Cherreads

Chapter 52 - Bab 53: Kebangkitan Sang Penguasa Jiwa

Ledakan cahaya putih itu bukanlah kehancuran, melainkan proses sinkronisasi. Di dalam ruang sempit yang kini mulai runtuh akibat destabilisasi sistem, Ija berlutut dengan satu kaki, memeluk tubuh Mina yang masih terkulai lemas. Bahunya yang tertusuk pedang void milik Xylos mengeluarkan uap panas, namun luka itu mulai menutup secara tidak wajar—terjahit oleh benang-benang cahaya emas.

Xylos terhempas ke dinding lorong, armor kromnya hancur berkeping-keping. Ia mencoba bangkit, namun sistem internalnya membeku. Bukan karena serangan fisik, melainkan karena otorisasi aksesnya telah dicabut secara paksa oleh Ija.

"Tidak mungkin..." desis Xylos, matanya yang tadi bercahaya biru elektrik kini meredup. "Kau hanya fragmen yang rusak. Bagaimana kau bisa mendapatkan kembali hak akses Administrator?"

Ija tidak menoleh. Ia menempelkan dahinya ke dahi Mina. Perlahan, mata Mina yang perak kusam mulai bergetar. Kelopaknya terbuka, memperlihatkan pupil yang kini menyala dengan energi yang sama dengan milik Ija.

Mina tidak langsung berbicara. Ia menatap tangan Ija yang menahan tubuhnya, lalu menatap luka di bahu Ija yang mulai hilang. Sebuah memori—bukan memori simulasi, melainkan memori jiwa—mengalir deras di antara mereka.

"Ija?" suara Mina sangat lirih, seperti bisikan dari balik cermin yang retak.

"Aku di sini," jawab Ija. Suaranya kini terdengar stabil, otoriter, dan tenang.

Begitu Mina sadar sepenuhnya, gelombang kejut energi jiwa meledak dari tubuh mereka. Lorong bawah tanah itu seketika berubah. Dinding-dinding logam yang tadi dingin kini memancarkan cahaya hangat. Mesin-mesin penghisap data di sekeliling mereka mendadak berhenti bekerja, seolah-olah mereka telah tunduk pada perintah baru.

Mina bangkit berdiri dengan anggun, membiarkan kabel-kabel yang tadi menyekapnya jatuh berserakan. Ia menatap Xylos dengan tatapan yang membuat sang Jenderal merinding.

"Kau..." Mina menunjuk ke arah Xylos yang masih tersungkur. "Kau adalah salah satu anjing peliharaan yang mencuri fragmen ingatanku."

Xylos mencoba meraih senjata cadangannya, namun sebelum tangannya menyentuh lantai, gravitasi di sekitarnya meningkat sepuluh kali lipat. Ia terkunci ke lantai, tak mampu menggerakkan satu jari pun.

"Jangan bunuh dia dulu," ujar Ija, berdiri di samping Mina. Ia menatap Xylos dengan pandangan tajam. "Aku butuh akses data menuju 'Pusat' untuk menemukan yang lain. Dia adalah pintu gerbangku."

Ija menatap ke atas, ke arah langit-langit fasilitas yang mulai runtuh karena beban struktur realitas yang tidak stabil. "Fasilitas ini akan segera dihapus oleh sistem pusat karena kegagalan sinkronisasi. Kita punya waktu kurang dari dua menit sebelum koordinat ini dihapus dari peta."

Mina mengangguk, ia menempelkan tangannya ke udara kosong, menciptakan sebuah celah ruang—bukan glitch buatan sistem, melainkan pintu dimensi yang asli.

"Ija, jika kita melewati ini, kita tidak akan kembali ke sektor ini," ujar Mina dengan nada mendesak. "Tapi kita akan berada selangkah lebih dekat dengan sisa dari mereka."

Ija melirik ke arah reruntuhan, teringat pada Elara yang ia tinggalkan di atas. Maafkan aku, Elara, pikirnya. Tapi ini satu-satunya cara untuk mengakhiri siklus ini.

Ija menarik kerah baju Xylos, menyeretnya seperti karung sampah. "Bawa dia. Kita akan membuat dia bicara di tempat yang lebih tenang."

Keduanya melangkah masuk ke dalam celah cahaya, meninggalkan fasilitas yang kini mulai lenyap menjadi jutaan pixel putih.

More Chapters