Raka duduk menguasai undakan tangga dengan angkuh. Kakinya mengangkang lebar, memblokade jalan bagi siapa pun, memaksa siswa lain berputar jauh demi menghindari masalah. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah Zippo; jentikan tutupnya bergema ritmis, seolah sedang mengukur waktu. sesekali, ia akan mengembuskan napas. mengisi lorong dengan asap rokonya.
"Aku kira Bapak sudah belajar," ucap Raka tanpa menoleh. Ia baru menatap Agung saat ujung tongkat siku sang guru mengetuk lantai beton dengan suara tek yang berat.
Agung berhenti dua undakan di bawahnya. Wajahnya serupa peta lebam; biru keunguan di pipi dan area sekitar mata. Perban di pelipisnya mulai menguning oleh rembesan keringat, dan napasnya tertahan karena tulang rusuk yang retak. Rambut panjangnya tak lagi terikat rapi, sebab pergelangan tangannya masih terlalu kaku untuk sekadar menyisir.
Ia tertawa kecil. "Sepertinya kita mengharapkan hal yang sama dari satu sama lain, Raka. Bisa beri jalan?"
"Bapak yang perlu belajar, bukan aku." Raka menggeleng dengan tatapan heran yang meremehkan. "Minimal marah, kek. Bukannya malah tertawa."
"Oh, Bapak marah. Marah sekali. Tapi mau sekuat apa pun keinginan Bapak untuk membalas dendam, Bapak tahu kamu hanyalah produk, bukan akar masalahnya." Bahkan saat bicara, Agung mendengar hatinya berbisik: Pukul, tendang, hardik! Sampah-sampah seperti ini hanya berlindung di balik moralmu!
"Pengecut," desis Raka. Kata itu meluncur seperti ludah yang dihantamkan ke arah gurunya.
Agung hanya mengangkat alis. Menarik napas panjang, ia mengusir pikiran intrusifnya dan membalikkan badan. Sabar, semua akan selesai hari ini, ucapnya dalam hati. Tangannya mengepal, seolah sedang menggenggam kawat berduri yang ia sebut moral dan prinsip.
"Apa alasan Bapak masih keras kepala?"
Raka banyak bicara hari ini. Ada nada penasaran dalam suaranya yang membuat Agung terhenti.
"Karena Bapak adalah seorang guru."
"Orang yang akan menghabisi Bapak nanti juga guru, Pak. Apa bedanya?" Raka tahu pasti apa yang menanti Agung di ruang rapat. Ia yakin akan kemenangannya. Baginya, melihat guru sok hebat ini hanya menimbulkan mual, apalagi saat siswa lain justru mengikutinya seperti domba.
Agung memutar tubuhnya dan kembali terkekeh. "Sepertinya kamu tidak terlalu hebat soal timing. Itu pertanyaan bagus kalau kamu ajukan minggu lalu di ruang konseling." Sang guru mengetukkan jarinya pada tongkat siku, menimbang sejenak, lalu menyambung, "Sayangnya, Bapak juga masih mencari tahu jawabannya."
"Ngomong-ngomong," lanjut Agung, tak memberi kesempatan Raka membalas. Ia mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya; sebuah pesan dengan tanda air simbol segitiga bertitik tengah. "Kamu suruh preman-preman itu memberikan ini juga ke Bapak?"
Raka mengerutkan dahi, melirik sekilas tanpa minat. "Enggaklah. Ngapain juga."
"Ya sudah kalau begitu." Agung dengan susah payah menyimpan kembali kertas tersebut, dan kembali berjalan menjauh dengan tertatih, perlahan menghilang dari pandangan Raka yang terus menatap punggungnya.
Tak satu pun dari mereka menyadarinya.
Pertanyaan tanpa jawaban itu mulai berakar di sela rasa muak Raka, bermutasi menjadi rasa penasaran akan prinsip yang sulit ia cerna. Seiring waktu, akarnya menjalar makin dalam, meretakkan keyakinan yang selama ini ia kira sekokoh batu.
***
Ruang rapat terasa lebih beku dari biasanya, dan itu bukan sekadar urusan pendingin ruangan. Sebuah meja panjang membelah ruangan, dikelilingi oleh Pak Sutrisno sang kepala sekolah, guru-guru senior TPPK, dan di ujung meja: Pak Heru, ayah Raka. Tak ada kehangatan di sana. Agung duduk sedikit terpisah, menjadi pusat sasaran tatapan dingin mereka.
