Cherreads

Chapter 46 - Bab 47: Di Antara Detik dan Keabadian

Dunia kembali sunyi. Tidak ada lagi suara deru Universal Eraser, tidak ada lagi ketegangan. Matahari pagi menyapa dengan lembut, menyinari reruntuhan kota yang kini tampak seperti lukisan usang yang memudar.

Namun, di tengah kesunyian itu, tidak ada seorang pun yang bisa melihat Ija, Lyra, Scarlett, Aria, Vera, atau Aiko. Mereka tidak lagi memiliki raga. Mereka adalah percikan cahaya yang menari-nari di udara, seperti debu emas yang tertangkap sinar mentari.

"Apakah ini akhir?" tanya Lyra. Suaranya tidak lagi keluar dari pita suara, melainkan langsung bergema di kesadaran mereka masing-masing.

Aiko mencoba mengalkulasi eksistensi mereka, namun ia hanya menemukan kevakuman. "Kita bukan lagi data. Kita bukan lagi materi. Kita adalah... konsep."

Ija merasakan dirinya meluas. Ia tidak lagi terkurung dalam satu tubuh. Ia bisa merasakan denyut nadi bumi, ia bisa mendengar bisikan angin di puncak gunung, dan ia bisa merasakan detak jantung setiap manusia di kota ini. Mereka telah menjadi bagian dari background process realitas itu sendiri—sebuah kesadaran kolektif yang menjaga dunia agar tidak kembali jatuh ke tangan Outer Administrators.

"Kita menang," gumam Vera, meskipun ada nada kesedihan dalam suaranya. "Tapi kita kehilangan segalanya. Aku merindukan rasa dinginnya baja di tanganku. Aku merindukan rasa lelah setelah berlatih."

"Kita belum benar-benar hilang," Ija mencoba menenangkan mereka. Ia memusatkan kehendaknya, mencoba membentuk kembali memori fisiknya. Perlahan, partikel cahaya di sekitarnya mulai memadat, mencoba mensimulasikan bentuk manusia. Namun, hasilnya tetap transparan—seperti hantu yang terbuat dari cahaya murni.

"Kita berada di ambang batas," ujar Aria. "Para Outer Administrators mungkin sudah pergi, tapi mereka meninggalkan 'sisa-sisa' di dunia ini. Sesuatu yang akan terus berusaha mengikis kehendak bebas manusia. Jika kita tidak punya bentuk fisik, bagaimana kita bisa melindungi mereka?"

Ija memandang ke bawah. Di taman kota, seorang anak kecil sedang terjatuh dan menangis. Tanpa sadar, Ija mengulurkan tangannya yang terbuat dari cahaya. Saat jemarinya menyentuh bahu anak itu, anak itu berhenti menangis, menatap ke arah udara kosong dengan tatapan bingung namun merasa tenang secara tiba-tiba.

"Kita adalah pelindung sekarang," Ija menyadari perannya. "Kita tidak perlu menjadi manusia untuk melindungi manusia. Kita bisa menjadi ilham, menjadi keberanian yang tiba-tiba muncul di hati mereka, menjadi intuisi yang menyelamatkan mereka dari bahaya."

Namun, di sudut pandang Ija, sebuah glitch muncul.

[NOTIFICATION: SYSTEM RECOVERY]

[STATUS: ADMINISTRATOR CORE HAS BEEN PURGED]

[REBUILDING PHYSICAL MANIFESTATION...]

[TIME REMAINING: 99 YEARS]

"Sembilan puluh sembilan tahun?" Scarlett tertawa getir. "Kita harus menunggu hampir satu abad untuk bisa memeluk satu sama lain secara fisik lagi?"

"Bagi kita yang sudah melampaui waktu," jawab Ija, "sembilan puluh sembilan tahun hanyalah satu kedipan mata."

Mereka pun menyebar. Mereka menjadi hembusan angin yang menuntun langkah seorang pejuang yang ragu. Mereka menjadi kilatan ide di kepala seorang ilmuwan yang putus asa. Mereka menjadi hangatnya api unggun bagi pengelana yang kedinginan.

Namun, Ija memiliki rahasia. Di dalam inti kesadarannya, ia masih menyimpan satu fragmen terakhir—sebuah benih dari "protokol manusia" yang ia curi dari sistem sebelum hancur. Ia tidak akan menunggu 99 tahun. Ia akan mencari cara untuk mempercepat proses itu.

Dunia mungkin mengira mereka telah tiada, tapi bagi Ija, petualangan terbesar baru saja dimulai: perjalanan untuk memanifestasikan diri kembali ke dalam raga manusia yang nyata, demi satu janji—untuk kembali memeluk kelima wanitanya sebagai pria sejati.

More Chapters