban."
Nampak kinroku dengan banyak sayapan ringan di sekujur tubuhnya tengah berbaring di kamarnya, juryo mengambil beberapa perban dan alokhol dan membersihakan luka kinroku.
"nah sudah."
"hati hati itu perih."
"ya."
Kinroku kembali memakai bajunya dan kemudian duduk di kursinya sambil menahan perih dari sayatan ken, juryo nampak santai dengan hal itu dia mengambil beberapa majalah dari bawah kasurnya dan membacanya dengan seksama.
"///... kau memang luar biasa."
"ini baru permulaan." mata juryo berbinar.
"juryo, bagaimana menurutmu soal kyouko?"
"gadis aduhai."
"setuju."
Tak ada keraguan di mata kinroku dia jujur soal itu, kinroku nampak mengingat kejadian di atap dan untuk sesaat wajahnya memerah padam.
"ada apa?"
"hah... tidak."
"jangan bohong kawan kau tak bisa bohongi aku."
"apa maksudmu."
Juryo menutup majalahnya dan kemudian beranjak mendekati kinroku, dia dekat dan semakin dekat sampai di depan wajah kinroku.
"apa..."
"kau."
Kinroku semakin panik.
"tertarik denganya ya?"
"hah?... oh."
"hanya oh, bagaimana apa aku benar?"
"jika aku bilang tidak ya bohong."
"hehe... seleramu bagus kawan, dia salah satu dari top marko top di akademi ini."
"...ya, dadanya memang lumayan besar..."
Kinroku meringkuk di kursi itu sambil berputar pelan dengan wajah yang sedikit memerah, juryo yang melihat ini hanya tertawa puas, sebelum kemudian dia menaiki kasur kinroku dan melihat beberapa koleksi kinroku.
Juryo kemudian duduk di kasur atas milik kinroku dan mulai melanturkan monolognya.
"tanjou kyouko, 16 tahun, tahun pertama akademi sihir, kampung halaman tak di ketahui, tanggal lahir 6 agustus, anak pertama dari 2 bersudara."
"darimana kau mendapat informasi itu."
"tentu saja mencari tahu."
"eh..."
"ah, ukuran cu-"
"stop stop, jangan lanjutkan...."
"benarkah... sayang sekali."
"memangnya berapa?"
Juryo mengangkat tanganya, dan empat jarinya, kinroku sedikit terdiam sebelum kemudian matanya sedikit bersemangat.
"wah..."
"luar biasa kan?"
"bagaimana kau tahu itu?"
"aku mendengarnya saat dia berbincang."
"eh... bukankah itu menguntit?"
"tidak tidak tidak."
"ah selain itu, kyouko dia salah satu peringkat teratas loh."
"ya aku bisa melihatnya."
Juryo mengambil buku dari lipatan perutnya dan mulai melihat biodata kyouko yang dia kumpulkan bersama gadis gadis cantik lain, sampulnya berjudul "edisi akademi", membuat kinroku sedikit mundur melihatnya.
"peringkat S."
"ha.. HAH?"
*gedebruk*
Kinroku jatuh tersungkur dari kursi yang sedang beputar dia kemudian memegangi punggungnya yang masih perih, sebelum kemudian kembali fokus kepada juryo.
"bukanya hanya sampai A?"
"tidak, sampai S kok."
"S?, apa itu artinya lebih kuat?"
"ya?, berbeda dengan A, S memiliki beberapa hal khusus katanya."
Kinroku kemudian menarik kursinya dan duduk di hadapan juryo dengan mata yang berbinar.
"tolong ceritakan lebih banyak."
"...katanya para siswa akademi yang memiliki peringkat S memiliki hak khusus."
"..."
"kamu tahu asrama khusus di sebelah asrama putri?"
"ya?... ku kira itu asrama guru atau kelas 3."
"tidak itu asrama khusus milik para siswaelit peringkat S."
"eh..."
"yang lain?, soal hak khusus itu?"
Juryo kemudian menutup bukunya, dan menyerahkan selembaran akademi sihir pada kinroku.
"coba kau baca sendiri saja, aku lelah menjelaskan."
"ini brosur biasa?"
Juryo mengalirkan energi sihirnya pada brosur itu, seketika cahaya lembut memancar darinya, cahaya itu kemudian redup beberapa detik kemudian, dan terlihat desain brosur itu yang telah berubah.
"whoah..."
"disana ada informasi peringkat jadwal temu club dan lain lain."
"terima kasih."
"sama sama."
Juryo kemudian berbalik membaca majalah kinroku dengan santai.
Kinroku nampak membaca brosur itu dengan seksama, rangkaian informasi berjejer layanya koran dengan gambar beberapa guru yang familiar baginya, beberapa detik kemudian kinroku menutup brosur itu.
"hak eksklusif beasiswa bulanan?"
"ya, beasiswa."
"..."
Kinroku terdiam dia menunduk membuat poninya secara tak sengaja menutupi matanya, aura di tempat itu mendingin, membuat juryo menengok ke arah kinroku yang sedang menaruh brosur di meja belajarnya.
Kinroku kemudian menengok ke arah juryo dengan tatapan serta senyuman yakin.
"aku... akan naik ke peringkat S."
Juryo tersentak kaget katanya tertahan, dia maju dari tempatnya tidur dan menatap kinroku dengan tatapan tak percaya.
"kawan kau gila."
"jika berhasil ku beri semua koleksiku."
Seketika juryo muncul di depan kinroku, juryo memegang tangan kinroku dan dengan haru.
"aku mendukungmu saudara."
"hhm."
"jadi apa rencanamu."
"..."
"..."
"cara ke pringkat S bagaimana?"
"entahlah."
Seketika senyuman yakin itu redup kinroku terjatuh karena keyakinan sesaat, juryo hanya mengusap punggung kinroku dan mmencoba menenangkan sahabatnya itu.
"kenapa kau tak tanya nona tanjou saja... dia-kan peringkat S?"
"ah... benar juga."
"ya."
"besok saja aku tanya."
Kinroku bangkit dan merasa punya harapan baru.
Ah tamat sudah...
"///..."
"///..."
Tatapan tak percaya para siswa kelas 1A menatap lurus ke arah kinroku, kinroku nampak berdiri canggung dengan wajah terbakar rasa malu, dia berdiri tegak di depan bangku kyouko yang sama sama malu.
"...anu..."
