"...kawan... kau terlalu blak-blakan."
Mata Juryo terbelalak melihat Kinroku yang sudah melabrak Kyouko di depan kelas. Keduanya saling berhadapan dengan canggung. Tubuh Kinroku berkeringat dingin, kakinya bergetar hebat karena gugup.
Sedangkan Kyouko juga tampak sedikit malu karena Kinroku tiba-tiba berdiri di depannya. Dari sorot matanya, Kinroku terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun masih takut untuk mengatakannya.
Semua mata mengarah pada mereka, membuat Kinroku terpaku. Beberapa siswa mulai berbisik penuh harap.
"Cinlok? (pacaran sekelas)"
"Mungkin... ah, atau mungkin dia ingin menembak Tanjou."
"Eh~ bagus dong... ah, apa kita mengganggu?"
"Anak itu kasihan sekali, terlihat malu."
Dua orang siswi membicarakannya tepat di depan Juryo. Seketika ide cemerlang terlintas di kepalanya. Juryo melihat ke sekeliling dan menemukan Kokonei yang sedang menonton Kinroku sambil makan roti dengan santai.
"Koko, aku minta bantuan."
"Hm...?"
Juryo membisikkan sesuatu yang seketika membuat Kokonei syok sampai menjatuhkan rotinya. Ia kemudian berdiri dari kursinya, mata berbinar dengan nada bersemangat.
"Benarkah?... Itu bagus, ahaha."
"Cepatlah, Kinroku tak punya waktu."
"Siap, Pak."
Kokonei pun bergegas meninggalkan Juryo yang tampak sedikit lega karena ia mengerti.
Seorang gadis berambut biru pendek yang sejak tadi memperhatikan Kinroku dari jauh tampak heran. Kokonei kemudian mendekatinya dengan santai.
"Yo, Mizu."
"Koko, itu apa?"
"Oh itu... sebenarnya temanku sedang menembak, tapi dia malu karena banyak yang menonton."
"Oh..."
"Anu, aku ingin minta bantuan, boleh, Mizu?"
"Apa?"
Kokonei mendekat dan tiba-tiba membisikkan sesuatu. Wajah Mizu langsung memerah saat wajah Kokonei terlalu dekat. Ia menahan napas, telinganya ikut memerah.
"Aku mengerti...///.."
"Terima kasih."
Mizu mendorong Kokonei menjauh sambil memegangi telinganya, lalu berjalan pergi. Kokonei hanya menggaruk kepalanya, bingung, lalu melanjutkan menyebarkan kabar itu.
"Benarkah?... Baiklah."
Satu per satu siswa keluar dari kelas yang ramai itu. Kabar tentang Kinroku yang menyatakan perasaan menyebar layaknya sumbu kembang api.
Kini semua siswa sudah berada di lorong, menyisakan Kinroku dan Kyouko sendirian. Pintu kelas ditutup oleh Juryo yang berjaga di depan.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Oh pak, ini ki—"
"Stttt..."
Juryo maju dan dengan cepat membungkam mulut ember Ken. Ia kemudian merangkul bahu Theodor, menariknya menjauh dari kelas.
"Jadi begini, Pak..."
Juryo membisikkan sesuatu pada Theodor, membuat wajahnya berubah pucat.
"..."
"///..."
"Untuk sekarang, kenapa tak duduk dan tenangkan dirimu... Kinroku."
"Hah...?"
Kinroku kemudian duduk di kursi depan Kyouko. Tak ada siapa pun di sana. Dengan wajah masih memerah, ia tampak sangat canggung, terlebih dengan suasana yang mendukung.
Kyouko sempat merasa heran karena kelas tiba-tiba sepi, namun kemudian ia menoleh ke arah Kinroku yang wajahnya masih merah.
"Hmm..."
"Hah?"
"Tidak... jangan dipikirkan. Jadi, ada apa?"
"Itu... anu... sepulang..."
"..?"
"Sepulang sekolah... apa kamu bisa meluangkan waktu di perpustakaan?"
Kinroku mengatakannya dengan segenap keberanian.
Kyouko terdiam beberapa saat, lalu tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Kukira apa."
"Hah?"
"Omong kosong, cepat masuk kalian!"
Tubuh Juryo terlempar masuk ke dalam kelas, membuat Kinroku dan Kyouko sedikit terkejut. Dari pintu tampak Theodor dengan wajah kesal berteriak dengan kasar.
"Apa ini, drama di kelasku? Mau kuhajar kalian?"
"A... hah?"
"Huh, cepat ke kursi kalian, atau kubakar sekalian."
Dalam sekejap semua siswa kembali masuk dengan terburu-buru. Suasana kelas menjadi sedikit canggung.
terlebih dengan beberapa tatapan yang ter arah ke pada kinroku.
