Pagi hari menyambut dengan sinar matahari yang menembus jendela ruang tamu, menerangi sosok Ija Alpha yang kini meringkuk di sudut ruangan. Ia bukan lagi entitas agung yang mampu membelah dimensi; ia hanyalah seorang pria paruh baya dengan pakaian compang-camping, gemetar karena kedinginan yang menusuk tulang. Tanpa koneksi sistem untuk mengatur suhu tubuhnya, ia hanyalah manusia biasa yang rentan.
Ija menatapnya dari seberang ruangan, tangannya bersedekap di dada. Di belakangnya, Lyra, Scarlett, Aria, Vera, dan Aiko berdiri mengelilingi, tidak dengan senjata, melainkan dengan tatapan waspada.
"Sistemku... suaraku..." Alpha meraba udara kosong di depannya dengan panik. "Di mana dia? Kenapa semuanya sunyi? Aku tidak bisa mendengar detak jantung semesta!"
Aiko melangkah maju, menunduk menatap pria yang dulu adalah pemilik takhta simulasi itu. "Itu bukan sunyi, Alpha. Itu yang disebut 'hidup'. Tidak ada data yang masuk ke otakmu kecuali persepsimu sendiri."
Ija berlutut di depan Alpha, menatap mata pria itu yang kini kehilangan kilau dinginnya. "Kau ingin kami memilih? Kau ingin kami membunuhmu? Tidak. Itu terlalu mudah."
Alpha mendongak, matanya merah karena air mata—sebuah respons fisiologis yang baru ia rasakan. "Kau tidak mengerti, Nomor Sebelas. Jika aku tidak memiliki sistem, aku akan segera 'dihapus' oleh entitas di luar realitas ini. Aku adalah arsitek yang sudah usang. Mereka akan datang untukku."
Ija terdiam sejenak. Jika benar apa yang dikatakan Alpha, maka musuh yang sebenarnya bukanlah Alpha, melainkan sesuatu yang lebih besar yang kini sedang mengincar "sampah-sampah" simulasi seperti mereka.
"Katakan padaku," Ija mencengkeram kerah baju Alpha. "Siapa 'Mereka' yang sebenarnya? Kau menyebutkan tentang entitas di luar realitas. Apakah ada lapisan dunia yang lebih tinggi dari ini?"
Alpha tertawa parau, sebuah tawa yang menyakitkan untuk didengar. "Tentu saja. Kita ini hanyalah satu dari jutaan iterasi. Di atas kita, ada The Outer Administrators. Mereka tidak peduli pada cinta, mereka tidak peduli pada jiwa. Mereka hanya peduli pada efisiensi. Mereka melihat realitas kita sebagai file yang rusak karena kita memiliki 'kehendak bebas'."
Ija melepaskan cengkeramannya. Ia menatap wanitanya. Mereka semua mengerti apa artinya ini: pertempuran mereka untuk menjadi manusia belum selesai. Mereka baru saja naik ke level yang lebih berbahaya.
"Kita tidak akan membunuhmu," kata Ija akhirnya. "Kau akan tinggal di sini. Kau akan belajar bagaimana menjadi manusia seutuhnya, tanpa sistem, tanpa manipulasi. Jika kau ingin bertahan hidup dari Outer Administrators, kau harus belajar cara berpikir seperti kita, bukan seperti arsitek."
Vera mendengus, namun ia memberikan secangkir air hangat kepada Alpha. "Jangan salah paham. Aku tidak kasihan padamu. Tapi kita butuh informasi yang kau punya untuk bertahan hidup."
Alpha memandang cangkir itu, lalu memandang mereka berlima. Ada rasa bingung yang luar biasa di wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah eksistensinya, ia tidak memiliki perintah untuk dijalankan.
"Kenapa?" tanya Alpha pelan. "Aku mencoba menghapus kalian."
Aria berlutut di sampingnya, meletakkan tangannya di bahu pria itu. "Karena kami bukan kau. Kami adalah apa yang kau takutkan: makhluk yang bisa memaafkan."
Tiba-tiba, rumah mereka bergetar hebat. Bukan karena serangan, melainkan karena pergeseran realitas. Langit di luar jendela perlahan-lahan berubah warna menjadi ungu gelap, dan bintang-bintang di langit mulai berkedip dengan pola kode biner yang aneh.
"Terlambat," bisik Alpha. "Mereka sudah menemukan koordinat realitas ini."
Ija berlari ke jendela dan melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Bukan kapal, bukan entitas bayangan. Di langit, realitas itu sendiri sedang dikupas seperti kertas, menampakkan sesuatu yang tidak memiliki bentuk: sebuah kesadaran raksasa yang menatap langsung ke arah rumah mereka.
"Mereka datang untuk menghapus 'file' ini," desis Ija.
Ia menoleh ke wanitanya. "Ambil senjata kalian. Jika ini adalah hari terakhir kita sebagai manusia, mari kita tunjukkan pada dewa-dewa itu bahwa file ini sangat sulit untuk dihapus."