Pertemuan ini awalnya dijadwalkan untuk mengonsultasikan pelanggaran Raka. Namun, begitu Pak Heru melangkah masuk, situasi berbalik secepat kilat. Para guru segera mengubah pertemuan itu menjadi persidangan—bukan bagi Raka, melainkan bagi Agung.
Pak Heru duduk tegak dengan tangan bertaut di atas meja. Wajahnya tenang. Meski mereka berada di sekolah, para guru menjaga sikap seolah merekalah yang sedang bertamu. Saat Pak Heru melirik jam tangan, rasa bersalah menyelinap ke wajah mereka, seakan waktu berharga pria itu telah disita demi urusan sepele.
Pak Sutrisno berdeham. "Saya rasa ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Ada kekeliruan dalam pengawasan kami sehingga Pak Agung mengambil keputusan sepihak untuk—"
"—Raka kembali melakukan perundungan, dan sekarang sasarannya adalah siswa yang menolong korban pertama," potong Agung.
Ia menarik napas. Tatapan tak nyaman dilemparkan para guru karena ia memotong ucapan kepala sekolah. Namun Agung sadar, kesempatan bicara tidak akan diberikan secara cuma-cuma di ruangan ini.
"Ia membuat rasa tidak nyaman bagi siswa lain, dan tidak berani untuk membantu korban. Saya sudah memberi peringatan dan melakukan konseling. Tapi polanya berulang."
"Berulang menurut versi siapa?" sela Bu Ratna, wali kelas Raka. "Menurut laporan Anda saja, bukan?"
Agung menoleh. "Ada saksi. Siswa-siswa—"
"Siswa sering melebih-lebihkan," potong Bu Ratna cepat. "Apalagi jika sudah ada sentimen terhadap satu anak. Saya tidak melihat ada masalah dengan Raka di kelas. Benar begitu, Bapak-bapak?" Guru-guru lain mengangguk kompak, sementara Bu Ratna menatap Agung seolah baru saja memberikan pukulan telak.
Agung mengabaikannya dan menatap Pak Heru. Jika Ia bisa meyakinkannya, maka guru-guru akan mengikuti. "Saya memanggil Bapak bukan untuk menghakimi. Ini soal tanggung jawab bersama atas masa depan Raka dan anak-anak yang ia targetkan."
Pak Heru mengangguk pelan, seolah istilah 'masa depan' adalah kata yang familiar namun hampa baginya. "Silakan lanjut."
"Saya tidak hanya khawatir pada para korban. Saya khawatir pada Raka. Anak yang terbiasa menang dengan menekan orang lain akan tumbuh tanpa batas. Dunia mungkin memberinya ruang sekarang, tapi suatu hari—"
"Dunia tidak menghukum orang seperti itu," sela Pak Heru datar. "Dunia memberi mereka posisi."
Ruangan mendadak senyap.
Agung mengerutkan kening. "Itu asumsi yang berbahaya, Pak."
"Bukan asumsi," jawab Pak Heru tenang. "Itu observasi yang sudah saya buktikan sendiri."
Bu Ratna tersenyum tipis. "Pak Agung, saya rasa Anda terlalu membawa perasaan pribadi ke sini. Ini sekolah, bukan ruang terapi."
Agung menahan panas di kepalanya. "Justru karena ini sekolah, Bu. Kita tidak sedang membesarkan robot, tapi manusia. Seharusnya kita tidak mengajarkan kepatuhan tanpa empati."
"Masalah ini hanya menurut standar Anda," sahut Pak Bahar, guru senior lainnya. "Tidak semua orang perlu dididik dengan cara yang sama."
Pak Heru mencondongkan tubuh ke depan, gerakan kecil yang langsung menarik kembali pusat gravitasi ruangan ke arahnya. "Pak Agung, saya menghargai niat Anda. Sungguh. Tapi Anda keliru membaca dunia."
"Atau mungkin Bapak yang terlalu lama melihat dunia dari atas," balas Agung, menatapnya lurus.
Beberapa guru tersedak napas karena tak percaya.
"Pak Agung, jaga sopan santun!" desis Pak Bahar.
Pak Heru justru tersenyum samar. "Tidak apa-apa. Biarkan dia jujur. Pak Agung, saya tidak mendidik anak saya untuk menjadi orang baik menurut definisi abstrak. Saya mendidiknya untuk menang."
"Menang dengan merusak orang lain?" tanya Agung.
