Cherreads

Chapter 148 - Bab 148: Kening yang Dicuri Diam-Diam

Di depan kamar hotel, Hina berdiri sambil memeluk Sora.

Saat ia hendak masuk—

Ravien meraih tangannya.

Gerakannya cepat, pasti.

Lalu—sebelum Hina sempat bertanya—bibir Ravien menyentuh keningnya.

Ravien (lirih):

"Beristirahatlah."

"Nanti malam akan kujemput lagi untuk makan malam."

Hina membeku.

Matanya terbelalak.

Wajahnya memerah seketika.

Hangat itu tidak hilang bahkan saat langkah Ravien menjauh.

Hina menyentuh keningnya pelan, seakan memastikan itu nyata.

Ia hanya bisa menatap punggung Ravien yang menjauh menuju kamarnya—

meninggalkan Hina yang masih terpaku di koridor.

Ravien berjalan menjauh tanpa menoleh.

Bukan karena ia tidak ingin melihat reaksinya—

tapi karena ia tahu, kalau ia menoleh… ia mungkin tidak akan berhenti di situ.

—Lemas yang Membahagiakan

Pintu kamar terbuka.

Rika muncul, berniat menyambut.

Rika:

"Hina? Kamu sudah—"

Tangannya menyentuh bahu Hina.

Dan seketika—

Hina tersungkur lemas.

Lutut Hina mendadak lupa cara menyangga tubuhnya.

Rika:

"Hina?!"

Airi yang sedang memainkan ponselnya langsung bangkit.

Airi:

"Apa yang terjadi?!"

Mereka berdua membantu membawa Hina ke dalam kamar dan membaringkannya di atas kasur.

Rika panik.

Rika:

"Kenapa bisa tiba-tiba lemas begini?"

Airi menatap wajah Hina—

pipinya merah, bibirnya melengkung membentuk senyum bahagia.

Airi (menahan tawa):

"Mungkin kebanyakan makan pedas?"

Rika:

"Tidak mungkin."

"Kamu tahu sendiri Hina itu doyan makan."

Hina akhirnya bersuara.

Hina:

"…Aku hari ini… sangat senang."

Rika dan Airi saling pandang.

Rika:

"Kenapa?"

Hina menutup wajahnya dengan bantal.

Hina:

"Ravien…"

"Dia mencium keningku."

"Tiba-tiba…"

Airi dan Rika langsung tertawa kecil, menutup mulut mereka.

Hina:

"Hei! Jangan tertawa!"

"Aku malu!"

Airi (tersenyum):

"Itu tandanya Ravien benar-benar tidak bisa berpaling darimu, Hina."

"Lagipula, bukankah kamu dulu pernah mencium dia waktu mengejarnya?"

Hina memeluk lututnya, cemberut.

Hina:

"Itu aku sudah siap…"

"Tadi berbeda!"

Rika (menggoda):

"Jadi kalau Ravien mau mencium lagi, harus menunggu kamu siap dulu?"

Hina bangkit dengan wajah memerah.

Hina:

"Aku mandi saja!"

Ia menghilang ke kamar mandi, meninggalkan dua gadis yang masih tertawa kecil.

—Malam Tanpa Latihan

Di kamar lain, Ravien baru saja masuk.

Rei dan Riku sudah ada—masing-masing sibuk dengan urusan mereka.

Ravien langsung menuju kamar mandi.

Dua puluh menit kemudian, ia keluar sambil mengeringkan rambut sembari tersenyum.

Rei:

"Mood kamu… aneh."

Ravien:

"Diam."

Rei:

"Lalu bagaimana latihan besok?"

Ravien tersenyum sinis.

Ravien:

"Kau yakin sudah siap?"

Rei terdiam—menyadari ia baru saja memancing bahaya.

Ravien:

"Tenang."

"Besok tidak ada latihan."

"Itu hari terakhir liburan."

Rei menghela napas lega.

Rei:

"Setelah semua yang terjadi… aku ragu bisa balik seperti biasa."

Riku yang sejak tadi diam akhirnya bicara.

Riku:

"Aku mau ikut latihan juga."

Ravien:

"Terserah."

Ravien merebahkan diri.

Ravien:

"Bangunkan aku jam delapan."

"Kita makan malam."

Rei:

"Baik."

Ravien meraih ponselnya dan mengirim pesan.

Ravien:

"Tidur yang nyenyak. Jam 8 aku jemput."

—Janji Makan Malam

Pukul 19.55—Rei membangunkan Ravien.

Ravien meregangkan tubuh, meraih ponsel, lalu mengetik cepat.

Ravien:

"Bersiaplah."

Ia berganti pakaian, merapikan diri.

Tepat pukul delapan—mereka berangkat.

Para gadis sudah menunggu.

Ravien menoleh—

dan melihat Hina mengenakan salah satu pakaian yang ia belikan.

Ia tersipu sesaat.

Ravien:

"Kamu… cocok."

Hina menunduk cepat, takut pipinya yang memerah terlihat terlalu jelas.

Lalu Ravien mengajak Hina lebih dulu.

Ravien:

"Ayo."

Hina berpamitan, Sora sudah bertengger di pundak Ravien.

Airi (tersenyum):

"Akhirnya ya, Hina…"

Noelle dan Nerine—mengeluh serempak.

Noelle: "Cepatlah!"

Nerine: "Kami lapar!"

Aelria tertawa kecil, lalu mengajak yang lain menyusul.

Rei berjalan di tengah—

Aelria di kanan, Airi di kiri.

Riku bersama Rika.

—Rencana Api Unggun

Restoran menyambut mereka hangat.

Meja khusus sudah disiapkan—seperti biasa.

Mereka memesan.

Menunggu.

Tak lama kemudian, makanan tiba.

Di tengah suasana, Rika bertanya.

Rika:

"Besok liburan terakhir."

"Ada rencana?"

Aelria berpikir sejenak.

Rei:

"Api unggun di pantai."

"Bakar-bakar."

Airi: "Serius?!"

Noelle: "Asyik!"

Nerine: "Aku setuju!"

Riku:

"Aku urus izin penjaga pantai."

Wajah-wajah mereka bersinar.

Malam itu, tawa dan harapan memenuhi meja—

menyambut hari terakhir liburan mereka.

Namun tanpa mereka sadari, dari luar restoran—di balik kaca yang memantulkan lampu—beberapa sosok berdiri memperhatikan.

Salah satunya tersenyum tipis, seolah menghitung detik menuju sesuatu yang sudah diputuskan.

More Chapters