"Kalau begitu, ayo?"
"Hah?"
"...bukankah kau ingin berbicara?"
Kinroku terkejut karena bel baru saja berbunyi, tapi Kyouko sudah langsung mengajaknya.
Ia terpaku, sementara Kyouko tampak sedikit kesal, lalu menarik tangan Kinroku dan membawanya keluar kelas.
Mereka berjalan bergandengan tangan.
"Anu... Kyouko, aku bisa jalan sendiri..."
"..."
"Kyouko?"
"Aku lupa."
Kyouko pun melepaskan genggamannya dan berjalan di depan.
Angin berhembus dari jendela perpustakaan, menyapu rambut hitam panjang Kyouko. Tatapannya terkunci pada Kinroku. Mata merahnya memantulkan sosok Kinroku dengan jelas.
"Jadi ada apa?"
"Itu..."
"Peringkat S?"
"Iya."
"Mudah."
Kyouko membaca pikiranku?
"..."
"Kyouko... kamu membaca pikiranku, kan..."
Kyouko membuang wajahnya dengan acuh seolah tak mendengar suara hati kinroku, membuat kinroku sedikit merasa tak enak dan heran, rasa canggung kembali merambat di punggung kinroku.
"jadi?... itu saja kan?"
"maaf..."
"kenapa kau minta maaf?"
"tidak... maksudku, bisa saja ada rumor tak enak tentangmu jika kita berjalan atau mengobrol.."
"hmm~"
"...?"
Angin berhembus dari jendela perpustakaan, menyebar rambut hitam panjang kyouko yang nampak mengunci tatapanya ke arah kinroku, mata dalam berwarna merah yang cerah, pantulan kinroku jelas bisa dia lihat dari mata kyouko.
Tangan kyouko menahan dagunya, dia nampak dengan santai menguap dan mengeluarkan buku catatanya.
"apa kamu tahu cara ke peringkat S?"
"tidak..."
"gampang kok tak serumit menantang atau apalah."
"apakah itu semacam ujian?"
"hampir benar, kamu hanya perlu mengalahkan salah satu mentor dan mendapat rekomenasi."
"begitu ya guru." kinroku secara tak sadar mengataknya dengan sadar.
"iya sederhana kan."
"haha... haa...."
-nadanya berubah pesimis.
Wajahnya berubah pucat senyuman penuh keyakinan yang kemarin terukir jelas, kini sirna di gantikan tatapan putus asa.
"aku berubah pikiran, tidak jadi saj.."
"kupikir kau bisa."
"..."
Kyouko nampak mamainkan rambut kinroku ketika dia tertunduk, kinroku mengangkat kepalanya tepat kyouko menatapnya dari dekat.
-ia tersentak kebelakang namun kemudian salah satu penjaga perpustakaan membentaknya.
"maff..maaf... maaf."
"Kenapa Kyouko yakin aku bisa berhasil?"
"Yakin? Memangnya butuh alasan lain?"
"Eh..."
"Kinroku punya volume dan potensi sihir, kan? Itu sudah cukup... jadi percaya dirilah."
"itu memang benar, namun kau mungkin sudah cukup kuat untuk melakukanya."
"ayolah... jangan seperi iu... kyouko."
"...kinroku apa sihirmu?"
Kinroku kemudian merapal mantranya, dalam beberapa deik kemudian nampak sebuah mainan robot robotan yang muncul di depanya, mainan itu kemudian bererak dengan bebas dengan di kendalikan oleh kinroku.
Kyouko nampak memperhatikan robot itu dengan antusias matanya kemudian bergeser ke tangan besar kinroku ang erlaih.
"pencipaan?"
"...ta..."
"itu cukup, kemarin kau membuat meriamkan?"
"ya..."
" cukup tembak saja... dari sini, ku kira kau memiliki pengalaman berarung."
"aku memang di latih kakekku untuk bertahan."
"..."
Kyouko nampak mengingat beberapa momen ketika kinroku melesat dan bergerak dengan kecepatan tinggi.
"kinro... kau hanya kurang percaya diri, jadi percaalah..."
Kinroku kemudian beranjak dari kursinya, dia nampak mencari beberapa buku sihir, dan menaruhnya di meja sedikit menarik perhatian kyouko.
"sekalian... mumpung disini aku ingin belajar."
"..."
"apa?"
"..." sebuah ide terbesit di kepala kyouko.
"Kinroku, kemari sebentar."
"?"
Kinroku mendekat dan duduk di sampingnya.
"Berikan tanganmu."
"Ini."
Kyouko menggenggam tangannya. Cahaya lembut muncul di antara mereka.
"Ini apa?"
"Sihir untuk meningkatkan kepercayaan diri."