"Menang dengan tidak ragu menginjak jika perlu," jawab Pak Heru tanpa kedip. "Dunia tidak memberi hadiah pada mereka yang menunggu keadilan. Dunia memberi ruang pada mereka yang berani mengambilnya."
Dada Agung terasa panas. Ia mengira kemarahannya akan meledak, namun yang datang justru sebaliknya. Agung merasakan sebuah keheningan aneh membasuhnya. Seperti seseorang yang akhirnya sadar bahwa ia telah tersesat terlalu jauh dan tak lagi perlu berpura-pura tahu jalan pulang. Di dalam benaknya, ia duduk. Perjalanan ini sudah terlalu melelahkan.
Ia menyapu pandangan ke sekeliling; meja panjang, wajah-wajah yang menghakimi, udara dingin yang hambar. Segalanya terlihat terlalu jelas. Untuk pertama kali, Agung melihat apa yang sebelumnya ia sangkal.
Bu Ratna memanfaatkan jeda itu. "Ini sudah melebar. Kita juga perlu membahas sikap Anda. Tekanan pada siswa, dan—"
"Tekanan?" Agung menoleh, namun matanya telah kehilangan ketajaman. "Saya menghentikan perundungan. Kenapa kebenaran terdengar begitu asing di sini?"
Ia menatap mereka satu per satu dengan rasa muak yang tulus. "Kalian adalah guru, orang dewasa yang menjadi pemandu generasi muda. Apakah itu tidak cukup kuat untuk membuat kalian berdiri di posisi saya?"
Hening kembali turun sebelum akhirnya Pak Heru berdiri. "Saya tidak datang untuk mendengar ceramah moral. Saya datang untuk memastikan satu hal." Ia menatap kepala sekolah.
Pak Sutrisno segera menyahut, "Tentu, Pak. Ini hanya soal kenakalan remaja. Kami pastikan kejadian ini ditangani secara proporsional."
Pak Heru mengangguk. "Saya alumni sini. Saya donatur karena saya peduli pada sekolah ini. Saya menjaga nama baik instansi ini di banyak forum." Ia melirik Agung sekilas. "Saya tidak menuntut banyak. Hanya satu keputusan yang rasional."
Agung diam. Ia tahu jika ia bicara lagi, itu hanya akan menjadi gema yang tak dicatat siapa pun.
Pak Heru menatap Agung datar. "Saya menghargai kegigihan Anda. Orang seperti Anda itu unik. Saya sudah bertemu beberapa, dan satu kesamaan mereka: mereka tidak bertahan lama." Ia memberikan senyum tipis yang jauh lebih berbahaya dari ancaman mana pun, lalu menambahkan dengan nada santai,
"Jangan bermain adil dalam permainan di mana orang lain curang."
Untuk pertama kalinya, pandangan Agung goyah. Suara hati yang selama ini ia pendam justru keluar dari mulut musuhnya. Ia hampir membalas, namun kesadaran menahannya. Bukan karena kalah, melainkan karena ia akhirnya paham: pertarungan yang sesungguhnya tidak terjadi di ruangan ini.
Ketika Pak Heru pergi, atmosfer ruangan mencair. Pak Bahar segera mendekati Agung dengan wajah murka, menunjuk emblem nama di seragam Agung seolah mempertanyakan keberadaannya di sana. "Jangan bilang kamu tidak tahu siapa Pak Heru! Kami sudah ingatkan berkali-kali!"
Agung hanya diam menahan nyeri tubuhnya. Memang, Pak Bahar berkali-kali memperingatkan Agung tentang ayah Raka. Bahwa Pak Heru adalah direktur utama perusahaan konstruksi besar, PT Cakra Mandala Konstruksi, yang reputasinya nyaris tak tersentuh dan selalu menang tender. kursinya di belakang panggung lebih berpengaruh dari sepuluh anggota DPRD biasa sebagai seorang penyokong tetap. Pejabat di dalam maupun luar Banjarwungu berlomba menjaga hubungan baik dengannya. Apa lagi, sekolah swasta dan guru-guru yang hidup dari donasi.
Pak Sutrisno mendekat, menatap Agung dengan nada kasihan. "Keinginan Pak Heru jelas. Masalah ini tidak akan diungkit lagi. Keputusan ini mutlak. Apakah kamu bersedia?"
Implikasinya Jelas: Tetap mengajar dengan mata tertutup, atau angkat kaki.
Keputusan Agung pun sudah bulat.
