Sepuluh tahun telah berlalu. Kota metropolitan yang dulu menjadi saksi pertempuran terakhir kini telah berubah menjadi kota futuristik yang megah, namun terasa dingin. Teknologi Neural-Link telah menjadi standar kehidupan; manusia tidak lagi berbicara secara verbal, melainkan melalui pertukaran data instan. Kemanusiaan, dalam bentuknya yang asli, perlahan terkikis oleh efisiensi mesin.
Di sebuah distrik kumuh yang nyaris terlupakan oleh sistem, seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama Elara sedang mengais sisa-sisa perangkat keras tua di tempat pembuangan sampah elektronik. Rambutnya berantakan, dan matanya selalu awas terhadap drone patroli yang melayang di atas.
Elara bukanlah gadis biasa. Sejak kecil, ia sering mendengar "bisikan" di kepalanya—bukan suara biner dari Neural-Link, melainkan suara hangat yang terasa seperti angin sepoi-sepoi yang menuntun langkahnya.
"Di sana, Elara," bisik suara itu di dalam pikirannya.
Elara menggali lebih dalam ke tumpukan besi berkarat. Jemarinya menyentuh sesuatu yang terasa hangat. Itu adalah sebuah kotak logam tua berukir simbol yang tak dikenal—simbol Void-Reaper. Saat ia menyentuhnya, aliran listrik statis yang aneh menyambar lengannya, memicu reaksi berantai di seluruh perangkat sampah di sekitarnya.
Lampu-lampu kota yang mati di distrik itu tiba-tiba menyala dengan warna emas kebiruan, pola yang belum pernah dilihat oleh warga kota selama satu dekade terakhir.
"Apa ini?" bisik Elara, tangannya gemetar.
Saat ia membuka kotak itu, sebuah fragmen cahaya kecil melayang keluar, berputar-putar di depannya sebelum akhirnya masuk ke dalam dadanya. Rasa hangat yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Elara terperanjat, ia melihat tangannya kini memancarkan pendaran cahaya tipis yang familiar.
[NOTIFICATION: . . . FRAGMENT DETECTED . . .]
[INITIATING: HUMAN SOUL SYNCHRONIZATION]
[USER IDENTIFIED: CARRIER OF THE ECHO]
Suara itu—suara Ija—terdengar jelas di benaknya, namun kali ini terasa begitu dekat, seolah dia sedang berdiri tepat di belakangnya.
"Elara... jangan biarkan mereka mengambil fragmen itu. Mereka sedang mencarimu."
Elara menoleh ke belakang. Di ujung lorong, sekelompok agen berseragam hitam dengan mata bercahaya merah—Synthetic Purifiers—muncul dari kegelapan. Mereka adalah antek-antek Outer Administrators yang tersisa, yang selama sepuluh tahun ini terus memburu "percikan" yang tertinggal dari Ija dan kelimanya.
"Tangkap subjek 0-X," suara robotik salah satu agen menggema. "Dia membawa energi yang tidak terdaftar di Central Data."
Elara tidak tahu siapa pria yang berbisik di kepalanya, tapi ia tahu satu hal: ia tidak boleh membiarkan cahaya ini padam. Ia memejamkan mata, memanggil keberanian yang tidak ia ketahui ia miliki. Saat agen-agen itu menerjang, Elara mengulurkan tangan. Bukan peluru yang keluar, melainkan gelombang kejut berupa perasaan—rasa takut, rasa marah, dan rasa ingin dilindungi yang begitu kuat hingga sistem para agen itu mengalami freeze.
Crash! Agen-agen itu tumbang, sistem mereka terbakar oleh "emosi" yang dipancarkan Elara.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Elara ke udara kosong, napasnya tersengal.
Suara Ija kembali, kali ini terdengar lebih jernih, seolah-olah ia sedang berusaha keras untuk memanifestasikan dirinya. "Aku adalah janji yang tertunda. Dan kau, Elara, adalah kunci yang akan membawa kami pulang."
Di kejauhan, dari atas gedung pencakar langit, sebuah entitas raksasa—pengawas kota yang merupakan sisa-sisa Silent Elders—menatap ke arah distrik kumuh tersebut. Mereka telah menunggu momen ini. Momen di mana "Janji" itu kembali muncul ke permukaan.