"Memangnya ada?"
"Ini."
Kyouko mengangkat tangan mereka ke depan wajah Kinroku.
"///..."
Kinroku nampak sedikit tak percaya dengan sihir semacam itu.
"oke satu masalah selesai, selanjutnya."
"apanya?"
"strategi mengalahkan guru."
"stra... tunggu aku bahkan tak tahu siapa yang akan ku lawan."
"bagaimana dengan pak theodor?"
"...aku tak ingin di bakar..."
"kalau begitu jangan saja sekalian..."
"hah...?"
"kau bilang tak ingin terluka kan?"
"ti-"
Kinroku dengan cepat melompat kebelakang menghindari pilar api yang meluncur dengan cepat tepat di bawah kursi tadi dia duduk.
Kinroku sempat panik kemudian mencoba tenang, dia melihat kesekeliling dengan waspada mencoba mencari seseorang yang mungkin mencoba menyerangnya.
"tuh bagus."
"kyouko apa kamu yang ingin membakarku."
"...."
"kyouko?"
"aku hanya menguji."
"..."
"refleksmu bagus, kau bisa menghindari serangan the-... pak theodor jika begitu."
"benarkah?"
"iya."
"pak theodor memiliki sihir bawaan api, dan tipe petarung jarak menegah yang mengandalkan mantra berat."
"intinya serang dari dekat?"
"iya, gunakan manufermu dan pastikan kau menekanya."
"hanya itu?"
"hati hati dengan ombak dan burung."
"apa itu?"
"...jangan bergantung dengan mantra panjang, gunakan mantra pendek dan tekan jarak..."
"terima kasih atas saranya."
"sama sama."
Kinroku nampak kembali duduk di kursi kali ini sedikit memperhatikan jaraknya dengan kyouko.
"omong omong bagaimana kyouko mendapat peringkat S?"
"aku mengalahkan the- pak theodor."
"luar biasa, kamu sangat kuat ternyata."
"biasa saja... aku hanya menggunakan sihir bawaanku."
"apa si-"
Kyouko menutup mulut kinroku dan mencondongkan tubuhnya dengan erotis.
"itu keluar topik."
"hmm...///..."
Kyouko mengeser kursinya lebih dekat, sangat dekat hingga kinroku sedikit panik, aroma tubuh kyouko jelas kinroku bisa cium, rambut hitamnya jatuh di pahanya kyouko nampak sangat dekat dan lebih dekat.
"...apa kau menyukainya?"
Kinroku membeku.
"ap..."
"bercanda."
"ah..."
kyouko kemudian mundur wajahnya tetap dingin tampa ekspresi, nampak dia yang mengambil salah satu buku dan membacanya, kinroku hanya diam dengan wajah yang sedikit memerah.
"kyouko apakah kamu selalu sedekat ini."
"hmm~ siapa yang mengajak ku dekat memangnya."
"///... apa kamu bicara soal di atap."
"..."
kyouko menutup bukunya dan melihat ke arah kinroku senyuman tipis terukhir di wajahnya yang sedikit memerah.
"apa kamu ingin menariknya kembali?"
"tidak tidak tidak..."
"bagus, itu pertama kalinya untuk ku mendengar hal itu dari orang lain...///..."
"///"
keduanya diam dan saling menatap namun kemudian pandangan kinroku teralihkan pada sebuah buku di dekat tangan kyouko, dia hendak marih buku itu, namun kemudian dengan cepat kyouko menarik tanganya.
kinroku sedikit terkejut dia melihat ke arah wajah kyouko yang sedikit memerah dan panik.
"..."
"buku..."
"oh maaf..."
kyouko menyerahkan buku di dekatnya telinganya nampak memerah malu karena salah paham, sekaligus sedikit kecewa denganya.
kyouko... apa dia juga tegang?...
"berisik..."
"maaf..."
kyouko nampak sedikit kesal dia kemudian menunjuk ke arah kinroku dengan kasar membuat kinroku sedikit terkejut.
"itu... kebiasaanmu itu untuk terus meminta maaf, menggangguku."
"...hah?, ma-... ouh, benarkah?"
"jika kau tak salah jangan minta maaf, itu membuatku jengkel."
"..."
"kalau begitu apa aku tak perlu minta maaf, kyouko?"
"ya."
nampak wajahnya sedikit terseyum lega, kinroku kemudian membaca buku itu dengan sedikit lebih santai.
"senang mendengarnya..."
"..."
"..."
"omong omong kinroku."
"kenapa?"
"kapan kau bilang pada mereka kau sudah menyatakan perasaanmu padaku?"
"..."
"..."
"eh?"
buku di tanganya jatuh wajahnya berubah pucat dengan kaki yang gemetar.
