Cherreads

Chapter 149 - Bab 149: Izin untuk Pulang

Siang itu, di hutan terlarang, suasana kembali tenang setelah perbincangan panjang.

Rei:

"Pulihkan dirimu dulu, Garm."

"Kau belum sepenuhnya sembuh."

Garm menundukkan kepalanya.

Ia ingin menolak, ingin segera kembali—namun tubuhnya menjawab lebih dulu.

Garm:

"…Baik. Aku mengerti."

Di sisi lain, Kael menoleh pada Rei.

Kael:

"Lalu langkah kita soal orang-orang yang dilihat Nyra dalam kilas balik itu?"

Rei menatap gerbang dimensi di depannya.

Rei:

"Untuk saat ini, kita hanya bisa memantau."

"Aku tidak bisa meninggalkan gerbang ini."

"Hanya aku yang bisa memperbaiki segelnya."

Kael menghela napas pelan.

Tak ada yang bisa ia lakukan selain menerima.

Kael:

"…Kalau begitu, aku istirahat dulu."

—Cinta yang Diejek

Saat Kael hendak beranjak, Lirya menoleh ke arah Garm dengan senyum menggoda.

Lirya:

"Jadi…"

"Bagaimana ceritanya Nyra bisa menerimamu?"

Garm menggaruk belakang kepalanya, wajahnya memerah.

Garm:

"Aku bertemu dia di pasar."

"Keesokan harinya aku mencarinya lagi, tapi tidak ketemu."

"Akhirnya aku duduk di pusat kota… di dekat air mancur."

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.

Garm:

"Dan tiba-tiba dia muncul di sampingku."

"Ternyata selama ini dia pakai sihir ilusi."

"Lalu aku menyatakan perasaanku."

"Nyra menerimanya."

"…Dan aku berteriak di tengah kota."

Lirya terbahak.

Lirya:

"Jadi kau dibuntuti seperti pencuri?"

"Dan kau berteriak di tengah kota saat cintamu diterima?"

Garm:

"…Jangan ungkit bagian itu."

Ia menatap Lirya kesal.

Garm:

"Setidaknya aku berani mengungkapkan perasaan."

"Daripada seseorang yang hanya diam tanpa aksi."

Lirya terdiam.

Detik berikutnya—

Lirya:

"KAU—"

Bugh! Bugh! Bugh!

Pukulannya terlihat brutal, tapi Lirya jelas menahan tenaga.

Garm:

"Ampun—! Aku masih terluka—!"

Rei tertawa kecil melihat kekacauan itu.

Tak lama, Garm terkapar.

Garm:

"…Sylvhia… tolong…"

Sylvhia mendesah, lalu berlutut dan menyembuhkannya sekali lagi.

Dan Lirya tampak puas setelah memukuli Garm dan kembali duduk di samping Rei dengan senyum bahagia.

—Pulang karena Rindu

Setelah sedikit pulih, Garm terdiam.

Wajah Nyra terlintas di benaknya.

Garm:

"Rei… izinkan aku pulang. Nyra pasti khawatir."

Rei menatapnya lama, lalu mengangguk.

Rei:

"Baiklah."

"Aku minta senior Kael mengawalmu."

Kael yang mendengar namanya menoleh.

Kael:

"Menarik."

"Daripada bosan menatap gerbang."

Garm membungkuk dalam-dalam.

Garm:

"Terima kasih."

Ia berpamitan pada Rei dan Lirya, lalu pada Sylvhia.

Saat Kael menyuruhnya naik ke punggung—

Garm:

"…Serius?"

Lirya menahan tawa.

Garm akhirnya naik, wajahnya merah menahan malu.

Garm:

"Senior, tolong cepat pergi."

Kael:

"Pegangan."

Dalam sekejap—

MEREKA MENGHILANG.

Lirya dan Sylvhia terdiam kaku.

Lirya:

"…Barusan… mereka—"

Sylvhia:

"Menghilang?"

Rei yang mengetahui mereka bingung pun menjelaskan.

Rei:

"Itu skill Kael."

"Teleportasi instan jarak pendek."

—Melintasi Hutan dalam Sekejap

Angin berdesing.

Pohon-pohon hutan terlarang seakan melompat dari satu titik ke titik lain.

Garm:

"Senior, apa ini skill kecepatan?"

Kael (tertawa):

"Bukan. Ini teleportasi instan jarak dekat."

"Aku gabungkan lari dan teleport—lompat pendek berulang."

"Meski menguras stamina, aku sudah ratusan tahun melakukannya."

Garm terdiam—tak percaya, tapi tubuhnya merasakannya sendiri.

Tak lama, mereka tiba di Kota Aurelith menjelang sore.

Kael menurunkan Garm di pos penjagaan.

Penjaga Elf dan Beastkin terkejut melihat Kael dan Garm muncul tiba-tiba di hadapan mereka.

Senjata langsung terangkat, refleks naluriah.

Penjaga Elf:

"Apa yang terjadi?"

Garm:

"Ada serangan monster."

"Tapi sudah beres."

Penjaga itu mengernyit, tombaknya turun perlahan.

Penjaga Beastkin:

"Dan dia?"

Garm:

"Temanku."

"Aku bisa menjamin."

Kael (bangga):

"Akulah yang menyelamatkannya."

Penjaga menatap aura Kael—elf, namun beraroma demon—lalu memilih diam.

Mereka diizinkan lewat.

—Menuju Kota Veyra

Kael kembali menggendong Garm.

Kael:

"Ke mana sekarang?"

Garm:

"Ke arah Barat."

"Kota Veyra."

Mereka melesat lagi.

Beberapa kereta kuda sihir terlewati oleh mereka.

Langit menggelap.

Hujan turun di tengah perjalanan.

Garm:

"Kita berteduh?"

Kael:

"Tidak perlu."

"Masih jauh?"

Garm:

"Sebentar lagi."

Dan benar—

Kota Veyra muncul di hadapan mereka.

Garm memberi arah.

Tak lama, mereka berhenti di depan sebuah rumah.

Kael menurunkan Garm.

Kael menoleh singkat pada Garm, seolah bertanya tanpa kata.

Garm hanya mengangguk—napasnya berat.

Kael mengangkat tangan, lalu mengetuk.

Tok. Tok.

Dari dalam, terdengar langkah kecil yang berhenti mendadak.

Garm menahan napas.

Tubuhnya penuh luka dan basah karena hujan.

Namun di balik pintu itu—ada alasan ia ingin pulang secepat ini.

More Chapters